"Selaras dengan rintik hujan yang turun membasahi bumi, aku tahu bahwa segalanya mungkin tak lagi sama. Bukankah hujan adalah cara semesta untuk ikut menangis bersamaku?" ~Gladys Amara.
***
Glayds tak tahu berapa persen lagi harapan yang dia miliki.
Entah masih adakah yang tersisa di dalam sana untuknya bertahan, atau sebenarnya ini sudah menjadi garis akhir yang menandakan kesanggupannya?
Di antara lalu lalang orang yang memadati stasiun itu, Gladys berteman dengan kesendirian. Memegangi gawainya di cengkraman tangan, ia pun tak tahu bagaimana harus membunuhh waktu.
Sapaan seseorang yang mendekatinya kini, membuat perempuan itu tersentak kecil dari lamunan.
"Mau berangkat, Dek?"
Gladys menoleh. Mendapati seorang ibu dengan potongan rambut pendek sebatas bahu, yang juga duduk bersampingan dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun mungkin.
Anak lelaki itu menggenggam erat tangan sang ibu, seolah khawatir ibunya mungkin saja akan pergi meninggalkannya suatu saat nanti.
"Eh? Iya, Bu." Canggung, namun tiba-tiba saja Gladys bersyukur ada yang menemaninya dalam kondisi seperti ini. Hari hampir menuju sore, dan dia masih di sana untuk menunggu kehadiran Evander yang sudah tak dapat dihubungi sejak beberapa jam lalu.
"Mau ke mana? Sendirian aja?" Sang ibu tampaknya gemar mengobrol meski dengan orang yang baru dia temui.
Gladys mengangguk. Meremas jemarinya yang bertumpu di pangkuan, perempuan itu menarik napas dalam.
"Saya menunggu seseorang, Bu," ucapnya dengan nada pelan. Jika biasanya Gladys tak begitu senang berbicara tentang dirinya atau hal-hal yang dia alami pada orang lain--terlebih, untuk seseorang yang baru dia kenal, maka kali ini Gladys pun tampak seperti membutuhkan teman cerita.
Kegalauan hatinya terlalu melanda, hingga bahkan membuatnya tak sanggup bernapas dengan baik.
"Oh ya?"
"Seharusnya dia sudah datang sejak tadi," ucap Gladys memperjelas. Benaknya berkecamuk, namun bibirnya terus bergerak untuk mengeluarkan kata demi kata. "Tapi dia sudah tak bisa dihubungi lagi."
Ada binar mata kesedihan yang jelas terpancar dari iris indah gadis muda tersebut. Iris yang bertemu tatap secara garis lurus dengan manik sang ibu, yang kali ini menampilkan ekspresi ikut bersimpati atas apa yang dirasakan Gladys.
"Dia tidak datang?" Sang ibu bertanya.
Glayds menggeleng lemah. Dia ingin berkata pada dirinya sendiri bahwa Evander pasti akan datang, tak peduli seberapa terjal halangan yang harus ditempuh oleh lelaki itu. Evandernya, takkan tega membuat Gladys menunggu dalam kesendirian seperti ini.
Namun nyatanya, lelaki itu memang belum tampak batang hidungnya.
"Belum, Bu," ucap Gladys menundukkan kepala. Ada begitu banyak kesedihan, yang bercampur dengan kekhawatiran di dalam sana. "Saya ingin menunggunya hingga akhir, Bu, tak peduli apa pun yang mungkin terjadi."
Sang ibu tersenyum. Bagaimana raut wajah penuh harapan yang diberikan Gladys untuknya, sungguh membuat hati ibu itu menghangat. Meski ini adalah pertemuan pertama mereka, nyatanya yang asing pun bisa begitu saja terasa dekat.
"Jika memang itu adalah takdir yang digariskan sang pemilik kuasa untuk dirimu, maka seperti itulah yang akan terjadi, Dek," ucap sang ibu kali ini. Ucapan yang membuat Gladys termenung, seiring dengan dia yang mencerna setiap kata demi katanya.
Bulu mata Gladys bergerak samar. Namun sang ibu, malah semakin melebarkan senyumannya.
"Ibu sendiri tak bisa berkata banyak untuk hal ini," sambung sang ibu lagi. "Tetapi percayalah, segala halnya terjadi untuk sebuah sebab dan akibat. Kau percaya pada takdir yang diramalkan di telapak tanganmu?"
Gladys tak menjawab. Terlalu sulit untuknya berpikir saat ini, sebab dia pun tak yakin dengan takdir yang akan menunggunya nanti.
"Boleh Ibu baca garis takdirmu?" tawar ibu tersebut tiba-tiba. "Boleh?"
Secara garis besar, sebenarnya Gladys tidak terlalu percaya akan ramalan seperti itu. Bahkan dia termasuk salah seorang yang tak pernah membuka rubrik zodiak di majalah mana pun, Sebab dia percaya hal-hal seperti itu hanyalah buatan para pengisi materi semata.
Namun bertemu dengan seseorang yang menawarkan untuk melihat garis tangannya, membuat Gladys tiba-tiba saja berubah pikiran untuk rasa percaya yang dia miliki selama ini.
Mengulurkan tangan, Gladys menjawab tanpa sedikitpun suara yang keluar dari sela bibirnya. Kini mengubah posisi untuk semakin menghadap pada perempuan muda itu, sang ibu menerima uluran tangan Gladys dan menempatkannya tepat di atas telapak tangannya sendiri.
Sang anak lelaki tampak masih betah untuk menjadi orang ketiga di antara mereka, saat tak sedikitpun anak itu terlihat merengek atau meminta sesuatu. Separuh menunduk, ibu dengan blus berwarna magenta itu menggerakkan jemarinya persis di telapak tangan Gladys.
Mengerutkan kening, lantas sedikit berpikir ketika kemudian ia bersuara pelan.
"Ada seseorang yang menunggumu di tempat yang berbeda," ucap sang ibu yakin, seakan tak ada keraguan. "Entah apakah dia adalah orang yang sama dengan yang sedang kau tunggu sekarang atau tidak, aku tak dapat memastikannya. Tetapi, kau akan bertemu dengannya suatu saat nanti, dengan cara yang cukup berbeda."
Gladys benar-benar tak tahu harus berkata apa.
Menarik tangannya secara refleks, perempuan itu merasa lonjakan darah yang memompa ke seluruh titik pembuluhnya. Apa yang ibu ini bicarakan? Apakah dia sedang bicara omong kosong sekarang?
Ikut tersentak karena tangan Gladys yang tiba-tiba tertarik, namun sang ibu masih tampak tersenyum.
"Maaf jika membuatmu tak nyaman ya, Dek," ucapnya sedikit tak enak hati. Niatnya memang hanya untuk mengajak Gladys berbicara, sebab sepertinya perempuan itu terlihat begitu kesepian.
"Tidak apa-apa, Bu," Gladys meringis rendah. Menarik sebaris senyum samar juga di tepian bibir, perempuan itu menunduk dengan tangan yang telah tertaut di pangkuan.
"Maafkan saya juga, Bu," Gladys berucap sopan. "Sebenarnya, saya tidak mempercayai ramalan."
Dari raut wajah sang ibu, tampaknya dia tak merasa kecewa. Meski memiliki kemampuan untuk membaca garis tangan, dia sendiri memahami bahwa ada begitu banyak orang-orang yang tak mempercayai dugaan ramalan seperti itu. Lagi pula, bukankah kita memang tak boleh sepenuhnya percaya?
"Tidak apa-apa, Dek." Sang ibu membantu anak lelakinya untuk bangkit dari kursi. Menjejak ke lantai, anak lelaki yang mengenakan baju bergambar batman itu tampak malu-malu saat Gladys tak sengaja memandanginya.
"Kereta kami hampir tiba," ucap sang ibu lagi. "Terima kasih sudah bersedia berbagi sebait kisah pada saya ya, Dek. Semoga apa yang menjadi beban pikiranmu, cepat terselesaikan dengan cara yang paling baik."
Berdiri, sang ibu memaksa Gladys untuk menaikkan kepala. Sama sekali belum berubah posisi, Gladys masih setia di tempatnya untuk menunggu kedatangan seseorang.
"Sama-sama, Bu," jawab Gladys sopan, menganggukkan sejenak kepalanya. "Terima kasih juga sudah menemani dan mendengar keluhan saya, Bu. Hati-hati di perjalanannya."
Melambaikan tangan dengan senyum yang masih tampak, sang ibu akhirnya berlalu dari pandangan Gladys. Menggandeng tangan putranya erat, ibu tersebut menuju ke arah peron di mana tempat keretanya mungkin akan menunggu.
Seperti sang ibu yang akhirnya melanjutkan perjalanan, Gladys juga berharap dia akan melakukan hal demikian. Namun seberapa banyak pun perempuan itu mencoba menghubungi Evander, tetap saja nomor ponsel lelaki itu tak bisa dihubungi.
Entah apa yang terjadi pada Evander, pikir Gladys dalam hati. Segala praduga dan perasaan sudah menarik Gladys untuk berpikir negatif, yang berupaya keras ia tepis sekuat yang ia bisa. Namun akhirnya, Gladys merasa ingin menyerah.
"Kau di mana, Van?" gumam perempuan itu lirih. Menunduk dengan dua iris yang menatap lurus alas kakinya, Gladys berhenti pada ujung pengharapan. "Kau akan datang, kan? Dengan semua pilihan yang kau buat, kau akan memilih untuk tetap bertahan apa pun yang terjadi, kan?"
Gladys tak tahu ke mana dia harus mengadu saat ini. Yang dapat dia pikirkan hanyalah sang bibi, yang kini tinggal berbeda kota dengannya. Menjadi yatim piatu di usianya yang masih belia, Gladys bahkan tak mengingat bagaimana wajah ibu dan ayahnya.
Dia tak punya jalan kembali, tidak kecuali pada bibi yang membesarkannya meski belum berkeluarga hingga detik ini. Hanya Bibi Anna yang dia punya, dan Glayds sungguh tak ingin menambahi beban pikiran bibinya tersebut.
Hari hampir melewati petang saat Gladys masih menempati posisi yang sama, hanya pergi beberapa kali untuk ke kamar kecil atau membasuh wajah. Dan kini saat matahari mulai benar-benar tenggelam, Gladys tahu dia masih sendirian.
Stasiun itu perlahan-lahan kehilangan rombongan manusia, saat semakin malam maka semakin sepi pula orang yang berada di sana. Dengan pandangan yang sama mengedar ke objek serupa sejak pagi tadi, Gladys hanya bisa mengembuskan napas dalam-dalam.
Menarik udara untuk memenuhi rongga dadaanya, perempuan itu terlalu bingung untuk memutuskan pilihan.
"Apakah aku harus menyerah, Van?" lirihnya sekali lagi. Desahan itu tertahan di dalam hati terdalam, seakan Gladys tak mampu mengungkapkannya kini. "Sebenarnya, di mana kau berada?"
Bunyi yang berasal dari perutnya membuat Gladys kembali menunduk. Dia memang belum makan apa-apa semenjak sarapan pagi tadi, dengan sebuah roti mentega yang masih tersisa satu di dalam tasnya. Roti, yang dia tujukan untuk Evander tadinya.
Kini bangkit perlahan, Gladys menumpukan berat badannya pada dua tungkai kaki yang hampir lemas. Seiring dengan ayunan tungkainya yang tak lagi bertenaga, ia mencoba untuk menopang dirinya sendiri.
Dengan dadaa yang semakin sesak menghimpit, Gladys mencoba menjaga harapannya agar tetap utuh. Tak menyadari bahwa bulir-bulir air mata telah mengumpul di ujung kelopak mata indahnya, yang turun bersamaan dengan rintik hujan pertama yang membasahi bumi.
Gladys menangis.
Semesta pun, ikut menangis bersamanya.
Di antara suara riuhnya hujan yang kini menyapa kota mereka di jelangan malam, Gladys tenggelam dalam kesedihan tak bertepi.
"Van, apa yang harus aku lakukan?"
Entah di mana semesta menyembunyikan Evandernya, yang seharusnya hari ini menggandeng tangannya dengan erat. Menemaninya melintasi kota, menuju penyatuan resmi untuk hidup baru mereka.
Namun dalam sekali kedipan, Gladys tahu harapannya sudah hancur berkeping-keping. Tak sedikitpun tersisa, sebab memang tak ada lagi yang bisa dia harapkan dari semua ini.
Orang-orang yang berada di stasiun sibuk untuk menyelamatkan diri dari basahnya bumi, namun Gladys malah terus memacu langkah. Tak memedulikan pandangan orang-orang yang menatap aneh ke arahnya, perempuan itu terus berjalan. Dipeluk oleh rintik yang semakin menderas, Gladys tak memiliki opsi selain pulang.
Sebab hujan, telah menemaninya untuk menangis bersama.
~Bersambung