Episode 9

2700 Kata
Hamil? Aku melemparkan tulang ayam kemeja. Menatap panik ke pria iblis dan bagaimana mengatakannya Tuhan jika aku ingin tes pack kehamilan? Sekrang sudah hampir 3 minggu setelah pria itu mengambil keperawananku dan harusnya aku datang bulan diawal bulan. Tapi aku belum menjumpai masa periodeku! " Katakan ada apa Honey? " " Bawa aku ke apotik!" " Tidak, jika kau merasa sakit akan kupanggilkan nora, dia dokter pribadi keluargaku. Kau merasa tidak enak badan? " " BAWA AKU KE APOTIK!" teriakku kalap. Bagaiamana jika aku hamil? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin anak ini! Bagaimana jika ayah dan ibu tahu aku hamil diluar nikah? Pria itu mendesah pasrah. Meminun kopinya dan bangkit berdiri. " Obat apa yang kau inginkan aku akan membelikannya untukmu!" " Bawa saja diriku ke apotik!" " Tidak! Katakan apa yang kau inginkan dan aku akan mendapatkannya untukmu!" " Test pack kehamilan!" Aku membuang mukaku ketika mengatakan kata itu. Tidak ada pilihan karena pria iblis didepanku mulai berkata dengan mendesis dan nada yang ditekan. Dia sedikit terkejut, tapi sejurus kemudian berjalan cepat keluar. Aku menjatuhkan diriku kesofa, menekan rasa pusing dikepalaku. Kenapa hidupku bisa jadi kacau seperti ini? Bagaimana jika aku benar-benar hamil? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak menginginkan bayi ini! Tapi naluri seorang perempuan muncul begitu saja ketika kemudian aku berfikir bahwa bayi yang mungkin saja sedang kukandung ini berhak menikmati kehidupan. Rasa iba ketika aku berfikir untuk mengugurkannya memenuhi hatiku, mengirimkan gelombang kehatiku dan air mataku jatuh begitu saja. Beberapa menit kemudian beberapa perawat dan perempuan yang malam itu bersama pria iblis datang. Perawat itu memindahkan semacam alat yang aku tidak tahu apa namanya. Apakah pria itu juga tidak menginginkan kehamilanku? Betapa percaya dirinya aku ketika berfikir bahwa pria itu juga menginginkan kehamilan ini? " Berbaringlah, nona!" Aku mengeleng lemah ketika perempuan itu mnginginkanku berbaring. Apa mereka akan membuang bayinya? Kenapa aku jadi perdulu dengan bayi pria iblis ini! Bahkan aku tidak perduli jika mereka ingin membuangnya! Tapi.. " Honey, berbaring lah sayang!" Pria itu berkata pelan, tidak ada kemarahan. Hanya ada binar mata yang sulit kujelaskan apa artinya. Aku melangkah pelan menuju ranjang, berbaring dengan tenang dan perempuan itu sibuk melakukan pekerjaannya. Aku menunggu dengan takut, berharap bahwa apa yang aku fikirkan adalah salah. Berharap bahwa perubahan yang terjadi pada diriku hanyalah karena aku terlalu banyak pikiran dengan hal-hal gila yang baru saja kutemui. " kita belum bisa melihat janinnya karena mungkin usia kandungannya baru 3 minggu. Tunggu 1 minggu atau 2 minggu lagi untuk melihat janinnya. Ya leonel, dia hamil. Selamat!" " thanks nora, pergilah.." Air mataku jatuh begitu saja. Aku tidak tahu harus berbuat apa, sungguh aku tidak ingin kehadiran bayi ini tapi memikirkan untuk membuangnya membuatku sakit. " Honey, kita menikah dua hari lagi. Tidak ada penolakan. Ini bukan penawaran tapi perintah. Dan tugasmu adalah mematuhiku!" Aku bangkit dari tidurku dan menamparnya keras. Rasa sakit menghantam di ulu hatiku. Menimbulkan kemarahan pada diriku akan perkataanya yang membuatku semakin membencinya. Siapa yang ingin menikahi siapa? Aku bukan bonekanya! Aku berhak memutuskan apa yang aku inginkan. " Aku bukan sebuah benda atau hewan yang mengikuti apa maumu!" Kataku disela tangis dan emosiku. Dia hanya diam, menerima makian dan tamparan yang bahkan membuat tangganku sendiri merasakan sakit. " Tidurlah!" " Aku akan mengugurkannya!" Begitu mendengar kata itu dia mendorong tubuhku hingga aku jatuh telentang diranjang. Pria iblis itu berdiri tepat diatas tubuhku, jarak wajahnya sanggat dekat dengan wajahku sehingga nafasnya terasa panas diwajahku. Matanya menyala menatapku marah. Meleburkan segala sesuatu yang ditatapnya. Bahkan aku tidak berani menatap mata menakutkan itu. " Dengar honey, aku paling benci pembangkang dan penolakan membuatku berfikir keras bagaimana cara menakhlukan! Kita tetap menikah dua hari lagi. Kau lahirkan anakku. Jaga nyawamu serta nyawa bayi yang sekarang kau kandung seperti kau menjaga nyawa adik kesayanganmu! Ersya!" Nyaliku menciut ketika nama Ersya dia sebut. Air mataku kembali turun dan wajahku memucat cepat. Aku lupa bahwa pria yang sekarang berkuasa penuh akan hidupku memiliki banyak uang dan dia memegang kendali akan seluruh diriku. Pria itu berlahan bangkit dari atas tubuhku, melepas jasnya dan menaruhnya asal disofa. Wajahnya terlihat seperti sedang kesal dan menahan amarah. Aku tahu aku membuatnya marah, tapi dia layak mendapatkan apa yang baru saja kukatakan. Aku bukan barang! Bukan hewan peliharan! Tapi dengan dia yang menguasai hidupku, bahkan dia mampu membuat Ersya ayah dan ibukku berada diketidakpastian hidup membuatku takut. " Selama kau menjaga dirimu, anakku, maka adik dan orangtuamu aman. Jangan berfikir kau bisa kabur dariku, atau kau mau bunuh diri seperti waktu itu karena kupastikan adikmu akan berakhir ditempat p*******n. Dan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku baby girl! Istirahatlah, aku masih memiliki pekerjaan!" Pria itu keluar dengan membanting kasar pintu. Harus bagaimana aku ibu? Ayah? Aku memangis sesengukan merantapi ketidakpastian dan kesialan dari hidupku. Hingga rasanya nafasku tersegal hebat. Kenapa tidak sedikitpun bahagia kurasakan ketika aku sudah beranjak dewasa? Aku lelah! **** Aku terpaksa menuruti semua keinginan pria itu, makan teratur, minum vitamin dan tidur yang sanggat cukup. Sebenarnya sedikit berlebihan untukku. Setiap malam pria iblis itu akan pulang tepat ketika matahri mulai terbenam. Dia akan menemaniku makan malam, meskipun dia tidak mengatakan apapun tapi dia seperti berusaha agar aku mendapatkan makanan yang baik dengan pengawasannya. Hal yang sampai saat ini membuatku risih adalah dia yang akan memelukku sampai aku terlelap. Aku sudah tidak berani protes karena dia mengancam akan melakukan hal buruk pada Ersya. Tapi sebagai salah satu bentuk permohonanku aku ingin agar pernikahan kami diundur setidaknya dua minggu. Pria iblis itu menolak dan hanya memberiku waktu satu minggu! Ini sudah hari ke tujuh. Besok adalah pernikahanku! Aku pernah berharap dapat menikah dengan orang yang kucintai juga mencintaiku, menikah dengan dekorasi yang sederhana dan bertema out door. Ditengah taman mungkin? Dengan Hiasan bungga asli dan stan-stan makanan yang sudah tentunya lezat. Memakai gaun putih yang indah, menatap pasanganku dengan tatapan cinta--s**t! Seperti apa tatapan cinta? Jangan berharap banyak Arsy! Pernikahanmu sudah tentu menurut kriteria pria iblis itu. Dan yang lebih menyedihkan adalah ayah serta ibu tidak bisa datang. Aku ingin Arsy yang menjadi pendampingku. Mungkin akan sanggat menyenangkan melihat Arsy juga Luis memakai gaun cantik yang sama berjalan disampingku. Lupakan khayalanmu Arsy! Bahkan kau menikah dengan tanpa didasari rasa cinta! Menyedihkan! Selama beberapa hari ini juga, Luis selalu ada untukku ketika pria iblis itu bekerja. Bercerita banyak hal mulai dari yang dia angap tak penting hingga hal terpenting dihidupnya. Aku hanya mendengarkan tapi kehadirannya mampu membuatku sedikit baik. Seperti hari ini, Luis bercerita dengan berderai air mata dihadapanku. Mengatakan bahwa dia baru saja putus dengan pacarnya, Devin. Aku harus bagaimana? Tentu saja hanya memperhatikannya seraya tersenyum kecil. " Kau tahu kak, dia bahkan selingkuh dariku! Aku akan meminta kak leonel untuk menghabisinya! Aku akan mencari lelaki yang lebih baik darinya! Dia pikir dia siapa? Aarghhh tapi aku mencintainya!" Percayalah, hampir dari pagi hingga sekarang jam makan siang dia masih sibuk bercerita tentang Devin. Aku bosan mendengarnya! Tapi sekalipun kukatakan padanya untuk diam dia tidak akan diam malah akan terus merengek manja padaku. Awalnya aku risih tapi sekarang aku terbiasa untuk tidak memperdulikan rengekannya. " Kau harus belajar" kataku singkat seraya memandang bungga angrek yang entah sejak kapan memenuhi satu sudut taman belakang mansion pria iblis itu. " Ah, kau sama menyebalkannya dengan kak leonel! Belajar, belajar, belajar! Ini waktu liburan! Aku sudah belajar disekolah! Dan diluar sekolah adalah waktunya untuk bersenang-senang!" Aku hanya diam menangapi perkataanya. Memangnya aky harus menjawab bagaimana? Seseorang memeluk bahuku, kemudian kurasakan ciuman lembut dikeningku. Aku tidak perlu memeriksa siapa dia karena orang yang seenaknya mencium dan memelukku sudah pasti pria iblis itu. Tidak biasanya dia pulang makan siang? Atau karena ini akhir pekan jadi dia pulang awal? Jika saja aku mencintainya, sudah kupastikan dia tidak kuperbolehkan untuk bekerja diakhir pekan. Tapi aku tidak perduli, bahkan sekalipun dia bekerja setiap hari aku justru merasa bersyukur. Wanggi parfumnya membuatku merasakan mual. Apa dia akan marah jika aku mual mencium wanggi parfumnya? Apa dia menganti parfumnya? Rasanya wanggi parfum yang dia gunakan selalu membuat tubuhku merasa tenang! Aku menutup mulut serta hidungku dan melepaskan pelukannya serta menjauhkan dirinya dari diriku. Kubuat jarak yang lumayan lebar tapi wanggi itu masih tercium. Ini pertama kalinya aku merasa mual setelah mencium bau. Dan kurasa anak yang kukandung juga membencinya sehingga tidak ingin dekat dengannya. " Kau menganti parfummu?" " Tidak, honey parfumku masih sama" katanya lembut. Dia bahkan mencium bau tubuhnya. Luis hanya menatap kami bingung. Lalu mengendus-endus udara mencoba mencium bau yang masuk kesaluran pernafasanku. " Tapi baunya berbeda! Itu membuatku ingin muntah!" Aku semakin pergi menjauhinya. Tapi bau itu seakan tidak hilang dan aku menyerah. Aku berlari kedalam mansion menuju kamar mandi terdekat lalu memutahkan camilan yang baru saja kumakan. Dia menyusul dengan luis. Tapi ketika pria itu hendak mendwkat Luis menahannya. Aku sungguh tidak menyesal bertemu dengan Luis karena dia cepat memahami situasi. " Kau tidak boleh mendekat! Anakmu tidak mau mencium aroma tubuhmu!" Katanya sinis. Itu membuatku senang. Luis membantuku membersihkan diri, lalu menatap pria iblis itu dengan padangan mengejek. " Kau harus berada setidaknya 10m dari tempat kami berdiri! Pergilah! Atau kau mau istrimu muntah lagi! Huss, sana cepat pergi!" Aku tertawa kecil, sungguh wajah pria iblis itu terlihat tidak rela dan ingin sekali protes tapi dia pahan bahwa seorang wanita hamil sensitif dengan bau-bauan. Luis menatapku terkejut ketika aku tertawa kecil, mungkin karena ini pertama kalinya aku tertawa. Aku mengalihkan pandanganku, lalu berjalan pelan menuju taman kembali. " Kakak cantik ketika tertawa, pantas kak leonel tergila-gila padamu!" Luis mengikutiku, juga pria itu yang kulihat berdiri sedikit jauh dari kami. " Coba tertawa lagi! Aku akan membuat lelucon! Kakak mau dengar?" Aku hanya diam. Luis mendesah kecewa. " Arghh, menyebalkan. Sudahlah aku mau masuk melihat email. Mungkin Devin akan menghubungki dan mengatakan dia menyesal!" Kulihat Luis masuk kedalam. Pria iblis itu menatapku dan berjalan pelan kearahku. Tunggu, kapan dia menganti bajunya? Wanggi parfumnya sudah berubah menjadi aroma jeruk yang menenangkan. Apa dia menganti parfumnya? " Kau menganti parfummu? " " Aku tidak mengunakan parfum apapun honey" " Tapi aku mencium bau jeruk!" Dia membuka gegaman tangannya dan kulihat kulit ceruk digegaman tangganya. Disakunya kemeja yang dia gunakan bahkan disaku celananya. Aku tersenyum menatapnya, ini lucu tapi dia cepat sekali memahami situasi. Kecupan singat mendarat dipipiku, dan kurasakan wajahku memanas. Sejak kapan aku merasa panas? " Kamu manis jika tersenyum honey. Dan wajahmu ternyata banyak perbedaanya dengan Laira." Aku mengalihkan pandanganku. Kenapa terasa panas sekarang? Ada apa dengab detak jantungku! Ini bukan diriku tapi ini bayinya! Entahlah aku tidak tahu tapi dia membuatku merasa gugup. " Pernikahan yang seperti apa yang kau inginkan honey?" Kenapa dia kembali mengingatkanku tentang pernikahan yang seketika membuat mood ku hancur! Aku hanya diam. Aku tidak ingin menikah dengannya! Jadi untuk apa mengatakan pernikahan seperti apa yang kuinginkan. Beberapa pelayan datang kemudian, membawa makanan yang seketika membuatku terasa lapar. Aku tidak tahu apa nama makanan mewah ini tapi rasanya jangan ditanya bagaimana. Dia mempunyai seorang chef yang memasak didapurnya. Pelayan itu juga mengantarkan angur yang hanya satu gelas, tentu saja untuk pria itu! Aku sebenarnya penasaran bagaimana rasanya anggur. Mereka bilang enak. Pria iblisku menyuapiku makanan. Dan aku dengan patuh menerimanya. Bukan karena aku menyerah untuk menolak tapi aku sadar semua penolakanku akan kalah bahkan sebelum kupikirkan. Aku selalu kalah jauh dari pria itu. " Kau ingin jalan-jalan honey? " tanyanya. Aku mengeleng. Badanku terasa malas untuk bergerak. Kuraih gelas angur merah yang berada didepan pria itu, mencoba meminumnya dan aku meruntukki diriku sendiri dengan rasa penasaranku. Rasanya aneh bagiku. Aku menjulurkan lidahku keluar ketika minuman itu sampai kemulutku. Jadi seperti ini rasanya angur merah? " Kau tidak pernah minum alkohol ataupun angur honey? " " Tidak! " " Minuman soda?" " Pernah!" Oke, aku benci diriku tapi sekarang aku ingin mencium bau tubuh pria itu! Aroma jeruk tidak membuatku mual tapi aku benci! Aku ingin mencium aroma pria itu! s**l! Kenapa hamil membuatku jadi tidak tahu malu seperti ini! Ayolah anak yang kukandung setidaknya jangan meminta sesuatu yang akan membuat kepala pria itu jadi besar! Tanpa berkata apa-apa aku meninggalkannya dan berjalan kedalam kamar. Aku bisa menghirup aroma tubunya di kamar bukan? Maksutku aroma tubuhnya tertingal di selimut dan bantal bukan? Dan aku benar. Kuhirup banyak-banyak aroma yang seketika membuatku tenang. Oh, anak yang kukandung tidak memihakku ternyata! " honey, setidaknya duduklah beberapa menit agar makanan itu dicerna dengan baik oleh lambungmu sayang!" Dia menyusulku, ikut merebahkan tubuhnya disebelahku. Ini menguntungkanku, dan aku tidak perlu memintanya. Tapi aku benci bau jeruk yang terbawa olehnya. " Jeruk itu membuatku mual!" Kataku asal. Dia mengerutkan keningnya bingung. " Tapi bau tubuhku akan datang jika jeruk ini kubuang" " Bau jeruknya tidak enak. Buang saja!" " Baiklah!" Dia membuang bau jeruk itu, tapi dia juga pergi keluar. Bagaimana ini? Aku butuh aroma tubuhnya. Sekarang ranjang ini penuh dengan aroma jeruk. Aku... apakah harus kukatakan? Tapi aku sungguh sanggat ingin. Apa ini yang namanya mengidam? " Leonel.." ini pertama kali aku memangil namanya. Jantungku berdetak keras. Ini bukan diriku tapi bayinya. Jangan salahkan aku juga jika bayinya ingin dekat dengan ayahnya. Siapa suruh dia menghamiliku! " Ya honey" " Jangan pergi!" " Tapi kau nanti akan mual jika mencium bau tubuhku dan aku tidak mau kau memutahkan makan siangmu." " Tidak! Bayinya ingin kamu peluk!" Kataku pelan. Entah dia dengar atau tidak. Sungguh wajahku terasa panas. Dia datang menghampiriku kembali keranjang. Membuka bajunya dan memelukku dari belakang. Hanya itu! Tidak lebih tapi mampu menenangkan perasaan aneh yang sedari tadi menyelimutiku. " Kurasa aku harus berterima kasih pada anak kita sehingga untuk pertama kalinya kau ingin aku memelukmu! Kau juga memangil namaku. " " Aku tidak ingin kau memelukku!" " iya, tapi bayinya yang ingin dipeluk. Nah, tidur sianglah. Nanti sore kita bisa jalan-jalan ketaman. " " Aku tidak ingin jalan-jalan!" Karena dijalan-jalan pertamaku membuatku harus ketakutan dengan pertemuan nenek tua itu. Aku hanya takut jika aku berpisah darinya, lalu nenek itu datang mengenaliku dan membawaku pergi dari pria iblis ini! " Pernikahan seprti apa yang kau inginkan? " " Aku tidak ingin menikah!" " Honey!" Nada suaranya berubah tajam. Aku memejamkan mataku. " Aku ingin orangtuaku dan adikku hadir!" Kataku singkat. Walaupun aku tahu jawabannya pasti adalah tidak! " Maaf!" Katanya pelan tepat ditelingaku. Dia mengecup pipiku, lalu memainkan tangganya yang sanggat berperan membuatku cepat terlelap. Mengelus pelan rambut dikepalaku. Nyaman! Ini bukan diriku! Ini bayinya! Ini bukan permintaanku! Ya, aku bahkan tidak tahu siapa yang benar- benar menikmati hal ini, aku atau bayi yang kukandung. Kecupan-kecupan singkat ditengkukku membuatku merasakan gelayar aneh. Bisakah dia berhenti menciummi tengkuk dan punggungku? Meskipun aku sudah meemintanya berkali-kali untuk berhenti, bahkan mendorong tubuhnya agar sedikit tercipta jarak tapi dia tetaplah iblis yang harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku menyerah, kubiarkan dirinya terus menciumi tengkuk dan punggungku. Tapi seperti pepatah dikasih hati minta jantung dan ginjal beserta usus besar, dia memelukku erat, membuat kismark dileherku. Aku mencoba mendorongnya tapi tenagaku seperti seokor kelinci yang mencoba menendang seekor singa sang raja hutan. Terus melumat leherku hingga kurasakan sesuatu yang aneh memenuhi diriku. Bagaimana ini? Aku mengigit bibirku keras menahan desahan lakhnat ku. Semakin kesenangan dia jika aku mendesah nanti. " Lepaskan, berngsek!" Makiku seraya berusaha melepaskan kepalanya dari leherku. Dia tertawa kecil tapi engan melepaskan apa yang sudah dia mulai. " Honey, aku ingin berada didalammu!" " AKU TIDAK INGIN KAU MENYENTUHKU!" " Tapi kau yang memintaku untuk memelukmu sayang," " Itu bayinya!" " Baiklah, mungkin anak kita ingin dikunjungi ayahnya!" " Tidak!" Dia mengunci tanganku diatas kepalaku, memegangnya dengan satu tanggan sementara tanggan satunya dia gunakan untuk menompang tubunya agar tidak menindihku. Wajahku terasa panas ketika kurasakan wajahnya begitu dekat denganku. Kemana kemarahanku yang meledak-ledak beberapa hari ini? " Aku mau jalan-jalan!" Kataku singkat. Mencoba untuk mengalihkan pikirannya dan mencoba untuk membuat nyaman detak jantungku. Dia tersenyum, mengecup pipiku sekilas lalu melepaskanku begitu saja. Aku segera bangkit dari telentangku, menaikan kembali selimut yang tadi sempat dia dorong menjauhi tubuhku. " Kau bilang mau jalan-jalan honey, ayo.." " Aku berubah pikiran" " Kau mempermainkanku honey?" Tanyannya menyelidik. Aku menundukkan wajahku. Bagaimana jika dia kembali melanjutkan aksinya tadi? Persetan jika aku bertemu dengan nenek tua itu lagi tapi aku tidak ingin jika harus melayani nafsunya. Aku tidak ingin dia menyentuhku! " Aku, tunggu aku bersiap!" " Tentu honey, aku tunggu di bawah" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN