"Alena benar-benar hanya menganggapnya sahabat, Paman!" keluh Alena dengan wajah masam.
Robert tetap diam namun tangannya menyusup masuk ke pakaian Alena dengan hati-hati takut membuat Alena terkejut. Sebelum Alena akan memprotes tindakannya Robert mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di wajah Alena hingga akhirnya menetap di bibir Alena.
Alena melenguh saat tangan Robert mulai nakal menyentuh seluruh tubuhnya di atas tempat tidur bunga itu.
"Kau suka?" tanya Robert dengan senyuman manis saat melihat wajah memerah Alena. Alena terlihat cemberut saat melihat wajah penuh kemenangan Robert.
"Ini pasti hanya sebuah mimpi, kapan lagi aku bisa bersikap manja pada Paman? Kapan lagi Paman bersikap manis padaku jika bukan kali ini. Lagi pula ini hanya mimpi dan aku tidak akan rugi di dunia nyata." Alena berpikir dalam hati sebelum mulai menikmati setiap tindakan Robert.
Melihat Alena tidak melawan atas tindakannya Robert mulai bertindak semakin nakal, tangan-tangan nakal Robert menyentuh tubuh Alena dimana-mana membuat Ale bergerak tidak nyaman.
"Kau suka Alena?" tanya Robert berbisik di telinga Alena sembari menjilat telinga itu.
"Paman," bisik Alena parau dengan suara seperti desahan ketika menerima perlakuan Robert padanya.
"Ya, Alena! Panggil nama Robert dengan suaramu yang manis itu."
"Paman," bisik Alena lagi dengan tangan meremas rambut Robert.
"Bukan Paman Alen, sebut namaku," Robert kembali berbisik di telinga Alena saat Alena tidak mengerti apa yang diperintahkan olehnya.
"Robert," ujar Alena dengan malu-malu sembari menyembunyikan rona merah di wajahnya. Mendengar Alena memanggilnya dengan lembut Robert makin menjadi-jadi.
Hingga tubuh Alena tidak lagi memiliki apapun untuk menutupi tubuhnya. Robert tersenyum sembari menikmati apa yang mereka lakukan saat ini, Alena benar-benar terbuai akan sentuhan dan belaian tubuh yang ditunjukkan Robert padanya.
"Kau suka?" tanya Robert sembari memperbaiki posisinya dan ingin menyatu dengan tubuh Alena.
Alena mengangguk malu-malu, wajahnya menunduk merah setelah mengatakan itu semua.
'Ini hanya dalam mimpi, ya benar. Ini hanya mimpiku saja, kapan Paman pernah bersikap lembut padaku? Kapan Paman mau menyentuhku dan kapan Paman mau berbicara seperti ini denganku?' pikir Alena dalam hati.
Ketika Robert akan menyatu dengan Alena rasa sakit yang datang dari cakaran kucing lucu yang tadi sempat dilupakan Alena membuatnya terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Astaga, aku mimpi apa itu?" tanya Alena sembari menyisir rambutnya dengan jari.
Alena membuka matanya dan bangun dengan hati-hati setelah bangun alena menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Huh, sebegitu gilanya diriku hingga bermimpi yang tidak-tidak." Alena berceloteh dan memperbaiki pakaiannya yang berantakan. Ketika tengah asyik mengatur kewarasannya Alena baru menyadari kalau AC kamar di atur di suhu normal hingga membuatnya tidak kepanasan dan juga tidak kedinginan sama sekali.
"Padahal aku tidak menghidupkan AC tadi, hmm mungkin Tante yang menghidupkan AC soalnya tidak mungkin Tante tidak memiliki kunci kamarku." Alena berbicara sembari bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Ketika Alena pergi ke kamar mandi seseorang yang mengintip dari layar CCTV tersenyum penuh kemenangan. Di bibir dan wajahnya ada raut bahagia yang terlihat jelas.
"Andai bisa lebih," bisiknya dengan suara parau penuh hasrat saat tangannya menutup layar laptop itu.
"Sial, besok aku harus memberinya obat tidur agar bisa lebih lama lagi." Suara parau itu berbicara sembari berbaring di ranjangnya.
***
Paginya Alena kembali bangun dengan tubuh yang terasa segar dan terasa nyaman. Alena bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri.
Saat melepas pakaiannya Alena terkejut bukan main karena perut dan d**a bagian bawahnya dipenuhi jejak merah seperti bekas gigitan sesuatu.
"Aku harus mengatakan pada Paman kalau kamarku memiliki semut, lihat bekas merah ini. Bagaimana kalau bekasnya di atas, orang-orang pasti mengatakan kalau aku anak nakal." Alena mengeluh dengan wajah menyedihkan. Alena selesai mandi dan membersihkan diri.
Kebiasaan Alena yang memakai pakaian di kamar mandi membuatnya tidak perlu ke luar masuk kamar mandi tiap selesai membersihkan diri, ketika akan merapikan tempat tidur miliknya Alena menemukan semut hitam besar di atas sana dengan jumlah lumayan banyak.
Segera saja Alena berlari ke luar dengan ketakutan luar biasa. Beruntung Robert juga baru saja ke luar dari kamarnya dengan rambut yang masih basah.
"Paman, tolong bantu Alena sekarang. Di kamar Alena ada banyak semut besar dan Ale sangat takut." Alena berteriak kencang sembari menarik tangan Robert ke kamar miliknya.
Robert yang melihat tingkah menggemaskan Alena hanya bisa pasrah ketika ditarik dengan paksa untuk masuk ke dalam kamar Alena tanpa bisa melawan sama sekali.
Sesampai di kamar, semut yang berkeliaran membuat Alena menjerit dan bersembunyi di belakang tubuh Robert.
"Kenapa bisa ada banyak semut di kamarmu? Kalau kau ingin makan sebaiknya di luar saja sekarang lihat akibat ulahmu ini," tuduh Robert dengan mata memicing dan mulai membersihkan seprei tempat tidur.
Robert melepas ujung penahan seprei dengan hati-hati dan setelah berhasil ia membungkus semuanya dan membawa alas tempat tidur itu ke luar. Alena terlihat lega saat kamarnya telah selesai dibersihkan oleh Robert dari serangan semut itu.
"Aku harus membeli penyemprot serangga kalau kejadiannya seperti ini. Padahal di kamar Tante tidak ada semut seperti ini," keluh Alena saat melihat Robert membawa seprei itu ke luar.
"Memangnya kenapa dengan semut itu?" tanya Robert heran dengan tangan masih memegang erat seprei tadi.
"Semut-semut itu menggigit tubuh Alena, Paman! Hanya bagian perut dan paha saja yang digigit, untung bagian lain tidak." Alena terlihat cemberut namun malah tambah manis dan mengemaskan.
"Benarkah digigit semut? Atau jangan-jangan digigit oleh teman priamu itu? Sampai tahap dimana hubungan kalian? Atau jangan-jangan ...." Robert memicing dengan mata menyipit curiga yang membuat Alena kalang kabut.
"Ish, Paman jangan menuduh sembarangan. Aku dan dia hanya bersahabat, kami tidak memiliki hubungan apapun lagi. Lagipula setiap bekerja kami selalu menyewa tempat tidur terpisah," elak Alena cepat.
Seketika wajah Alena memerah saat mengingat mimpinya tadi malam, Alena berusaha menyembunyikan wajahnya menghalau pikiran kotor yang melintas tadi dengan cepat.
Robert yang tidak ingin memperpanjang masalah langsung berjalan ke luar kamar Alena dan membawa seprei itu ke kamarnya.
"Dia menyamakan semua ini dengan semut, astaga lelaki itu kalah dengan kalian. Tapi beruntung ada kalian jadi dia tidak sadar apa yang terjadi." Robert tertawa senang lalu menghempaskan semut itu k kamar mandi. Segera semut-semut itu berjalan pergi menjauh.
Alena tengah bermain ponsel di kamarnya saat ini ketika ia kembali mengingat mimpi semalam. Wajah Alena memerah dengan senyum malu-malu yang terlihat jelas.
"Sebegitu menyedihkan hingga aku terbawa mimpi, tapi melihat perlakuan manis Paman aku jadi ingin hidup di dalam mimpi saja. Ah aku benar-benar sudah tergila-gila pada Paman sepertinya." Alena menenggelamkan wajahnya di bantal saat mengingat manis yang didapatnya.
"Aku akan kembali mengejar Paman sampai Paman memiliki ikatannya pernikahan yang sah. Sebelum hal itu terjadi aku akan berusaha lebih giat lagi dan saat ini kamar kami juga bersebelahan jadi aku merasa bebas dan nyaman sekarang." Alena bertepuk tangan dengan tawa bahagia.
Tekad Alena terlihat bulat, tanpa Alena sadari dia sudah jatuh terlalu dalam ke sebuah obsesi, obsesi untuk memiliki Robert. Alena mengintip ke luar ruangan mencari keberadaan Robert saat ini.
Siang ini, rumah Alvin terlihat sepi karena pelayan rumah telah kembali ke tempat istirahat mereka setelah bekerja. Merek akan kembali ketika sore datang untuk kembali membersihkan rumah besar itu.
"Kira-kira Paman di mana sekarang ya? Apakah Paman sedang rapat dengan Paman Alvin atau sedang di suatu tempat di rumah ini?" Alena bertanya dengan penuh ingin tahu.
"Tapi aku harus pulang hari ini untuk melihat keadaan rumah dan untuk mengetahui keadaan Tante Agata, aku benar-benar takut mereka memiliki niat buruk lagi padaku." Alena terlihat berpikir dengan serius.
Setelah menimbang dan menimang dengan seksama, Alena akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar rumah.
"Koperku sudah di antar oleh Alfred ternyata." Alena terkejut saat melihat kopernya telah berada di samping pintu ke arah kamar Robert. Dia benar-benar melupakan koper dan tasnya ini kemarin malam.
Dengan hati-hati Alena menarik tas dan kopernya ke dalam kamar dan meletakkannya di samping lemari yang sudah tersedia di dalam kamar itu.
Alena melupakan tas dan kopernya sebab di dalam kamar yang ditempatinya ada bermacam pakaian dan kebutuhan sehari-hari miliknya.
"Tante memang yang terbaik, dia bahkan sudah menyiapkan semua keperluanku untuk tinggal di sini." Alena terlihat senang, Alena dengan gembira mengambil pakaian di dalam lemari agar terlihat lebih rapi.
Alena yang telah berganti pakaian melangkah ke luar rumah Alvin dan Angela menuju gerbang luar untuk pulang ke rumahnya. Saat sedang sibuk mencari aplikasi untuk memanggil kendaraan online mobil yang kemarin menjemput dirinya tiba-tiba muncul dari belakang dan sudah terparkir di samping dirinya berdiri.
"Ayo Nona! Saya akan mengantar Anda ke tempat yang Anda tuju saat ini." Sopir itu terlihat ramah dan tersenyum. Wajahnya terlihat bahagia saat menyapa Alena.
"Terima kasih, Pak!" ujar Alena bahagia sembari memasuki mobil yang pintu belakangnya telah dibantu buka oleh penjaga gerbang.
Alena duduk dengan tenang sembari menikmati angin yang menerpa dirinya.
Di ruang bawah tanah keluarga Alvin yang basah dan lembab. Suara teriakan Agata terdengar dengan keras memenuhi ruangan.
"Lepaskan aku b******k! Anak buahku masih berkeliaran di luar sana dan kapan saja bisa membunuh Alena sialan itu." Agata berteriak marah sembari memukul dinding penjara tempatnya ditahan.
"Kau sepertinya tidak tahu sesuatu ya," bisik Adera yang saat ini tengah menjenguk Agata dengan sebilah kayu ditangannya. Kayu itu digunakan untuk memukul Agata dengan keras.
"Apa? Anak buahku banyak bertebaran dan saat ini mereka pasti sudah mengincar Alena itu, apalagi Alena hanya gadis manja dan hanya bisa bergantung pada laki-laki saja." Agata berusaha kuat, padahal tubuhnya benar-benar sudah sangat kesakitan.
Bekas pukulan Robert kemarin membuat seluruh tulangnya terasa ngilu dan daging yang terluka akibat jarum kecil itu mulai terlihat infeksi dengan aroma tidak sedap keluar dari luka itu.
"Aroma tubuhmu sungguh menjijikkan," ejek Adera tanpa menjawab ucapan Agata yang begitu sombong. "Anak buahmu sudah ditangkap oleh kakakku menggunakan koneksi dan juga berita palsu tentang dirimu."
Adera tersenyum senang, sesekali tangannya akan memukul Agata kembali dengan lebih keras.