Agata meringis kesakitan saat mendapatkan pukulan di tempat yang terluka kemarin. Berbeda dengan Adera yang tertawa senang saat melihat luka yang didapatkan Agata jumlahnya semakin bertambah.
"Apakah sakit? Beginilah kau memperlakukan Alena kemarin, seperti ini juga dia saat meminta dan memohon padamu dengan suara tangisan." Adera kembali memukul lebih keras lagi membuat Agata memekik kesakitan.
"Kau ternyata sangat jahat Adera! Pantas saja tidak ada laki-laki yang mau denganmu," ejek Agata dengan senyum yang mengandung penghinaan.
"Biar saja! Walaupun aku tidak laku, tidak ada yang menginginkanku tapi aku tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau beruntung aku tidak memukul kepalamu sama seperti kau memukul kepala Alena menyebabkan dia tidak sadar." Adera tertawa mengejek.
"Kau sudah selesai?" Robert bertanya dengan wajah datarnya saat memasuki ruang tempat Agata dipukul, di tangan Robert ada sebuah dokumen berwarna hijau muda.
"Sudah cukup untuk hari ini. Hem Kak! Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" Adera bertanya dengan wajah penasaran.
"Menanyakan apa?" Robert terlihat heran sembari melihat ke arah Adera. Pandangan mata Robert beralih dari siaran televisi yang menanyakan kejahatan demi kejahatan yang dilakukan oleh Agata.
"Apakah kau bisa menyukai Alena? Eh, bukan menyukai tapi apakah kau bisa mencintai Alena?" Adera bertanya sembari berjalan mendekat. Wajahnya begitu penuh semangat dengan binar bahagia terlihat jelas.
"Kenapa kau harus tahu? Keluar lah dari sini," usir Robert dengan wajah cemberut sembari mendorong kepala Adera dengan sengaja.
"Ish Kakak! Kau harus mencintai Alena karena dia sangat baik dan aku sangat menyayangi dirinya. Aku peringatkan kau, jika kau mendekati gadis lain selain Alena maka siap-siap saja dia menderita." Adera mengancam dengan mata menyipit tajam.
"Memangnya kau berani?" ejek Robert dengan senyuman penuh cemoohan.
"Tentu saja berani, aku pastikan padamu, Kak! kalau aku akan membuat Alena menjadi Kakak iparku. Aku akan menyakiti siapa saja yang mengganggu dirimu bahkan termasuk Aleta sendiri." Adera kembali mengancam sebelum berlari dengan kencang ke luar.
Melihat kelakuan adiknya Robert hanya bisa menggelengkan kepala. Ketika dia melihat Agata yang bergerak mundur melihat kedatangannya wajah Robert kembali datar dan tanpa ekspresi.
"Kau dengar nama ini dengan baik-baik. Jangan banyak protes dan bertanyalah ketika aku perintahkan untuk bertanya maka baru kau boleh untuk membuka mulutmu itu." Robert membuka dokumen itu dengan aura dingin miliknya.
Satu-persatu Robert menyebutkan nama-nama anak buah Agata yang berhasil ditangkap oleh anak buah Alvin. Robert melihat ekspresi wajah Agata yang perlahan-lahan berubah menjadi semakin buruk setiap kali satu nama terus disebutkan Robert.
Setelah menyebutkan semua nama Robert menutup kertas dokumen itu dan menatap wajah Agata yang memucat dengan wajah menakutkan.
"Kau, bagaimana bisa kau menangkap mereka semua? Padahal aku sudah mengirim mereka sebagian ke negara luar dan tersembunyi." Agata begitu ketakutan.
Selama ini dia merasa tenang karena tidak ada yang bisa mengendus kejahatan miliknya. Selama ini dia bisa menikmati kekayaan yang berlimpah meski uang suaminya pas-pasan juga dari hasil rampasan anak buahnya di berbagai negara.
"Kau salah memilih lawan Agata, aku memiliki ribuan cara untuk bisa membunuh dan menghancurkan dirimu, harusnya kau sadar kalau kau hanya seekor katak di dalam tempurung." Robert tersenyum.
Tapi bagi Agata senyum itu terlihat begitu menakutkan, bulu kuduk Agata berdiri dengan sendirinya, Agata benar-benar tidak bisa membayangkan kalau ada yang lebih hebat dari dirinya.
"Katakan padaku, siapa saja yang ikut memukuli Alena saat itu? Jika kau tidak mengatakannya padaku, maka nyawa anak perempuanmu akan melayang." Robert berjalan menjauh dari Agata menuju ke televisi yang tengah menyala.
Robert mengambil sebuah benda yang seperti remote control TV dan menekan sesuatu sebelum layar berganti dan memperlihatkan seorang anak SD tengah terikat di sebuah kursi dengan kepala tertutup.
Suasana di tempat itu terasa gelap dan mencekam, cahaya lampu yang temaram membuat Agata susah untuk melihat siapa sebenarnya gadis kecil yang terikat itu. Namun cahaya senter yang menyibak sebentar ke arah tangan si gadis kecil membuat Agata ketakutan.
"Lepaskan putriku b******k! Dia tidak bersalah, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita." Agata berteriak dengan keras, matanya memerah karena kebencian yang luar biasa.
Agata bisa tahu kalau gadis yang terikat dan sedang ketakutan itu putrinya dari tato kecil yang ada di tangan sang gadis.
"Kau takut? Maka katakan siapa saja yang ikut memukuli Alena! Asal kau tahu saja Agata, aku tidak pernah berbuat baik pada siapapun. Aku tahu putrimu tidak bersalah begitu juga Alena, dia tidak bersalah tapi kenapa kau membencinya? Kenapa kau memukulnya begitu keras?" tanya Robert dengan wajah masam penuh kebencian.
"Karena dia bersalah, dia adalah setan kecil yang sangat menganggu. Dia adalah penyebab aku tidak bisa menikah dengan kakakmu, dia menjadi penyebab aku menderita setiap hari." Agata berteriak marah.
"Mama, Shila ingin pulang!" Suara lembut gadis kecil yang terikat itu membuat Agata kembali sadar. Dia benar-benar lepas kendali jika sudah membahas Alena.
"Lepaskan putriku! Aku akan menyebutkan siapa saja yang memukul Alena selain dua orang yang kau lihat waktu itu." Agata menyerah, meski awalnya tidak mencintai sang suami, Andres, tapi Agata mencintai anak-anaknya.
"Sebutkan, maka putrimu akan kembali ke rumah kalian." Robert memberi perintah dengan nada otoritas tinggi.
"Yuda, Alex, Sergi dan Anton mereka berempat ikut memukul Alena. Mereka adalah orang-orang yang ikut bersamaku saat itu." Agata menyebutkan dengan ragu-ragu, walau bagaimanapun ke-empat orang itu adalah tangan kanannya.
Mendengar ucapan Agata, Robert segera mengambil ponselnya dan menghubungi orang di luar sana tempat putri Agata diikat dengan kuat.
"Kalian lepaskan gadis itu dan antarkan dia pulang selamat! Berikan gadis kecil itu kue dan uang untuk tutup mulut." Robert memberi perintah setelah panggilannya tersambung.
Selepas memberi perintah Robert langsung memutuskan panggilan, segera seseorang mendekat ke arah si gadis kecil yang terikat. Agata melihat semua itu dari layar, dia melihat putrinya dilepaskan dan di bawa pergi.
Napasnya terasa lega, rasa berat yang menyesakkan dadanya membuat Agata bisa menghembuskan napas lega dan tenang. Setelah suara pintu terbuka barulah Agata melepas semua beban di hatinya.
Namun belum sempat Agata merasa semua masalah selesai layar berganti dengan pemandangan yang begitu menakutkan.
Di dalam layar besar itu suara teriakan terdengar jelas memekakkan telinga. Lenguhan kesakitan serta tangisan putus asa dapat didengar dengan jelas.
"Tolong ampuni kami!" pinta orang-orang yang sedang dianiaya di dalam ruangan terang itu.
Darah terlihat berceceran di sana-sini jelas kalau penyiksaan yang mereka terima sangat berat dan penuh dengan rasa sakit yang tidak tertahankan.
"Ampun aku mohon ampun!" Suara teriakan sahut-menyahut terdengar memekakkan telinga. Bulu kuduk Agata berdiri, matanya memutar dengan rasa takut luar biasa.
"Kau kejam sekali, apa salah mereka padamu? Kenapa kau tidak membunuh mereka saja?" tanya Agata dengan wajah penuh kebencian.
Api amarah tersulut dengan cepat membuat kebencian Agata semakin meningkat setiap waktu.
Agata tidak kuasa melihat anggota gengnya dipukuli dan disiksa seperti itu. "Lepaskan mereka? Kau benar-benar kejam dan tidak berperasaan," tuduhnya dengan mata berlinang.
"Agata oh Agata, kau pikir orang-orang kejam seperti kalian pantas meminta ampun! Seberapa banyak korban kalian? Berapa banyak anak-anak yang kalian pisahkan dari keluarganya dan berapa banyak wanita yang kalian perkosa dan kalian ambil anaknya untuk dijual nantinya?"
Ucapan Robert membuat Agata terdiam, mata Agata memicing ketika mendengar ucapan Robert. Agata tidak mengerti bagaimana Robert bisa tahu semua itu dengan jelas dan pasti.
Agata benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi, semua perbuatan jahatnya dan semua pekerjaan yang dia lakukan bisa diketahui oleh Robert.
"Terkejut? Aku juga terkejut ketika mengetahui kejahatan yang kau lakukan. Bagaimana bisa kau memaksa wanita lain diperkosa dan membiarkan mereka menjual anak-anaknya demi kejayaan gengmu." Robert melangkah mendekat ke arah penjara.
Layar berganti dengan tempat penyiksaan geng Agata yang luas. Tempat itu terletak di bawah tanah di sebuah panti asuhan yang cukup ternama. Itulah sebabnya tidak ada yang tahu kejahatan yang Agata lakukan.
Setiap tahun banyak keluarga kaya yang mengambil bayi dan anak-anak di sana untuk dibesarkan dengan imbalan meninggalkan biaya perawatan dan biaya bantuan untuk anak-anak yang lain.
Ternyata bayi-bayi itu hasil dari pemerkosaan dan juga hasil dari merampas yang bukan hak mereka. Robert tidak habis pikir berapa banyak korban dan berapa banyak anak-anak yang sudah diperjual belikan sesuka hati mereka.
Agata terdiam dengan keringat dingin mengalir dari tubuhnya. Rasa takut menyerang dan mulai memaksa Agata untuk tunduk. Rasa takut menyeruak masuk ke dalam hati Agata meminta menjadi raja di dalam hatinya.
"Kau ... bukan aku yang menculik dan memaksa mereka," kilah Agata cepat saat dia mulai merasa terpojok.
Layar televisi terus memperlihatkan tayangan demi tayangan ruangan yang ada. Satu demi satu layar menampilkan ruangan di dalam sana.
Pertama layar berhenti di depan ruangan yang memperlihatkan sebuah kamar yang bersih dan rapi. Di kamar itu masih terikat seorang gadis remaja dengan kondisi cukup memprihatinkan. Wajah gadis itu pucat, matanya kosong seperti tidak memiliki kehidupan.
"Kamar ini masih memiliki aroma bekas percintaan, sayang sekali gadis secantik ini dipaksa memenuhi nafsu para setan di ruang bawah tanah ini." Suara orang yang mengambil video terdengar jelas. Si pengambil berjalan mendekat ke arah tempat tidur besar itu sembari memperhatikan gadis oh bukan gadis tapi wanita yang masih terikat itu.
"Hei cantik, berapa umurmu sekarang?" tanya si pengambil gambar saat berhasil berhenti didekat si wanita. Lama orang itu menunggu hingga ia bosan sendiri dan mulai melihat isi ruangan itu.
Selain tempat tidur di dalam ruangan itu ternyata ada lemari kaca besar yang di dalamnya terdapat banyak obat-obatan. Di samping lemari ada pintu masuk menuju ke kamar mandi yang tersedia di dalam ruangan itu.
Si pengambil video mulai membuka lemari dan melihat apa saja obat-obatan yang ada.
"Waw, ini adalah obat kuat!" Suara itu terdengar kagum namun tersirat jelas ada cemoohan dalam intonasi yang disampaikannya.
"Ini obat untuk menguatkan kandungan," katanya ketika mengangkat sebuah botol lagi dengan setiap botol memiliki namanya masing-masing.
"Ckckck, ini obat perangsang tingkat tinggi yang dikeluarkan perusahaan Tuan Alvin." Pria yang mengambil gambar itu mengangkat sebuah botol kecil yang tidak asing di dalam lemari.