Back to Semarang

1497 Kata
GAZEBO di atas kolam renang menjadi tempat Kenzie menghabiskan kegabutannya sore itu. Usai ponselnya kehabisan daya akibat ia gunakan untuk bermain game online, cowok yang kini menggulung celananya sebatas lutut itu pun hanya bisa mengalihkan kegiatannya dengan merendam kedua kaki ke dalam air kolam renang. Dari arah selasar, terlihat kemunculan papanya bersama Pak Salim—sopir pribadi papanya—dengan penampilan yang membuat Kenzie tidak perlu berpikir keras untuk menebak apa yang direncanakan papanya sore ini. Kaus putih berkerah yang dirangkap knit vest, training trousers, sneakers, topi caddy, dan ditambah bawaan Pak Salim itu. Kenzie sudah hapal betul satu tempat favorit yang bakalan diincar papanya. "Papa!" Bergegas Kenzie mengeluarkan kedua kakinya dari kolam renang demi menghampiri papanya. Adhib Hanggara, pria bertubuh tegap itu sejenak memutuskan menghampiri putra semata wayangnya setelah menyuruh Pak Salim yang membawakan perlengkapan golfnya pergi ke mobil duluan. "Papa mau pergi?" "Ya, papa ada janji main golf sama Tante Anna." "Tante Anna yang rumahnya di Blok VI itu?" Ekspresi Kenzie seketika berubah antusias. Pasalnya, teman lama papanya yang seorang dokter itu langsung menjadi favorit Kenzie karena baik hati sekaligus cantik seperti sosok mama dambaan Kenzie selama ini. Adhib mengangguk. "Kalau kamu tidak ada kegiatan, gimana kalau sekarang kamu ikut papa saja main golf sama Tante Anna?" Kenzie menimbang sesaat. Memang benar ia sedang tidak punya kegiatan. Apa sebaiknya ia ikut papanya saja? Namun, tiba-tiba ia ingat ada hal yang semestinya ia kerjakan daripada sedari tadi gabut tidak jelas di pinggiran kolam renang. "Maaf, Pa, tapi Kenzie ingat mau nyiapin keperluan buat ke sekolah baru besok." Sekali lagi Adhib mengangguk-angguk melihat putranya yang tampak bersemangat itu. "Oke, jadi ceritanya ada yang sudah tidak sabar mau pergi ke sekolah baru, hm." "Iya dong, Pa. Kenzie senang kita bisa sampai lagi ke Semarang. Makasih ya, Pa, udah izinin Kenzie ikut Papa." "Ya, asal kamu senang, papa juga senang." Adhib tersenyum dan mengacak-acak puncak kepala Kenzie hingga membuat sebagian rambutnya mencuat ke sana ke mari. "Tapi tetap saja kamu harus ingat sesuai kesepakatan. Kita hanya akan tinggal sementara saja di sini, karena setelah proyek papa selesai, kita akan kembali ke Dubai." Ada ekspresi kecewa ketika sekali lagi secara tegas papanya mengingatkan berapa lama kesempatan mereka bisa tinggal di Indonesia. Sementara jika dapat memilih, Kenzie ingin sekali menetap saja di negeri kelahirannya sendiri. Namun, Kenzie paham karena manajemen bisnis perhotelan papanya memang berpusat di Dubai dan hanya sebatas setahun ke depan ini rencana papanya berada di Semarang guna mengurus megaproyek yang sebelumnya sempat terhenti. "Iya, Kenzie nggak lupa, kok." "Oke, papa berangkat dulu. Kasihan Pak Salim sudah nunggu di depan. Kamu baik-baik di rumah. Assalamu'alaikum." Kenzie mengangguk mengerti dan membalas, "Wa'alaikumussalam." Sampai sosok papanya belum menghilang, Kenzie masih bisa melihat papanya berpapasan dengan seorang cowok. Cowok itu menyalami tangan papanya dan bertegur sapa sejenak sebelum menghampiri Kenzie yang tengah menyedot jus jeruk di gazebo. ❤ "Assalamu'alaikum, Ya Akhi!" sapa Sakha mengangkat sebelah telapak tangannya. "Wa'alaikumussalam." Kenzie membalas ringan kepada cowok yang tak lain adalah sepupunya itu. "Heh, payah kamu ya, dari tadi diteleponin nggak juga bisa nyambung!" gerutu Sakha ketika teringat kekesalannya pada Kenzie. "Ponselku mati. Tuh," tunjuk Kenzie enteng pada ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas matras gazebo. Sakha mendesah keras. Pantas saja sepupunya itu tidak bisa dihubungi. Seharusnya Sakha sudah bisa menduga bagaimana ponsel itu berakhir dengan layar menghitam. "Pasti habis kamu buat main game terus kan tuh ponsel? Kurang-kurangin napa main game-nya biar baterai ponselmu juga awet," ujarnya sebelum ikut mengempaskan tubuh pada matras tempat Kenzie duduk bersila. "Itu memang baterainya aja yang udah gampang drop, Kha," dalih Kenzie. "Pintar ya kalau cari-cari alasan," decak Sakha serasa ia bukan sedang menasihati cowok SMA sepantarannya, melainkan bocil yang susah tobat bermain game. "Terus kamu sendiri kenapa tadi nelepon-nelepon segala?" "Tadinya aku cuma mau kabarin kalau mau main ke rumahmu. Terus selagi di jalan, sekalian aja tanya siapa tahu kamu mau nitip sesuatu buat dibeliin. Eh, kamunya malah nggak bisa dihubungi. Ya udah, nggak jadi." "Ya sori." "Cepetan charge dulu ponselmu sana." "Iya, nanti." Ogah-ogahan, Kenzie justru mulai asyik menyemil sestoples kacang kulit yang sudah berada di pangkuannya. Sakha bergeleng-geleng melihat kelakuan sepupunya. "Oh ya, kamu udah benar-benar yakin mau masuk SMA Bina Karisma? Aku pikir papamu bakal masukin kamu ke SMAIT yang sama denganku," tanyanya kemudian mengalihkan topik. Tidak langsung menjawab, Kenzie mencomot satu kacang kulit, memecah kulitnya yang garing, lalu melahap dua butir isinya sekaligus. "Iya, sebelumnya papa memang mau daftarin ke Rodian Fawwaz. Tapi tiba-tiba papa punya pertimbangan lain setelah ketemu teman lama papa yang juga tinggal di kompleks sini. Kalau dipikir-pikir, SMA yang direkomendasikan teman papa itu lebih dekat dari rumah dan searah juga sama kantor papa. Makanya papa jadi milih SMA itu." "Ada benarnya juga, sih. Kalau dari rumahmu ke Rodian Fawwaz bisa makan waktu dua kali lipat perjalanan dibandingkan ke Binka," gumam Sakha. Kenzie mengangguk menyetujui. "Setelah kemarin aku sama papa tinjau sendiri juga SMA Bina Karisma nggak kalah bagus dengan SMAIT kamu itu. Malahan SMA Bina Karisma udah terkenal oleh prestasinya di kejurnas karate. Ditambah lagi SMA itu satu-satunya SMA di dekat sini yang udah punya dojo sendiri," sahutnya di sela gerakan lidah yang tak henti menguyah kerenyahan kacang rasa bawangnya. "Huh, mentang-mentang jago karate. Pacarin aja terus tuh karate kesayanganmu," cibir Sakha sambil ikut mencomot satu kacang kulit. "Dih, sirik aja!" balas Kenzie. "Ngapain mesti sirik? Nggak penting banget, tahu!" Iseng saja Sakha melempar kulit kacang ke arah Kenzie. "Aduh, kena mata, tahu!" erang Kenzie menirukan gaya berbicara Sakha. Ia balas melempar kulit kacang ke dahi Sakha. "Eh, bilang aja kalau sebenarnya kamu itu sedih karena aku nggak jadi daftar ke sekolahmu." "Enak aja, siapa yang sedih? Aku itu malah bersyukur kamu nggak jadi masuk Rodian Fawwaz. Bisa turun ini reputasi kalau semua orang tahu aku punya sepupu cap petakilan macam kamu. Cukup waktu di Dubai aja aku tahu semua sepak terjangmu. Apalagi jangan mentang-mentang jago beladiri terus kamu pakai berlagak jadi jagoan di depan geng seniormu yang apalah namanya itu." "Aku bukannya berlagak jadi jagoan. Cuma gerah aja sama gengnya si Ashrof yang seenaknya sok berkuasa. Lagian mereka tuh yang sukanya cari ribut duluan. Ya mana mungkin aku diam aja. Aku kan pembela kebenaran dan keadilan." Ekspresi jemawa Kenzie menirukan moto superhero berkostum yang senantiasa bersedia menumpas musuh-musuhnya di muka bumi. Bola mata Sakha berputar malas. "Tapi di sini beda dengan di Dubai. Pokoknya aku nggak mau dengar kamu punya masalah di sekolah barumu nanti, tamam?" "Iya-iya." "Iya-iya apa? Jawab yang serius!" "Iya, aku tahu. Aku akan jadi anak baik. Nggak bakal cari-cari masalah sama siapa pun, karena aku Kenzie yang ganteng." "Ganteng bocor atau ganteng pecah?" ledek Sakha melihat tampang narsis sepupunya. "Itu genteng." Mereka lalu semakin asyik debat-debatan kecil sambil lempar-lemparan kulit kacang hingga mengotori lantai gazebo. Keakraban seperti ini memang sudah tidak asing lagi sejak kedua sepupu itu sama-sama lebih banyak menghabiskan masa kecil mereka di UEA. Berbeda dengan Kenzie yang sejak bayi sudah menetap di Dubai bersama papanya, Sakha baru dibawa kedua orang tuanya pindah ke Abu Dhabi sewaktu berumur tujuh tahun. Namun, sekitar tiga tahun lalu keluarga Sakha harus kembali ke Indonesia, karena Om Hanif—abinya Sakha—ditunjuk sebagai ketua pengurus yayasan Sekolah Dasar Islam Terpadu Umaro menggantikan kakeknya Sakha atau ayah dari Om Hanif. Selanjutnya selama kurun waktu tiga tahun tersebut, Sakha juga seperti ditenggelamkan oleh kesibukannya sendiri. Walaupun komunikasi via media sosial maupun kecanggihan teknologi lainnya di zaman sekarang yang seolah membuat jarak jauh menjadi terasa dekat masih tetap terjaga, tetapi Sakha tidak pernah punya kesempatan lagi untuk sekadar berlibur ke Dubai mengunjungi Kenzie. "Ken, tadi aku lihat di depan ada tukang bakso lewat. Beliin sono!" perintah Sakha seenak jidat, seenak udel, seenak bakso yang sudah terbayang akan ia lahap nanti. "Yang mau siapa yang beli siapa." Kenzie membalas sekenanya. Sakha yang sudah rebahan ala baginda raja, sejenak menggoyang-goyangkan jari telunjuk tangannya yang sedang tidak menopang kepala. "Wahai sepupuku yang budiman, gimanapun aku itu tamu di sini. Dan sebagai tuan rumah yang baik, udah semestinya kamu memperlakukan tamu layaknya raja." "Raja apaan semena-mena?" "Udah ah, sana beliin. Jangan kebanyakan protes!" Sakha tak mau tahu. Ia beralih membuat posisi tubuhnya telentang dengan kedua tangan yang dijadikan bantal. Matanya sudah memejam rileks menikmati suasana adem sore hari di pinggiran kolam renang rumah Kenzie. "Mana uang!" Mata Sakha kembali terbuka ketika melirik telapak tangan Kenzie yang sudah menodongnya. "Astagfirullah, traktir napa. Cuma bakso doang ini." "Kalau gitu beli aja sendiri." Sakha mendengkus sebal. Sengaja kayaknya itu anak niat banget ngerjain orang kelaparan. "Nih, bawa sekalian sama dompetnya." Kenzie berjengit masam. Setengah malas, ia menyambar dompet yang diangsurkan Sakha dengan gaya ala bos besar menyuruh petugas parkir valet. Apa boleh buat, kebetulan ia juga lapar. Bakso? Boleh juga. Sementara kembali memejamkan matanya, Sakha hanya menahan tawa geli saat masih bisa mendengar sepupunya itu mengomel tidak jelas sambil lalu. "Ken, yang pedes, ya. Jangan kasih mi kuning. Minta sawi hijaunya yang banyakan!" serunya, walaupun ia tidak yakin apakah Kenzie masih bisa mendengarnya atau tidak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN