ADA gurat kerinduan yang tak sanggup ditepiskan ketika sepasang mata sayu itu masih setia mengawasi aktivitas seorang anak remaja berseragam SMA, meskipun hanya terlihat sedang menyapa, tertawa, maupun berangkulan akrab dengan teman-temannya di depan gerbang sekolah tersebut. Sekian lama kedua tangan ini begitu damba mendekap, pun damba terbalaskan dekapan. Bertahun-tahun serangkai kalimat kasih tak terhaturkan, melainkan hanya tersimpan di ujung lidah. Sebutlah dirinya yang selama ini terlalu egois. Hatinya telah terbutakan oleh kemarahan. Sesingkat jalar api mengepung hawa nafsu yang terpecik bahan bakar emosi, lantas tanpa menaruh belas kasihan ia sanggup mengusir anak menantunya sendiri. Menghujat, menyalahkan, menuduh, dan mengecapnya dengan kata-kata berduri atas sesuatu yang bahkan

