Robert mengganti tampilan layar dengan berita tentang keburukan Agata sekali lagi, kali ini juga disertai berita tentang panti asuhan yang telah menjual anak-anak hasil pemaksaan.
Agata terdiam di sudut dengan air mata meleleh di pipinya. Wajahnya menjadi buruk rupa dengan aroma tubuh yang begitu menyengat. Bajunya sobek di mana-mana, hilang sudah kebanggaan dan kecantikan yang selalu ia perlihatkan.
Luka-luka di tubuhnya telah membusuk, mengeluarkan aroma yang begitu menyengat mungkin karena kelembaban yang ada di ruang penjara atau mungkin karena tidak ada perawatan untuk lukanya yang diterimanya kemarin.
Sedangkan Alena telah sampai di kediaman keluarganya, Alena dengan hati-hati turun dari mobil dan melihat ke arah pintu rumah besar yang terlihat terkunci.
Alena memasuki rumah dengan anggun dan menawan, dia mencoba menyembunyikan perasaannya dengan baik. Alena takut melihat wajah kasihan yang akan dia terima akibat ulah Agata tapi rasa bahagia setelah semua kejahatan Agata terbongkar juga menyeruak ke dalam hati.
Alena membuka pintu rumah dengan hati-hati, dia mengintip sedikit dari celah pintu yang berhasil dibukanya dengan pelan. Alena melihat anggota keluarganya tengah duduk membicarakan sesuatu.
Melihat yang datang adalah Alena dengan kepala menunduk juga dengan rasa bersalah di dalam hati seluruh anggota keluarga memilih untuk diam.
"Sayang!" panggilan lembut yang selalu menenangkan hati Alena, suara anggun yang selalu mengantar Alena ke alam mimpi ketika masih kecil terdengar di dalam ruangan.
Mendengar suara itu Alena mengangkat kepalanya, mata Alena berkaca-kaca seolah kabut bening itu telah mengembun cukup lama dan ingin dilepaskan dari sangkar kurungan yang menahannya.
Alena berlari kencang ketika mendengar suara itu, rasa sakit serta air mata yang ditahannya sejak lama akhirnya tumpah hari ini. Alena menangis dengan keras dalam pelukan hangat itu. Pelukan yang selalu membuatnya tenang selain pelukan pamannya.
"Kau pasti kesakitan bukan? Kau pasti ketakutan setiap kali melihatnya? Kenapa Nak? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada kami?" Suara tua penuh dengan kewibawaan itu terdengar setelah Alena berhasil masuk ke dalam pelukan ibunya.
Ruangan itu penuh dengan banyak orang, maklum saja semua anggota keluarga Alena sedang pulang akibat kasus Agata yang tersebar luas di media. Alena menatap satu-persatu wajah-wajah yang sering dilihatnya ketika masih kecil dulu.
"Untuk apa Nek? Untuk apa Alena mengatakannya? Apa untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kita lalu apa Alena akan tenang melihat kebahagiaan di wajah kalian akan hilang?" tanya Alena dengan wajah sedih.
Alena menatap wajah-wajah itu sendu sembari terus memeluk erat ibunya. Alena benar-benar tidak tega menghancurkan kebahagiaan yang begitu indah itu. Sungguh Alena membiarkan dirinya menahan sakit itu hanya agar senyum itu tidak hilang di bibir semua orang.
"Alena, apa kau pikir kami akan terus bahagia jika melihatmu terluka? Kami sedih melihatmu mulai menutup diri, kami sedih melihat dirimu yang selalu bersembunyi dan kami sedih melihat dirimu yang berubah." Andres terlihat sangat marah saat mendengar ucapan Alena.
Meski hanya sepupu tapi mereka sudah tinggal bersama selama ini, kasih sayang mereka sudah terjalin begitu erat satu sama lain. Meski kehidupan setiap orang berbeda tapi tidak pernah ada iri dan benci di rumah ini.
Setiap kali ada masalah semuanya akan saling membantu dan saling berbagi hingga masalah itu terselesaikan dengan baik.
Ruang tamu itu terdengar sepi setelah ucapan Andres terdengar. Ya, Andres paling terpukul dalam masalah ini. Semua orang tidak menyangka kalau Agata memakai topeng dengan sangat sempurna. Agata dengan begitu mudahnya menipu semua orang.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, tapi sekarang kita perlu menemukan Agata agar keberadaannya tidak mengganggu Alena lagi." Nenek Alena akhirnya berbicara agar suasana tidak terlalu kaku.
"Ya, kita perlu membawanya ke ranah hukum agar bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatannya." Andres mengangguk dengan cepat mengiyakan.
"Kembalilah ke rumah kalian masing-masing," ujar nenek Alena sembari melambaikan tangan. Segera semua yang hadir langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Alena dan kedua orangtuanya menuju ke rumahnya yang berada di sebelah kanan gedung utama. Alena melangkah dengan pelan karena takut dimarahi oleh ayah dan ibunya.
"Ale! Kenapa kau tidak pernah jujur selama ini pada kami?" Ayah Alena bertanya dengan wajah masam, andai saja dia tahu lebih awal maka dia akan memberikan hukuman pada Agata dengan sangat berat.
"Sudahlah, Yah! Alena juga melakukan semuanya demi keluarga kita." Ibu Alena menasihati, dia tidak ingin Alena merasa terdesak dan tertekan hingga melarikan diri lagi.
"Tante kamu bilang kamu tinggal bersamanya. Apakah nyaman di sana? Apakah kamu tidak membuat tante kamu kesusahan?" Ibu Alena berusaha mengalihkan pembicaraan, dia melakukan semua itu agar Alena tidak terlalu memikirkan masalah hari ini.
"Iya, Alena diberi kamar oleh Tante Adera. Kamar itu dibuat nyaman sama seperti kamar Alena di rumah. Sebenarnya Alena ingin pulang tapi tante menyuruh sopir untuk menjemput Alena ke bandara." Alena mengangguk mengiyakan.
Alena yakin orangtuanya pasti tidak akan banyak bertanya jika dia sudah pergi dengan Adera.
"Baguslah, jangan merepotkan tantemu! Kalau kau mau pergi beri tahu salah satu dari mereka agar mereka tidak khawatir." Ayahnya ikut menimpali.
"Oh ya, kapan kau akan menikah? Kami sudah ingin menimang cucu, kau tiru saja ayah dan ibu yang menikah muda. Lihat kami masih muda tapi anak kami sudah dewasa." Ayah Alena bertanya saat mereka telah sampai di taman menjelang sampai ke rumah mereka.
"Ayah, Alena baru merasakan kerja setelah menamatkan sekolah dengan kemampuan tinggi agar cepat tamat, tahu begitu mending Alena sekolah seperti anak lainnya saja." Alena mengeluh dengan wajah cemberut yang manis.
Ya, Alena anak yang pintar, setiap tahun dia pasti akan mengikuti tes untuk lompat kelas dan hasilnya memang begitu memuaskan. Begitu pula dengan Aleta yang mengikuti jejak Alena.
"Sayang, kenapa tidak ada satupun dari anak kita yang mengikuti otakku? Kenapa mereka mendapatkan otak pintar milikmu?" Ayah Alena bertanya pada istrinya tentang bagaimana kedua putri mereka melompat kelas.
"Aku lebih suka putriku seperti ini sungguh, Sayangku! Aku tidak ingin mereka berpikir m***m seperti dirimu," ejek ibu Alena pada suaminya.
Alena yang melihat candaan antara orangtuanya memilih untuk masuk ke dalam rumah dengan cepat. Sungguh, jika dia masih mendengar godaan demi godaan maka otaknya akan semakin rusak parah.
"Sudah tua dan mereka masih saja menggoda seperti remaja. Ini susahnya kalau menikah muda. Sudahlah, aku pusing kalau melihat mereka." Alena menggerutu sepanjang jalan.
"Halo Al," sapa Alena lembut saat mengangkat panggilan padahal hatinya sedang dirundung kekesalan ekstra akibat kemesraan orangtuanya.
"Aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat sebagai pasangan. Kau harus pergi tanpa boleh menolak," seruan di seberang membuat Alena memutar matanya dengan malas.
"Ini ajakan atau ancaman?" tanya Alena kesal dengan tingkah sang sahabat yang terkadang suka seenaknya.
"Ajakan yang diselubungi ancaman, jika kau tidak mau pergi maka aku akan memberikan kau pekerjaan yang sangat berat dan juga sendirian." Lagi, Alfred mengeluarkan jurus ancaman berbisa miliknya.
"Fine! Aku akan pergi denganmu. Kau jemput ke rumah sekarang juga!" perintah Alena dengan suara lebih keras namun malah dibalas tawa dari seberang.
"Hahaha, aku sudah di rumah utama keluargamu. Hmm dan sebentar lagi aku akan sampai di rumahmu," tawa kemenangan terdengar jelas memasuki telinga Alena membuat Alena merasa semakin kesal dan ingin melempar sesuatu.
"Dasar, aku akan berdandan dulu agar tidak membuatmu malu." Alena mendengus sebelum mematikan ponsel tanpa pamit terlebih dahulu.
Alena masuk ke kamarnya dengan terburu-buru, ia mandi, memilih baju yang bagus lalu berdandan secantik mungkin. Alena menghias diri dengan rapi agar tidak membuat Alfred malu dan kecewa.
Setelah selesai berdandan Alena turun ke bawah dengan hati-hati karena memakai high heels runcing, Alena melihat Alfred sedang duduk dengan kedua orangtuanya, tawa lembut di antara mereka terdengar sampai ke tempat Alena berdiri.
"Ayo pergi!" ajak Alena dengan senyum palsu saat ia sampai didekat Alfred dan orangtuanya.
"Woah, anakmu sakit kah Clara? Tumben dia berdandan cantik layaknya seorang wanita," sindiran diiringi cemoohan keras itu menyerempet masuk ke telinga Alena tapi tidak dihiraukan oleh Alena.
Seperti tidak mendengar, Alena melangkah terlebih dahulu meninggalkan Alfred yang tengah berpamitan dengan kedua orangtuanya.
o0o
Alena dan Alfred kembali pulang menuju rumah entah mereka sudah selesai atau belum datang ke acara yang dikatakan oleh Alfred tadi, wajah cantik Alena terlihat masam dengan bibir cemberut yang terlihat sangat jelas saat turun dari mobil Alfred yang diparkir di rumah utama.
"Ale tunggu sebentar! Aish, anak satu ini kalau merajuk susah juga membujuknya ternyata." Alfred menggelengkan kepala, dengan terburu-buru ia berlari mengejar langkah kaki Alena.
"Siapa yang menyuruh dirinya mengatakan kalau aku jomblo akut? Dasar, aku bukan jomblo akut aku hanya jomblo karena hatiku belum bisa berlabuh di tempat yang seharusnya." Sepanjang jalan Alena terus menggerutu.
Hingga akhirnya Alena sampai di ruang tamu rumahnya di mama di sana, ada Robert tengah duduk bersama Aleta dan sedang tertawa bahagia karena sesuatu. Alena terdiam melihat dan mendengar tawa indah Robert, seketika hatinya membenci.
Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Alena hingga ia melangkah pergi dengan cepat tanpa mau melirik ke ruang tamu di mana Robert dan Aleta tengah bercengkrama.
Alena yang kesal dengan Alfred sekarang bertambah jengkel dengan Robert. Alena langsung naik ke lantai atas tanpa mengetahui kalau ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam dan tidak suka sama sekali.
"Ponsel sialan," gerutu Alena kesal saat ia hampir mencapai tangga, ia merasa kehadirannya tidak diketahui oleh dua orang di ruang tamu itu namun ponselnya malah berdering.
"Ale tunggu!" teriak Alfred berlari terburu-buru dengan nafas tersengal-sengal. Alfred terlihat mengatur napasnya setelah sampai di dekat tangga tepat Alena berdiri dengan tangan di pinggang.
"Apa lagi, kalau mau mengajakku lagi aku tidak mau!" tolak Alena dengan wajah marahnya yang terlihat menggemaskan.
"Serius? Kalian bertengkar karena masalah apa lagi kali ini?" tanya Aleta dengan tawa lembut saat melihat tingkah ke-dua orang di tangga.
"Ayo pergi!" ajak Alfred lembut dengan senyuman palsu di bibirnya.
"Tidak mau!" tolak Alena merajuk dengan tangan terlipat di d**a, bibir cemberut miliknya terlihat begitu cantik dengan pipi menggembung.
Alena terlihat begitu cantik dan menarik. Sayang, wajah cantiknya tidak berubah jelek meski ia tengah cemberut pada pria di depannya itu sekarang.
"Ayolah, aku minta maaf! Jangan merajuk lagi, kau jelek kalau merajuk seperti ini." Alfred berusaha membujuk layaknya seorang kekasih membujuk pacarnya yang tengah bermasalah.
"Apa yang aku dapatkan jika pergi?" tuntut Alena dengan tangan terulur ke depan seolah meminta sesuatu.
Aleta yang melihat interaksi antara Alfred dan Alena menjadi semakin gemas dan tidak kuasa untuk mengejek mereka sekali lagi.
"Alena, Paman lupa mengatakan kalau Tantemu Adera menyuruhmu untuk pulang ada urusan penting." Robert berbicara lebih dulu menginterupsi perkataan yang akan Aleta layangkan.
Robert terlihat tidak suka saat melihat Alena merajuk pada pria lain, apa lagi dandanan dan pakaian yang digunakan Alena begitu seksi dan menarik. Robert tidak ingin pria lain menikmati pemandangan itu sama sekali.
"Eh benarkah Paman?" tanya Alena penasaran. Alena melirik Alfred meminta maaf yang dibalas hembusan napas pasrah oleh Alfred.
"Pergilah! Kalau ada acara lagi kau harus peri bersamaku, ingat janjimu itu." Alfred menunjuk Alena sebelum melangkah mundur dengan wajah cemberut.
Alfred melihat Robert sekilas dengan pandangan tidak suka sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah Alena begitu saja.
"Paman pulang dulu Aleta, kau harus ingat yang Paman katakan mengerti?" tanya Robert dengan senyuman sebelum berdiri dari duduknya.
"Ayo pulang bersama Paman, Alena!" ajak Robert yang berhasil mengalihkan pandangan mata Alena dari punggung kesepian Robert. Alena mengangguk cepat sebelum melangkah mendekat ke arah Robert berdiri.
"Let, tolong sampaikan pada ayah dan ibu kalau Kakak pulang ya." Alena terlihat memelas sebelum melangkah pergi meninggalkan Aleta bersama Alfred di ruang tamu mengikuti langkah kaki Robert yang terlihat terburu-buru.
"Iya Kak! Kakak dan Paman hati-hati ya!" Aleta mengangguk dengan senyuman kecil di bibirnya.