32

1102 Kata
Jemari Adnan terus menggoda, jari tengah kanan Adnan bahkan tengah bermain di lembah tidak berpenghuni milik Amanda. Sesekali jarinya akan ke luar masuk lembah mengeluarkan bunyi aneh yang membuat suasana makin terasa panas. Amanda tampak berpikir lagi, tawaran yang Adnan berikan padanya sangat menggiurkan. Saham perusahaan adalah sesuatu yang tidak pernah Amanda bayangkan seumur hidup ini, Amanda langsung mengiyakan apa yang Adnan inginkan. Adnan yang mendapatkan jawaban langsung tersenyum senang, 'maafkan aku Amanda, tapi ini yang bisa kulakukan untuk mengikatmu di sisiku. Aku jatuh cinta padamu, aku tahu gadis muda seperti dirimu tidak mungkin membalas perasaan pria tua seperti aku. Hanya dengan anak kau akan terikat sama seperti ibumu, Ananta maupun wanita lainnya yang ada di bawah para pria.' Adnan meminta maaf di dalam hati. Ia tersenyum melihat kebahagiaan di mata Amanda, dia sendiri baru menyadari perasaanya saat melihat Amanda pulang diantar oleh pacarnya serta jejak kegiatan intim yang tertinggal di leher Amanda setiap kali Amanda pulang berkencan dengan pacarnya itu. "Aku akan memberikanmu perawatan menjelang kehamilan, untuk sementara kau akan tinggal di apartemen yang ada di sebelah kantorku. Akan ada perawat yang mengatur pola makanmu, serta menjelang kehamilan kau tidak boleh bertemu kekasihmu itu. Apa kau mengerti? Aku takut kau malah hamil anaknya nanti," sindir Adnan. Amanda melirik Adnan dengan keraguan, tapi mengingat yang akan didapatkannya adalah saham Amanda tidak berani menolak Adnan. Jika dia berhasil hamil lalu mendapatkan apa yang Adnan janjikan maka dia tidak perlu bergantung hidup pada Ananta lagi. Dia tidak perlu mengikuti keinginan Anandita seperti seorang pembantu dan yang terpenting dia bisa hidup enak, membeli ini itu tanpa mengemis lagi. Adnan langsung memasuki lembah milik Amanda tanpa menggunakan pelindung lagi, dia menerobos dengan mudah membuat Amanda mendongak karena kesenangan. Adnan yang berpengalaman pada wanita sangat paham trik dan tips yang harus dilakukan untuk menyenangkan Amanda, ia membuat Amanda terbuai akan kesenangan duniawi itu hingga tidak sadar telepon seluler miliknya berdering. "Telepon milikmu berbunyi," bisik Adnan saat melihat nama yang tertera di layar telepon itu. Di sana tertulis nama Ananda, putri ke-dua Adnan dan Ananta. Amanda terlihat ragu, dia melirik pada Adnan yang terus bergerak maju-mundur tanpa henti. "Angkat! Dia tidak tahu kalau kau di rumah kan?" tanya Adnan memastikan, Adnan menyibak rambut Amanda meninggalkan jejak merah basah di sana membuat tubuh Amanda mengejang karena geli. "Tidak, sejak tadi aku di kamar tidak ke luar sedikitpun. Lagipula di rumah ini tidak ada yang peduli padaku jadi mereka pasti tidak tahu aku ada di rumah," jawab Amanda dengan nada menyedihkan. Adnan merasa iba, ia membelai wajah Amanda memberikan kecupan lembut di pipi kanan Amanda lalu menengadah ke atas karena kesenangan yang mereka lakukan," kau angkat saja! Jika dia bertanya dengan suara-suara yang ada katakan saja kau bersama kekasihmu," bisik Adnan lembut sambil mengigit telinga Amanda. Amanda mengangguk, ia mengangkat panggilan Ananda tanpa terburu-buru sama sekali. Di rumah ini, hanya Ananda yang peduli pada Amanda menganggap Amanda seperti kakak kandungnya sendiri. "Kau di mana, Kak? Temani aku berbelanja dong, sekalian kita beli baju kembar." Ananda langsung berbicara saat panggilan mereka terhubung. Amanda berusaha menahan suara memalukan yang akan ke luar dari bibirnya namun Adnan terlihat tidak suka. Adnan bergerak makin cepat membuat Amanda melenguh kesenangan, hal itu membuat rona merah muncul di pipi Ananda. "Ish kenapa kau mengangkat panggilanku jika kau sedang bersama kekasihmu, Kak! Dasar menyebalkan!" gerutu Ananda langsung memutuskan sambungan telepon. Mata Amanda berair penuh keluhan menatap iba pada Adnan yang sengaja menggodanya, ia meletakkan telepon seluler itu di atas meja, ia memejamkan mata kembali menikmati perlakuan Adnan padanya. Ananta sampai di ruang bagian atas tangga darurat terakhir yang bisa dia temukan, di sana begitu hidup dengan lalu lalang manusia berjalan ke segala arah. Hal ini menjelaskan pada Ananta kalau ruangan Sherly bukan di sini. "Sial! Pantas saja para perawat serta penjaga keamanan itu tidak mengejar kita, Bu! Mereka tahu kalau tangga darurat tidak mencapai tempat Sherly berada. Ayo kita cari lift, Bu! Aku sudah tidak sabar memberi mereka pelajaran, beraninya mereka mengambil milikku." Anandita berteriak marah. Suaranya yang menggelegar membuat beberapa orang melihat ke arah ke-duanya dengan pandangan tidak suka. Ada beberapa yang melotot pada ke-duanya karena merasa terganggu oleh keributan yang diciptakan Anandita. Malu, rona merah muncul di pipi Anandita saat semua pasang mata menatap tajam dirinya. Anandita menunduk, ia memegang tangan Ananta agar bisa membimbingnya berjalan menuju lift yang terletak cukup jauh dari posisi mereka berdiri saat ini. "Kau ini! Jangan menurunkan levelmu seperti mereka!" tegur Ananta dengan suara pelan nyaris seperti bisikan. Anandita mengangguk sebagai jawaban, mereka berjalan perlahan menuju lift namun di depan sana telah berdiri beberapa orang yang memakai pakaian petugas keamanan rumah sakit. Apalagi yang bisa dilakukan Ananta selain berbalik mundur menuju tangga darurat kembali, ke-duanya pergi dengan ekor terjepit. Kekesalan tampak tertulis di wajah Ananta saat ke-duanya tidak berhasil menemukan Sherly. Sherly saat ini tengah berbaring di ranjang dingin operasi dalam keadaan tidak sadar, paramedis melakukan pekerjaan mereka dengan sangat teliti. Operasi ini membutuhkan waktu panjang yang tidak bisa ditentukan sama sekali, itu sebabnya Farrel menyuruh Sisil datang menemui dirinya. Sisil telah sampai di depan istana megah Farrel, pintu mobil dibuka perlahan oleh anak buah Farrel menunggu Sisil turun. Sisil turun dengan hati-hati, ia melangkah masuk ke pintu rumah disambut langsung oleh kepala pelayan yang kemarin membawanya ke kamar. "Selamat datang, silakan ikuti saya ke tempat Tuan Farrel berada!" tutur kepala pelayan itu sopan dengan senyum ramah yang tidak pernah hilang di bibirnya. Ini sama persis ketika ia menyambut para tamu yang datang ke kediaman ini meski belum tentu sebagian ke luar dalam keadaan utuh atau bernyawa. "Terima kasih," balas Sisil tidak kalah ramah, Sisil mengikuti langkah kaki kepala pelayan. Mereka menuju ke arah kamar yang telah disiapkan Farrel untuk Sisil kemarin, kepala pelayan membuka pintu kamar menunggu Sisil masuk terlebih dahulu. "Tuan menyuruh Anda menunggu di sini lebih dulu, dia sendiri yang akan menghampiri Anda. Saat ini, beliau sedang ada keperluan yang mendesak." Kepala pelayan menjelaskan, Sisil mengangguk tanda mengerti. Melihat sikap penurut Sisil kepala pelayan yang sudah tua itu tersenyum, dia menutup pintu kamar dengan perlahan saat berbalik aura ramah yang ia berikan menghilang berganti dengan tatapan tajam. Beberapa pelayan muda yang melihat kepala pelayan langsung menunduk ketakutan, pria paruh baya ini sama kejamnya dengan Farrel. Dia hanya akan ramah pada orang yang disukai Farrel atau pada orang yang belum mengenal dirinya dengan baik. Di kamar lain Farrel tengah berbicara dengan beberapa anak buahnya, dia sedang memikirkan cara agar bisa masuk ke negara tempat Angela berada. Semua jalur telah mereka coba namun yang ada hanyalah kegagalan. Mereka akan tertangkap bahkan sebelum bisa menyentuh Angela, keamanan Angela begitu ketat dan canggih memaksa mereka ke jalan buntu tanpa titik terang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN