DI SALAH SATU deretan kursi panjang pinggiran jalan setapak taman rumah sakit itu tampaklah seorang anak berseragam SMP yang belum kunjung menuntaskan jemunya sekalipun hanya berdiam duduk sendirian. Malam yang kian pekat menggiring angin malam bertiup kian kencang. Entah kenapa ia jadi ingin menyesali baju seragamnya yang demikian ketat. Bahkan ujung rok birunya tak mampu menutupi paha bawahnya yang baru saja disapa angin. Sekiranya mega mendung yang bergulung di kaki langit itu pun sudah tidak sabar memuntahkan muatannya. Salahkah jika ia berharap hujan jangan turun? Atau tidak apa-apa turun. Toh, hujan hanya berupa titik-titik air dan bukannya batu, duri, beling atau semacamnya yang bisa melukai kulitnya. Badannya hanya akan basah dan mungkin demam setelah itu. Ah, seseorang di gedung

