Pria iblis itu membohongiku, dia meninggalkanku sendiri dan keadaan masih gelap. Membuatku ketakutan setengah mati.
Aku membohongi diriku sendiri dengan mengatakan bahwa semalam aku terlalu lelah sehingga dengan pasrah membiarkan diriku dipelukkannya. Engan mengakui betapa nyaman pelukan dan belaian lembut tanggannya dikepalaku. Menenangkan seluruh saraf ku, hingga membuat detak jantung terasa nyaman dan tentram. Membuat mataku terpejam dengan pelan dengan keyakinan bahwa tubuh ini aman.
Sekarang rasanya aku ingin melempar tubuh pria iblis itu ke kolam ikan hiu, agar para hiu memakannya. Tunggu, apa aku protes karena dia tidak menepati janjinya? Atau aku protes karena dia meninggalkanku di sini sendirian? Apa-apaan ini? Ada apa dengan diriku?
Tidak mungkin aku memaafkan apa yang telah dia lakukan! Otakku hanya lelah sehingga sikapku melunak dengan dia.
Mengumpulkan segala keberanianku, aku berjalan pelan menuju tombol lampu, cahaya remang-remang membuatku sedikit berani sehingga kakiku mampu menompang tubuhku.
Cahaya terang seketika memenuhi ruangan dan pria iblis itu tersenyum padaku dari walk in closet miliknya kearahku.
" Morning honey, it's 5 a.m and you already wake up. Aku ada urusan bisnis. Mungkin akan pulang telat. Jangan lupa sarapan!"
Aku mengacuhkannya, kembali ke ranjang dan menarik selimutku. Berniat memejamkan mataku kembali ke alam mimpi.
" Honey, jangan jadi pemalas. Setidaknya pergilah cuci mukamu!"
Mendengar perkatanya membuatku semakin mengeratkan selimutku. Ini masih terlalu pagi untuk bangun dan masih terlalu lagi juga untuk berangkat berkerja. Tapi dia sudah rapi dengan jasnya. Pukul berapa dia bangun? Bukankah semalam dia baru tidur pukul 3 pagi hari?
Cih, untuk apa juga aku perduli!
" Oke, kalau kamu masih ingin tidur. Aku akan menyuruh maid dan luis membangunkanmu jam 7 nanti. " katanya pelan. Dia berjalan keraahku, membungkukan badannya dan mencium keningku pelan.
Aku mendorongnya cepat.
" Jangan menciumku seenaknya! Aku bukan anakmu! Juga bukan istrimu!" Desisku marah. Dia meraih tanganku, menguncinya dengan tanggannya dan aku benci ketika dia melumat bibirku, mengigit bibirku hingga aku terpaksa membuka mulutku. Menyusupkan lidahnya kedalam rongga mulutku, rasa dingin dan lembut yang seketika beradu dengan lidahku. Aku tidak pernah membalas ciumannya, jangankan membalas dicium dia saja rasanya engan. Tidak ada seorangpun yang ingin dicium iblis seperti dia.
" Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan honey, jadi jangan menolakku. Sampai jumpa nanti petang."
Dia pergi begitu saja. Aku meremgangkan tubuhku, sebenarnya aku sudah tidak mengantuk tapi aku malas berhadapan dengan pria iblis itu. Dengan malas aku membuka tirai jendela kamar yang kutempati. Mengamati matahati pagi yang mulai keluar menampakan cahaya keemasan.
Jendela kamar ini menampakan halaman depan. Kulihat pria iblis itu berjalan cepat menuju mobil dengan Ryu dan Ronald. Perempuan semalam tidak bersama mereka. Bodo amat!
Setelah kepergian mereka aku turun ke lantai bawah, terus pergi kebelakang dan langkahku berhenti ketika sebuah pintu yang mengarah tangga gelap terbuka lebar, pintu dengan ornamen italia yang mengagumkan. Aku berjalan pelan mendekati tangga gelap, penasaran ruangan apa dibawah sana. Hanya ada cahaya remang-remang. Tubuhku seperti kesakitan ketika semakin dekat dengan ruangan gelap sempit itu, dan sebelum aku benar-benar sampai ke tempat itu Luis sudah terlebih dahulu berlari kearah pintu dan menutupnya keras.
" Maaf kak, tapi kau tidak diizinkan kesana. Disana terdapat banyak ular. Peliharaan kak leonel."
" Kau berbohong? "
" Ya! Aku berbohong. Intinya kau tidak diizinkan masuk!" Katanya seraya tertawa geli. Luis meraih tangganku membawaku berjalan cepat menuju dapur.
" Apa itu tempat yang sama ketika kakakmu menempatkanku? "
" Bukan! Disana tidak ada orang. Hanya ada gudang. Tapi kak Neil tidak mengizinkan siapapun masuk. Termasuk aku. "
" Kau lagi-lagi berbohong!"
" Baiklah! Itu bukan gudang. Ya tempat yang sama. Tapi tidak ada orang. Sungguh!"
" TERSERAH!" Nadaku sedikit tinggi. Dia hanya menyengir lebar. Dia memaksaku duduk disalah satu meja makan. Menyerahkan satu gelas coklat panas dan majalah. Kuminum coklat panas itu cepat, membuat dia melonggo lebar. Sebenarnya coklat itu masih sedikit panas dilidahku tapibaku tidak perduli.
" Tidak panas? "
" Panas!"
Aku meningalkannya sendirian dengan para maid di dapur. Kembali berjalan kebelakang menuju taman. Duduk disalah sstu sauna dan menatap ratusan mawar dengan wajah datar. Sungguh aku bosan tapi tidak ada satu kegiatan apapun yang menarik untuk kulakukan.
Luis kembali menghampiriku, menghantarkan sarapan untukku, beberapa potong sandwich dan jus avocado.
" Nah, makanlah kak. Arghhh... apa sih yang kau sukai dari mawar-mawar buruk itu?"
Aku memperhatikan Luis yang ikut duduk denganku, dia membuka laptopny, sambil menikmati sandwich dia memelototi laptopnya yang sanggat tipis itu.
" Arghh... dosen itu gila! Dia pikir tugas ini akan selesai dalam waktu satu minggu? Iya! Jika kak Ronald yang melakukannya. s**l!"
Melihat luis mengingatkan ku pada Ersya. Mungkin umur mereka sama.
" Kau tahu kak, aku ingin sekali rasanya berhenti kuliah, tapi kak Neil akan memarahiku!"
Itu bukan urusanku! Kataku dalam hati. Aku bahkan tidak menatapnya ketika dia berbicara. Memangnya kenapa aku harus memperhatikannya?
" Aku hanya ingin menikah, shoping, traveling, dan pergi ke club! Tapi kak neil akan memakan ku hidup-hidup jika aku pergi ke club. Ya walaupun sesekali aku pergi begitu saja tanpa pengetahuannya"
Bodo amat! Aku tidak bertanya jadi jangan salahkan aku jika aku mengacuhkannya.
" Nona, tuan Devin datang."
" Oh, dia datang. Bye bye my sweety sister ....."
Dia meninggalkanku begitu saja. Aku mengambil potongan sandwich, memakan beberapa potong dan kuputuskan untuk tidur di sauna. Mendengarkan burung-burung kecil berkicau, dan puluhan kupu-kupu berterbangan. Memberikan energi pada otakku untuk segera melupakan apa yang tidak patut diingat.
Rasanya aku benar-benar mudah tidur sekarang!
Cahaya terik matahari membuatku terbangun. Cuaca semakin panas dan kurasakan kulitku terbakar. Aku bangkit dari tidurku, berjalan masuk kembali kedalam mansion.
Melangkahkan kakiku malas menuju dalam ruangan dan seketika disambut oleh gawa dingin ruangan karena ac. Entah kenapa mataku kembali tertuju pada pintu dengan ukiran khas ornamen Italia itu. Apakah pintu itu terkunci?
Tidak ada siapapun sekarang dan kurasa jika aku masuk serta menyalakan lampunya aku tidak akan takut.
Mengumpulkan segala keberanianku aku mendorong pintu itu pelan, tidak terkunci. Kubiarkan pintu itu terbuka lebar sehingga cahaya dari luar bisa masuk kedalam. Setelah aku menemukan tombol lampu, seketika aku terperangah hebat dengan apa yang ada didalam ruangan itu. Seorang gadis yang terlihat lusuh serta kumuh terikat di salah satu tiang dengan rantai besar. Kedua tanggannya terbebas. Tapi tidak ada luka cambuk atau luka apapun. Hanya dia yang terlihat berantakan dan menyeramkan.
Aku memundurkan langkahku kebelakang, entah kenapa insting kewaspadaan ku mengatakan bahwa dia berbahaya. Gadis itu berlahan mendongakkan wajahnya, terbangun dari tidurnya karena aku menyalakan semua lampu yang ada ditempat ini. Mata birunya bersinar terang penuh kebencian dan dendam. Mulutnya mendesis marah menatapku, lalu mata itu jelalatan menatap sekeliling. Seringaian wanita itu membuat seluruh bulu kudukku merinding, ketika senyuman iblis dan msta yang menyeramkan menatapku buas.
" Jadi kau gadis yang dicintai oleh leonel sejak dia masih berumur 15 tahun? Kukira yang datang adalah Nora si perempuan tanpa ampun, ternyata yang datang adalah malaikat yang sedang tertawan iblis. " aku kembali memundurkan langkahku menjauhinya. Berjalan mundur menuju pintu. Wanita itu tertawa dengan sanggat menyeramkan.
" Kupastikan aku akan membunuhmu! Mencincang tubuhmu, memngubur potongan-potongan tubuhmu di 7 negara, dan sebelum aku membunuhmu akan kubuat tubuhmu tersiram timah panas.. "
" Siapa kau? Laira?" Pertanyaanku sungguh konyol. Jelas dia bukan laira karena wajahnya tidaklah sama denganku.
" kau tidak berhak bertanya siapa aku. Ingatlah wahai w***********g, kematianmu sudah diramalkan. Kau akan mati di tanggan seorang perempuan tua..."
Tubuhku luruh kelantai, ingatan tentang seorang nenek yang mengejarku semalam membuatku kembali meneteskan air mata. Dan aku menyesal telah memasuki ruangan ini. Aku ingin keluar dari neraka ini, tapi kenapa kakiku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk menompang langkahnya? Rasa lemah dengan ketakuatan yang membuat tubuh gemetar hebat bahkan saraf otak tidak mampu menyusun strategi dengan baik. Membuat pikiran buntu nan kosong dengan keadaan yang bahkan kau tidak tahu seperti apa sebenarnya.
Aku berteriak keras, tepat pada saat itu juga pintu terbuka dan kurasakan seseorang memelukku erat. Pria iblisku?
Kutatap matanya, dia juga balas menatap mataku. Terlihat marah dan mata itu menakutkan, sekaligus menentramkan.
" Honey, kau tidak seharusnya berada diruangan ini, dan kesalahanku karena melupakan ruangan ini! Honey, tutup matamu dan telingamu! Peluk erat aku!"
Aku menutup mataku, menekan telingaku dengan tangganku. Kemudian tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap. Hal terakhir yang aku dengar adalah suara pistol yang teredam dengan peredam suara. Apakah wanita itu mati?
Kupeluk erat tubuh pria iblisku, menekan wajahku ke dalam dadanya. Menghirup wanggi tubuhny yang entah sejak kapan terasa menenangkan. Tidak! Dia iblis!
Ketika kurasakan bias cahaya melalui celah mataku aku membuka mata dan sekarang aku sudah berada dikamar. Dengan sempoyongan aku mencoba lepas dari pelukan pria itu, berjalan lemah menuju ranjang. Merebahkan diriku, menarik selimut hingga ujung kepalaku dan memeluk boneka beruang coklat yang sudah ku claim bahwa itu miliku.
Rasa takut membuat seluruh tubuhku gemetar. Otakku terus memutar memori ketika nenek tua itu mengejarku dan kejadian yang baru saja terjadi sekarang. Pria iblis itu merasakan ketakutan ku sehingga dia memeluk tubuhku dari belakang dan mengusap kepalaku pelan. Aku ingin marah, memakinya, atau apapun itu asalkan hatiku terasa lega tapi otak dan hatiku buntu, apa yang aku inginkan.
" Honey, it's oke, meskipun kau mengangapku iblis tapi percayalah aku akan menjagamu apapun yang terjadi karena aku lah yang menyeretmu kesini."
Aku menelan ludahku kasar. Bagaimana ini? Bahkan aku tidak tahu siapa yang bisa kupercaya dan tidak. Siapa yang bisa kumintai bantuan? Siapa yang menjagaku dan siapa yang hendak melukaiku? Haruskah aku percaya dengan iblis ini?
" kenapa dia menginginkan kematianku?" Tanyaku lemah. Dia mengertakan pelukannya ke diriku, membuatku terasa gerah.
" Tidak ada seorangpun yang akan menyakitimu. Percaya padaku!"
" Tapi dia berkata bahwa perempuan tua itu akan membunhku! Apakah nenek tua yang saat itu juga ingin aku mati? "
" Honey, lupakan semua hal buruk yang dua hari ini kau jalani boleh? "
Aku diam saja. Menikmati belaian tangganya dan mencoba untuk percaya bahwa pria yang menyeretku kedalam kehidupan gelap ini akan menjagaku.
Kruckkk....
Wajahku terasa panas ketika perutku berbunyi keras. Aku memebenamkan wajahku ke boneka beruang coklat ketika kurasakan pria iblis itu tertawa. Ya Tuhan, bahkan perutku bisa lapar setelah kejadian gila ini? Apa dia tidak memikirkan bagaiaman perasaan hati dan otakku?
" Kau lapar honey, mau makan? Ini sudah jam makan siang."
Aku kembali diam, sehingga membuat dia tersenyum lagi. Pria iblis itu menekan salah satu tombol telefon dan berkata pada pelayan bahwa dia ingin makan siang dikamar.
Bagaimana nanti aku bisa makan jika pikiranku masih memikirkan kejadian gila tadi? Tapi nyatanya aku menghabiskan satu porsi steik, roti, sup seafood dan makanan encer yang kata pria iblis itu merupakan makanan khas orang italia. Sup yang kumakan terasa nikamt. Bahkan aku menghabiskan ayam gorengnya! Ini menjijikan tapi ada apa dengan diriku?
Makan yang banyak, tidur yang banyak, rasa malas, oh kurasa aku seperti orang hamil saja!
Hamil?