10 (Penculik Alena)

1515 Kata
Alvin bermain dengan dua puncak kembar Angela seperti lapar, Alvin terus mengigit kecil atau bahkan menghisap dengan kuat membuat Angela melenguh dan merasa senang. Apalagi Angela sangat menikmati ketika Alvin yang keluar masuk wilayah terlarang miliknya. Jari itu kadang melanggar lebih dalam atau sekedar mencubit tunas kecil di bagian pintu masuknya. Setelah puas bermain dan melakukan pemanasan Alvin menegakkan tubuhnya untuk bisa memasuki wilayah terlarang itu lebih dalam dia memerlukan senjata yang kuat juga. "Aku akan masuk!" ujar Alvin dengan lembut seraya mengarahkan senjatanya untuk menerobos wilayah terlarang itu. "Pelan-pelan sedikit," pinta Angela dengan suara erangan lembut di akhir kata yang diucapkannya. Angela melenguh kenikmatan saat diam-diam Alvin mulai menghentak dengan sedikit lebih cepat namun tidak menyakiti Angela dan bayinya. Ke-duanya terus berpacu hingga akhirnya mencapai kepuasan. Alvin melenguh dengan senang setelah akhirnya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Angela ikut tersenyum saat dirinya lebih dipentingkan oleh Alvin terlebih dahulu. Puas, Alvin mengangkat tubuh Angela ke kamar mandi yang ada di ruang olahraga. Setelah selesai mandi dan kembali berpakaian, ke-duanya melangkah ke luar dengan wajah Alvin yang menunjukkan binar bahagia. "Tuan," ujar Robert menunduk hormat sembari menunduk, sejak tadi dia terus berdiri di depan ruang olahraga mencegah orang lain atau Erfan datang mengganggu. Di tangannya Robert memegang sebuah dokumen yang akan diberikannya pada Alvin. "Tentang apa itu?" tanya Alvin dengan alis terangkat sebelah, matanya menelisik melihat dan menilai dokumen itu dari luar. "Hanya laporan keseluruhan saja, Tuan! Lagi pula yang lain telah diselesaikan oleh Adera dan juga Reda jadi Anda tidak perlu terburu-buru melakukan pengecekan ulang." Robert menyerahkan dokumen itu sebelum dengan cepat berbalik pergi dari sana secepat mungkin. Alvin mengambil dokumen yang diserahkan oleh Robert sembari menimbang akan diapakan dokumen itu. Melihat Angela menatapnya Alvin dengan berat hati melepas tangan Angela dan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Angela yang melihat kepergian Alvin akhirnya memilih untuk melangkahkan kakinya ke ruang keluarga untuk mencari keberadaan Erfan dan Marco. Angela menemukan Erfan tengah bermain dengan wajah senang dan bahagia. Mendengar langkah kaki yang datang dari arah belakangnya Marco mengangkat kepalanya dan melihat ke asal suara. "Kau memang harus berjalan agar bayimu turun. Setidaknya kesehatanmu juga akan baik-baik saja," ujar Marco sembari tersenyum. Mendengar penuturan Marco yang selalu mengingatkan dirinya untuk kesehatan secara terus-menerus Angela tersenyum sembari menganggukkan kepalanya cepat. "Ya, aku selalu mengikuti apa yang kau ucapkan. Semoga saja aku bisa melahirkan normal kali ini, kau bilang ada kemungkinan aku bisa melahirkan secara normal 'kan?" Angela bertanya lagi sembari duduk di salah satu kursi yang masih ada. Sungguh dia tidak kuat untuk berdiri terlalu lama sekarang. Angela menyandarkan tubuhnya dan menghela napas lega. "Ada kemungkinan 50:50, kau hanya harus rajin bergerak saja tapi tetap jaga kesehatanmu." Marco menganggukkan kepalanya, ia kembali bermain dengan Erfan. Alvin yang telah selesai meletakkan dokumen tadi di atas meja di ruang kerjanya langsung melangkah turun untuk mencari sang istri. Alvin memeriksa satu-persatu ruangan hingga akhirnya sampai di ruang keluarga. "Kau di sini rupanya!" sapa Alvin lembut saat akhirnya bisa menemukan keberadaan Angela. Alvin ikut duduk di sebelah Angela agar bisa melihat Erfan yang asyik bermain dengan Marco. Sedangkan Robert tengah sibuk melihat kiri dan kanan dari balkon di kamarnya yang ada di sebelah kamar Alvin. Robert terlihat memeriksa sesuatu dari layar laptopnya tentang siapa sebenarnya yang berani menganggu keluarganya. Ketika tengah asyik mencari tahu geng mana yang telah menculik Alena waktu itu, Robert menemukan sesuatu yang benar-benar membuatnya terbelalak kaget tidak percaya. "b******k, pantas saja Alena tidak mau mengatakan siapa orang yang memukulinya saat itu." Robert mendesis marah saat melihat wajah-wajah orang itu. Robert sempat melupakan kasus yang menimpa Alena karena Alena tidak pernah mengalami hal buruk itu lagi. Jika dia tidak memeriksa dengan saksama hari ini setelah laporan Aleta maka dia benar-benar tidak akan mencari tahu kasus ini lagi. "Pantas, Alena ternyata bukan orang bodoh atau sengaja berpura-pura hilang ingatan untuk melindungi si penculik tapi dia melakukan semua itu hanya untuk menjaga perasaan seluruh anggota keluarga." Robert memukul meja dengan keras. Sungguh, Robert selama ini berpikir Alena terlalu bodoh untuk menutupi siapa penculiknya dan lebih memilih diam tapi sekarang dia tahu penyebabnya. Alena hanya ingin menjaga perasaan keluarga yang telah mencintai dan menyayangi dirinya selama ini. "Halo Adera!" sapa Robert dengan nada penuh penekanan saat ia telah selesai menekan beberapa angka di layar telepon selulernya dan langsung menghubungi Adera. "Ada apa Kak? Apa yang membuatmu marah?" Adera bertanya dengan penasaran. Dia tahu suara Robert jika sedang dalam suasana hati yang buruk. "Datang ke ruang kerja Tuan Alvin, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu dan ini tentang keponakan tersayangmu Alena." Robert langsung mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Tanpa menunggu jawaban Adera, Robert langsung mematikan panggilan mereka, ia masih merasa kesal atas apa yang terjadi. Robert benar-benar terlihat marah sekali saat ini. Adera yang mendengar Robert menyebut-nyebut nama Alena langsung berjalan ke luar dari kamarnya di lantai satu menuju ke lantai dua tempat ruang kerja Alvin berada. Adera terlihat terburu-buru tanpa memperhatikan sendal yang dipakainya saat ini yang membuat para pelayan tertawa secara sembunyi-sembunyi. Sesampai di ruang kerja Alvin Adera langsung melangkah masuk dan menemukan Robert tengah sibuk menatap layar laptopnya. "Ada apa, Kak?" tanya Adera penasaran, Adera memilih duduk di depan Robert dengan wajah penasarannya yang terlihat cantik. "Kau lihat ini!" Robert membalik laptopnya agar bisa dilihat oleh Adera apa yang ada di layar itu. "Ini, aku sempat menduga kalau dia penyebabnya tapi aku tidak pernah mengira kalau semua itu memang dia." Adera terlihat marah dengan mata menyala-nyala penuh kebencian. Tangannya terkepal dengan kemarahan yang luar biasa meminta untuk segera dilepaskan. "Aku akan pergi mencarinya dan memberi dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan sama sekali." Adera benar-benar terlihat marah dengan kebencian luar biasa. "Kau tidak perlu turun tangan, aku akan menyuruh anak buah Tuan Alvin untuk menculiknya dan membawa orang itu ke ruang penyiksaan di rumah ini." Robert membujuk Adera. Setelah itu dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi anak buah Alvin yang selalu bersembunyi di ruang bawah tanah Alvin. "Halo Yoppi, kau pergilah ke alamat yang aku kirimkan sebentar lagi. Aku ingin kau membawa orang itu hidup-hidup ke ruang bawah tanah di sini secepat mungkin tanpa luka sama sekali." Robert memberikan perintah sekaligus peringatan. Setelah mendapatkan jawaban dari orang yang dihubunginya Robert langsung memutuskan sambungan komunikasi dan menatap Adera yang masih terlihat kesal dan marah. "Percuma kau kesal dan marah. Nanti, setelah orang itu datang ke sini kau boleh menghajarnya sesuka hatimu. Bahkan jika kau ingin membunuhnya aku tidak akan melarangmu." Robert berdiri dan menepuk bahu Adera. "Pantas saja Alena bersikap pengecut, ia tidak ingin menyebutkan semua tragedi pemukulan dirinya di masa lalu. Pantas saja setiap kali dia datang Alena akan bersembunyi di kamarnya." Adera terlihat sedih dan kecewa. "Sudahlah, semuanya juga bukan kesalahan kita. Kita salah karena tidak terlalu peduli pada tingkah anehnya hanya itu saja." Robert melangkah ke arah pintu, dia ingin menghirup udara segar. "Kak, apa yang menyebabkan dirimu membenci Alena, Kak?" Adera melemparkan pertanyaan sesaat sebelum Robert bisa ke luar dari pintu ruang kerja Alvin. "Siapa yang mengatakan padamu kalau aku membencinya?" Robert membalik tubuhnya sembari melontarkan pertanyaan kembali pada Adera. Sebelah alis Robert naik ke atas saat dia bertanya pada Adera. "Lalu kenapa kau begitu tidak suka saat dia berada di dekatmu? Kenapa kau selalu bersikap tidak peduli padanya? Bahkan Kak, kau selalu bersikap dingin dan menjauh darinya." Adera bertanya lagi, Adera benar-benar tidak suka dengan cara Robert memperlakukan Alena. "Aku punya alasannya sendiri dan tidak perlu ada orang yang tahu tentang itu." Robert menjawab cepat tanpa peduli lagi. Segera, Robert ke luar meninggalkan Adera yang masih terduduk dengan wajah tidak percaya. "Aish, Kakak benar-benar menyebalkan! Dia selalu bersikap dingin pada Alena lalu bersikap lembut pada Aleta. Apa jangan-jangan Kakak jatuh cinta pada Aleta? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jika Kakak jatuh cinta pada Aleta maka Alena akan sakit hati dan terluka." Adera menggelengkan kepalanya. Sungguh, Adera benar-benar tidak mampu memikirkan hal itu, selama ini Alena sudah hidup menderita, Adera tidak ingin Alena patah hati dan semakin terluka lagi. "Aku harus bisa menyatukan Kakak dan Alena, apapun caranya meski Aleta terluka. Aku harap Aleta tidak jatuh cinta juga pada kakak." Adera terlihat berpikir sebelum pada akhirnya memilih untuk bersiap-siap pergi ke luar menyusul Robert. Namun saat ke luar dan mencari keberadaan Robert, Adera malah kehilangan jejak. Padahal Adera sudah memeriksa seluruh ruangan yang kemungkinan menjadi tempat yang disinggahi oleh Robert. Adera mulai memeriksa kamar Robert, ruang tamu, ruang keluarga bahkan ia juga memeriksa ruang olahraga. Adera bahkan berlari ke kolam renang dan taman rumah Alvin namun sedikitpun batang hidung Robert tidak terlihat. "Kakak kemana sih? Padahal aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap saja aku tidak menemukannya. Apakah dia sudah berada di ruang bawah tanah? Atau jangan-jangan dia pergi menemui Aleta?" Adera mencoba menebak ke arah mana Robert pergi. Lelah mencari, Adera akhirnya memilih istirahat dan menunggu kedatangan Robert di kamarnya. Sebelum itu Adera sempat berpesan pada pelayan untuk memberitahu dirinya jika Robert sudah datang pulang kembali. "Hah, aku harus bisa membuat Kakak dan Alena bersatu. Apapun caranya akan aku lakukan agar Alena bisa tersenyum dan bahagia." Adera berjanji dengan sepenuh hati sebelum membenamkan dirinya dalam laptop untuk mengurus bisnis saham Alvin dan perusahaan Alvin juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN