"Tidak, kau benar-benar pria yang kejam, kau tidak berperasaan dan kau tidak punya hati. Hanya demi seorang wanita yang tidak tahu diri, wanita yang belum tentu masih menjaga kesuciannya kau melakukan ini padaku." Agata berteriak marah.
Kebencian membuat Agata buta bahwa ia bertindak sama dengan apa yang dilakukan Robert saat ini.
"Asalkan kau tahu, meski dia pergi kemana saja dengan pria itu. Kesucian Alena masih terjaga sampai saat ini, Alena bahkan tidak pernah tidur dalam satu ruangan yang sama dengan pria itu." Robert menjawab dengan senyum tanpa dosa.
"Kau, bagaimana kau bisa tahu semua itu? Bagaimana kau bisa yakin?" Agata bertanya dengan raut wajah curiga.
"Karena aku selalu tahu apa yang tengah dilakukannya." Robert menjawab dengan santai sebelum berlalu pergi meninggalkan Agata, membiarkan Agata melihat sendiri kejahatan yang telah dilakukannya.
Agata menangis sedih dengan kebencian yang luar biasa. Agata benar-benar tidak bisa menerima ini semua, Agata mengepalkan tangannya penuh kebencian.
"Percuma kau membenci bahkan percuma jika kau berharap bisa bebas dari sini. Kau hanya bisa bermimpi tapi tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan." Seorang pria yang berada di ruang itu dengan kondisi yang juga menyedihkan ikut berbicara.
Bibirnya tersenyum meski wajahnya menunjukkan kesedihan yang luar biasa. Dia terlihat lelah dengan luka-luka yang terlihat jelas di sekujur tubuhnya.
"Kau lihat keadaanku, aku hanya salah satu dari banyaknya tawanan di ruang ini yang masih tersisa. Aku saat itu hanya dalam keadaan mabuk dan tidak sengaja menampar wanita bernama Alena itu." Pria itu berhenti berbicara dengan wajah sendu yang terlihat lelah.
"Ya, meski aku juga sempat mendorongnya dan menyebabkan gadis itu diserempet motor dan mengalami luka-luka. Kau bisa lihat keadaanku bukan?" Pria itu tersenyum miris.
Sungguh, jika dia bisa mengulang kembali waktu pria itu akan melakukan apa saja untuk menghindari nasib tragis itu.
"Aku akan bebas dari sini, aku akan melepaskan diri dari penjara ini. Aku akan pastikan padamu kalau aku bisa bebas dari tempat ini." Agata nampak penuh percaya diri.
Tapi hatinya sendiri tidak yakin apakah ia mampu bebas dari tempat dengan penjagaan yang begitu ketat ini. Robert sampai di luar ruangan dan kembali memasang wajah datarnya.
Robert terlihat kembali tidak peduli dengan keadaan sekitar meski sesekali ia akan mengangguk ketika mendapat sapaan dari para pelayan keluarga Alvin.
o0o
Alena melangkah turun dari pesawat, akhirnya hari ini dia bisa kembali pulang setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Alena tersenyum saat melihat Alfred dengan wajah cemberut sedang menenteng tas wanita miliknya.
"Kau sudah berjanji akan membantuku membawakan semua barang-barang milikku. Siapa yang menyuruhmu mendorongku dengan sengaja hingga membuat tanganku sakit sampai sekarang?" Alena terlihat bangga sembari memperlihatkan tangannya yang masih dibalut kain berwarna putih.
Hal itu sukses membuat Alfred mengubah raut wajahnya ketika melihat tangan itu berbalut perban. Dia memang mendorong Alena dengan sengaja kemarin hanya untuk bercanda namun Alfred tidak menyangka kalau dorongannya akan berubah kuat hingga menyebabkan Alena jatuh tersungkur.
"Iya, maafkan aku!" Alfred menunduk dengan raut wajah sedih nyata tanpa dibuat-buat sama sekali. Alena melangkah terlebih dahulu meninggalkan Alfred yang sedang mengumpulkan koper mereka.
"Eh, kok ada mobil milik keluarga Angela di sini?" tanya Alena heran saat melihat salah satu mobil yang biasa terparkir di rumah Angela ada di depan pintu masuk bandara.
Alena melihat kiri dan kanan untuk menemukan keberadaan Angela namun dia tidak menemukan keberadaannya di sana. Dengan mengangkat bahu, Alena terus melangkah ke arah mobil Alfred yang terletak tidak jauh dari mobil Angela.
"Nona Alena!" panggilan lembut itu menghentikan langkah kaki Alena yang sebentar lagi akan sampai ke mobil Alfred. Alena memutar tubuhnya kembali dengan wajah penuh tanda tanya yang terlihat jelas di wajahnya.
"Saya atau ...." Alena memutar tubuhnya untuk mencari orang lain yang memiliki nama sama dengannya.
"Iya, Anda! Saya diperintahkan untuk menjemput Anda pulang ke rumah Nona Angela." Sopir itu tersenyum sembari membuka pintu mobil bagian belakang di kursi penumpang.
"Tapi saya akan pulang ke rumah. Saya tidak akan pulang ke rumah Angela hari ini," ujar Alena bingung.
Pasalnya dia akan mencoba menata hatinya, ia akan mencoba menyakinkan hatinya apakah benar-benar berlabuh di tempat yang tidak salah.
"Tapi saya di sini untuk menjemput Anda, jika saya tidak bisa membawa Anda pulang maka mungkin saja saya bisa kehilangan pekerjaan saya." Sopir itu memelas dengan wajah tuanya yang menunjukkan kesedihan.
"Tapi tas dan koper saya ...." ujar Alena penuh keraguan, Alena melihat ke dalam bandara untuk melihat keberadaan Alfred yang tengah mengumpulkan koper mereka.
"Tidak apa-apa, nanti akan ada yang membawa koper dan tas Anda pulang." Sopir itu terlihat senang, wajah tuanya begitu bahagia.
Melihat kebahagiaan itu Alena benar-benar tidak tega sehingga ia memilih maju kembali dan melangkah ke dalam mobil yang sudah terbuka pintunya sejak tadi. Setelah Alena masuk, sopir ikut masuk dan melajukan mobil yang dikendarainya menuju ke luar bandara.
Alena duduk dengan tenang sembari bermain ponsel mengirim permintaan maaf pada Alfred yang masih menghitung jumlah koper mereka. Namun berita yang masuk ke ponselnya membuat Alena terkejut bukan main.
"Ini, apa yang terjadi?" Alena bertanya terbata-bata dengan wajah antara sedih dan bahagia sekaligus. Alena memegang ponselnya dengan kuat bahkan hingga menyebabkan tangannya memerah.
"Iya Nona Alena! Berita itu memang benar. Tante Anda yang bernama Agata itu menghilang dan dari kabar yang beredar mereka mengatakan kalau si Agata itu kabur bersama laki-laki lain." Sopir itu menjawab dengan cepat.
Alena merasakan air matanya jatuh berderai, Alena takut semua hanya alasan Agata saja untuk kembali menyakiti dirinya. Alena mengigit kuku kelingking miliknya, hal itu adalah kebiasaan Alena jika sedang merasa takut atau cemas.
"Anda kenapa Nona?" tanya si sopir dengan mata menyipit. Mendengar dirinya ditanyai Alena hanya menggelengkan kepala dan tersenyum dengan canggung, ia menghapus air mata yang jatuh dengan cepat
Alena terus membaca berita itu hingga dia melihat sesuatu yang menggelitik hatinya. Berita tentang penculikan dirinya waktu itu akhirnya terungkap dan nama Agata ada di daftar paling atas.
Alena merasa bahagia di dalam hatinya namun keraguan kembali merasuk hati Alena, dia takut keluarganya akan merasa kasihan pada dirinya. Alena juga takut untuk melihat tatapan kasihan dari orang-orang terdekatnya.
Mobil terus melaju hingga akhirnya sampai di rumah Angela. Di depan pintu Adera telah menunggu Alena dengan senyuman lembut di bibirnya. Alena merasa yakin kalau yang menyuruh menjemput dirinya adalah Adera.
"Sayang!" panggil Adera lembut, wajahnya terlihat teduh dan penuh kasih sayang saat melihat pada Alena yang baru saja turun dari mobil. "Kau pasti menderita bukan?" tanya Adera lagi dengan lebih lembut.
Melihat wajah menyedihkan Adera yang begitu tulus mencintai dan menyayangi dirinya, air mata Alena jatuh tanpa terkendali.
"Maafkan kami, tapi kami benar-benar tidak akan tahu semuanya jika kau terus diam dan tidak mau membuka diri. Kami tahu kau tidak ingin menghancurkan keluargamu tapi apa yang kau lakukan telah menghancurkan dirimu sendiri." Adera membelai pipi Alena lembut.
"Aku sangat menyayangi paman, itu sebabnya aku tidak memberitahu semua orang. Apalagi paman begitu peduli denganku, aku melihat paman begitu mencintai istrinya hingga aku tidak tega untuk menyakiti dirinya." Alena menjawab dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Adera mengangguk, semua orang yang mengenal Alena akan sangat paham dengan cinta yang Alena tunjukkan pada anggota keluarganya. Tidak hanya pada anggota keluarga, Alena juga akan sangat peduli pada pembantu rumah tangga di rumah besar mereka.
"Kapan kau bisa membenci hem? Kapan hatimu ini bisa menjadi jahat dan kejam?" Adera bertanya dengan wajah masam.
Mendengar pertanyaan Adera yang terkesan lucu membuat Alena berhenti menangis, ia mulai tertawa. Alena berusaha mengangkat tangannya untuk memeluk Adera sebelum Alena ingat kalau tangannya diperban dengan sangat menyedihkan.
"Tanganmu kenapa?" tanya Adera panik saat menyadari Alena tampak kesusahan mengangkat tangannya tinggi.
"Hanya luka kecil tapi setan satu itu malah membalutnya seolah-olah aku mengalami patah tulang dan tidak bisa disembuhkan." Alena menggerutu dengan wajah cemberut.
Ketika Adera dan Alena sibuk bercerita dan tertawa di depan pintu rumah, Robert malah mengintip dari balkon atas. Kepalanya muncul sedikit dengan rasa ingin tahu yang terlihat jelas.
"Kalau kau suka, datang dan temui dia secara langsung. Ada apa dengan tampang dingin yang kau perlihatkan itu?" ejek Marco dengan penuh cemoohan. Marco tersenyum sembari mengangkat cangkir teh miliknya dan tersenyum tanpa dosa sama sekali.
"Seperti Anda berani saja Tuan," ejek Robert kembali tidak kalah lebih sinis.
"Hahahaha, di antara kita bertiga memang hanya aku yang paling berani." Alvin dengan bangga berbicara. Dadanya membusung ke depan, mendengar hal itu membuat Marco mencebik dengan mata memutar malas.
"Iya, memang kau paling berani. Buktinya kau memakai topeng balas dendam untuk menikmati waktu bersama dengan Angela." Marco meletakkan cangkirnya di atas meja sembari memperbaiki posisi duduknya menghadap Alvin.
Melihat akan ada pertengkaran antara Alvin dan Marco yang bisanya dimulai dengan saling mengejek, Robert memilih melangkah ke luar ruangan dengan cepat.
Langkah kakinya begitu lebar hingga sekarang ia telah sampai di ruang tamu dan bertemu dengan tatapan mata Alena yang kebetulan juga mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
Adera yang melihat ada kesempatan untuk Alena mengambil langkah mundur dan kabur begitu saja dari sana tanpa Alena ketahui.
"Tan, kalau aku pulang saja bagaimana?" tanya Alena dengan ragu , ketika Alena melihat ke belakang dia sudah tidak menemukan keberadaan Adera di dekatnya.
"Tanganmu kenapa?" tanya Robert dengan raut datarnya yang biasa.
"Terjatuh, ini hanya mengalami luka kecil saja, Paman!" ujar Alena sedikit canggung. Wajah Alena memerah sebab jarang sekali Robert bertanya tentang dirinya.
"Kalau luka kecil kenapa dibalut seperti itu?" tanya Robert lagi dengan alis terangkat sebelah.
"Dia tidak bisa membalutnya dan aku juga takut melihat darah makanya seperti ini." Alena merona malu sebab dia berada dalam kondisi yang cukup aneh.
Tangannya dibalut dengan sangat tebal dan bahkan terlihat aneh karena seperti mengalami patah tulang yang sangat parah.
"Kemarilah!" perintah Robert, Robert melangkah menuju ke kursi ruang tamu namun sebelum duduk dia menengok kiri dan kanan.
"Hei kau, kemari!" Panggil Robert pada salah satu pelayan yang lewat.
"Ya Tuan Robert! Ada apa?" tanya pelayan itu takut.
"Tolong kau ambilkan kotak kesehatan di lantai atas, kalau tidak ada ambil kotak obat Marco saja."