18

1824 Kata
Alena terlihat kesusahan mengejar langkah lebar Robert yang terkesan terburu-buru. "Paman tunggu! Alena susah berjalan dengan high heels ini," keluh Alena dengan wajah menyedihkan. Alena melangkah secepat yang ia bisa hingga bekas merah mulai muncul di balik sepatu yang menutupi kaki itu. Robert berpura-pura tidak mendengar sama sekali, ia kesal melihat Alena masih saja pergi dengan Alfred padahal ia sudah membisikkan ke telinga Alena tadi malam untuk mulai menjaga jarak dengan Alfred. "Paman!" teriak Alena putus asa dengan mata berlinang seperti akan menangis. Alena benar-benar tidak sanggup untuk berlari lagi namun, melihat sikap tidak peduli Robert padanya membuat hati Alena lebih sakit. Robert sudah sampai di tempat mobilnya terparkir. Dia menekan remote mobil untuk membuka pintu dan masuk untuk menghindari melihat Alena. Alena yang menahan sakit terus berjalan dengan langkah terseok-seok. Alena membuka pintu samping bagian kemudi dan dengan cepat masuk agar bisa duduk dan membuka high heels yang dikenakannya. Bagian ibu jari dan kelingking kaki Alena terlihat lecet dan ada luka yang terkelupas. Alena meringis hingga air matanya jatuh tanpa ia sadari apalagi di bagian tumit Alena ada luka lecet besar yang sebagian terkelupas juga. Alena mengambil tissue dan membersihkan luka itu dengan hati-hati. 'Paman benar-benar tidak punya hati padaku, dia bahkan tega melihat aku kesakitan. Kemana sikap lembutnya? Kemana sifat manisnya yang kemarin?' Alena menangis sedih tanpa mau mengangkat kepala. Robert masih bertindak tidak peduli atas tangisan serta kesakitan yang dialami Alena dengan menjalankan mobil menjauh dari pekarangan rumah utama. Mobil terus melaju hingga telah berada jauh dari rumah besar itu. Sedangkan Alena masih membersihkan kakinya dengan kepala menunduk. Alena malu dengan keadaannya yang menyedihkan dan akan dilihat oleh Robert. "Kalau tidak bisa memakai sepatu itu kenapa kau harus memaksakan diri?" tanya Robert sembari mengambil kotak kesehatan. Mendengar suara Robert, Alena mengangkat kepalanya dan melihat ke depan hanya untuk menemukan mereka berhenti di tepi jalan dekat sebuah taman. Kawasan itu terlihat sepi karena berada di dekat perumahan elite dan mewah. Mobil mereka berhenti di tempat teduh agar terhindar dari teriknya matahari. "Aku bisa jika berjalan pelan, Paman! Kalau berlari seperti itu siapa saja bisa terluka, Paman!" keluh Alena dengan wajah menyedihkan. Air mata Alena masih jatuh membasahi pipinya yang memerah. "Sama saja, kalau kau nyaman memakai sepatu hak rendah harusnya kau memakai yang seperti itu saja kenapa harus setinggi ini?" tanya Robert dengan wajah cemberut. Dengan pelan Robert menarik kaki Alena dan meletakkan di pahanya dengan hati-hati. Robert meringis saat melihat lecet yang ada di kaki Alena,dia menyesal membuat kaki mulus itu menjadi seperti ini sekarang. 'Ini akibat kebodohanku!" rutuk Robert di dalam hati meski wajahnya tetap terlihat datar. Robert mengobati luka di kaki Alena dengan hati-hati sebelum matanya beralih pada paha putih milik Alena yang tersingkap akibat kakinya terangkat. Robert menahan ludah saat melihat paha itu sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke kaki Alena yang terluka. Robert dengan hati-hati membasahi kaki Alena dengan cairan berwarna kuning itu sebelum mengoleskan salep dan itu membuat kaki Alena terasa dingin dan tidak sakit lagi. Robert meletakkan kaki Alena ke bawah lagi tangannya beralih mengambil kaki yang satunya lagi untuk diobati. Setelah selesai Robert melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Alvin. Namun, sepanjang jalan Robert sibuk mengirim pesan pada seseorang. Lama perjalanan yang mereka tempuh hingga akhirnya sampai di rumah Alvin karena Robert memilih mengambil jalan paling jauh. "Akhirnya sampai juga. Terima kasih Paman, pemandangan tadi sangat indah." Alena tersenyum senang sebelum turun dari mobil. "Pakai ini," ujar Robert dengan tangan mengambil sendal berbulu lucu dari kursi belakang. Sendal itu masih tersimpan di dalam kantong seolah-olah itu memang untuk seseorang. Alena bingung dan mengangkat alis. ' Siapa yang pernah naik ke mobil Paman? Apakah itu Aleta atau Tante Adera?' Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benak Alena. Alena dengan patuh mengambil sendal itu turun dari mobil lalu berjalan santai ke dalam rumah, tangannya menenteng sepatu high heels runcing itu dengan wajah tenang. Tapi rasa penasaran masih terlihat jelas di wajahnya yang cantik. 'Bagaimana cara memisahkan mereka berdua. Demi pria itu dia rela berdandan dan memakai high heels runcing itu,' gerutu Robert dengan wajah masam. Robert dengan wajah cemberut melangkah masuk ke dalam rumah Alvin dan hendak langsung menuju kamarnya. Namun, langkahnya terganggu dengan suara cemoohan Alvin yang entah berasal dari mana. "Kebohongan apa yang kau katakan pada gadismu hingga mengirim Adera ke luar negeri selama beberapa hari?" Alvin bertanya dengan tangan terlipat di d**a. Pertanyaan Alvin sontak membuat Robert melihat sekeliling rumah takut ucapan Alvin terdengar oleh Alena. Robert menghembuskan napas lega saat keberadaan Alena tidak terdeteksi olehnya. "Dia sudah masuk ke kamarnya," ejek Alvin lagi ketika mengetahui ketakutan Robert. Alvin tersenyum mencemooh melihat tingkah tangan kanannya itu. Aneh memang, tapi beginilah sikap Robert yang sebenarnya. Robert takut semua kebohongan dan tipu daya yang dilakukannya diketahui oleh Alena hingga membuka kedoknya yang selama ini mampu dia tutupi dengan baik. "Saya ke kamar dulu, Tuan!" Robert terlihat cemberut sebelum melangkah meninggalkan Alvin yang hampir saja membuatnya jantungan. "Mari ke ruang kerjaku terlebih dahulu!" ajak Alvin dengan langkah tidak kalah cepat. Alvin berjalan mendahului Robert dan dengan cepat menuju ke ruang kerjanya yang ada di lantai atas jauh dari kamar Robert. "Ada apa, Tuan!" tanya Robert dengan wajah penasaran setelah mereka berhasil masuk ke dalam ruang kerja dan menutup pintu. "Apakah anak buah kita sudah berhasil menemukan keberadaan Farrel? Hah, aku hanya takut dia menjadi ancaman tersembunyi suatu hari nanti. Aku juga takut dia akan datang dan menganggu Angela lagi." Alvin menghembuskan napas pasrah yang terdengar begitu lelah. "Belum ada kabar, Tuan! Saya sudah menyuruh semua anak buah kita untuk mencarinya bahkan saya juga sudah menggunakan koneksi saya. Namun, tampaknya dia sekarang sudah lebih pintar dan juga sepertinya memiliki kaki tangan untuk bekerja." Robert menyampaikan diagnosis yang selama ini dipikirkannya. "Aku harus tahu siapa saja yang menjadi temannya hingga ia bisa bersembunyi dengan begitu baik sampai hari ini. Aku akan menghancurkan kelompok itu," ujar Alvin dengan tangan menggenggam. Alvin tidak menyangka sama sekali kalau ia bisa begitu dan membiarkan satu tunas kabur dan tumbuh besar di luar sana. Alvin sudah mencari keberadaan Farrel namun, mereka tidak bisa mengikuti jejaknya sama sekali. "Saya sudah mencari tahu, Tuan! Hanya saja, musuh kita juga tidak sedikit di luar sana jadi kemungkinan untuk menemukannya juga dipersulit karena Farrel kabur ke daerah rawan konflik." Robert menunduk, ini salahnya karena teledor dan berhasil membuat musuh Alvin kabur. "Tidak apa-apa, kau juga punya masalah sendiri waktu itu. Oh, kau masuk ke kamar Alena tadi malam kan?" tanya Alvin dengan penuh selidik. Sudut bibir Alvin terlihat terangkat tinggi, jelas terlihat kalau dia memang sengaja mencemooh Robert. Robert terlihat malu, selama ini dia memang selalu cuek dan menolak kehadiran Alena di sisinya. Sudah bertahun-tahun Alena mencoba mendekati diri Robert. Namun, Robert selalu menolak dan bersikap dingin pada Alena. Sekarang Alena telah tumbuh besar dan semakin cantik, tidak lama lagi Alena mungkin akan mencari pasangan dan Robert tidak ingin Alena bersama orang lain. "Kalau kau suka harusnya kau memperlihatkan perhatianmu. Apalagi, Alena terlihat begitu menyukai dirimu. Sudah berapa tahun ia mengejarmu? Kalau kau masih seperti itu, aku yakin Alena akan kabur bersama pria lain." Alvin menasehati. "Dia tidak akan pergi mencari pria lain, aku akan memastikan semua itu. Lagipula saya sedang tarik ulur dengannya sekarang, saya yakin dia tidak akan lepas dari tangan saya." Robert berkata dengan yakin membuat Alvin menggelengkan kepala dengan tidak percaya. "Percaya diri sekali, jika lelah tentu saja Alena akan berhenti mengejar. Kau tidak lihat, ada kumbang yang selalu terbang di sisi kanan dan kirinya setiap hari. Aku pernah mendengar seseorang berkata, kenyamanan bisa membuat seseorang bisa jatuh cinta secara perlahan." Alvin mencoba berpikir apakah kata-kata yang diucapkan oleh bibirnya itu benar atau salah. "Dia tidak akan pergi kemanapun, Tuan!" Robert mencoba menyakinkan Alvin atau lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri dengan kebenaran yang coba ia ucapkan. "Terserah kau saja, sebenarnya kau mencintai siapa ha? Apa kau mencintai Alena yang banyak kekurangan atau Aleta yang lembut dan manis?" Tidak menjawab ucapan Alvin, Robert malah berbalik badan dan menuju ke arah pintu ruang kerja. Robert membuka pintu itu dan melihat ke arah Alvin yang masih penasaran dengan jawaban yang ingin dia dengar dari mulut Robert. "Ke-duanya memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Tuan! Akan tetapi ke-duanya memiliki posisi berbeda di dalam hati saya ini dan Anda tidak akan mengerti sama sekali." Setelah mengatakan itu Robert melangkah pergi dan menutup pintu ruang kerja Alvin. Robert melangkah beberapa meter sebelum sampai di kamarnya dan membuka ponsel untuk melihat CCTV. *** Alena baru saja ke luar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Rambutnya masih terlihat basah dengan handuk masih melilit tubuhnya yang indah. Kali ini Alena sengaja tidak memakai pakaian di kamar mandi karena kakinya terasa sakit sekali. Alena duduk di tepi tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan dengan handuk. Paha putih mulusnya terbuka dan di sana masih tertinggal jejak merah keunguan bekas gigitan seseorang. "Lelah sekali, pria b******k dan sialan itu dengan sesuka hatinya mengejek diriku dengan sebutan jomblo. Lihat saja, aku akan membuktikan kalau aku ini laku dan banyak yang menyukai diriku." Alena terus menggerutu ketika mengingat ejekan Alfred tadi padanya. "Ahh, awas kau Al! Awas saja, aku akan membuktikan padamu kalau aku banyak yang menyukai." Alena terlihat geram. Tangan Alena tidak lagi menggosok rambutnya lagi, tapi tangan itu mulai memukul-mukul tempat tidur seolah tengah memukul Alfred. Alena bangkit dari duduknya dan berjalan ke samping lemari tempat kopernya diletakkan, saat membuka koper Alena terkejut karena tidak ada satu pun perlengkapannya di dalam sana. Buru-buru Alena bangkit dan membuka lemari dan benar saja, semua pakaian yang ia cari ada di dalam dan telah tersusun rapi. "Tante memang yang terbaik, aku tidak perlu repot-repot lagi menyusun pakaian sendiri." Alena tersenyum dan mulai mengambil pakaian yang dibutuhkan olehnya. Alena melepas handuknya setelah berhasil memakai celana dalam dan bra biru miliknya. Alena tidak sadar kalau keindahan tubuhnya tengah dinikmati oleh mata yang tidak bertanggung jawab sama sekali. Alena sibuk memakai pakaiannya tapi mata yang mengintip itu sedang merasakan gerah dan kepanasan. Tenggorokannya terasa kering dan gersang saat melihat pemandangan itu, apalagi ketika melihat jejak kemerahan yang berhasil ia tinggalkan di sana. "Kau benar-benar ceroboh Alen! Bertahun-tahun kau terus menggoda dan merayu, pria mana yang tidak akan tertarik pada wanita cantik seperti dirimu." Robert merasa sangat haus. Benjolan di tengah pahanya terasa membengkak dan ingin mengintip ke luar untuk menemukan celahnya sendiri. "Bertahun-tahun kau terus muncul dan berlalu lalang di depanku, sekarang setelah tumbuh besar dan bisa dimakan kau seenaknya saja diambil orang lain ... aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Tidak akan pernah," janji Robert dengan sepenuh hati. Robert sudah tidak tahan untuk mengurung Alena sekarang dalam kamarnya. Namun, Alena masih saja bersama Alfred dan dia tidak suka itu. Apalagi sekarang keberadaan Farrel belum ditemukan. Robert tidak ingin di saat dia tengah menikmati hari-hari bersama Alena akan ada masalah yang datang dan mengusik kebersamaan mereka. Itulah sebabnya dia menahan diri sampai sekarang, tidak tahan lagi Robert memilih kabur ke kamar mandi miliknya yang berada tidak jauh dari ruang kerja untuk bersemedi di bawah kucuran air dingin meninggalkan Alvin yang akan berbicara dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN