PUKUL empat pagi Bi Wati tergopoh-gopoh membuka pintu depan rumah. Seketika ia dikejutkan oleh kepulangan Adhib. Pria itu hanya membalas seperlunya sapaan Bi Wati yang tampak semringah menyambut kepulangannya. Tawaran dibikinkan minuman atau sesuatu oleh Bi Wati ditolak Adhib. Rupa-rupanya ia sudah tidak sabar ingin langsung menemui Kenzie, sebab pertama kali yang ditanyakannya kepada Bi Wati sejak ia sampai di rumah adalah tentang keadaan putranya itu. "Den Kenzie baik-baik saja, Pak. Sepertinya sekarang masih tidur. Apa perlu saya bangunkan dan bilang kalau Bapak sudah pulang?" "Tidak usah, Bi. Biar saya yang langsung ke kamarnya saja. Tolong, Bi Wati bawa masuk barang-barang saya di depan." Sesuai perintah, Bi Wati segera membantu membereskan koper serta semua barang bawaan Adhib l

