Chapter 8 - Something I Lost

2367 Kata
"Seperti ada sebagian dari kehidupanku yang kini tak lagi aku miliki. Sebab sejak mata ini terbuka, rasanya semua sudah tak lagi sama." ~Evander Yudiswara. *** Aroma nikotin dari sebatang rokok yang dihisap dan diembuskan ke udara, ikut terbang bersama semilir angin yang pagi itu sudah lebih dulu menyapa. Seorang pria paruh baya berdiri tepat di salah satu sisi atap rumah sakit, yang berdiri gagah dan menjulang hingga ke angkasa dengan enam susunan lantai. Berada di rooftop salah satu rumah sakit cukup ternama di kota New York tersebut, pria dengan setelan jas berwarna biru dongker itu tampak masih tegak berdiri. Memandangi lalu lintas yang berada tepat di bawah sana, yang semakin lama semakin padat pula dengan berbagai macam jenis kendaraan yang tak hentinya berlalu-lalang. Mentari belum ingin menunjukkan diri, tetapi syukurlah embusan angin pagi ini setia menemaninya sejak beberapa menit lalu. Derap langkah dari seseorang yang lain sudah menelusup ke gendang telinga lelaki paruh baya tersebut, hingga seseorang di belakang sana berhenti tak jauh dari posisinya berada. "Tuan." Tomi Yudiswara kembali mengembuskan asap rokok ke udara. Membiarkan racun itu bergabung dengan polusi, ia membalik badan. "Bagaimana?" Seorang pemuda yang mungkin berusia hampir menginjak 30 tahunan, terlihat memberikan gestur tubuh hormat sebelum ia membuka suara. "Tuan muda sudah sepenuhnya sadar," ia melaporkan berita yang memang dibawanya melintasi lantai. Dadaa bidang lelaki itu tegap dan kuat. Dan dalam sekali lihat saja, sepertinya orang-orang akan sepakat untuk menyimpulkan bahwa lelaki itu mungkin memiliki kemampuan pertahanan diri yang cukup baik. "Kondisinya membaik dari hari ke hari, dan tim dokter yang menangani berkata bahwa penyembuhan tuan muda berjalan dengan sangat baik," lelaki itu memberi informasi. Tomi berdeham samar, selaras dengan jalinan kata dari asisten kepercayaannya yang terdengar mengudara. Menjatuhkan batang rokok yang masih tersisa sebagian, lelaki itu mematikan api dengan ujung sepatu yang mengkilap. Belum bersuara, hingga suara sang ajudan kembali terdengar. "Tapi, Tuan...." Kalimat Arendra--bagaimana lelaki tegap itu dipanggil, berhasil membuat Tomi menaikkan kepala. Membiarkan irisnya menatap lurus dan tajam ke arah manik Are, lelaki itu penasaran. Bagaimana cara putranya yang hampir sebulan ini terbaring di ambang hidup dan mati, akan melihatnya nanti? Bagaimana sang putra--yang juga pewaris jaringan bisnis raksasa yang ia miliki, nanti akan berbicara padanya, jika saja dia tahu kejadian ini disebabkan oleh ketidakbecusan dari anak buah yang diutus Tomi sebulan yang lalu? Tentu bukan untuk mencelakai lelaki muda itu, hanya ingin menahannya agar tak pergi semakin jauh. Tetapi semuanya berubah naas, saat takdir semesta pun ternyata lebih kuat dan dahsyat dari apa yang pernah Tomi bayangkan. "Tapi apa?" Setengah mendesis, Tomi terdengar tak sabar. "Apa, Are?" Are menarik napas untuk melegakan rongga di dalam sana. Sulit sekali rasanya untuk mengemukakan hal ini, sebab dia tak tahu apakah fakta ini akan membawa kebaikan atau tidak pada kehidupan dua bos besar yang memang harus ia layani. "Tuan muda ... kehilangan ingatannya, Tuan," ucap Are setengah terbata. "Dokter perlu berbicara dengan Tuan, untuk menjelaskan kondisi sebenarnya. Tuan muda sudah sadar, namun dia sama sekali tak mengingat apa-apa." Bak disambar petir, Tomi Yudiswara membeku. Bahkan hampir tak berkedip kelopak mata lelaki itu, sebab otaknya sedang berpikir panjang apakah kenyataan ini harus dia syukuri atau tidak. Tentu masih teringat lekat di ingatan Tomi, tentang bagaimana dia dan putranya bertengkar di malam yang hujan waktu lalu. Bagaimana dia berlaku amat kejam pada putranya sendiri, yang dianggapnya juga tidak tahu diri sebab lebih memilih orang lain dibanding keluarga yang telah membesarkannya hingga detik ini. Kepergian putranya malam itu, sungguh membekaskan bersayat luka di hati Tomi. Dia tak ingin memaksa anak satu-satunya itu untuk mengambil alih semua yang mereka miliki, namun ia tak punya pilihan. Hingga, kabar itupun terdengar. Kabar bahwa putranya berusaha untuk pergi menjauh bersama sang kekasih, yang hari itu berencana untuk menaiki kereta paling pagi. Saat kabar itu sampai ke telinga Tomi, satu-satunya yang bisa ia pikirkan adalah, menghalangi kepergian sang putra. Bagaimanapun, lelaki muda itu tak bisa pergi darinya. Tidak lebih jauh dari jarak yang telah terbentang, yang akhirnya membuat Tomi mengutus beberapa orang untuk menahan langkahnya. Dan semua itu, terjadi begitu saja. Kini, Arendra mengatakan bahwa sang putra lupa ingatan? Lantas, apa yang harus Tomi lakukan sekarang? "Bagaimana bisa?" Tomi berucap lirih, setelah membiarkan desau angin mengambil alih suasana untuk beberapa detik. Jelas tergambar bahwa lelaki paruh baya itu sedang shock. "Bagaimana bisa? Dia ... tak mengingat apa-apa?" Arendra mengangguk pelan. Diam-diam menyayangkan keadaan ini, sebab seharusnya tak seperti ini yang terjadi. Segalanya, sungguh jauh dari apa yang mereka perkiraan. "Tuan, sebaiknya Tuan segera menemui dokter," Are memberi saran yang berarti. Dia tahu tuan besarnya mungkin masih tak percaya, namun seperti itulah yang harus mereka terima. "Dokter menunggu, Tuan." Tomi menghela napas panjang. Memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, pembisnis itu berusaha memaksa otaknya untuk berpikir. Mengayun langkah tanpa membalas perkataan Arendra terakhir kali, Tomi mengarah menuju lift. Arendra mengikutinya tak jauh di belakang, yang juga memilih untuk mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sepanjang perjalanan, Tomi masih berpikir. Apa yang harus dia katakan? Bagaimana dia harus menjelaskan segala situasinya? Terlebih, bagaimana dia harus menghadapi putranya nanti? Denting lift yang terdengar membawa Tomi dan Are melintasi lantai demi lantai, hingga kotak besi tersebut berhenti di lantai tiga. Menyusuri koridor dan lorong yang didominasi dengan warna salem muda, Tomi masih hening sepanjang perjalanan mereka. Hingga langkah keduanya memelan untuk beberapa saat, sebelum lengan Arendra yang terbalut kemeja tersebut terulur dan memutar kenop pintu. Dan, lelaki muda itu menaikkan kepala. Duduk dengan infus yang masih terpasang di punggung tangannya, ia menaikkan kepala saat sosok Tomi dan Arendra muncul di ambang pintu. Seorang dokter berparas bule khas ras Eropa terlihat menemani di sisi kiri ranjang, dengan dua perawat yang berada masing-masing di sisi kanan dan kiri sang dokter tersebut. Pria muda itu menyipitkan mata, berupaya mengenali dua orang yang tampak tak asing di depan sana. Namun kemudian yang dia rasakan adalah, sakit menyiksa yang kini meremas-remas setiap sisi di kepalanya. Membuat kepala itu mau pecah. "Arrggghhh!" Mengaduh, sang lelaki muda memegangi kepalanya yang diperban keliling dengan kedua tangan. Merasa kesakitan, saat sang dokter refleks mendekat. "Kau merasa sakit?" tanyanya dengan pelafalan bahasa Inggris yang sangat fasih. "Jangan memaksakan ingatanmu kembali dengan cepat. Mari kita lakukan perlahan-lahan saja, ya." Lelaki muda itu tak menjawab. Menunduk dengan kepala yang masih berdenyut sakit, ia mengatur deru napas yang tiba-tiba saja melonjak naik. Rasanya degupan jantung di dalam sana pun berdetak cepat sekali, dengan kecepatan yang tak bisa dia kendalikan. Saat lelaki muda itu masih menunduk, Tomi mendekati sang dokter yang mengajaknya untuk berpindah ke sisi kiri kamar rawat tersebut. Berhadapan, sang dokter menjelaskan kondisi yang dialami oleh putra Tomi, dengan gerakan tangan dan raut wajah yang cukup serius. Arendra mengambil posisi persis di sisi kanan sang pasien yang memang sejak tadi kosong, memandangi lelaki muda itu dengan tatapan nanar dan rasa prihatin yang mendalam. Meski begitu, Are pun menahan diri untuk tak bersuara sebelum tuan besarnya bersuara. Menganggukkan kepala, Tomi memahami setiap hal yang dituturkan sang dokter. Mencernanya dengan baik, hingga dokter berkacamata itu pamit undur diri, bersamaan dengan dua perawat yang juga berlalu dari sana. Meninggalkan sang pasien dengan kedua kerabat, suara pintu tertutup itu menjadi tanda bahwa dokter dan perawat tadi sudah benar-benar berlalu. Suara yang juga, membuat sang pasien mengangkat kepalanya perlahan-lahan. Memandangi Are dan Tomi bergantian, lelaki muda itu masih mengerutkan kening tak paham. Sekaligus, belum juga mengenali siapa sosok dua lelaki di hadapannya tersebut. "Siapa ... kalian?" Tomi mendekat. Perlu banyak keberanian untuk terus melangkah maju, saat lelaki itu tahu segala yang terjadi adalah kesalahannya. Namun baru saja Tomi berpikir, bahwa ini mungkin dapat diperbaikinya dengan cara yang benar setelah ini. "Evander Yudiswara," ucap Tomi pelan, berhenti di ujung ranjang yang ditempati sang putra. Membiarkan kepala lelaki itu bergerak samar, saat Tomi sudah kembali bersuara saat manik hitam serupa warna itu saling bertumbuk. "Itu namamu, putraku." Evander mengerjap. Rasanya tak asing nama itu terdengar, meski dia memang tak mengenali siapa sosok dirinya sejak ia membuka mata beberapa puluh menit lalu. "Evan ... der?" ucap sang pasien terbata. "Yudis ... wara?" Giliran Tomi yang mengangguk samar. Mempertahankan posisi tubuhnya agar tetap tegak, dia berpikir bahwa dia tak memiliki pilihan lain selain mengatakan hal-hal yang dianggap perlu saja. Ketidakingatan Evander akan masa lalunya mungkin akan membawa keberuntungan, saat Tomi berpikir inilah mungkin cara semesta mengembalikan putranya kembali pada dirinya. Ke tempat yang tepat. Ke tempat di mana seharusnya Evander berada. Persis di sampingnya, persis di depannya saat kelak lelaki itu siap menerima segala mandat untuk bisnis raksasa mereka yang bernilai jutaan dollar. Mungkin, inilah cara semesta mengembalikan Evander padanya, meski harus melalui cara yang tidak biasa. "Lalu, siapa kau?" Evander mulai bersuara. Ada begitu banyak bayangan kosong di kepala lelaki itu, yang masih samar dan berupa potongan-potongan kecil. Semakin Evander berusaha untuk mengingatnya atau menjadikannya lebih nyata, hanya kesakitanlah yang ia dapatkan. "Aku Tomi Yudiswara, Evan," jawab Tomi dengan nada suara yang tidak berubah. Menjadi seorang pembisnis sukses, tentunya lelaki itu memiliki kemampuan yang baik untuk menghadapi segala situasi. Termasuk, untuk bersikap di depan putranya yang kesulitan menemukan kehidupan. "Ayahmu, sekaligus satu-satunya keluargamu yang tersisa. Kau mungkin tidak mengingatnya sekarang, tetapi Ayah yakin kau akan ingat sebentar lagi." Ada sesuatu yang melegakan di hati Evander. Tadinya, lelaki itu berpikir dia mungkin tak memiliki keluarga yang lain, sebab dia terbangun dengan ruangan yang kosong tanpa seorangpun di sisinya. Namun syukurlah, dia punya seorang ayah. Dan orang itu, terlihat bisa diandalkan. Meski tak mengingat apa-apa, namun Evander dapat mengambil kesimpulan bahwa dirinya bukanlah berasal dari kalangan bawah. Bagaimana outfit dan pembawaan tenang Tomi Yudiswara, yang mengaku sebagai ayahnya baru saja, membuat Evander yakin bahwa mereka pasti berada di kalangan yang cukup berpunya. Terlebih, ruangan ini terlihat sangat mewah dengan hanya satu ranjang yang ditempatinya kini. "Dan dia, adalah Arendra," Tomi mengarahkan sebelah tangan pada sisi di mana Are berada, yang lantas membuat Evander menolehkan kepala. Menatap lekat Are yang kini menarik senyum tipis, Evander hanya membasahi bibir dengan lidahnya yang sedikit terulur. "Dia adalah asisten yang paling kupercaya, sekaligus seseorang yang dapat kau andalkan, Evan. Dia akan berada di sisimu, menemanimu hingga kau mengingat semuanya nanti." Evander belum berucap apa-apa. Sosok Are yang kini masih menahan senyum padanya membuat lelaki itu mencoba memilah memori, namun sialnya masih bayang-bayang semu yang dapat dia ingat. "Coba katakan tentang kehidupanku," pinta Evander tiba-tiba. Layaknya ruang kosong yang hampa, seperti itulah dia merasakan dirinya saat ini. Seperti ada sebagian dari dirinya yang hilang, Evander merasa ada yang tak lengkap di sini. "Mengapa aku ... bisa berada di sini?" Tomi dan Arendra tak sengaja berbalas tatap. Hingga Tomi sengaja menaikkan tangan untuk memberi tanda, yang sekaligus membuat Are mengerti bahwa dia tak perlu menjelaskan apa-apa. Biar tuan besarnya saja yang menjelaskan semua pada tuan muda mereka. "Kau terjatuh," ucap Tomi pelan. Hampir tak terdengar, namun kesunyian yang menyelimuti ruangan itu ternyata masih membiarkan suaranya terdengar. Tomi menyadari bagaimana manik Arendra melebar, sebab memang bukan itulah yang seharusnya Tomi katakan. Namun lagi-lagi, Arendra tak bisa membuka suara. Evander mengerutkan kening. "Jatuh?" "Kau terjatuh, Evan, dan semuanya terjadi begitu saja," Tomi memulai kebohongan yang dia pikir akan membantunya mengubah keadaan. "Syukurlah kau baik-baik saja, Evan, meski butuh berbulan untuk membuatmu sadar dari tidurmu yang panjang." Berbulan? Apakah dia terbaring di ranjang ini sudah sebulan lamanya? Dengan kesadaran yang tak kunjung tiba, dan kini saat ia membuka mata, ternyata ia tak mengingat apa-apa? Baru saja Evander hendak membuka suara, namun suara ayahnya sudah lebih dulu kembali terdengar. "Ada banyak sekali hal yang harus kita ceritakan, putraku," ucap lelaki itu dengan takzimnya. "Namun sebagaimana yang dokter katakan tadi, lakukanlah perlahan. Kau mungkin tak ingat apa-apa sekarang, namun pelan-pelan Ayah yakin kau akan mengingat semuanya nanti. Itu mungkin butuh waktu, Evan, tetapi jangan khawatir sebab aku dan Are akan mendampingimu setiap waktu." Masih penasaran, Evander merasa tak ingin mempercayai perkataan lelaki yang mengaku sebagai ayahnya tersebut bulat-bulat. "Apa yang aku lakukan? Siapa aku sebelum aku terbaring di sini? Berapa usiaku?" Mengembuskan napas pelan, Tomi Yudiswara tak ingin membuat keadaan menjadi buruk. "Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya," sambung Evander lagi. "Bisa kalian bayangkan bagaimana aku harus menerima kenyataan ini? Saat tak satu pun hal bisa kuingat tentang kehidupanku?" Tomi menggenggam erat tepian besi ranjang rawat itu. Mendekat selangkah, ia maju dan menganggukkan kepala. Tak keberatan untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Evander. "Kita tinggal di sini selama ini," ucap Tomi menyambung kebohongan yang telah terlanjur terucap. "Kau adalah mahasiswa yang sebentar lagi akan wisuda, setelah itu akan siap untuk menggantikan posisi ayah untuk mengambil alih bisnis kita, Evan." Evander mencerna kata demi kata yang terucap dari bibir Tomi. "Tahun ini, kau berusia 21 tahun," sambung lelaki paruh baya itu. "Masih sangat muda, namun kau sungguh kompeten dan berkemampuan dalam berbisnis." Bukankah satu kebohongan akan menghadirkan kebohongan yang lainnya? Dan hal itulah yang sedang terjadi sekarang. "Kau suka berenang, dan mungkin juga suka bermain band bersama teman-temanmu," ucap Tomi, meski ia sendiri pun tak yakin apakah hal ini berarti atau tidak. "Pokoknya, kehidupanmu sebagai lelaki muda sangat luar biasa, Evan. Perlahan-lahan, Ayah yakin kau akan kembali pada kehidupanmu yang dulu." Banyaknya kata yang ia dengar saat ini, membuat Evander malah melirik kepada Are yang sejak tadi memilih untuk hening. Tomi mungkin terlalu banyak bicara, yang kemudian membuat Evander ragu apakah benar dirinya seperti itu di kehidupannya yang lalu. Evander menoleh lebih dalam pada Are yang sejak tadi memang tak sedikitpun bersuara. Mungkin mencoba mengkonfirmasi, saat kemudian ia bertanya satu hal pada lelaki yang tampaknya tak jauh berbeda usia dengannya tersebut. "Siapa aku, Are?" tanya Evander datar. "Kau pasti mengenalku, kan?" Tampak terkejut dengan apa yang ditanyakan Evander padanya, Are refleks mengarahkan pandangan pada sang tuan besar. Mendapati Tomi menggeleng, Are kesulitan untuk memberi jawaban. Entah bagaimana dia harus menjelaskan, namun iris lelaki muda itu tak luput dari irisnya yang berputar kebingungan. "Hmm?" Evander menuntut jawaban. "Di matamu, aku ini siapa?" Dengan gertakan halus di giginya, Arendra berusaha untuk tidak bersikap canggung. Mengatur nada suaranya agar tak terlihat bahwa dia kesulitan, lelaki itu akhirnya bersuara pelan. "Kau adalah tuan muda kami, Evan," jawab Arendra dengan sebaris senyum yang terbit di sisi bibirnya. "Sekaligus pewaris tunggal, yang sebentar lagi akan mengambil alih bisnis perhotelan Yudiswara yang terkenal." Dan kebohongan itu, terlanjur menjadi titik balik yang mengubah semua sudut pandang Evander akan dunia. ~Bersambung Yeay, welcome to sinetron ala-ala Bee, wakakaka~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN