"Bayang-bayang itu tak pernah sepenuhnya hilang. Meski terus berkata bahwa tak ada yang tersisa, faktanya itu semua masih terasa sangat nyata." ~Gladys Amara.
***
Gladys tak tahu pukul berapa tepatnya ia terlelap.
Berkabung dengan kesedihan di pinggir jalan malam tadi, perempuan itu akhirnya kembali menginjak gas tepat setelah ia merasa sedikit lebih baik. Tak jauh lebih baik, sebab bahkan hingga ia mencapai apartemen di mana ia tinggal, tubuh Gladys masih terasa remuk redam.
Syukurlah dia bisa menyetir dan sampai dengan selamat, meski tubuh dan hatinya sudah lebih daripada hanya kelelahan. Menghempaskan tubuh ke kasur, Gladys tak peduli dengan apartemen yang sedikit berantakan tersebut.
Selimut yang tak terlipat, beberapa baju kotor yang menumpuk di ujung keranjang, hingga sisa piring dan gelas yang ia pakai untuk sarapan pagi tadi sebelum berangkat. Menatap langit-langit apartemen yang sebenarnya tak mewah-mewah sangat itu, pikiran Gladys sudah melalang buana.
Dengan manik terbuka sempurna, perempuan itu pelan-pelan mengerjap. Menarik kembali kisah lama, mengulang sekali lagi memori saat segalanya terlihat sempurna.
Dia dan seseorang yang berada di sisinya dulu, jauh sebelum luka kemudian hadir dan menyapa. Jauh sebelum keputusan demi keputusan harus mereka ambil, yang akhirnya hanya menyisakan sakit hati yang terlalu dalam.
Dan Gladys, tak menyadari dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
***
[SEMBILAN TAHUN YANG LALU]
Intensitas hujan di bulan Desember semakin sering menyapa.
Rintik-rintik itu datang tak mengenal waktu dan tempat, bahkan tak hanya sesekali begitu saja turun tanpa pemberitahuan. Tak jarang langit masih terlihat begitu terang dan cerah di beberapa menit belakangan, namun tak disangka-sangka hujan malah begitu saja datang dan mengguyur bumi.
Layaknya pagi ini. Pagi yang membuat hari dari salah satu mahasiswa baru itu, berubah kacau dan menjadi porak poranda. Hujan yang sempat tidak dia inginkan kehadirannya, namun kemudian menjadi hal yang ia syukuri selama hidupnya berlangsung.
Sebab hari itu, hujan tak membuatnya sendirian.
Dering ponsel yang terdengar dari dalam saku celana, membuat Evander cepat-cepat merogoh pada sumber suara. Mendapati nomor seseorang yang terpampang di layar, lelaki muda itu langsung menggeser ikon telepon berwarna hijau, lantas menempelkannya ke telinga kiri.
"Ya, Rom?"
"Di mana Van?"
Berdecak kecil, Evander mengedarkan pandangan.
"Kejebak di halte, sial banget," jawabnya cepat. "Malah di sini tiba-tiba ujan deres pula. Lo udah di kelas, Rom?"
Romi, salah satu teman yang dikenal Evander saat mereka sama-sama menjalani ospek sebagai mahasiswa baru beberapa bulan lalu. Berada di kelas dan jurusan yang sama, membuat keduanya cukup sering berkomunikasi.
Tak hanya Evander yang berdecak di ujung teleponnya, namun Romi yang sudah berada lebih dulu di kelas pagi mereka hari ini pun, ikut mendecak.
"Cepetan, aduh," lelaki itu meringis. "Kelasnya udah mau dimulai, Van. Jangan bilang lo bakal telat, ya. Udah terobos aja kenapa, sih? Lagian ngapain lo kok bisa nyasar ke halte?"
Evander masih berdiri tegak. Membagi dua perhatian pada sambungan telepon dan derasnya rintik hujan di hadapan, ia pelan-pelan menghela napas.
"Tadi beli rokok," balas lelaki itu jujur. "Ini deres banget, Rom. Tunggu bentar lagi aja, tunggu reda gue baru ke sana. Kalo terobos sekarang bakalan basah ini."
Romi tak bisa memaksa. Kelas pagi mereka akan dimulai sebentar lagi, dan dosen yang akan mengisi kelas kali ini adalah salah satu profesor yang disegani di seluruh kampus. Meski beberapa mahasiswa memiliki backing yang kuat dan nama yang cukup terpandang di kampus itu, namun tetap saja tak ada ampun bagi mahasiswa yang membolos di kelas Profesor Mukti.
Terkenal sebagai salah satu profesor dengan banyaknya prestasi tak hanya di bidang akademik, Prof. Mukti juga merupakan salah satu entrepreneur yang menggalakkan wirausaha mahasiswa. Dan lelaki paruh baya itu, memang dikenal disiplin sekali.
"Yaudah, oke," sambut Romi akhirnya, mengalah setelah beberapa detik menjeda. "Nanti tas lo taruh mana aja dulu, Van. Kalo Prof Mukti udah masuk nanti juga, bilang aja lo dari toilet. Daripada lo keitung absen dan malah banyak pertanyaan, kan? Oke?"
Evandernya tak ingin menolak ide yang (cukup) kreatif dari temannya tersebut.
"Oke, Rom," sahutnya bersemangat. Diam-diam memuji ide dari Romi yang kedengarannya akan berhasil. "Mudah-mudahan Prof. Mukti masuknya lama. Kalo udah masuk, kabarin gue, ya."
Penyamaran yang cukup mulus, kedengarannya. Evander lagi-lagi hanya bisa mendesah di ujung telepon. Sebenarnya, ayah lelaki muda itu mengenal Prof. Mukti secara pribadi, dan Evander memiliki rasa hormat pada pria paruh baya tersebut. Dia tak ingin terlambat di kelas Prof. Mukti, namun hujan benar-benar menahan langkahnya untuk terayun.
Romi sudah lebih dulu memutus sambungan telepon, saat Evander langsung menyimpan gawai pipihnya ke tempat asal. Sekali lagi memandangi hujan, yang tampaknya belum enggan berhenti.
Merasa dirinya adalah penghuni tunggal halte bis tersebut, Evander hampir tersentak saat menyadari seseorang telah berada tak jauh dari posisinya berdiri.
Manik lelaki itu melebar, dengan iris kehitaman yang memancarkan sinar bak tatapan elang. Tertuju pada seseorang yang juga sedang memandangi hujan, lelaki itu tertegun. Terkesima, merasa takjub dengan apa yang dia lihat saat ini.
Persis di detik ini. Persis di momen ini.
Bukannya mengomel karena hujan yang tak hentinya turun, sosok perempuan tadi malah mengulurkan sebelah tangannya ke udara. Menengadahkan telapaknya untuk bertemu dengan rintik air, dia tampak tersenyum.
Dan senyum itu, begitu saja menyihir Evander dengan magisnya.
'Siapa perempuan ini?' batin Evander bertanya dalam hati. 'Mengapa dia terlihat begitu ... sempurna?'
Ada denting kesunyian yang membingkai keduanya di halte bis kampus tersebut. Ada dua insan yang sama-sama terpaku meski dengan objek yang berbeda. Pula, ada separuh hati yang bergetar melalui tatapan mata yang tak terusaikan untuk beberapa saat lamanya.
Evander tenggelam dalam angan-angan. Memandangi bagaimana siluet wajah perempuan asing itu dipahat, dia berani bertaruh bahwa sosok di depannya ini mungkin saja jelmaan dari salah satu malaikat yang turun ke bumi.
Tunggu. Apakah perempuan di sampingnya itu seharusnya berada di kahyangan sekarang?
Bagaimana bisa seseorang terlihat anggun dan cantik di saat yang bersamaan? Bagaimana bisa seseorang tersenyum dan terlihat tenang di detik yang serupa? Dan bagaimana bisa Evander terpaku untuk seseorang yang amat baru baginya? Ini semua terasa ....
Evander tak sadar menarik sudut bibir untuk melukiskan senyuman. Hampir saja benar-benar tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri, lelaki itu tersentak saat sang perempuan tiba-tiba menolehkan kepala.
Dan manik indah itu, membuat lutut Evander hampir jatuh lemas.
Kerjapan irisnya yang berwarna cokelat samar, dibingkai oleh oleh sepasang kelopak mata dengan bulu mata yang lentik alami. Tak banyak sepertinya perempuan itu mengenakan make up, namun bagaimana dia bisa tampak begitu berkilau dan bersinar?
Apakah Evander sedang bermimpi?
Mengernyitkan dahi saat seseorang di depannya tak kunjung memberi respons, gadis muda itu memilih untuk melengkungkan sebaris senyum.
"Hai."
Dan Evander, benar-benar tersentak. Bingung, saat kini dia sepertinya sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Kau menunggu seseorang?" tanya gadis muda itu dengan bibir yang bergerak pelan. Menurunkan pandangan untuk bertemu dengan bibir merah muda itu, Evander menahan napas.
'Bagaimana rasa bibir merah muda itu?' Ia malah bertanya pada dirinya sendiri. Berandai-andai. 'Apakah akan ... manis?'
"Halo? Kau mendengarkan?"
Perempuan itu bergeser dua langkah. Evander belum berucap apa-apa sejak tadi, tampak begitu bodoh sebab dia bahkan tak mampu menguasai dirinya sendiri. Apa yang dilakukan perempuan itu padanya?
Mengapa di pandangan pertama saja, Evander sudah merasa hidupnya tak sama lagi?
Menggerakkan bibir dengan susah payah, Evander memberi satu dehaman pelan.
"Hei," sapanya canggung. Ia bersumpah bahwa suaranya pasti terdengar aneh, dan itu semua di luar apa yang seharusnya terjadi. "Siapa namamu?"
Entah dari mana pertanyaan itu berasal. Tiba-tiba saja Evander sudah mengucap pertanyaan, mengabaikan sapaan dari si perempuan muda itu yang lebih dulu tersampaikan beberapa saat lalu.
Merasa tak keberatan, perempuan itu kali ini tersenyum tipis.
"Aku Gladys," ucapnya dengan pelafalan yang tegas namun lembut. Namun tak balas bertanya, Gladys merasa pertemuan ini hanya akan menjadi pertemuan singkat yang biasa ia lalui di fase kehidupannya.
Jadi perempuan itu lebih memilih untuk menolehkan kepala, memeriksa hujan yang sepertinya belum ingin berhenti.
"Aku Evander."
Suara yang berasal dari samping itu membuat Gladys pelan-pelan menoleh, melirik tak yakin ke arah seseorang yang sempat ia ajak bicara lebih dulu tadi. Ini adalah pertemuan pertama mereka, Gladys yakin, dan lelaki itu terlihat sangat asing. Meski memang, dia juga tampan.
"Baiklah," balas Gladys kemudian. "Evander."
Evander tahu namanya adalah salah satu nama pasaran yang mungkin sering dijumpai di dunia. Tak terhitung lagi berapa orang yang sudah mengucapkan namanya, dengan intonasi yang berbeda pula. Namun yang kali ini ... mengapa terasa berbeda?
Lelaki muda itu merasa panggilannya sangat enak didengar, yang bahkan tak sadar membuat Evander tersenyum lebih lebar. Tak berpikir panjang, lelaki itu mengayun langkah untuk memangkas jarak yang terbentang antara mereka.
Membuat Gladys tampak mengerjap bingung, namun ia pun tak berbuat apa-apa hingga Evander berada lebih dekat di hadapannya kali ini.
Tinggi tubuh Evander yang menjulang melebihi tinggi tubuhnya membuat Gladys mau tak mau separuh mendongak, yang lantas membuat Evander menunduk sebagian guna membiarkan irisnya menahan iris Gladys dengan satu tatapan hangat.
Tatapan yang ... terlihat manis?
"Boleh aku menciummu, Gladys?"
Dan waktu, benar-benar berhenti. Evander tak tahu mengapa dia bertingkah seperti ini, namun itulah yang ingin dia lakukan. Menempelkan bibirnya di bibir tipis berwarna merah muda milik si gadis di depannya ini, kemudian memintanya untuk menjadi gadis yang hanya dia miliki.
Pertanyaan itu terdengar absurd sekali, bukan? Evander tahu risiko apa yang mungkin dia dapatkan, setelah beberapa detik jeda di antara keduanya. Sebab Gladys masih menatapnya bingung, tak percaya. Jika perempuan itu mengayunkan tangan dan memberinya tamparan, sepertinya Evander pun tak bisa mengelak. Sebab mungkin saja, itu akan jadi balasan setimpal untuk pertanyaan aneh yang tak seharusnya ia tanyakan.
Namun kemudian, tak seperti itu yang terjadi. Hampir saja Gladys menyemburkan tawa, yang kini ia sembunyikan melalui telapak di depan bibir.
"Kau tertawa?" Evander menyeringai. "Hah? Malah tertawa, sih?"
Tak kuasa menahan rasa lucu dari suasana dan peristiwa yang sedang terjadi, Gladys masih menikmati bagaimana lelucon itu membangkitkan rasa humornya di pagi hari.
Mengibaskan sebelah tangan ke hadapan Evander, perempuan itu mengatur pelan-pelan senyumnya yang masih merekah lebar.
"Hei." Evander tak sabar untuk menantikan jawaban perempuan itu.
"Tunggu," Gladys menurunkan tangan dari depan bibir. "Tunggu sebentar. Aku tak ingin tertawa, tapi ini sungguh lucu, hmm?"
Bagi Evander, tak ada sedikitpun hal yang lucu sekarang. Bukankah dia ingin mencium perempuan itu, bukan ingin membuatnya tertawa lepas seperti tadi?
"Tak ada yang lucu," sanggah Evander dengan kening berkerut. "Aku bertanya apa aku bisa menciummu, itu kan? Apa yang lucu di sana, sih?"
Semakin serius ekspresi yang Evander tampilkan, namun ia pun tak ingin melepaskan gadis di hadapannya ini begitu saja. Meski baru sekali saling menatap, ia sudah terlanjur tertarik pada perempuan muda itu. Evander, sudah terlanjur ingin memagut bibir indah Gladys, yang dia kenal dan temui tak lebih dari sepuluh menit yang lalu.
"Tunggu," ucap Gladys akhirnya, sudah mengusaikan tawa yang sempat mengudara. "Sebentar. Kau ingin menciumku?"
Bola mata Evander bergerak cepat. Memperhatikan setiap lekuk dan detail bagaimana wajah Gladys dipahat, lelaki itu semakin tenggelam dalam pesona yang dipancarkan perempuan bak malaikat itu.
Ke mana saja dia 18 tahun ini? Mengapa baru kali ini dia melihat perempuan yang begitu menawan selama hidup yang sudah terbuang sia-sia ini?
"Itu benar," Evander menyambut cepat. "Boleh? Aku menciummu?"
"Apa kau mengenalku, Evander?"
Bagaimana Gladys menyebut namanya, membuat gelegak gairah Evander bergerak pelan-pelan membentuk gelombang. Begitu tiba-tiba, sekaligus menghanyutkan pula.
"Uhm, tidak, sih," Evander bergumam. "Tapi kita kan sudah--"
"Apa aku mengenalmu?" Gladys kembali bertanya. Tubuh perempuan itu masih berdiri tegak, dengan dagu yang berada di kemiringan beberapa derajat untuk memastikan pandangan mereka tak teralihkan.
Evander berdecak. Perempuan ini mungkin memiliki banyak pertanyaan. Namun tak apa, dia tak keberatan untuk menjawab satu per satunya.
"Sebenarnya itu juga tidak," jawab Evander kemudian. "Hei, tetapi aku bisa mengenalmu dan--"
"Apa kita berpacaran?" tanya Gladys tiba-tiba.
Evander tidak tahu apakah memang sudah sifat Gladys suka memotong omongan orang lain, atau apakah dia memang memiliki sikap tegas namun berwibawa seperti ini. Yang jelas, Evander tahu dia sudah amat jauh terpesona.
"Itu juga tidak," Evander separuh menyesal. Mengusap tengkuknya untuk mengusir rasa canggung, lelaki itu menyeringai. "Hei, tapi tak apa. Kita kan bisa mulai--"
"Apa kau melihat alasan kuat aku memberikanmu izin untuk menciumku?"
Lagi, di saat yang tepat, Gladys menyela dengan anggun. Satu selaan, yang berhasil membuat Evander mengumpulkan kerutan di dahi. Mencoba berpikir dengan rasional, Evander melupakan fakta bahwa dia sudah kehilangan akal sejak tadi.
"Uhm, itu juga yah, tidak sebenarnya--"
"Kalau begitu, sebaiknya kita tak berjumpa lagi, oke?"
Demi apa pun! Evander mengumpulkan rasa kesal di tepian hati, tepat di sisi-sisi ujung sebab hatinya yang lain sedang bersorak-sorai sekarang.
Gladys sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka payung lipat yang ia bawa di sebelah tangan sejak tadi, berencana untuk berlalu dari pembicaraan yang dianggapnya anti mainstream pagi ini.
Bagi Gladys, keberadaan hujan saja sudah menghibur. Dan lelaki tampan ini, ternyata menambah hiburan bagi hidup Gladys yang terlalu flat dan biasa.
"Hei!"
Sudah mengembangkan payungnya, Gladys mengambil langkah pertama untuk beranjak dari posisinya berdiri. Berniat menerobos hujan, perempuan itu hanya tersenyum kecil.
Tadinya ia berpikir segala hal yang baru saja terjadi hanya akan berakhir sebagai hiburan semata, terlebih saat jaraknya dengan sang lelaki asing sudah mulai kembali terbentang.
"Gladys!"
Panggilan itu membuat Gladys menyimpan senyum, namun ia sama sekali tak berpaling. Melanjutkan langkah, ia membiarkan sepatu flat yang ia kenakan di kakinya basah oleh cipratan dan genangan air di bawah sana, sebab ia memang tak berniat untuk berhenti.
Rasanya sudah cukup jauh Gladys menciptakan jarak, saat begitu saja seseorang menaruh tangannya di pegangan payung milik Gladys. Ketiba-tibaan yang memaksa Gladys untuk menghentikan langkah, disusul dengan iris yang terbuka lebar tak percaya. Bercampur rasa kaget, Gladys mendapati Evander sudah separuh memeluknya dengan tangan yang saling beradu di pegangan sana.
"Apa yang kau--"
"Tak bisakah kita berciuman dulu baru berpacaran?" tanya Evander tiba-tiba. "Hmm? Bisakah kau membiarkan aku menciummu sekali saja? Setelah itu, baru kau boleh memutuskan apakah ingin berpacaran denganku atau tidak. Bagaimana?"
Gladys terpaku, kehilangan kata-kata. Sapaan yang tadinya hanya iseng ia ucapkan, kini mulai ia sesali untuk dirinya sendiri. Sebab ternyata, Evander tak semudah itu untuk mengabaikan semuanya. Dan kini, Gladys mulai terlibat dalam kehidupan lelaki itu.
"T-tunggu," Gladys separuh terbata. "Hei, kau tidak bisa berada di--"
"Aku tak masalah harus basah karena hujan." Kali ini gantian Evander yang memotong setiap kalimat Gladys. Tak melepaskan tangannya yang menempel di telapak genggaman payung tersebut, Evander tak pernah bermain-main untuk apa yang dia ingin miliki.
Hujan masih di sana, menjadi saksi bagi dua anak manusia yang baru saja bermain dengan jalinan takdir.
"Tapi membiarkanmu begitu saja berlalu, pasti akan membuatku menyesal," Evander menyambung. Menikmati bagaimana Gladys tampak serius kali ini, dengan tawa yang tak lagi ada di wajahnya. "Kau tahu Prof. Mukti?"
Gladys pelan-pelan mengangguk.
"Aku mengambil kelasnya juga," desis perempuan itu. "Kenapa?"
Evander tersenyum dan berkacak pinggang separuh menggunakan sebelah tangan.
"Sekarang seharusnya aku berada di kelasnya," tutur Evander. Lelaki itu tak peduli dengan bagian kemejanya yang sudah basah, sebab dia memang tak berniat untuk melakukan ini separuh-separuh. "Apa kau juga tahu bahwa kelas Prof. Mukti adalah salah satu yang tak boleh ditinggalkan?"
Tentu saja Gladys tahu. Untuk semua mahasiswa yang mengambil kelas Profesor Mukti, terlambat atau absen adalah sesuatu yang sangat dihindari. Namun kini, Evander terjebak bersamanya di bawah hujan?
"Kau tak seharusnya berada di sini, Evander," Gladys bersuara. Deru hujan masih mengguyur bumi dan mereka berdua, saat kini Gladys merasakan sepatunya hampir benar-benar basah akan hujan. "Lantas mengapa kau tak segera pergi dan menyusul kelasmu?"
Mengusap rambut yang separuh basah sekarang, Evander menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Satu senyuman yang kini gantian menyihir Gladys, sebab lelaki di depannya itu terlihat begitu tampan sekarang.
"Aku menemukan hal yang lebih penting," balas Evander belum ingin mengusaikan percakapan di bawah payung sedang berwarna ungu muda tersebut. Jika Gladys tak berpindah, maka diapun tidak. "Yaitu memastikan kau tak bisa tidur malam nanti, karena apa yang terjadi antara kita hari ini."
Degupan jantung Gladys di dalam sana tiba-tiba saja memburu. Perempuan itu tak menyukai hal-hal seperti ini, terlebih dia baru saja menyadari bahwa pesona Evander semakin sulit untuk dia tolak. Bagaimana dia bisa membentengi diri dari lelaki playboy seperti Evander ini?
"Kau tak bisa melakukan hal itu, Evander," balas Gladys belum berubah posisi. Ia berusaha untuk melepaskan tangan Evander dari tangannya, namun belum berhasil. "Bukankah kau yang takkan bisa tidur malam ini?"
Saling tersenyum, kedua insan muda itu terlibat percakapan lebih lanjut di tengah-tengah guyuran hujan. Menikmati masa muda yang mungkin penuh dengan drama dan hal tak terduga, yang ternyata sudah menunggu mereka di depan sana.
Gladys tahu dia sudah tak sadarkan diri, saat hawa dingin dari pendingin ruangan kamarnya mulai menusuk tulang. Menarik selimut dengan rabaan, perempuan itu tak sama sekali membuka mata.
Meringkuk saat tubuhnya masuk ke dalam selimut tebal itu, Gladys mengubah posisi. Kini menaikkan kedua kakinya agar terlipat layaknya bayi, perempuan itu terisak dalam mata yang tertutup rapat.
Membiarkan air mata itu mengalir, melalui kulit halusnya yang kemudian menghilang.
'Evan, aku--'
Gladys bermimpi.
'Evan, kita--'
Seharusnya Gladys tak lagi memikirkan hal itu. Namun lagi-lagi, segalanya tak berjalan sesuai apa yang kita inginkan.
'Evan, aku rindu ....'
Dan mimpi itu kembali meremukkan hatinya yang tak pernah benar-benar pulih.
~Bersambung