11 (Agata)

1579 Kata
Alena telah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini, saat ini dia sudah berada di hotel sembari menikmati makan malam sendirian sebab Alfred memesan kamar lain di sebelahnya. Alena menatap pemandangan yang ditampilkan dari jendela kamar hotel tempatnya menginap, suasana tenang dan damai itu membuat Alena merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan. "Apakah aku terlalu bodoh atau memang aku hanya bisa bertindak lemah dan pasrah saja oleh karena itu Paman membenciku?" Alena bertanya dengan suara lembut yang terbawa angin saat dirinya tengah diam tanpa menyuap makanan lagi ke mulutnya. "Jika aku jujur tentang kejadian tahun itu maka kebahagiaan keluargaku akan berkurang, keluargaku akan kecewa serta terluka. Tapi ketika aku tidak mengatakannya masalah hari itu terus membuatku takut dan tidak sanggup lagi melakukan apapun." Alena menghembuskan nafasnya. Setelah terdiam cukup lama, Alena akhirnya kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Alena yang telah selesai makan malam saat ini tengah duduk sambil menghubungi Aleta di negara asalnya. "Halo adikku, Apa kabar? Apa kau sudah makan?" Alena bertanya dengan suara lembut khas seorang kakak yang menyayangi adiknya. Ini adalah sifat sejati Alena, meski ia menjauh dari anggota keluarganya yang lain Alena tetap menyayangi adik-adiknya dengan sepenuh hati. Alena bahkan melakukan apa saja demi adiknya. "Halo, Kak! Apa kabar juga? Aku baik dan baru selesai makan. Kalau Kakak sudah makan atau belum?" Aleta tersenyum manis. Aleta bisa membayangkan raut lelah di wajah Alena tapi ini adalah kebiasaan Alena jika berada jauh dari Aleta. "Kakak baik, baru selesai makan, jangan bekerja terlalu keras ya, Aleta. Kau harus menjaga kesehatanmu, kau harus makan-makanan yang bergizi juga agar bisa terus menjaga kesehatan." Alena menasehati Aleta dengan lembut. Ini yang membuat Aleta benar-benar bisa merasakan kehadiran seorang kakak, Alena lebih sering mengalah dan menomorsatukan Aleta dan adiknya yang lain. "Kakak juga jangan bekerja terlalu keras, Kakak juga harus bisa mengatur waktu makan dan istirahat. Aku sayang Kakak!" Aleta tersenyum, tidak pernah sekali pun Alena pernah membenci Aleta meski Aleta sering membuatnya dimarahi oleh Ayah dan ibu mereka. "Iya Sayang! Kakak tutup panggilannya dulu ya, kakak mau istirahat." Alena memang terlihat lelah dari raut wajahnya. "Iya, selamat istirahat Kakak!" Aleta tersenyum kembali kemudian Aleta memutus sambungan telepon mereka. Setelah itu Alena meletakkan laptopnya yang digunakan untuk panggilan video tadi di atas meja di samping tempat tidur. Setelah membersihkan tempat tidur Alena langsung berbaring dan memejamkan matanya. o0o Sekelompok orang menghentikan sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang di tepi jalan yang terlihat gelap dan sepi. Di dalam mobil ada dua orang yang tengah tertawa bahagia sembari bercengkrama. "Eh ada apa ini?" Si pria yang tengah menyetir mobil begitu terkejut saat seseorang tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya hingga hampir saja menyebabkan kecelakaan. "Turun!" bentak orang-orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup di depan dan samping mobil. Di tangan orang-orang itu ada beberapa senjata tajam, tidak lupa ada juga yang memegang senjata api berukuran kecil. "Ada apa? Memangnya kami salah apa pada kalian?" Si pria benar-benar bingung hingga tidak mampu untuk turun dari mobil. Kesal dengan tingkah kedua orang di dalam mobil sekelompok orang itu langsung memecahkan kaca dan memaksa si wanita yang duduk di sebelah untuk turun. Melihat pria di depannya si wanita yang bertindak lemah dan takut langsung disuntik dengan sebuah cairan hingga membuatnya jatuh pingsan. "Hei, kalian mau apa? Lepaskan istriku! Jangan sekali-kali kalian menyentuhnya. Kalau kalian masih bersikeras aku akan melaporkan kalian ke polisi." Pria itu mengancam saat melihat istrinya yang lemah dan tidak berdaya di lempar begitu saja ke dalam mobil yang dibawa penculik itu. "Urus dia seperti yang diperintahkan!" Setelah mengucapkan itu, pria yang terlihat sebagai pemimpin langsung naik ke mobil pertama, ia meninggalkan tempat itu dengan beberapa orang di dalam mobil mengikutinya. Di dalam mobil yang melaju menjauh itu. "Kalian ikat kaki dan tangannya dengan tali yang sudah kita siapkan." Pria itu memberi perintah lagi sebelum kembali melihat jalan di depan yang tengah mereka lalui. Meski jalannya terlihat memutar tapi tujuannya terlihat jelas ke arah rumah Alvin. Sesampai di rumah Alvin setelah tiga jam perjalanan, mereka akhirnya masuk melalui gerbang khusus untuk mereka. "Tarik saja dia! Tuan sudah mengatakan agar kita tidak perlu berbuat baik padanya." Setelah memberikan perintah, pria itu mengeluarkan ponselnya sembari tetap berjalan menuju ruang bawah tanah. o0o "Ayo, Adera!" ajak Robert saat dirinya telah sampai di depan pintu kamar Adera. Ia membuka pintu kamar lalu berteriak keras pada Adera, Entah dari mana asalnya tiba-tiba saja Robert sudah muncul di depan rumah dan langsung melangkah ke kamar Adera. Adera yang mendengar suara keras Robert langsung bangkit dari tidur ayamnya dan melangkah ke luar seolah dia tidak pernah berbaring sama sekali. "Apakah dia sudah ditangkap?" Adera bertanya penuh dengan semangat, binar matanya yang indah menunjukkan kalau Adera ternyata memiliki sisi yang kejam juga. "Sudah, bagi anak buah Tuan Alvin menangkap seekor lalat kecil itu bukanlah masalah besar." Robert mengangguk mengiyakan pertanyaan Adera. Segera keduanya berjalan menuju ke pintu ruang bawah tanah yang ada di dapur. Pintu khusus itu terbuka ketika Robert menekan sesuatu di dekat lemari khusus bahan makanan. Adera dan Robert menuruni jenjang menuju ke ruang bawah tanah yang otomatis langsung menutup pintu di belakang mereka yang merupakan jalur masuk ruang bawah tanah yang lain. Adera memperhatikan bagian ruang bawah tanah dengan saksama. Gelap, aroma tanah yang khas serta suara-suara aneh lainnya dapat didengar dan dirasakan saat ia melangkahkan kaki makin jauh. Ketika sampai di ujung tangga mereka melihat sebuah pintu besi dengan keamanan paling canggih. Mulai dari pemindaian mata, sidik jari bahkan detak jantung sekaligus. Yang lebih mengesankan Adera lagi juga dilengkapi pemindaian suara dan tes bicara. "Sesusah itu masuk ke sini, Kak?" tanya Adera dengan raut wajah cemberut, Adera mengira dirinya akan bisa ke luar masuk dengan bebas ke ruang bawah tanah ini. "Hmm, ada jalan simpel tapi aku tidak mau memberitahu dirimu." Robert menjawab santai kemudian melangkah masuk diikuti oleh Adera. Mereka terus melangkah hingga sampai di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim. Adera bahkan mencium bau amis darah sepanjang jalan menuju ke ruangan ini. "Kau atau aku yang menyiksanya lebih dulu?" tanya Robert pada Adera saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan. Di tengah ruangan ada seorang wanita dalam keadaan terikat tangan dan kaki, wajahnya nampak menunduk karena tidak ada yang menopang kepalanya. "Biar aku lebih dulu," ujar Adera sembari melangkah maju, kaki panjangnya yang ditutupi celana jeans panjang langsung menendang bagian kepala si wanita. Rasa sakit yang menyerang kepalanya membuat si wanita yang tertidur akhirnya terbangun. "Lepaskan aku! Kalian siapa?" teriaknya dengan suara lah berpura-pura takut dan tertindas. "Sudahlah, jangan terus-menerus bertingkah lemah dan menyedihkan. Orang lain mungkin akan tertipu oleh dirimu tapi bukan aku atau adikku." Robert terlihat malas saat menjawab. Dia berdiri sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan kedua tangan terlipat di d**a. Malas namun elegan itulah tampilan yang diperlihatkan olehnya. "Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti." Si wanita berusaha bergerak sembari melepas ikatan di tubuhnya namun ikatan itu malah semakin lama semakin erat dan kuat. "Sampai kapan kau akan bertindak seperti itu, suamimu sudah tidak ada di sini. Mungkin dia sudah mati di tempat lain," kesal dengan tingkah bodoh si wanita Robert melontarkan kata-kata yang akan membuat wanita itu marah. "Apa yang kau lakukan padanya?" Marah, wanita itu berteriak dengan keras menunjukkan wajah aslinya yang beringas. Tidak ada lagi rasa takut, tidak lagi ada raut wajah tertindas ataupun yang lain. Hanya ada kekejaman, pembunuhan serta kebencian. Sukses melihat usahanya berhasil, Robert menghidupkan lampu ruangan itu dengan senyuman penuh kemenangan tercetak jelas di bibirnya. "Kau!" Wanita itu menunjuk dengan wajah tidak percaya, matanya yang melotot menandakan kalau dia benar-benar tidak menyangka kalau orang yang menculiknya adalah Robert. Yang lebih membuatnya semakin terkejut adalah Adera yang berdiri di depannya dengan tangan terlipat di d**a. Adera yang selama ini selalu terlihat manis dan patuh ternyata lebih ganas dari yang dia kira. "Apa-apaan kalian? Lepaskan aku sekarang juga? Jika Kakak sepupu kalian tahu dia pasti akan marah dan membenci kalian berdua." Wanita itu mencoba membujuk Robert dan Adera. "Biarkan saja dia tahu, aku rasa itu lebih bagus. Dia juga harus tahu kalau wanita yang dinikahinya adalah siluman rubah yang bermuka dua." Adera bertindak tidak peduli dan langsung berjalan mendekat ke arah si wanita. "Aku istri kakak sepupu kalian." Wanita itu berteriak lagi, wajahnya dipenuhi kemarahan dan kebencian yang luar biasa. "Apa alasanmu menculik Alena, Agata?" Robert bertanya dengan suara penuh penekanan. Hilang sudah kesopanan yang diperlihatkan Robert pada wanita yang hampir seusia dirinya itu. "Alasan? Apakah menculik seseorang membutuhkan alasan?" Agata tertawa sinis dengan wajah tanpa dosa yang akan membuat siapa saja marah. "Apa yang kau inginkan darinya Agata?" Robert bertanya lagi kali ini dia berjalan mendekat dan menjepit dagu Agata keras membuat Agata meringis sakit. "Harta keluarga dan warisan yang menjadi milik Alena. Aku membutuhkan harta dan kekuasaan yang menjadi milik anak itu." Agata akhirnya berbicara jujur. "Kau terlalu miskin hingga ingin merebut miliknya." Adera bertanya dengan marah sembari menampar wajah cantik munafik itu. "Kau tidak tahu ya kalau Alena sudah diwariskan harta yang berlimpah bahkan sejak dia masih di dalam kandungan. Aku juga benci dengan dirinya," ujar Agata sembari melihat jauh menerawang. "Apa yang membuatmu membencinya? Dia masih kecil saat itu dan belum tahu apa-apa, kenapa kau dengan kejam memukul dan memperlakukan dia seperti itu?" Adera bertanya dengan marah. "Aku benci karena kehadiran dirinya aku tidak bisa menikahi laki-laki itu. Aku benci karena dirinya aku harus membiarkan cintaku pergi maka dari itu dia harus mati." Agata tertawa senang saat dirinya mengingat kembali bagaimana kondisi Alena setelah dipukuli. Agata puas melihat wajah manis itu meringkuk kesakitan dan menjauh dari seluruh anggota keluarganya. Agata terlihat puas saat mendengar teriakan kesakitan Alena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN