14

1627 Kata
Aku membenci diriku, benci karena tidak bisa selalu memelukmu. Aku membenci diriku karena aku tidak bisa selalu bersamamu. Robert *** Alena masih berdiri terpaku saat mendengar kata-kata Robert barusan. Alena bahkan tidak mengedipkan matanya sama sekali sejak mendengar ucapan yang dilontarkan Robert padanya. "Kenapa masih diam? Kemarilah!" perintah Robert sambil menepuk tempat duduk kosong di sebelahnya. Alena terlihat ragu namun kakinya masih melangkah ke depan untuk duduk di dekat Robert. Tidak lama setelah Alena berhasil duduk seorang pelayan langsung mengantarkan kotak obat dan meletakkannya di meja di depan Robert. Perlahan Robert mulai membuka kain yang membalut luka Alena. Gerakannya terlihat lambat dan hati-hati, bahkan jejak kelembutan bisa terlihat sekilas di matanya saat mendengar ringisan Alena. Segera luka sepanjang jempol kanan terlihat dan di sekitar luka ada lebam biru bekas benturan yang terlihat besar mungkin karena tidak ditangani dengan baik dan benar. "Besok, jika kau mengalami kejadian seperti ini kau harusnya melakukan perawatan untuk luka lebamnya juga. Harusnya yang lebam diberi obat penghilang nyeri dan serta salep agar tidak kejadian seperti ini lagi." Robert mengambil alkohol dan membersihkan luka Alena dengan lembut. Setelah dibersihkan, Robert mengambil obat merah setelah itu baru Robert membungkusnya dengan pembalut luka. Robert hanya menutup tempat luka bukan membalutnya seperti yang dilakukan Alfred. Setelah selesai menutup luka Alena barulah Robert mulai memberi obat khusus pada lebam biru di tangan Alena. "Terima kasih, Paman!" ujar Alena dengan kepala menunduk, Alena tersenyum manis sembari berusaha bangkit untuk bisa pergi dari hadapan Robert secepat mungkin. "Duduklah dulu, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Kenapa selama ini kau diam dan tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau ternyata Agata lah yang menyakitimu?" tanya Robert dengan tatapan tajam. "Untuk apa? Alena tidak ingin bicara kalau hanya untuk menghancurkan kebahagiaan sebuah keluarga yang harmonis. Alenaa tidak ingin nenek kecewa karena nenek sangat menyayanginya, paman dan semua orang sangat menyukai bibi Agata." Alena menunduk. "Alena tidak ingin semua kebahagiaan itu hilang hanya karena Alena. Alena juga tidak ingin membuat sebuah keluarga yang tengah menantikan anak atau cucunya terluka. Lagipula Alena masih bisa menahannya meski harus menghindar dan menjauh." Alena menitikkan air mata. Pikiran Alena menerawang jauh mengingat bagaimana bahagianya keluarga mereka saat mengetahui kalau Agata tengah hamil anak pertama pamannya. Kejadian bahagia itu terjadi sebulan sebelum Alena diculik. Saat itu mereka tengah berkumpul di ruang tamu. Alena, Aleta dan yang lainnya tengah berkumpul bersama di ruang keluarga saat Paman dan bibinya Agata pulang dari rumah sakit. Wajah pamannya berseri-seri dengan kebahagiaan luar biasa yang terlihat jelas. Di bibir paman Alena senyuman kecil tidak pernah hilang, binar matanya yang indah membuat semua orang mengerti kalau kedua orang yang baru datang tengah membawa kabar bahagia. Rumah yang mereka tempati adalah sebuah bangunan yang sangat luas. Tatapan bangunan rumah di buat sama di setiap ukuran maupun bentuk kamar. Di atas tanah berukuran luas itu ada beberapa rumah yang dibangun dengan bentuk sama. Ya, ini adalah tanah keluarga Alena. Semua bangunan dibuat sama untuk mencegah pertikaian dan pertengkaran antara sesama anggota keluarga. Setiap anggota keluarga punya bangunannya sendiri. Tempat mereka berkumpul saat ini adalah rumah utama di mana semua anggota keluarga berkumpul dan keluar masuk sesuka hati. Di rumah ibu juga adalah tempat menerima tamu dan tempat diadakannya acara. "Kau bahagia tampaknya? Apakah positif kali ini?" Nenek Alena bertanya saat melihat raut wajah bahagia suami Agata. "Iya, bibi! Hasilnya positif kali ini dan Agata telah hamil dua bulan. Sebentar lagi kami akan memiliki anak laki-laki di rumah kami." Andres suami Agata terlihat bahagia. Alena yang saat ini tengah duduk di samping orangtuanya mendengar ucapan Agata dan ikut bahagia. Namun tanpa sadar Alena melihat tatapan tidak suka yang dilayangkan Agata pada ibunya membuat Alena mengernyit bingung. "Selamat Paman, sebentar lagi berarti aku akan memiliki seorang adik lagi." Alena berteriak senang, binar matanya yang bahagia membuat semua orang tertawa senang. "Iya, kau sebentar lagi akan memiliki adik lagi, Paman berharap dia baik-baik saja. Kau harus janji untuk menjaga dan melindungi dirinya seperti kau menjaga adik-adikmu yang lain, mengerti?" Andres tersenyum sembari mencubit hidung Alena dengan lembut. "Mengerti, Paman! Alena janji akan menjaga mereka semua dengan baik. Alena akan melindungi anak-anak Paman seperti aku menjaga adikku sendiri." Alena berjanji dengan penuh semangat. "Baiklah, Paman mengerti!" Robert mengangguk namun wajahnya masih terlihat datar. Ucapan Robert sukses membuat Alena kembali sadar dari lamunannya. "Apa Alena boleh pulang, Paman?" Alena bertanya dengan suara lembut. Kepalanya masih menunduk, kenapa di saat ia ingin menjauh dari Robert. Robert malah mendekat dan memberinya perhatian. "Bibimu mengatakan kalau kau lebih baik tinggal di sini untuk sementara waktu. Lagipula, semua orang akan mencarimu dan akan meminta maaf padamu. Apa kau ingin melihat tatapan kasihan semua orang padamu?" Robert bertanya dengan santai. "Paman benar, mereka pasti akan melihatku dengan tatapan kasihan. Aku benci dipandang seperti itu," keluh Alena dengan wajah masam. "Ya sudah, di sana ada kamar khusus untuk dirimu. Kamar itu di sebelah kamar Paman dan disiapkan langsung oleh Angela. Kau bisa tinggal dan istirahat di sana," tunjuk Robert ke lantai atas ke kamar dengan pintu berwarna coklat sama seperti pintu kamarnya. "Baiklah, Paman! Terima kasih, Alena juga ingin istirahat karena lelah." Alena mengangguk, segera Alena bangkit dan berjalan menuju ke lantai atas tempat yang ditunjuk oleh Robert tadi tempat yang jauh berbeda dari kamar yang biasa dia tempati. Alena melangkah masuk dengan hati-hati dan mengambil kunci yang tergantung di lubang kunci lalu masuk ke dalam kamar itu. Langkah kaki Alena terlihat santai, ketika melihat ukuran tempat tidur yang besar Alena langsung merebahkan tubuhnya di sana. "Huh, capeknya." Alena memijat pelipisnya. Tanpa mengganti baju atau melepas sepatu yang dipakainya Alena langsung tertidur. *** Robert tengah sibuk melihat CCTV saat suara pelayan menganggu kegiatannya yang terlihat seru. "Tuan, di luar ada orang yang mencari Nona Alena. Pria itu mengatakan ingin mengantarkan koper beserta tas miliknya." Pelayan wanita yang bekerja khusus untuk membersihkan halaman rumah datang menemui Robert. "Biar aku yang mengambil koper itu." Robert langsung menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya secara perlahan. Robert merapikan pakaian miliknya sebelum melangkah ke luar rumah untuk bertemu Alfred. "Hai, Paman! Apakah aku bisa bertemu dengan Alena?" Alfred terlihat canggung dengan tangan tengah memegang tas dan koper Alena erat. "Dia sedang beristirahat, mungkin karena kelelahan. Kau bisa meninggalkan barang-barang miliknya dan pergi." Robert menjawab dengan cepat. Mendengar ucapan Robert, Alfred langsung menyerahkan barang-barang Alena secepat mungkin. Alfred tahu kalau Robert tidak menyukai dirinya terlalu dekat dengan Alena. "Baiklah Paman! Tolong berikan padanya, aku pamit pulang dulu." Alfred menunduk hormat sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah Alvin tempat Alena menginap saat ini. Malam hari suasana terlihat tenang, semua pelayan Alvin telah kembali ke paviliun mereka dan sudah ada yabg beristirahat karena lelah. Di kamarnya, Alena yang beberapa hari terlihat sibuk bekerja juga merasa mengantuk. Tadi siang dia hanya tertidur sekitar setengah jam mulai merasa mengantuk juga. Wajah Alena terlihat memerah saat dia berusaha menahan kantuk yang datang. "Ah, mengantuk sekali! Aku tidur saja. Padahal ini baru jam setengah sepuluh," keluh Alena dengan wajah menyedihkan. Alena menutup pintu balkon dan menutup tirai, setelah itu ia memeriksa pintu kamar sebelum melangkah ke tempat tidur agar bisa beristirahat dengan tenang. Kebiasaan Alena sejak kecil adalah ketika tidur mematikan lampu dan tidur hanya menggunakan pakaian tidur tipis seksi tanpa pakaian dalam sama sekali. Setelah memastikan semua aman, Alena menutup matanya dengan nyaman dan mulai tertidur dengan nyenyak. Di dalam tidurnya Alena mengalami mimpi indah, Alena seperti berjalan di sebuah tempat yang begitu cantik dan menyejukkan mata. Banyak bunga di kanan dan kirinya dan di depan mata Alena ada bunga kolam air mancur yang indah dengan warna-warna cantik yang ke luar dari setiap pancuran. Dibalik air mancur ada tempat tidur bunga dengan warna air yang begitu menarik dan mencuri perhatian Alena, Alena berjalan ke arah tempat tidur dengan senyum manis di bibirnya. "Tempat ini wangi sekali," bisik Alena lembut saat aroma bunga mulai memasuki indra penciumannya. Semilir angin yang sejuk membuat Alena makin nyaman di sana. Suara kucing yang entah datang dari mana membuat Alena memutar tubuhnya, padahal Alena hampir sampai di tempat tidur bunga tadi. "Lucunya," seru Alena senang saat melihat kucing lucu berwarna kuning belang-belang itu. Kucing lucu itu langsung mengejar kaki Alena dan mulai menjilati kaki Alena hingga membuat Alena kegelian. Kucing itu seperti mengerti dengan apa yang dilakukan Alena hingga dengan tenang menunggu diambil meski sesekali menjilati kaki Alena. Alena tersenyum dan mengambil kucing itu dan memeluknya di d**a. Kucing berbulu itu menggosok kepalanya di d**a Alena membuat Ale tertawa senang dengan tingkah menggemaskan di kucing. Alena melangkah kembali ke kasur bunga sembari berjalan Alena memetik beberapa bunga yang menurutnya cantik. Sesampai di tempat tidur bunga Alena meletakkan kucing dengan hati-hati dan berbaring menikmati empuknya tempat tidur bunga indah itu. "Nyamannya di sini," bisik Alena saat dirinya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur bunga itu. Alena merasa nyaman dan ketika memejamkan mata Alena, ketika Alena membuka mata dia melihat seorang pria tampan berada di atas tubuhnya. Alena tersenyum dan menatap wajah itu lama dengan tangan mulai memegang pipi pria yang dikenalinya itu. "Kau cantik Alena," bisik suara itu parau penuh hasrat saat menyusupkan wajahnya di leher jenjang Alena. Hal itu sukses membuat Ale kegelian dan tertawa bahagia. "Andai ini nyata Paman, Alena pasti akan merasa sangat bahagia. Alena ingin Paman peluk seperti dulu," ujar Alena senang. "Kau harus yakin dulu Alena, apakah hatimu memang benar mencintai Pamanmu ini atau hanya sekedar bergantung karena Paman yang menolongmu." Robert berbisik di telinga Alena sebelum menggigit dengan lembut. "Kenapa Paman berkata seperti itu?" tanya Alena bingung dengan wajah penuh tanda tanya. "Karena Paman ragu padamu, kau mengatakan suka dan cinta pada Pamanmu ini tapi kau begitu dekat dengan pria itu." Robert terlihat mengeluh sembari menyusupkan wajahnya di d**a Alena. "Tapi dia hanya sahabat Alena, Paman!" Alena ingin bangkit namun tubuhnya ditahan langsung oleh Robert. "Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita." Robert terlihat tidak suka dengan ucapan Alena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN