30

1132 Kata
Alena berteriak dengan keras saat dia tidak bisa ke luar dari kamar itu, meski dia telah mencoba mencari celah untuk kabur, penjagaan yang ketat serta keamanan yang terlalu canggih membuat Alena merasa kesulitan. Alena bangun dari tidurnya dengan tubuh dipenuhi keringat, ada air mata di pipinya yang jatuh tanpa dia sadari. "Kau kenapa?" tanya Adera khawatir, Adera memeluk tubuh Alena erat, ia merasakan tubuh Alena bergetar dengan hebat. Keringat dingin mengucur begitu deras dari tubuh Alena, Alena melihat sekeliling tempatnya sekarang berada, setelah merasa aman barulah Alena menghembuskan napas lega. "Aku bermimpi bertemu seorang pria aneh, Tante! Alena berada di rumahnya lalu Alena dikurung di sebuah kamar, Alena takut itu menjadi kenyataan, Tante!" Alena bangkit dari tidurnya lalu memeluk Adera erat. Getaran kuat di tubuh Alena membuat Adera ikut merasa khawatir karena jarang sekali Alena seperti ini. Adera membelai punggung Alena penuh kelembutan memancarkan kasih sayang yang luar biasa, hal itu sukses menenangkan hati Alena yang gelisah. "Tidak apa-apa, biasanya mimpi seperti itu hanyalah bunga tidur biasa. Lagipula karena mengalami tekanan berat seseorang memang akan seperti itu," bujuk Adera lagi. Alena mengangguk, ia melirik pada Alfred yang juga terlihat khawatir di sampingnya lalu tersenyum sembari mengulurkan tangan. "Maaf! Selama ini aku selalu menjadi beban bagimu, aku hanya bisa membuatmu susah tapi tidak pernah membalas kebaikan yang kau lakukan." Alfred membalas uluran tangan Alena menggenggam erat tangannya, Alfred meremas jemari Alena tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun. "Aku sungguh tidak apa-apa," bujuk Alena lagi agar hati Alfred menjadi tenang. Alfred tidak tahan melihat kesedihan Alena lalu mengangguk sebagai jawaban, di sisi lain Aleta terlihat cemberut karena diabaikan oleh Alena. "Aku juga mengkhawatirkan dirimu, Kak!" rengeknya dengan nada menyedihkan. Hal itu sukses membuat Alena mengalihkan pandangannya ke arah Aleta duduk. Alena tersenyum namun kali ini senyum di bibirnya terlihat lebih manis dan lebih hidup hingga Alfred bahkan Robert terpesona. "Maafkan, Kakak! Ah ... kenapa kau ada di sini? Siapa yang memberitahu dirimu?" tanya Alena penasaran, Alena menatap Adera dengan penuh selidik. Adera yang dituduh melihat Alena dengan pandangan mata tidak senang, dia mendengus lalu mencibir pada Alena membuat Alena tersenyum canggung. "Jangan menuduh sembarangan, Tante mendapat kabar dari Aleta bukan Tante yang memberitahu Aleta. Tolong kau ingat dengan baik," tuding Adera dengan senyum ramah tapi membuat Alena malu. "Tidak ada yang memberitahu diriku, Kak! Aku menemukan mobilmu di jalan, hal itu membuat aku khawatir setengah mati." Aleta berjalan ke arah Alena. Setiap langkah kaki yang diambilnya terasa berat, Aleta tahu Alena tidak ingin membuatnya khawatir tapi dia benar-benar tidak bisa membiarkan Alena menanggung penderitaan sendiri lagi. "Aku tahu kau tidak ingin aku khawatir, Kak! Aku hanya ingin kau berbagi beban dengan kami, jangan menanggungnya sendiri lagi. Kau punya kami sama seperti kami memiliki dirimu di sisi kami." Aleta memeluk Alena erat, tubuhnya bergetar tidak terkendali, air matanya jatuh dan hal itu kembali membuat Robert tidak suka. "Maafkan Kakak, Aleta! Kakak janji akan menceritakan masalah yang Kakak alami padamu," bujuk Alena. Aleta melepas pelukannya, ia menatap wajah Alena sendu lalu mengulurkan jari kelingkingnya pada Alena agar Alena berjanji padanya. Alena membalas uluran tangan Aleta, sedikit pun pandangan mata Alena tidak pernah mengarah pada Robert. "Aku menyayangimu, Kak! Sama seperti kau menyayangi kami semua, aku tidak ingin kejadian dulu menimpa dirimu lagi. Aku hanya ingin kau hidup baik-baik saja sama seperti aku hidup dengan baik akibat perlindungan dirimu." Aleta melepas tautan jari mereka. Alena mengangguk, dia melirik pada Alfred lagi seolah ingin berbicara tapi ragu karena banyak orang berada di dalam ruangan itu. Alena mengurungkan niatnya, ia memilih berbaring di ranjang kembali lalu melihat pada Adera yang berjalan ke meja mengambil sebuah jeruk. Adera kembali duduk di samping Alena, ia mengupas jeruk itu dengan teliti lalu memberikan jeruk yang sudah dikupasnya pada Alena langsung ke mulut Alena. Alena menerima perlakuan istimewa itu dengan santai. "Pulanglah, Aleta! Kakak sudah baik-baik saja sekarang, kau juga butuh istirahat. Mungkin besok kakak sudah bisa pulang ke rumah, kakak tidak akan tinggal di rumah Paman Alvin lagi." Alena mengusir Aleta dengan cara ramah. Aleta tampak ragu, ia melirik pada Robert seolah meminta persetujuan. Robert mengangguk karena apa yang dikatakan Alena adalah kebenaran, mereka juga tidak bisa tinggal di sana karena tempat tidur serta sofa tidak bisa menampung mereka semua. "Baiklah, Kak! Aku akan pulang ke rumah, tapi kau harus janji satu hal padaku dulu. Kalau terjadi sesuatu padamu maka aku adalah orang pertama yang harus kau hubungi, mengerti?" mohon Aleta dengan wajah memelas. Alena mengangguk sekali lagi, tampaknya hari ini dia sudah sering mengerakkan kepala. Adera tersenyum melihat interaksi manis antara Alena dan Aleta padahal sejak dulu Aleta selalu membuat Alena disalahkan. Aleta dengan enggan melangkah menjauh dari ranjang rawat Alena, wajah sedih yang diperlihatkan Aleta membuat Alena tertawa. Robert mengikuti dari belakang, ia menutup pintu perlahan menyempatkan diri melihat ke arah Alena yang tidak meliriknya sejak awal sama sekali. 'Apa yang menyebabkan Alena berubah? Kenapa dia mengabaikan keberadaanku di sini? Apa yang salah? Aku harus mencari tahu akar masalah ini,' batin Robert. Ia menutup pintu lalu berjalan menjauh dari ruang rawat Alena menuju lift, melihat wajah sedih Aleta Robert pun mencoba menghiburnya agar bisa tertawa. "Alena benar, jika kau di rumah sakit dan tidak tidur dengan nyenyak kau bisa jatuh sakit. Hal itu akan menambah masalah, membuat kesembuhan Alena terganggu. Lagipula dia baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir tentang dirinya." Robert membujuk dengan lembut. Tangannya menyentuh bahu Aleta lembut, Aleta menengadah agar bisa melihat wajah Robert lalu mengangguk. Melihat itu Robert hanya mampu menghela napas lalu berdiri diam di samping Aleta menunggu pintu lift terbuka agar mereka bisa turun ke bawah. "Paman! Apakah menurutmu ada yang aneh dengan kakak? Aku merasa dia bukan seperti kakak yang dulu, meski semua masalah sudah tersingkap aku masih belum bisa melihat senyum tulus dari bibirnya. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran kakak hingga menyebabkan dia mengalami tekanan batin seperti itu." Aleta mengeluarkan suara hatinya yang sejak tadi dia tahan. Robert tampak berpikir sebelum menggelengkan kepala sebagai jawaban, dia sendiri tidak tahu hal apa yang menyebabkan kondisi Alena menjadi drop kembali. "Entahlah, Paman juga tidak tahu kenapa. Perubahan yang kau rasakan mungkin sekarang dia sudah sedikit dewasa jadi kau melihat ada yang berbeda dengannya." Robert menjawab apa adanya karena dia sendiri juga bingung. "Apa karena keberadaan Tante Agata belum diketahui, Paman? Kakak masih merasa dirinya terancam karena sewaktu-waktu Agata muncul lalu menyerang dirinya lagi." Aleta kembali berbicara, kali ini apa yang dia pikirkan sesuai dengan apa yang ada di benak Alena. Hal ini memang menjadi salah satu beban yang ada dipikiran Alena, Alena takut ketenangan yang ia rasakan saat ini hanya sementara. Ia takut kalau Agata tiba-tiba muncul lalu menyerang dirinya dengan lebih kejam lagi, Alena takut Agata akan menyerang seluruh anggota keluarganya. Selain itu, Alena juga memikirkan perasaannya pada Robert. Alena takut bersaing dengan adiknya sendiri, itu sebabnya kondisi mental Alena mengalami penurunan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN