Bibit Bunga

1362 Kata
UDARA di dalam taksi langsung menerpa wajah Rissa begitu ia mengempaskan duduknya di jok penumpang belakang. Beruntung sekali di depan rumah Rumaisha ada taksi yang sedang menurunkan penumpang. Jadi Rissa tidak perlu menunggu pesan taksi lain dulu untuk mengantarnya pulang ke rumah. "Ke Bukit Permata Blok VI ya, Pak," kata Rissa menyebutkan tujuannya sebelum sopir taksi sempat bertanya. Sopir taksi berseragam kemeja biru itu mengangguk mengerti dan segera melajukan taksinya. Hari Minggu ini, ia dan Kinar memang sengaja datang untuk menjenguk Rumaisha yang sejak kemarin tidak masuk sekolah karena sakit. Kata dokter, mag Rumaisha kambuh ditambah kecapaian mengurus kepanitiaan kegiatan majelis taklim hari sebelumnya. Menjelang sore, Rissa dan Kinar memutuskan pulang agar tidak lebih lama mengganggu waktu istirahat Rumaisha. Rissa pulang naik taksi, sementara Kinar dijemput motor kakaknya. Taksi yang dinaiki Rissa merayap di jalanan ibu kota sore itu. Meskipun hari Minggu, tetapi tetap saja yang namanya lalu lintas Kota Semarang tidak jauh-jauh dari kata sepi. Termasuk antrean panjang di lampu merah yang lamanya suka tak tanggung-tanggung sampai akhirnya menjadi pemicu kemacetan juga. Ya, seperti keadaan di persimpangan Bandara Internasional Ahmad Yani dan Bundaran Kali Banteng yang lampu merahnya bisa memakan waktu 2-3 menitan. Ditambah karena besok sudah hari Senin, tampak mulai terjadi pula lonjakan volume kendaraan arus balik pasca libur panjang memperingati Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sambil menunggu, Rissa hanya mengamati padatnya kendaraan-kendaraan bermotor di jalanan raya yang mengepulkan asap sumber radikal bebas dari corong knalpotnya. Mengurangi jatah udara bersih yang sudah sangat miskin, terutama di daerah perkotaan itu. Jangan tanya di mana ada sungai jernih mengalir kecil atau hamparan sawah dengan para petani dan kerbaunya yang tengah membajak, karena pasti akan langsung dikira orang salah tempat, alih-alih lagi melindur. Sawah bukan lagi dibajak kerbau, melainkan sudah dikuasai para pelaku bisnis yang berambisius menggarap lahan persawahan menjadi industri modern dan lebih berteknologi, tetapi malangnya limbah hasil industri justru masih sering diabaikan. Setidaknya di tengah maraknya industri yang saling berlomba-lomba membangun gedung-gedung bertingkat itu, masih ada sekelompok orang yang memikirkan pentingnya lahan untuk penghijauan. Contohnya seperti beberapa mahasiswa universitas yang mengenakan jaket almamater mereka di sana itu. Mereka turun ke jalan raya sambil membagikan flyer dan sekantong bibit tanaman kepada pengendara mobil maupun motor yang tengah berhenti di lampu merah. Sementara beberapa lainnya memegangi banner dengan tulisan besar-besar, "SATU BIBIT, SERIBU POHON. HIJAU ALAMKU, ASRI NEGERIKU". Pun, tak lupa di bawah tulisan tersebut terdapat tagar dalam bahasa Inggris, #SaveOurEarth. Seorang mahasiswi berhijab menghampiri taksi Rissa dan mengetuk kaca pintunya. "Bantu sukseskan penanaman bibit tumbuhan, ya," kata mahasiswi itu ramah seraya memberikan flyer serta sekantong bibit tanaman begitu Rissa membuka kaca pintu taksi. Rissa tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, Kak. Makasih." Mahasiswi itu membalas senyumnya sambil mengacungkan ibu jari sebelum pergi. Rissa menutup kembali kaca pintu taksi, lalu mengamati bibit dalam kantong plastik pemberian mahasiswi berhijab tadi. Bibit bunga verbena. Rissa tersenyum. Lumayan dapat bibit bunga gratis. Kayaknya bagus juga kalau ditanam di pot nanti, pikirnya seiring mengangkat kepala dan menoleh ke kaca pintu taksi. Bersamaan itu tiba-tiba kedua matanya membelalak lebar. Pasalnya tepat di sebelah taksinya sekarang ini baru saja berhenti sebuah motor sport dengan si pengendaranya yang seorang cowok. Jelas Rissa tidak akan sedemikian kaget kalau ia tidak mengenal cowok yang tengah membuka helm untuk melepas earphone di telinganya itu. Memperlihatkan paras rupawan dengan helaian rambutnya yang menjadi sedikit berantakan karena tarikan lepas helm. Sakha! Memekikkan nama itu saja dalam hatinya sudah membuat pipi Rissa memanas. Rissa tidak mau membuang kesempatan. Kapan lagi coba, bisa menyapa cowok pujaan hatinya? Mumpung masih lampu merah ini. Wait! Wait! Rissa tidak bisa memunculkan diri dalam wujud seperti ini. Ingat, tidak ada kerudung di kepalanya. Rambutnya kelihatan. Dan pakaiannya ... waduh, cuma potongan atasan sepinggang dan celana jeans ketat. Bisa-bisa Sakha illfeel kalau melihat Rissa berpenampilan tanpa hijab. Kalau ketemu cowok itu di majelis, penampilan Rissa wajib berhijab. Dan Sakha tahunya Rissa itu cewek berhijab. Ya, Rissa memang berhijab di sekolah. Tepatnya ia hanya mengenakan hijabnya saat di sekolah, ikut kajian, atau kalau lagi pergi ke acara-acara yang mesti pakai hijab untuk menyesuaikan dress code. Rissa jadi menyesal tidak mengenakan hijab sebelum pergi ke rumah Rumaisha tadi kalau ternyata akan ketemu Sakha di jalan. Oh, sebentar .... Aha! Rissa baru ingat tadi ia kan pinjam khimar Rumaisha. Sebenarnya khimar itu untuk dipakainya di kajian minggu depan. Nah, pakai itu saja. Memang benar ya, kalau udah mau ketemu jodoh itu pasti ada aja jalannya, kikik Rissa dalam hati. Cepat-cepat Rissa menggeledah isi tasnya, mengeluarkan sebuah khimar bergo panjang, lalu mengenakannya dengan tidak sabar. Khimar Rumaisha memang gede-gede semua. Kalau bukan karena ingin dipinjamnya untuk kepentingan kajian, Rissa sudah risi pakai khimar gede-gede begini. Nggak ada modis-modisnya, malah jadi kelihatan kayak ibu-ibu saja. Cewek yang masih kisruh sendiri menata khimar-nya itu sekilas menengok lampu lalu lintas. Masih ada satu menitan sebelum lampu berubah warna. Biasanya Rissa pasti sudah mengomel habis-habisan kalau mesti terjebak di lampu merah yang berasa punya timer seabad itu. Namun, kali ini benar-benar pengecualian. Bahkan ia berharap konyol timer lampu merah itu disetel sungguhan jadi seabad. Wah, kalau itu sama dengan berapa menit, ya? "Sakha!" panggil Rissa begitu membuka kaca pintu taksi, membiarkan kembali kebisingan kendaraan dari luar beradu dengan suaranya. Mendengar namanya dipanggil, kontan cowok bernama Sakha itu menoleh ke sumber suara. Keningnya mengernyit ketika sejenak mencoba mengenali cewek di dalam taksi itu. Ah ya, ia ingat cewek itu yang sudah beberapa minggu ini suka datang ke pengajian rutin di masjid tempatnya mengulang mengaji anak-anak juga. "Assalamu'alaikum, Rissa," ucapnya memberi salam dengan senyuman lembut yang senada suaranya. "Eh, iya ... wa'alaikumussalam, Sakha." Rissa tidak bisa menahan jerit hebohnya dalam hati bisa mendapat salam dari Sakha seperti ini. "Kamu dari mana?" tanya Sakha. "Dari rumah Rumaisha. Habis jengukin dia," sahut Rissa. "Memangnya Rumaisha kenapa?" "Dia lagi sakit. Sepulang dari tablig akbar kemarin magnya kambuh, ditambah kecapaian ngurus kepanitiaan." "Innalillahi. Jadi Rumaisha sakit. Tablig akbar kemarin memang cukup menguras tenaga. Salahku juga sih yang masih kasih tambahan tugas ke dia. Padahal dia pasti udah punya tugas sendiri bareng anggota Rohis-nya." Meski samar, tetapi entah kenapa Rissa merasa ada nada perhatian yang terselip dalam ekspresi kekhawatiran Sakha pada Rumaisha. Sakha juga terlihat menyesal sekali atas apa yang terjadi pada Rumaisha, seolah Rumaisha yang jatuh sakit disebabkan oleh kelalaiannya. Duh, ini mikir apa, sih? Memangnya salah kalau Sakha mau perhatian pada Rumaisha? Ada larangan kalau Sakha mengkhawatirkan Rumaisha? Itu kan dasar memang Sakha saja yang orangnya baik. Perhatiannya cuma bentuk kepedulian terhadap sesama. Apalagi Sakha dan Rumaisha kan sudah cukup lama saling kenal. Mereka tetanggaan, meski rumah keduanya berbeda blok. Selain itu Sakha dan Rumaisha sama-sama aktif di Irmas (Ikatan Remaja Masjid). Kalau dibandingkan Rissa yang baru satu bulanan ini ikutan majelis taklim—itu juga karena niatnya mau pedekate sama Sakha—wajar saja kalau Sakha sangat perhatian pada Rumaisha. "Rissa, kamu suka bunga?" Lamunan Rissa membuyar oleh pertanyaan Sakha. "Eh? Bunga?" Kenapa tiba-tiba tanya suka bunga? Apa Sakha mau kasih Rissa bunga? "I-iya, aku suka bunga." Sakha mengangsurkan kantong bibit ke hadapan cewek yang berseri-seri menjawab pertanyaannya barusan. "Ini tadi dikasih kakak-kakak mahasiswa itu. Kalau kamu suka, boleh kamu aja yang tanam." Oh, bibit bunga. Kirain Rissa mau dikasih bunga yang sudah siap saji. Eh, maksudnya bunga mekar yang sudah dikemas cantik jadi buket begitu. Duh, ge-er banget sih Rissa mengartikan pertanyaan Sakha tadi. Karena sudah mau lampu hijau, Sakha pun segera memakai helm full face-nya kembali. "Duluan, ya. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." Rissa masih memerhatikan kepergian Sakha bersama motornya yang berusaha mencari celah maju di antara kendaraan-kendaraan roda empat. Di tangan Rissa sekarang ini sudah ada dua kantong bibit bunga. Satu miliknya dan satunya lagi milik Sakha. Hei, benar juga! Walaupun tidak mendapat bunga bentuk jadi, setidaknya Sakha memberi bibitnya. Ibarat kata tidak ada yang instan di dunia ini, barangkali begitu juga soal cinta. Butuh proses. Seperti bibit bunga yang perlu disemai dulu, diberi pupuk, disiram setiap hari sampai keluar tunas bunga, tumbuh kuncup, lalu kuncup itu mekar menjadi bunga bermahkotakan nan indah. Tenang aja, Sakha, aku pasti bakal tanam dan rawat bibit bunga kita dengan penuh cinta biar tumbuh jadi bunga yang indah, batin Rissa bersamaan taksinya yang sudah kembali melaju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN