Chapter 12 - Am I Dreaming (II)

2039 Kata
"Betapa menjijikkannya saat aku mengingat itu semua. Segala hal begitu saja hancur, ketika aku pun tak yakin apa sebenarnya yang sedang terjadi." ~Gladys Amara. *** Bagi Gladys, dunia hampir berhenti. Ia bahkan menyangsikan apakah ia menarik napas dalam beberapa saat belakangan, hingga lambaian tangan Gilang membuatnya terbangun dari lamunan. "Glad?" Tampak bingung, Gilang rupanya masih berdiri di sana. "Hei?" Satu-satunya hal yang Gladys ingat hanyalah bagaimana lekuk wajah si pengemudi yang sudah berlalu itu, saat kelopak mata Gilang yang kini mengerjap pun rasanya luput dari indera penglihatannya. Apa yang baru saja terjadi? "Glad?" Setelah dua langkah Gilang maju, barulah Gladys benar-benar mulai menguasai diri. Tersentak, perempuan itu bahkan menutup mata untuk menarik kembali kesadaran. "Hei, sorry, Lang," Gladys tampak tak yakin. "Sorry, gue ngelamun." "Is everything alright?" Gilang menaikkan bahu, menunggu. "Yap, nggak apa-apa, Lang," Gladys separuh berbohong, tentu saja. Namun dia pun tak berencana untuk memberitahu Gilang tentang apa yang terjadi, sebab hal ini sudah dijanjikan Gladys pada dirinya sendiri. Dia takkan membicarakan lelaki itu lagi. Takkan pernah, terlebih setelah enam tahun yang berlalu begitu saja. Berpikir bahwa sebaiknya dia pergi dari sana, Gladys buru-buru mengambil kesempatan. "Kalo gitu gue balik dulu, Lang," ucapnya berpamitan. "Lo juga hati-hati pulangnya, ya. See you soon." Gilang tampak tak sepenuhnya yakin. Namun menahan Gladys juga bukan menjadi pilihan bijak, saat ia hanya bisa termenung menyaksikan rekannya itu masuk ke dalam mobil. Bergeser, lelaki dengan kemeja biru safir itu masih berdiri tegak, persis ketika mobil yang dikemudikan Gladys melaju beberapa saat kemudian. Sendirian di area parkir itu hingga Gladys menghilang di ujung jalan, barulah Gilang menuju arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi mobil Gladys tadi. Melakukan hal yang sama, lelaki itupun masuk ke dalam mobil dan berlalu tanpa membuang waktu. Saat Gilang mengemudikan mobilnya menuju arah apartemen, maka lain halnya dengan Gladys yang memilih untuk berhenti di bahu jalan tak jauh dari lokasi hotel. Menginjak rem, perempuan itu menggenggam erat setir kemudi, merasakan debaran yang amat kencang dan pacuan darah ke setiap pembuluh. Layaknya terkesima dan tak sadar, Gladys kembali termenung. "Benarkah itu kau, Evan?" bisik perempuan itu dalam keheningan malam yang semakin menggelap. "Benarkah itu dirimu? Hah? Dirimu yang dulu? Atau sebenarnya hanya seseorang yang mungkin ... mirip?" Gladys menggeleng. Merasa frustrasi untuk perasaannya yang kacau balau sedemikian rupa, dia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Lalu lalang kendaraan di luar sana tak lagi padat merayap, saat jalanan pun bahkan hampir menuju lengang. "Cih... betapa murahannya dirimu yang sekarang, kan?" Masih menggenggam setir, Gladys tak menyadari bahwa buku-buku jarinya mulai memutih. "Mendesah di dalam mobil? Yang benar saja, Evander!" Menggeram, Gladys menyadari nada suaranya yang begitu saja meninggi. Ada sesuatu yang mungkin masih tertinggal di dalam sana, yang Gladys pikir sudah dia buang sejak jauh-jauh hari. Keberadaan Evan--jika lelaki itu mungkin benar-benar sosok Evander Yudiswara yang Gladys pernah kenal, sungguh berhasil mengguncang dunia Gladys meski hanya lewat satu tatapan. Lelaki itu, menatapnya. Lelaki itu, berkontak mata dengannya. Dan bisa-bisanya dia hanya melengos pergi? "Dasar b******n!" Memaki kali ini, Gladys membiarkan emosi jiwa menguasai diri. Tak hanya terkejut akan pertemuan yang tiba-tiba dan tak disangka-sangka itu, namun tubuh Gladys pun sedang dalam keadaan letih dan setengah mabuk mungkin, akibat beberapa gelas bir yang sempat dia teguk tadi. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa baik-baik saja setelah apa yang terjadi? Dan kini, Evander memilih berlalu seakan tak pernah melihatnya?! Yang benar saja! Kepergian lelaki itu yang begitu saja berlalu, membuat Gladys semakin membiarkan rasa amarah memenuhi rongga dadaanya. Setelah semua yang pernah terjadi di antara mereka, takkan mungkin tak ada yang tersisa, kan? "Kini kau bahkan bermain dengan seorang p*****r, Evan?" Menggertakkan gigi, Gladys menahan setiap makian yang telah berkumpul di ujung lidah. Namun tak berhasil, sebab sesaat kemudian dia sudah menyemburkan semua. "Sialan, Evander!" Gladys benar-benar memaki. "Dasar b******k! b******n, lelaki macam apa kau, hah?! Betapa bodohnya aku menghabiskan tiga tahunku bersamamu saat itu?! Astaga, dunia ini benar-benar tak adil! Bagaimana kau bisa baik-baik saja saat aku hampir gila saat kehilanganmu?!" Mengeluarkan perasaan yang membelenggu, Gladys masih di sana saat menyadari air matanya perlahan jatuh menuruni pipi. Dia tak pernah benar-benar mengeluarkan luapan emosi yang terpendam bertahun lamanya itu, dan sekarang, segalanya menjadi tak terkendali. Hanya lewat satu tatapan. Tatapan yang ... lantas berhasil membuat Gladys kehilangan pijakan. "Benarkah itu kau?" Menundukkan kepala, Gladys tak peduli dengan punggung tangan yang kian membasah. Menjadi tumpuan untuk wajah yang ia sembunyikan di bawah sana, perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Entah kapan terakhir kali Gladys menangis kencang seperti ini, dia pun tak begitu mengingatnya. Namun kini, segalanya memang tak mudah untuk perempuan itu lalui. Dalam isakan yang masih terdengar, ditambah lagi bahu yang berguncang, Gladys berharap ini semua hanya mimpi. Dia tak ingin mengulang segala hal yang pernah ada di antara mereka, terlebih karena Evander tampak tak mempedulikannya sama sekali. "Waktu mungkin membuatmu lupa akan apa yang pernah terjadi, Evander," bisik Gladys pelan, perlahan menaikkan kepala seiring dengan tangan yang mencabut beberapa helai tisu dari tempatnya. "Namun tak kusangka kau bahkan tak sama sekali terkejut melihatku. Apa kau baik-baik saja selama ini, hah? Kau bahagia setelah meninggalkanku saat itu? Kini hidupmu semakin enak dan nyaman karena kau akan mewarisi semua harta keluarga yang dulu kau tolak mentah-mentah? Hah? Evander! Tengik sialan kau memang!" Gladys tahu setiap pertanyaan yang ia lontarkan, takkan mendapati jawaban apa-apa. Kesendiriannya di dalam mobil tersebut membuat situasi menghangat, dan meski segalanya telah banyak berubah, nyatanya masih ada beberapa bagian dari diri Gladys yang tetap sama. "Semoga saja, aku berharap ini semua hanya mimpi," Gladys berharap penuh. Mengusap tisu itu untuk mengeringkan pipi, perempuan itu mengangguk yakin. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Percayalah, Glad, semua ini mungkin hanya halusinasi. Bukankah banyak orang yang terlihat mirip di dunia ini?" Mengambil jeda beberapa detik, Gladys semakin meyakinkan diri. Separuh membohongi, meski dia yakin lelaki di mobil tadi adalah Evander, ia hanya tak mau jiwanya terguncang hanya karena kehadiran seseorang yang tak pernah ia harapkan tersebut. "Kau hanya bermimpi, Gladys," rapal perempuan itu laksana mengucap jampi-jampi. "Tenanglah, ini semua hanya mimpi." Jika Gladys tenggelam dalam keporakporandaan perasaan yang ia rasakan, maka seseorang di tempat berbeda sedang menatapi langit malam melalui balkon yang terbuka. Memegangi sebatang rokok yang terselip di sela jemari, Evander berulang kali mengembuskan asap beracun itu ke udara. Membiarkan nikotin tersebut bersatu dengan udara malam yang tak terlalu berangin, hingga derap langkah seseorang terdengar cukup jelas dari arah belakang. Tak menoleh, namun Evander tahu bahwa Arendra semakin mendekat. "Evan." Hanya berdeham, Evander masih menatap ke langit yang sama. "Kau bermain hari ini?" Evander hanya menyeringai tipis. Tentunya lelaki itu tahu arti dari kata bermain yang diucapkan Arendra, saat kini ia berbalik badan untuk menatap lelaki tinggi tersebut. Menyunggingkan senyum tipis, Evander tertawa kecil. "Dia sepertinya tergila-gila padaku," kata lelaki itu tak sama sekali membanggakan diri. Menyadari Arendra menaikkan alis tak percaya, Evander masih mengulum tawa. "Kau tahu, Are? Dia bahkan tak sama sekali melepas tatapannya dariku. Dia memujaku, dia menyerahkan tubuhnya yang ... yah, begitulah, dengan sangat mudah." Arendra masih berdiri di sana untuk mendengarkan. Rasanya tidak ada satu hal pun yang luput dari pengetahuan Arendra mengenai Evander, terlebih untuk hal-hal yang dilakukan lelaki muda itu di luar sana. "Evan, kau tidak seharusnya--" "Aku hanya berusaha untuk mencari diriku sendiri, Are," potong Evander cepat. Berjalan cepat menuju arah tong sampah yang berada di pojokan, Evan mematikan api di ujungnya sebelum benar-benar membuang puntung rokok itu. Kembali ke sisi Arendra, ia melanjutkan. "Aku tak b******a dengannya, tentu saja." Lelaki itu mengkonfirmasi. "Gila saja. Dia hanya berada di mobilku untuk beberapa saat, dan dia mendesah sebab tak bisa menyentuhku. Dia ... benar-benar menginginkanku, bukan?" Arendra hampir kehilangan kata-kata. Di saat yang sama ketika lelaki itu berpikir bagaimana respon terbaik yang dapat ia berikan pada Evan, maka tepat di saat yang sama pulalah, Evan berbalik badan untuk kembali menghadap pada pemandangan dari luar apartemen yang mereka tempati. Itu adalah hari pertama Evander kembali ke Jakarta setelah bertahun silam, namun entah mengapa tak ada sedikitpun rasa asing untuknya. Seolah-olah ... tempat ini sudah menunggu kedatangannya sejak lama. "Aku belum menemukan dia yang tepat, Are," ucap Evander tiba-tiba. Memecah kembali pembicaraan antara dua lelaki dewasa tersebut, Evander tampak separuh menerawang. "Kau tahu betapa aku tak merasa chemistry apa pun pada begitu banyak wanita. Yang berkulit putih, berkulit cerah, hingga gelap sekalipun, keberadaan mereka ternyata tak mengusik gairahku yang terlalu lama terpendam." Arendra masih mendengarkan, saat Evander meliriknya sekilas. Menampilkan seringai tipis. "Apa kau pikir aku tak normal, Are?" tanya lelaki itu to the point. "Apa menurutmu, aku bisa bersama wanita?" Terdengar helaan napas Arendra yang mengudara. Memenuhi rongganya dengan cukup oksigen, Arendra tahu ini bukan perkara mudah bagi Evander. Setelah kecelakaan yang merenggut hampir keseluruhan hidup lelaki itu, Evander memang tak benar-benar menjalin kasih dengan seseorang. Dia terbiasa berbaur dengan banyaknya kalangan, namun tak pernah berada di hubungan yang benar-benar serius. Hingga Evander menyadari, bahwa dia tak merasakan gairah membara seperti yang seharusnya terjadi ketika lelaki dan wanita berada di tempat tertutup. Tak peduli seberapa bagus bentuk tubuh dan terbukanya wanita tersebut, Evander merasa sebagian dari dirinya tak menginginkan hal itu. "Tapi kau bisa, Evan," Arendra menanggapi. "Kau kan bisa--" "Aku bisa, memang," potong Evander cepat. Menaikkan bahu, ia memutar bola mata pelan. "Maksudku, bisa tak berarti aku b*******h, kan, Are? Meski aku tampak seperti lelaki pada umumnya, namun aktifitas itu tak membuatku merasa hidup." Pepatah berkata, hidup selalu adil. Dan di sinilah Arendra menyadari betapa adilnya kehidupan, saat seseorang yang tampak sempurna seperti Evander Yudiswara ternyata memiliki hal yang mengganggu. Dan hal itu, cukup berbeda dari orang kebanyakan. "Uhm, yah...." Arendra kesulitan untuk memberi tanggapan. "Oke, pokoknya, jadi kalian tak b******a?" Menatap tajam pada Arendra, Evander sudah memberi jawaban melalui tatapan mata saja. "Dia yang mendesah, entah mendesah karena apa." Hampir tertawa, Evan membuat Arendra ikut tersenyum. "Kuminta kau memilih seseorang yang bisa menemaniku mengelilingi Jakarta, dan kalian malah berikan dia yang merasa bernafsu hanya karena melihat tampilan luarku. Itu semua ... payah sekali, Arendra. Benar-benar payah." Tak bisa ditahan, Arendra benar-benar membiarkan tawanya meledak ke udara. Ia bahkan hampir menyemburkan ludah, jika tak cepat dia tutupi dengan punggung tangan. "Astaga, Evander!" Setengah geram, tetapi Arendra tahu Evander tak berbohong. "Itu benar, Are!" Evander berupaya mengusaikan tawa. "Hei, dia benar-benar mendesah sendiri dan yah, hampir membuat salah paham pengunjung yang lain." Tiba-tiba teringat sesuatu, Evander terlihat tersentak kecil. "Ah, sial!" Mengepalkan tinju ke telapak tangan yang lain, ia menggeram. "Astaga, apa dia mengira kami make out di parkiran tadi? Ah, shitt!" Arendra mengerjap tak mengerti. Apa yang baru saja dikatakan Evander? "Apa maksudmu?" Lelaki itu penasaran. "Ada orang lain di sana?" Mengingat-ingat, Evander memutar kembali memori pada momen beberapa jam silam. Saat ia bertanya pada seorang yang lain dari mobilnya, mengenai lokasi terdekat pom bensin dari hotel tadi. Dan Evan ingat kini bahwa lelaki tadi sepertinya tak sendirian, sebab ada seorang wanita yang mematung persis di antara rangka mobil dan pintu yang terbuka. Sepertinya, perempuan itu hendak masuk ke dalam mobilnya sebelum Evander datang dan menghalangi jalan keluarnya. "Ah!" "Kenapa, Evan?" Arendra mendekat. "Apa yang terjadi?" Dengan manik yang menyorot tajam dan dalam, Evander berusaha untuk menampilkan kembali eskpresi yang diberikan oleh wanita di mobil tadi di pelupuk mata. Kelihatannya dia sangat terkejut dan terpaku saat tatapan keduanya bertemu, seakan-akan dia sedang melihat setan. "Wanita itu...." Tak sadar bergumam, Evander mengernyitkan dahi untuk tetap memikirkan hal serupa. "Wanita yang mana?" Meski pertanyaan-pertanyaannya sebelum ini belum ada yang terjawab, Arendra tak berhenti bersuara. "Hah? Apaan, sih? Kau membuatku penasaran, Evan!" Evander tersadar. Menarik senyum tipis di bibirnya, ia berbalik untuk menatap Arendra. "Tidak ada," katanya menyimpan senyum. "Ayo, Are. Angin sudah mulai mendingin." Tak mempedulikan makiaan Arendra yang mengudara di malam dingin itu, Evander sudah mengayun langkah melewati pintu balkon. Sisa senyum itu masih berada di tepian bibirnya, selaras dengan sebelah telapak tangan lelaki itu yang masuk ke saku celana. "Memangnya dia wanita kampungan?" gumam Evander tiba-tiba. "Tak pernah melihat pasangan make out, kah? Sampai dia tertegun seperti tadi? Dasar wanita aneh." Dan tanpa keduanya sadari, semesta sedang tersenyum dari atas sana menyaksikan apa yang terjadi. Seseorang berada di sebelah sisi yang juga mengeluarkan sumpah serapah, saat yang lainnya berpikir baru saja menemui seseorang yang sangat kampungan. Keduanya tak menyadari bahwa benang takdir baru saja kembali terpilin di antara keduanya. Sebab kisah ini, baru benar-benar akan dimulai. ~Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN