Nb : Ada perbedaan waktu antara negara Farrel dengan negara Alena sehingga malam dan siang juga berbeda di sana.
Di rumah sakit lain tempat Sherly dirawat pengamanan semakin ketat, Sisil pagi-pagi sekali sudah menyelesaikan semua prosedur pengobatan Sherly bahkan sudah membayar mahal semuanya dengan menggunakan uang pemberian Farrel.
Ananta serta Anandita terus datang ke rumah sakit membuat keributan namun mereka terus-menerus diusir oleh anak buah Farrel. Hal itu semakin membuat Ananta marah bukan main, Ananta bahkan membentak karyawan rumah sakit yang mencegahnya untuk naik ke lantai khusus VIP itu.
"Maaf, Bu! Kami tidak bisa membiarkan Ibu masuk ke dalam ruangan itu. Ibu sudah menganggu kenyamanan pasien rumah sakit kami," cegah karyawan rumah sakit sembari melayangkan pandangan peringatan pada satpam yang bertugas di pintu masuk.
"Apa kau tidak tahu siapa aku, ha? Aku adalah istri orang kaya nomor tiga di negara ini, aku bisa saja membuatmu berhenti dari pekerjaanmu saat ini." Ananta berteriak marah, dia tidak bisa menerima perlakuan buruk seperti ini.
Karyawan itu memutar matanya sambil memberikan senyuman penuh cemoohaan.
"Dasar pelakor!" tawa rendah penuh penghinaan terdengar di lobi rumah sakit tepatnya di depan lift menuju lantai atas.
Tawa itu berasal dari bibir Sisil yang sudah diberikan kesempatan membalas dendam oleh Farrel, Sisil memakai gaun indah yang dibelikan Farrel, dia terlihat begitu cantik dan menarik. Ada senyum lembut di bibirnya seolah bukan dia yang berbicara tadi.
"Istri orang kaya nomor tiga, hahaha seberapa bergensi gelar itu bagimu. Dasar perebut suami orang, karena ulahmu wanita itu bunuh diri karena anakmu anak wanita itu mengalami depresi akibat tunangannya direbut anakmu. Hasil merampok begitu kau banggakan dasar tidak tahu malu," ungkap Sisil dengan nada suara yang begitu keras.
Wajah Ananta serta Anandita memerah karena malu, Ananta melangkah maju dengan cepat berniat mencelakai Sisil yang telah membuka masa lalunya yang kelam di depan semua orang. Melihat hal itu semua orang menjadi waspada lalu bergegas ke depan melindungi Sisil agar tidak mendapatkan luka.
Sisil berdiri dengan angkuh, ke-dua tangannya terlipat di d**a memandang Ananta rendah penuh kesombongan sama seperti Ananta melihatnya dulu.
"Kenapa? Kau malu aibmu terbongkar, kau malu rahasia kotor yang kau sembunyikan aku katakan di depan semua orang. Memang benar yang dikatakan oleh pepatah kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, seperti ibu seperti anak, sama-sama suka merebut milik orang lain lalu dengan bangga pamer di depan semua orang." Sisil meluapkan semua amarahnya.
Dia awalnya turun ke bawah berniat menuju ke rumah Farrel sesuai janjinya dua hari yang lalu namun, dia tidak tidak menyangka akan melihat Ananta serta Anandita di lobi sedang ribut dengan karyawan rumah sakit.
"Oh, apa kau ada niat merebut milikku juga? Aku kebetulan berkenalan dengan pria kaya bahkan lebih kaya dari tunangan anakmu, mana tahu Ananda memiliki sifat yang sama dengan ibu dan kakak pertamanya." Sisil mengejek sekali lagi sebelum melangkah pergi meninggalkan lobi rumah sakit.
Di sekitarnya ada bodyguard yang mengikuti langkah kakinya, pria kekar itu melangkah dengan tegap melirik sekilas pada Ananta yang terus membuat keributan kemudian mengarahkan pandangan mata ke depan lagi. Ananta merasa senang melihat itu, dia pikir Sherly mungkin tidak ditemani oleh siapapun di lantai atas.
Ananta memberi kode lewat mata pada Anandita, melihat itu Anandita mengangguk dengan cepat lalu bergerak mundur seolah menyerah. Saat karyawan rumah sakit lengah mereka berlari menuju tangga darurat, beruntung mereka ke rumah sakit datang menggunakan sepatu bertumit rendah.
Ke-duanya berlari dengan cepat tanpa peduli pada keselamatan mereka sendiri, Ananta menengok ke arah belakang takut dikejar oleh petugas rumah sakit namun ia tidak melihat bahkan mendengar langkah kaki sama sekali. Karyawan rumah sakit yang menghentikan mereka di lift tadi mencegah petugas keamanan mengejar dengan lambaian tangan.
"Tidak perlu mengejar mereka, lagipula akses menuju VIP hanya bisa dilewati menggunakan lift ini serta tangga darurat yang ada di samping ruang direkrut rumah sakit. Percuma saja mereka ke sana menggunakan tangga itu, membuang waktu serta energi saja mengejar mereka," cegahnya dengan nada suara yang tidak peduli sama sekali.
Petugas keamanan rumah sakit tidak menjawab, mereka hanya berjalan kembali menuju bagian tempat bertugas masing-masing seolah hal yang terjadi barusan hanya iklan lewat saja. Ananta terus berlari bersama Anandita, merasa tidak ada yang mengejar barulah mereka berjalan pelan itupun dengan napas tersengal-sengal.
"Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh, Bu?" tanya Anandita dengan suara nyaris menghilang.
Ia mengeluarkan botol minum yang selalu ia simpan di dalam tas meneguk air di sana beberapa kali lalu menutup kembali botol itu, menyimpan ke dalam tas lalu menatap pada Ananta yang masih berusaha mengambil napas.
Ananta menggeleng karena tidak tahu harus memberikan jawaban apa," Ibu juga tidak tahu, mungkin saja mereka lelah lalu menggunakan lift untuk menunggu kita di depan tangga darurat. Lebih baik kita mempercepat langkah kita sebelum didahului oleh mereka," pesan Ananta.
Ananta berlari dengan kecepatan yang bisa ia lakukan, berbeda dengan Anandita yang berjalan santai di belakangnya. Anandita mendesah di dalam hati namun tidak berani bersuara takut membuat ibunya marah.
Ananda di rumah tengah melihat telepon selulernya, sejak tadi dia merasa bosan ditinggalkan di rumah. Dia berguling-guling di tempat tidur untuk menghilangkan rasa bosan yang tengah ia rasakan sedangkan Adnan tengah berbaring di ranjang Amanda.
"Ibumu sibuk beberapa hari ini, dia selalu marah jika masuk ke kamar menyuruh Ayah mencari keberadaan Sisil." Adnan mengeluh pada Amanda yang saat ini sedang sibuk membersihkan wajahnya.
Amanda menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan lalu melirik pada Adnan. Amanda telah selesai membersihkan make-up yang dipakainya saat ke luar tadi, ia berjalan menuju ke lemari pakaian mengambil baju tidur seksi miliknya.
"Jangan pakai baju!" cegah Adnan cepat saat melihat gaun yang diambil Amanda.
Dengan patuh Amanda meletakkan kembali pakaian yang diambilnya tadi ke dalam lemari, ia membuka bajunya satu-persatu dengan gerakan lambat membuat jakun Adnan bergulir naik turun. Adnan merasa gerah sekaligus haus, ia bangkit dari ranjang berjalan menuju Amanda lalu mendorong Amanda ke meja rias.
Adnan melepas penutup terakhir di tubuhnya yang selalu ia pakai kalau dia berada di rumah. Memperlihatkan rudal miliknya yang telah berdiri dan siap bertempur kapan saja.
Amanda tersenyum, ia melihat Adnan melalui cermin yang ada di meja rias memberikan Adnan tatapan nakal membuat Adnan semakin tergoda.
"Aku ingin anak laki-laki satu lagi tapi sepertinya Ananta tidak bisa hamil lagi. Apa kau mau Amanda? Aku akan memberikan uang yang banyak padamu, lagipula Ananta tidak akan menaruh curiga bukan?" tanya Adnan dengan suara serak di telinga Amanda membuat bulu kuduk Amanda berdiri.
Amanda tampak ragu, ia melihat pada Adnan lama sebelum mengangguk sebagai jawaban lalu melontarkan pertanyaan secara asal. "Bagaimana dengan hak yang akan didapatkan anak itu? Aku takut anak laki-laki Ayah serta ibu tidak akan membiarkan dia mendapatkan haknya sedikit pun."
"Tenang saja, ada beberapa saham yang tidak diketahui oleh mereka. Saham itu atas namamu, jika kau mau mengandung maka aku akan memberikan surat-surat bukti kepemilikan saham itu padamu." Tangan Adnan menjelajahi lekuk tubuh Amanda.