19

1991 Kata
Alena selesai berpakaian dengan rapi, ia berbaring di tempat tidur sembari bermain telepon seluler ketika matanya menangkap foto kebersamaan Robert dan Aleta siang ini. Alena terlihat ragu melihat senyuman pada wajah Robert yang berada di foto itu. 'Apakah Aleta menyukai Paman Robert juga?' Alena terlihat bingung, jika terbukti mereka menyukai pria yang sama maka Alena akan menyerah namun Alena belum mendengar pengakuan dari mulut Robert yang membuatnya masih meragu dan bimbang. 'Apakah Paman menyukai Aleta atau sekedar sayang saja? Apakah aku perlu bertanya pada salah satunya?' Alena bertanya-tanya dengan wajah masam. Hilang sudah moodnya untuk menggoda Alfred hari ini. Alena berguling-guling di tempat tidur sembari bermain dengan telepon seluler di tangannya sampai ia merasa bosan. Hingga ia melempar telepon seluler di tangannya ke samping, Alena bangkit, ia mengambil laptopnya dari atas meja. Alena membawa laptop itu ke tempat tidur dan mulai berselancar di dunia online itu. Robert ke luar dari kamar mandi dengan wajah segar, rambutnya masih terlihat basah. Aroma shampo dan sabun mandi yang digunakannya memenuhi ruangan kamar tempatnya tidur. Robert melihat pada layar yang masih menyala dan menemukan kalau Alena tengah sibuk dengan sosial media miliknya. Robert memperhatikan Alena yang tengah gembira dan tersenyum senang dengan sendirinya. Lama Alena bermain hingga tanpa sadar Alena tertidur dengan nyenyak, melihat kesempatan datang Robert berjalan langsung ke pintu rahasia yang tersambung ke kamar Alena. Sebenarnya kamar ini dulunya adalah kamar Alvin dan Angela yang memiliki pintu penghubung ke kamar Erfan. Lantaran Angela hamil besar dan Alvin berencana memiliki anak yang banyak maka Alvin memindahkan kamarnya ke lantai bawah dan pintu penghubung diubah Robert dengan sangat pintar menjadi pintu yang terletak di belakang lemari Alena yang ternyata bisa digeser ke samping sedikit. Robert masuk ke kamar Alena melewati pintu itu agar memudahkan dirinya ke luar masuk tanpa diketahui sama sekali. Robert mematikan laptop Alena menaruhnya di atas meja sebelum kemudian menghidupkan AC kamar seperti biasa. Robert duduk di sebelah Alena dengan hati-hati, Robert bahkan mengusap rambut panjang Alena yang berwarna coklat sebelum berpindah pada wajah dan akhirnya berhenti di bibir Alena yang menawan. "Aku rindu bibir merah muda ini," bisik Robert lembut sebelum mulai menciumi Alena dengan hati-hati. "Kapan Alen? Kapan aku mendapatkan kesempatan untuk melakukannya secara terang-terangan? Aku sungguh menantikan hari itu." Robert sangat hafal dengan kebiasaan Alena yang tidur seperti orang mati, apa saja yang akan dilakukan padanya tidak akan pernah Alena sadari sama sekali. Robert kembali meninggalkan jejak merah di tubuh Alena sampai ia merasa puas. Pukul 17.00 Alena terbangun dari tidur nyenyaknya. Kali ini Alena merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, Alena merasa bagian milik bawahnya terasa becek dan lembab. Alena buru-buru bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri Alena kemudian mengganti pakaian dan turun ke bawah untuk berkumpul bersama keluarga Angela. Alena yang kebingungan melihat Angela tengah bermain bersama Erfan di ruang keluarga dan tanpa sadar Alena berjalan ke sana dengan sendirinya. "Hey Al, kau sudah bangun?" tanya Angela ramah saat melihat Alena muncul dari tangga. "Hai juga Tante An, Erfan sudah semakin besar ya, Tan dan sebentar lagi akan punya adik nih." Alena ikut tersenyum dan duduk di sebelah Erfan. "Kamu kapan nikah nih? Usia kamu ini udah enggak apa-apa untuk menikah loh," goda Angela dengan kerlingan mata nakal membuat Alena memerah malu. "Belum ada jodohnya Tante, aku masih mencari dan menunggu." Alena menjawab dengan cepat, sebelum berpura-pura bercanda dengan Erfan untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Alena dan Angela bercanda dan tertawa hingga malam datang dan mereka makan malam bersama. Alena duduk bersama Angela hingga dering ponsel Alena menganggu kebersamaan Alena dan Angela. "Tan, aku pamit angkat panggilan dari temanku dulu ya," izin Alena dengan wajah memelas. Mendapat anggukan dari Angela Alena langsung berlari ke arah lantai atas ke kamarnya. "Ya, halo!" sapa lembut Alena pada teman SMA-nya itu. "Baiklah, hanya berlima saja kah?" tanya Alena lagi saat mendengar dengan seksama ucapan temannya itu. "Oh, oke. Aku akan datang. Sebulan lagi jam 17.00 wib di restoran tepatnya di hotel milik keluargamu." tanya Alena dengan hati-hati mencoba mengingat dengan seksama. Setelah menkonfirmasi Alena akhirnya mengangguk dan panggilan terputus. Alena melihat ponselnya dengan bingung, Alena tahu orang yang menghubunginya adalah orang yang suka pada Alfred dan sempat salah paham padanya sebelum menjadi teman. Tanpa peduli Alena memutuskan untuk beristirahat agar memiliki tenaga untuk esok harinya. Alena memilih melupakan semua kemelut yang merajai hatinya dengan memilih bermimpi dan menikmati hari indah dalam dunia khayalan. *** Farrel tengah menikmati minuman berwarna merah di tangannya. Cairan merah itu ikut bergoyang saat ia menggerakkan tubuh saat ia menggeser posisi duduknya. Di depan Farrel ada dua orang wanita tengah asyik menari dengan tubuh meliuk-liuk bak ular yang tengah mencari mangsa di sawah. Kedua wanita itu tidak mengenakan pakaian apapun agar semakin membuat Farrel b*******h. "Bagaimana Tuan? Apakah Anda puas dengan pelayanan kami?" Salah satu dari ke-dua wanita itu bertanya sembari mendekatkan diri pada Farrel yang tengah duduk menikmati di sofa panjang berwarna merah maron itu. Suasana kamar yang temaram membuat Farrel menikmati semua itu. Farrel bisa merasakan si wanita tengah menggesek-gesek bukit kembarnya ke d**a Farrel dengan senyuman nakal di bibirnya. "Kau yang di sana!" tunjuk Farrel pada wanita satu lagi yang tengah bergoyang dengan sedikit ragu-ragu. Dia ke sini karena di ajak oleh temannya yang telah dihubungi oleh anak buah Farrel. Atau lebih tepatnya wanita yang satu lagi. "I-i-i-ya, Tuan!" jawabnya ragu-ragu dengan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya meski tidak ada satu pun pakaian di tubuhnya. "Apa kau masih perawan?" tanya Farrel santai dengan senyuman sedangkan salah satu tangannya yang tidak memegang minuman sudah meremas bukit kembar wanita cantik yang tengah merayunya tadi. "I-i-i-ya, Tuan! Saya melakukan semua ini karena butuh u-u-u-ang untuk pengobatan Kakak saya." Gadis cantik itu meringis dengan tubuh yang mulai bergoyang dengan lambat. "Kemarilah," panggil Farrel, Farrel mendorong wanita yang menggodanya dan menggeser tempat duduknya. "Kau tunggu di sana dulu," usir Farrel pada wanita itu. "Sudah lama aku tidak merasakan yang perawan." Mendengar ucapan Farrel perempuan dengan rambut hitam itu terlihat ragu. "Saya ke sini hanya ingin menari saja, Tuan!" ujarnya dengan mata melirik ke arah temannya berada. "Ayolah, Sisil! Kau akan mendapatkan uang yang lebih besar dengan kehormatan milikmu itu. Iya kan, Tuan?" Teman wanitanya dengan rambut pirang itu bertanya pada Farrel. "Ya, aku akan membiayai semua perawatan kakakmu itu dan aku juga akan memberimu uang lebih banyak jadi, kau tidak perlu menari untuk orang lain lagi. Apakah aku orang pertama yang melihat tubuh telanjangmu itu?" tanya Farrel senang. Farrel merasa Sisil hampir sama dengan Angela-nya yang manis. Tidak menjawab ucapan Farrel, Sisil memilih mengangguk dengan kepala tertunduk. "Baguslah, kemari dan layani aku. Maka kau akan mendapatkan semua kebutuhanmu tanpa perlu bekerja lagi." Farrel terus membujuk hingga akhirnya Sisil terbuai rayuan itu. Dia sudah bekerja ini dan itu tapi uang yang ia dapatkan masih sangat jauh dari kata cukup untuk biaya operasi kakaknya. Meski ragu-ragu, Sisil akhirnya mendekat ke arah Farrel duduk dan memilih berdiri di depannya. Melihat gadis di depannya masih ragu Farrel menariknya dengan cepat menuju ke tempat tidur. Farrel begitu senang dan mulai mencumbu Sisil untuk mencari kepuasan. Suara lenguhan keduanya terdengar jelas di dalam ruangan kamar itu saat Farrel terus mencoba melakukan pemanasan. "Aku akan masuk," bisik Farrel lembut saat ia akan menerobos dinding pertahanan Sisil yang belum pernah disentuh oleh siapapun. Ketika mengangkat wajahnya yang dilihat oleh Farrel adalah wajah manis Angela yang selalu diimpikan dan diinginkannya. Farrel menghentak dengan keras agar jalan masuknya tidak lagi terhalangi. "Sa-sa-sakit," erang Sisil saat merasakan perih yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya. "Tidak apa-apa, sakitnya hanya sebentar saja dan setelah itu kau akan merasakan kesenangan yang luar biasa." Farrel tersenyum senang. Wajahnya begitu bahagia, seolah-olah wanita di depannya memang Angela yang selalu ia rindukan. Teman Sisil melihat dengan iri bagaimana lembut dan manisnya Farrel terhadap Sisil, ia merasa cemburu dan benci karena telah membawa Sisil ke rumah ini. Tangan wanita itu terkepal dengan sangat kuat kemarahan luar biasa yang tengah dirasakannya. "Aku menyesal membawa Sisil kemari!" bisik wanita itu dengan wajah berubah kejam. Farrel terus menikmati kebersamaannya dengan Sisil hingga ia akhirnya mencapai puncak kepuasan. "Kau bisa istirahat di kamar sebelah, setelah istirahat mintalah uang pada kepala pelayan dan ingat! Kau harus datang ke rumah ini setiap hari," Farrel berbaring di samping Sisil yang masih berusaha menetralkan nafasnya. "Terima kasih Tuan," ujar Sisil mengangguk sembari mencoba bangkit meski sakit. Sisil memilih pakaiannya dan pergi ke luar dari kamar itu setelah memakai semua pakaiannya. "Aku pergi dulu, terima kasih." Sisil menunduk untuk mengucapkan terima kasih pada temannya yang masih menunggu di sofa tadi. Dengan berjalan tertatih-tatih, Sisil menemui pelayan untuk menanyakan yang mana kepala pelayan rumah Farrel. "Tuan mengatakan agar kau berisitirahat sebentar. Jika kau tidak mendengar maka uangmu tidak akan diberikan olehnya." Kepala pelayan tersenyum ketika melihat wanita di depannya. Pasrah, Sisil terpaksa mengikuti langkah kaki si kepala pelayan menuju ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Di ruang tempat Farrel tadi, Farrel menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil melihat ke arah teman Sisil yang masih belum memakai apapun itu. Matanya menatap tajam dengan senyum haus darah yang terlihat. "Kau masih belum menari?" tanya Farrel dengan alis terangkat sebelah. Farrel paling malas dengan orang yang bersikap munafik, semua itu bisa terlihat jelas dari senyum dan matanya. "Ah, apa kau tidak puas dengan temanku, Tuan?" tanya wanita itu bangkit dari duduknya di sofa lalu mulai bergoyang kembali. Tubuhnya meliuk-liuk sembari berjalan mendekat ke arah Farrel yang masih nyaman bersandar di kepala ranjang. Farrel hanya melirik sekilas sebelum memejamkan mata menikmati sensasi pelepasan yang terjadi tadi. "Kau harus maklum Tuan, bagi temanku ini adalah yang pertama" Wanita itu mencoba bersikap ramah namun, senyum cemoohan di bibirnya menjelaskan dengan sangat kalau ia adalah wanita dengan harga murah yang terbiasa merayu. Farrel tidak menanggapi ocehan wanita itu namun tangannya yang melambai seolah menyuruh wanita itu mendekat ke arahnya sekarang juga. Melihat kesempatan bagus si wanita langsung melangkah dengan cepat. "Kalau begitu, apakah kau bisa membuat diriku puas?" Pancing Farrel dengan sengaja. "Tentu saja, Tuan! Aku akan membuat Anda menikmati permainan kita dan tidak akan bisa melupakannya selama mungkin." Wanita itu dengan bangga menaiki tempat tidur. 'Kau lihat Sisil, aku ternyata memang lebih hebat dari dirimu.' Wanita itu tampak bangga dan mulai memposisikan diri di atas Farrel yang hanya duduk diam saja. Dengan bangga wanita itu memaksakan milik Farrel menyatu dalam tubuhnya. Setelah berhasil ia mulai bergoyang-goyang membuat Farrel menjadi berkeinginan dengannya. Gerakan wanita itu membuat Farrel ikut menikmati sebelum membalik tubuh si wanita dan mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan cepat. Segera ruangan itu dipenuhi suara-suara erangan tertahan. Farrel dengan malas mengambil sesuatu dari kepala ranjang yang ternyata adalah pisau lipat yang selalu ia gunakan. Ketika tengah asyik menikmati gerakan Farrel si wanita memekik saat tangannya diikat Farrel dengan tali yang sudah ia persiapkan. "Anda suka bermain kasar seperti ini juga ya, Tuan?" tanya si wanita lebih memelankan suaranya agar Farrel semakin terbuai. "Hem, aku memang suka bermain kasar. Apalagi jika ada aroma manis yang masuk ke dalam hidungku," ujar Farrel dengan senyuman aneh. Setelah tangan wanita itu terikat kuat Farrel tersenyum dan mulai menggores satu luka di tangan si wanita. "Sakit, Tuan! rintih si wanita dengan manja. Tampaknya dia terbiasa dengan adegan kekerasan dalam permainan bercinta yang mereka lakukan. Si wanita meski memekik tetap saja melayangkan pandangan nakal pada Farrel karena dia mengira Farrel hanya suka bermain kasar seperti pelanggan-pelanggannya yang lain. Belum cukup satu luka, Farrel kembali menggores luka lain lagi di tempat berbeda. Wanita itu berteriak manja yang membuat Farrel menjadi semakin muak dan jijik. "Murahan," ejek Farrel sambil mencabut miliknya dari tubuh si wanita yang tengah merasakan kenikmatan dunia dan di ujung pelepasan itu. Bukannya marah si wanita malah menampilkan raut wajah memelas meminta untuk kembali dipuaskan. Seolah-olah rasa sakit yang ia rasakan semakin merangsang dirinya dan bukanlah apa-apa untuknya. Farrel membersihkan pisau lipatnya dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Farrel menekan tombol di tempat biasa hingga beberapa pelayan masuk dan membawa alat-alat pembersihan seperti sehari-hari yang mereka lakukan. "Bawa dia ke ruang kebahagian dan biarkan yang lain menikmati tubuhnya sampai puas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN