12 (Kejahatan Agata)

1620 Kata
Robert hendak berjalan mendekat namun langkahnya kalah cepat dari Adera yang begitu sampai di dekat Agata langsung mengangkat dagu Agata ke atas. "Dengan apa kau memukul tubuhnya? Jawab!" bentak Adera dengan mata memerah, di jalur indah pipi Adera ada air mata bening yang mengalir. Agata tampak menengadah namun dengan senyum meremehkan terlihat jelas di wajah dan matanya. "Aku memukulnya menggunakan tongkat besi yang berbentuk bulat, tongkat itu sudah aku persiapkan sejak lama untuk menghabisinya. Bahkan aku membeli tongkat itu sejak dia berada di dalam kandungan ibunya." Agata menjawab santai. 'Apa yang bisa mereka lakukan padaku, Adera ini adalah anak yang lembut dan manis tidak mungkin dia sanggup melukai diriku lebih dari ini. Dan mereka tidak akan berani menyakiti diriku lebih dari ini.' Agata berpikir di dalam hati. Agata merasa Robert dan Adera tidak akan menyakiti dirinya lebih dari ini, Agata merasa Adera dan Robert hanya mengancam dirinya. Apalagi saat ini dia adalah seorang ibu dari seorang anak kecil dan seorang bayi berusia enam bulan. Mendengar Agata memukuli Alena dengan besi, rasa benci di hati Adera semakin meningkat. Adera berdiri dan hendak melangkah pergi mencari sesuatu untuk memukuli Agata namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap Robert tengah membawa sebuah besi dengan jarum-jarum kecil di ujungnya. "Kau mau apa?" Agata terkejut bukan main saat matanya juga menangkap Robert yang tengah berjalan dengan mantap ke arahnya. "Kapan kau mengambil itu, Kak? Kenapa aku tidak mendengar pintu dibuka?" Adera bertanya dengan penasaran. Ingin sekali Adera mengambil alat itu untuk memukuli Agata. "Dari lemari penyiksaan," jawab Robert dengan suara lembut, Robert berjalan mendekat dengan tangan bersiap-siap untuk mengayunkan benda itu ke arah Agata yang terikat. "Kak, tidak pantas bagimu untuk melukainya. Aku tidak ingin kau akhirnya merasa bersalah nantinya." Adera mencegah Robert dengan cepat. Adera hanya ingin dia yang melampiaskan kebencian dan rasa sakit yang Alena alami, Adera yakin Robert melakukan semua ini hanya karena dia merasa kasihan bukan karena Robert benar-benar peduli pada Alena. Adera mencoba mengambil alat itu dari tangan Robert namun seakan tidak ingin melepaskan Robert memegang kuat benda itu tanpa berniat melepaskan sama sekali. "Aku akan memukulnya beberapa kali setelah itu aku tidak akan mencegahmu melepaskan sakit hatimu." Robert menggelengkan kepalanya dan langsung melangkah maju. Robert mengayunkan benda itu sekuat tenaga dan langsung memukulkan benda itu pada tubuh Agata. "Di mana anak buahmu yang lain? Gengmu telah lama meresahkan orang lain, juga kalian ikut membantu Salvador menghancurkan keluarga Tuan Alvin dulu kan?" tanya Robert tanpa basa-basi. Robert mengayunkan lagi benda itu membuat Agata memekik kesakitan dengan darah yang muncul di jarum yang ada di alat pemukul itu. 'Aku benarkan? Tidak mungkin kakak melakukan semuanya karena dia peduli pada Alena. Ternyata geng wanita ini ikut terlibat juga dengan Salvador.' Adera berbisik di dalam hati. "Katakan?" Robert kembali memaksa, dengan kejam ia terus memukul Agata dengan kekuatan yang tidak ditahannya sama sekali. Teriakan kesakitan Agata terdengar jelas di dalam ruangan itu, para pria yang ada di dalam sana benar-benar merasa ketakutan. Sebab selama ini, mereka belum pernah melihat Robert turun tangan langsung dalam menganiaya tawanan. Robert terus memukul Agata sepuas hatinya, entah untuk apa dia memukul Agata mungkin untuk pelampiasan atas masalah Alvin atau mungkin karena masalah lain. Setelah puas memukul Agata, Robert dengan santai melempar tongkat itu hingga suara dentuman terdengar keras di ruang itu. "Kak, apakah kau sudah puas? Apakah aku boleh memukulnya juga sekarang?" Adera melontarkan pertanyaan saat melihat Robert melangkah ke luar ruangan itu. "Terserah kau saja!" Robert melangkah pergi dengan segera bahkan hingga bunyi benturan pintu terdengar jelas. Robert melangkah pergi dengan cepat menuju ke kamarnya, bahkan panggilan para pelayan tidak dijawab oleh Robert sama sekali. "Ahhh," teriak Robert dengan keras, wajah Robert memerah dengan kebencian terlihat jelas di matanya. "Dia pasti kesakitan, dia pasti ketakutan setiap kali melihat wajah wanita jahat itu. Pantas, pantas saja Alena selalu bersembunyi di kamarnya saat ada acara kumpul keluarga." Robert sekali lagi memukul dinding kamarnya. Robert menjauh dari Alena karena ia merasa gagal menjaga keponakannya, dia merasa menjadi paman yang tidak bertanggung jawab, paman yang tidak bisa melakukan apapun di saat keponakannya mengalami masalah. Robert tidak pernah menanyakan kabar Alena, dan dia juga tidak pernah melihat wajah Alena lama karena ia takut teringat kejadian beberapa tahun lalu. Ia merasa bersalah saat mendengar helaan napas lega saat Alena diselamatkan, ia merasa bersalah saat melihat senyuman Alena saat dirinya telah lepas dari penculik itu. Sedangkan Adera yang masih berada di ruang penyiksaan bawah tanah mengambil tongkat besi dan mulai memukul Agata melampiaskan amarahnya yang terpendam lama "Apa yang akan kau lakukan padanya jika kalian berhasil menculiknya hari itu?" Adera bertanya dengan gigi yang beradu karena geram. Hilang sudah Adera yang manis dan anggun, Adera yang lembut dan patuh di rumah, Adera yang berdiri tegak di depan Agata saat ini adalah Adera yang kejam dan juga tidak berperasaan sama sekali. "Tuan Robert dan Nona Adera kelihatan kejam sekali ya," bisik para penjaga ruang bawah tanah. Selama ini mereka hanya melihat Adera yang manis dan anggun meski dingin. "Jawab aku atau putrimu akan berada di sini juga." Adera kembali melontarkan ancaman yang terlihat tidak main-main. Wajah beringas serta senyum penuh kebencian milik Adera membuat Agata ketakutan. "Tidak, putriku tidak bersalah sama sekali. Jangan pernah kau menyentuhnya! Biar bagaimanapun mereka sama-sama keponakanmu." Agata mencoba berbicara tapi bagaimana Agata bisa tahu kalau cinta Adera telah tercurah penuh pada Alena. Adera begitu menyayangi Alena bahkan lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Entah apa yang Alena lakukan hingga bisa mencuri seluruh hati Adera. "Sayangnya aku hanya menyayangi Alena lebih banyak dari keponakanku yang lain," jawab Adera santai diiringi senyuman kecil yang manis. "Ayo katakan! Apa yang kau lakukan padanya?" desak Adera dengan hantaman keras sebuah tinju di pipi Agata. Adera sangat tahu Agata begitu mencintai penampilan miliknya. "Menyuruh orang memperkosanya setelah itu aku akan menyuruh anak buahku membunuhnya. Sayang, kakakmu mengacaukan semua rencanaku. Untung dia tidak melihatku jika iya, mungkin dia akan mati juga."Agata tersenyum meremehkan. Maklum, Agata merasa dia sangat hebat karena sejak kecil dia telah memiliki sebuah geng turunan dari orangtuanya. Sejak kecil dia telah dilatih menjadi nyonya besar yang suka memerintah. "b******k," umpat Adera dengan kemarahan semakin meningkat. Adera dengan kejam memukul wajah Agata hingga membuat Agata menjerit dengan keras. "Wajahku, jangan memukul wajahku!" teriak Agata dengan suara keras. "Persetan dengan wajahmu, kalian lepaskan ikatannya! Aku mau mengajaknya perang tinju." Adera memerintah. Kemarahannya benar-benar sedang meningkat dan butuh pelampiasan. Segera setelah ikatannya terlepas, Agata langsung berusaha bangkit dengan rasa sakit di tubuhnya. Segera setelah bisa berdiri, Agata dengan sempoyongan menyerang Adera. Tanpa banyak usaha, Adera berhasil menghindari serangan demi serangan Agata. "Heh, hanya segini saja kah kemampuanmu?" tanya Adera dengan cemoohan indah di bibir cantiknya yang merah. "b******k, tubuhku sudah sakit setelah dipukul kakakmu dan kau sendiri. Bagaimana lagi aku bisa bergerak." Agata berteriak dengan keras. Sungguh, tubuhnya benar-benar terasa sakit dan perlu pertolongan saat ini. Dia benar-benar tidak sanggup untuk bertarung, melihat Agata tidak punya perlawanan Adera bersandar di dinding. Ketika mereka akan bertarung lagi, Robert kembali masuk dan melihat ke arah Agata yang tengah berusaha mengambil napas. "Kak, dia bilang dia ingin menyuruh orang memperkosa Alena kemudian dia akan membunuh Alena setelahnya," adu Adera dengan wajah penuh kegembiraan. Mendengar ucapan Adera kemarahan semakin meningkat di hati Robert, Robert melangkah cepat ke arah Agata sebelum menendang Agata hingga terjungkal ke belakang. "Beraninya kau berpikir seperti itu? Siapa yang mengizinkan dirimu menyentuhnya? Siapa yang mengizinkanmu memukulnya?" Robert dengan marah terus menendang Agata dengan keras. "Kau keluar lah, Adera! Kirimkan bukti kejahatan perempuan ini kepada media. Biarkan anak dan suaminya tahu siapa dia sebenarnya." Robert memberi perintah yang langsung dibalas anggukan oleh Adera. Adera buru-buru keluar karena dia tahu jika Robert sudah memiliki bukti dan dia bisa mengakses itu semua dari komputer Robert. Selepas kepergian Adera, Robert menarik Agata untuk berjalan menjauh ke ruang penyiksaan para tawanan Alvin. Bulu kuduk Agata berdiri saat melihat dan mendengar teriakan para tawanan di sana. Agata dilempar oleh Robert begitu saja di depan sebuah sel dengan suara teriakan terdengar jelas. "Siapa yang menyuruhmu menyentuh milikku, ha?" tanya Robert dengan suara mendesis yang membuat bulu kuduk Agata berdiri secara tiba-tiba. "Apa maksudmu? Bukankah selama ini kau membencinya? Ooh, aku mengerti! Kau sama saja dengan majikanmu itu ternyata." Agata tertawa dengan sinis. "Lalu apa? Kau tahu karena ulahmu aku harus menjaganya dari jauh, gara-gara dirimu aku harus membiarkannya berdekatan dengan pria lain." Robert berbicara dengan penuh penekanan. Rasa benci menyeruak di hati Robert saat mendengar semua ucapan Agata, begitu pula dengan Agata yang merasa benci sebab Alena juga begitu dicintai seperti ibunya. "Kenapa? Kenapa mereka mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan selama ini? Kenapa aku--" ucapan Agata terputus saat Robert dengan kejam menendang perutnya. "Kau memang tidak pantas untuk dicintai, kau akan mati tanpa keluarga, tanpa batu nisan dan tanpa nama." Robert menatap tajam pada Agata. "Kau menyukai keponakanmu sendiri, itu salah dan tidak dibolehkan. Lalu apa maksud perhatian yang kau berikan pada Aleta? Bukankah semuanya karena kau mencintai Aleta yang manis dan lembut?" Agata bertanya dengan wajah penasaran. Inilah alasan utama Agata mendekati Aleta karena Aleta memiliki dukungan kuat di belakangnya jika dia bersama dengan Robert. Dan jalannya untuk menghancurkan keluarga Alvin juga semakin besar. "Hubunganku dengan Aleta adalah rahasia yang tidak perlu kau ketahui. Yang perlu kau ketahui saat ini adalah nyawamu sudah berada di ujung tanduk." Tanpa aba-aba sama sekali Robert melempar Agata ke dalam sel tempatnya berhenti tadi. Setelah memastikan Agata jatuh tersungkur Robert kemudian menutup pintu sel. "Kau akan melihat berita tentang dirimu di saluran televisi setiap hari. Kau akan melihat bagaimana anak-anakmu, bagaimana suamimu akan melirikmu dengan jijik nantinya. Aku ingin kau melihat bagaimana marahnya mereka padamu karena kau pergi tanpa alasan." Robert menekan sebuah tombol di dinding sel tahanan. Di depan sel, muncul sebuah televisi besar dengan tayangan berita tentang kejahatan Agata yang terekspos satu-persatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN