Chapter 7 - I'm (not) Fine

1683 Kata
"Aku percaya kau masih berada di sini. Mungkin di belahan dunia berbeda, mungkin pula di antara pepohonan rindang dengan semilir angin. Meski tak bersamaku, aku tahu kau ada." ~Gladys Amara. *** Sebulan sudah berlalu sejak peristiwa menyedihkan di stasiun itu terjadi. Jika waktu sebulan mungkin tak mengubah apa-apa bagi sebagian besar manusia, namun ternyata tak begitu yang dirasakan Gladys. Setiap harinya, setiap menitnya, bahkan setiap detiknya, ia masih merasa sakit yang mendalam untuk perpisahan tanpa kata-kata perpisahannya bersama Evander. Ketidakhadiran lelaki itu untuk memenuhi janji mereka, kini mulai membuat Gladys lambat laun membangun rasa benci pada lelaki itu. Fakta bahwa Evander bahkan tak sekalipun muncul di hadapannya hingga detik ini, membuat Gladys hanya bisa bertanya-tanya tentang apa sebenarnya yang menjadi titik pacu perpisahan mereka. Apakah segalanya semudah itu bagi Evander untuk melepaskan dirinya? Setelah memutuskan untuk memilih Gladys, apakah Evander menyesali keputusannya dan kemudian memilih untuk meninggalkannya? Apa rencana demi rencana yang telah mereka susun ternyata tak berarti untuk Evander, saat lelaki itu sama sekali tak menampakkan lagi batang hidungnya hingga detik ini. Gladys dipenuhi kecewa. Dipenuhi dengan prasangka, dipenuhi dengan rasa amarah. Cinta yang menyelimuti kisah mereka selama tiga tahun belakangan ini, sungguh menyayat hatinya sebab akhir yang begitu tragis untuk Gladys. Hingga perempuan itu lebih sering termenung sendiri, masih terlalu sulit menerima bahwa kini tak ada lagi Evander di setiap detik kehidupannya. Lelaki itu menghilang bak debu yang diterbangkan angin, menguap tanpa ada kabar berita sama sekali. Segalanya sepi. Hidup tak pernah terasa sesulit ini untuk Gladys, bahkan tidak saat ia mencoba mengingat kenangan yang tersisa antara dirinya dan orang tua yang ia tak lagi punya. Kenangan masa lalu itu mungkin masih membekas di sela pikiran Gladys, namun Evander jauh lebih berharga daripada itu. Gladys menggantungkan harapan pada lelaki itu. Tak hanya harapan, juga cinta yang ia harap akan menjadi nyata. Tak peduli dengan fakta bahwa dia mendampingi seorang pewaris tahta dari jaringan hotel raksasa, Gladys hanya memimpikan untuk terlelap dan terbangun di samping lelaki itu. Setiap harinya. Setiap bulannya. Setiap tahunnya. Bahkan, hingga maut memisahkan mereka. Namun semuanya hanya angan-angan semata, sebab yang Gladys temukan hanyalah dirinya sendiri saat ini. Menunduk untuk menatap gawai yang berada di tangan, perempuan muda itu mendesah pelan. Menikmati semilir udara yang menari di sekitarnya, di sore hari di taman kampus mereka. Sekali lagi--untuk kesia-siaan yang sudah dapat diduga oleh Gladys, nomor Evander memang tak bisa dihubungi. Dikta, teman dekat dari kekasihnya tersebut pun bak ditelan bumi, tak lagi muncul sebab mereka memang berada di kampus yang berbeda. Hal itulah yang kemudian membuat Gladys tak tahu harus mencari ke mana, sekaligus memaksanya untuk terus menunggu. Satu tepukan ringan yang mendarat di pundak kirinya menyadarkan perempuan itu dari lamunan, lantas mendapati sosok Priscil yang tampak tergesa. "Glad! Glad! Ada kabar terbaru!" Gladys menoleh. Menggeser posisi duduknya untuk memberi ruang bagi sahabatnya, Priscillia, Gladys memiringkan kepala. Tak terlalu menganggap serius apa yang diucapkan gadis berambut cokelat gandum itu. "Kenapa, Pris?" Meski ogah-ogahan, Gladys tetap menjawab. "Janji jangan kaget, ya," Priscil setengah berbisik. Nada suara yang tadinya tinggi, kini mulai merendah. "Ini mungkin penting buat lo, Glad. Lo siap ngedengerinnya?" Gladys tak tahu apa yang dimaksudkan oleh Priscil. Temannya itu memang terkenal heboh dan merupakan ratu gosip di kampus, dengan pernak-pernik yang eye catching yang tak pernah ketinggalan sebagai gayanya. "Hm mh," Gladys berdeham malas. Memangku dagu dengan sebelah tangan, perempuan itu masih tak tertarik. Hingga tiba-tiba suara Priscil hilang seketika, sebelum ia mendekat dan berbisik persis di telinga Gladys. "Gue udah denger kabar Evander, Glad." Tak ada reaksi paling pas, yang dapat diberikan Gladys pada Priscil selain mata yang membelalak lebar. Tubuh perempuan itu menegang, kaku seketika saat pandangannya tampak meremang. Evan? Evander? Kekasihnya yang menghilang? "Hah?" Mengangguk, Priscil membiarkan rambut panjangnya bergoyang. "Evander," ucapnya jelas. "Si b******k yang ninggalin lo begitu aja itu, Glad, kabarnya sekarang di US." Bagai disambar petir, Gladys tak tahu apa yang harus dia katakan. Bagaimana dia harus menghadapi ini semua? Benarkah Evander sungguh meninggalkannya dengan sangat menyedihkan seperti ini? "Pris--" "Gue sih nggak bisa konfirmasi ini benar apa enggak, Glad," Priscil memotong cepat. "Tapi yang mau gue bilang adalah, sebagai sahabat lo yang mengetahui gimana lo berubah setelah kejadian itu, please, Glad. Lupain dia. So sorry to say, tapi laki-laki b******k itu memang eksis di muka bumi ini, Glad. Dan gue rasa, Evander adalah salah satu dari mereka!" Nada suara Priscil mendadak naik beberapa oktaf, sebab perempuan itu sungguh tak terima bagaimana Gladys berubah semenjak Evander menghilang. Gladys memang tak menceritakan perihal rencana ia dan Evander untuk menikah saat itu, tetapi peristiwa menyedihkan itu cukup membuat Gladys sulit untuk melanjutkan hidup. Dan Priscil, adalah saksi bagaimana Gladys mencoba bertahan, mencoba berteman dalam luka yang tak berkesudahan. Dalam sekali lihat saja, Priscil tahu bahwa sahabatnya itu menyimpan rasa cinta mendalam pada seorang lelaki yang sama. "Please, Glad." Priscil sampai memohon karena Gladys tak kunjung bersuara. Manik gadis muda itu menerawang jauh, membumbung dengan asa dan setiap kemungkinan yang dia miliki. "Please, Glad, please lupain dia dan semuanya," sambung Priscil lagi. "Percayalah, gue sedih banget ngeliat lo yang nggak bersinar kayak dulu lagi semenjak kejadian itu. Padahal, kalo memang info yang gue denger ini bener, ternyata dia--si b******k Evander itu, malah mungkin lagi senang-senang di belahan dunia lain sana. Lo rela ngabisin waktu lo untuk nunggu orang kayak dia, Glad? Hah? Lo mau nyia-nyiain waktu untuk orang jahat kayak dia, Glad?" Hati Gladys sudah remuk redam. Ini bukan pertama kalinya bagi Gladys merasa bagai dihantam ombak yang tak berkesudahan, yang sekaligus menggulung dirinya dalam kalutan luka. Tak ada jalan keluar bagi perempuan itu, kecuali dia yang menopang dirinya sendiri. "Percayalah, Glad, hidup kita masih sangat panjang," Priscil kembali berbicara. Menangkupkan sebelah tangannya pada punggung tangan Gladys yang terkulai di pangkuan, perempuan itu berusaha untuk memberikan nasihat paling baik yang dapat dia berikan. "Sayangi diri lo, hmm? Buang semuanya dan lanjutkan hidup dengan kuat, oke? Nggak boleh nangis lagi untuk dia, nggak boleh mikirin dia lagi. Lo bisa, Glad?" Bagi Priscil, kebahagiaan Gladys adalah hal paling utama yang harus terjadi. Perubahan yang dialami Gladys sungguh drastis, bahkan Priscil yakin sahabatnya itu tak makan dengan teratur untuk sebulan belakangan ini. Hidupnya sendu, lesu, bahkan dia tertinggal di beberapa mata kuliah karena seringnya meringkuk di kamar indekos. Dan hal itu, sungguh membuat Priscil khawatir. Sebagai mahasiswa yang sama-sama mengadu nasib di kota ini, Priscil merasa memiliki tanggungjawab untuk menyelamatkan Gladys dari kubangan kesedihan. "Pris--" "Serah lo mau marah atau apa ke gue," Priscil mengibaskan sebelah tangannya. "Serah lo, Glad, mau ngomong gue terlalu ikut campur di permasalahan lo atau gimana-gimana, ya. Yang penting, lo harus lalui ini, Glad. Please, nggak ada yang bisa nyelamatin diri lo selain diri lo sendiri, Glad." Tak kuasa menahan gejolak perasaan yang menggelegak, Gladys begitu saja menghambur ke dalam pelukan Priscil. Memeluk sahabatnya itu erat, Gladys harus bersyukur berkali-kali untuk keberadaan Priscil di sisinya. Perempuan itu terus cerewet, terus membombardir Gladys untuk melakukan ini itu. Tapi kini Gladys tahu, itu hanyalah cara Priscil untuk menunjukkan rasa kepeduliannya pada Gladys. Sungguh tak ada niat terselubung apa pun yang dimiliki Priscil, dan itulah mengapa kini Gladys memeluknya dengan sangat sangat erat. "Glad." "Maafin gue, Pris." Tersedu sedan, Gladys bertumpu dalam dekapan hangat Priscil. Tak peduli meski air mata mungkin akan membasahi blouse yang menampakkan sedikit pusar perempuan itu, Gladys sungguh tak peduli. Priscil mengusap-usap punggung Gladys dengan lembut. Menjadi sandaran bagi Gladys, Priscil sebisa mungkin menenangkan temannya tersebut. "Gue cuma pengen tahu kenapa dia pergi, Pris," Gladys berbisik, di sela-sela isak tangis yang masih mendominasi. Menarik ingus dan mengelapnya dengan punggung tangan, Gladys membiarkan pertahanannya runtuh saat itu juga. Di sore hari dengan semilir angin yang terus bergerak, Gladys kembali menangis. Entah untuk yang kesekian kali dalam sebulan belakangan ini, dia pun tak tahu. Kehilangan Evander secara tiba-tiba seperti ini tak pernah dia pikirkan akan terjadi, saat hari demi hari yang Gladys lewati, tak luput dari bayang-bayang lelaki itu yang terus datang menyapa. Bahkan Gladys mengirim banyak sekali pesan pada lelaki itu di room chat mereka, berharap nomor ponsel itu akan aktif dan menghubunginya kembali. "Iya, Glad," Priscil menimpali, masih tak berhenti mengusap punggung Gladys. "Gue cuma pengen tahu apa alasannya dia ninggalin gue kayak gini," sambung Gladys lagi. "Apa salah gue sampai dia tega mutusin kita dengan cara paling kejam kayak gini? Nggak ada pamitan, nggak ada perpisahan, tapi dia sekarang di luar negeri?" Gladys mengatur deru napasnya yang kian memburu dengan susah payah. Setiap detik yang dia lewati setelah kehilangan Evander tak pernah terasa mudah, dan perempuan itu benar-benar berada di ambang batasnya kali ini. "Yang sabar, Glad," Priscil kembali berbisik pelan. "Percayalah, semua yang terjadi di hidup kita pasti ada manfaatnya, Glad. Anggap aja lo emang harus lewatin ini, seakan-akan lagi diuji supaya bisa semakin kuat lagi." Gladys sudah mendengar begitu banyak nasihat. Namun entah mengapa yang selama ini seakan terpental, dan baru inilah Gladys membuka telinganya lebar-lebar. "Iya, kan?" Gladys masih bersedu sedan. "Rasanya gue bodoh banget karna cuma gue yang menderita kan, Pris? Kalo dia emang bener ada di sana dan nggak nyoba kasih kabar sama sekali, berarti apa yang gue duga selama ini memang benar, Pris." Isakan itu sudah berangsur mereda. Namun kelopak mata itu masih tampak sembab, tentunya, saat Gladys pun membiarkan sisa basah terasa di pipi dan wajahnya. Merasa mulai lega, Gladys mengurai dekapan bersama sang sahabat. "Duga apa, Glad?" Priscil penasaran. "Apa yang lo duga selama ini?" Tak langsung menjawab, Gladys mengambil jeda untuk kembali mengatur tarikan napasnya. Tak ingin matanya kembali menurunkan bulir air, Gladys mengumpulkan suara hatinya yang selama ini bercokol di dalam sana. "Fakta bahwa Evan memang nggak pernah serius ke gue, Pris," ucap Gladys menyesal. Manik perempuan itu meremang, menatap ke arah acak di depan sana. "Dugaan gue bahwa dia memang nggak sepenuhnya berada di hubungan kami, dan fakta bahwa dia...." Rasanya tak sanggup Gladys menyelesaikan kalimat tersebut. Priscil menolehkan kepala untuk menunggu lanjutan dari kalimat Gladys yang tertunda, hingga perempuan itu perlahan-lahan menolehkan kepala. Sama-sama saling pandang, Gladys mendesah lemah. "Bahwa dia, Pris," sambung perempuan itu. Melepaskan segala perasaan yang dia punya, Glayds melepas dirinya dari belenggu bayang-bayang Evander. "Bahwa dia ... memang nggak pernah cinta sama gue." ~Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN