"ASTAGFIRULLAH, Adhib! Jadi ini kamu masih di Taiwan?" Sejenak Shafira menghentikan gerakan tangan kanannya mengaduk gula di dalam cangkir yang berisi seduhan kopi itu. Sedangkan tangan kirinya mempertahankan layar ponsel tetap menghadap wajahnya. Di layar alat komunikasi berbentuk pipih itu memang tengah menampilkan panggilan videonya bersama Adhib. Cukup dengan melihat latar belakang pemandangan dari tempat Adhib menerima panggilan videonya, Shafira memang harus memercayai kalau adik kandungnya yang berselisih usia empat tahun darinya itu memang masih berada di negeri orang. "Agenda mendadak berubah, Mbak. Mereka minta tanda tangan kontrak perjanjian kerja sama itu dimajukan," jelas Adhib. "Tapi kamu sendiri yang bilang akan pulang sebelum akhir pekan ini, kan?" Terlontar nada agak

