AHMET hanya bisa menatap hampa pintu ruang kerjanya yang dibanting Sevanee dengan penuh emosi. Mulutnya menyisakan desahan berat yang mengikuti gerakan meluruh tubuh pria tujuh puluh tahunan itu untuk duduk kembali di kursi putarnya. Tangkupan kedua telapak tangannya menyapu wajah kusut masai yang telah dipenuhi keriput di beberapa bagian itu. Tepat di depan peralihan atensinya ke sudut kiri meja kerjanya, iris hijau itu lantas menumbuk sebuah pigura kayu minimalis berwarna tortilla. Uluran tangan kanan Ahmet menjangkau pigura yang menyimpan potret paras-paras jelita berhiaskan cercah senyum sukaria milik kedua putrinya. Sevanee dan Sevda memang tidak dilahirkan dari rahim wanita yang sama. Perbedaan usia lima tahun membuat mereka saling mengerti pentingnya menghormati dan menyayangi sa

