Farrel mengetuk jemarinya ke paha, dia tampak berpikir keras namun tidak bisa menemukan solusi sama sekali. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Angela, Angela dan Angela saja. Dia menyesal memanfaatkan Angela untuk kepentingan keluarga, dia merasa menyesal membawa Angela kembali ke kota itu.
Andai saja dia tidak membawa Angela ke sana mungkin saat ini mereka adalah keluarga yang paling bahagia di dunia. Farrel terus memikirkan solusi agar bisa bertemu Angela lagi namun jalan untuk ke sana tidak dapat ditemukan kecuali mereka membuat lubang di tanah sejauh ratusan bahkan ribuan kilometer agar bisa muncul di kota itu dengan aman.
Dan hal ini jelas sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan sama sekali, "apa tidak ada solusi yang dapat ditemukan? Aku sangat ingin bertemu dengan Angela," bisik Farrel sendu.
Semua orang kepercayaan Farrel di ruang itu menggeleng, semua hal yang bisa dilakukan sudah mereka coba namun tidak ada hasil yang mereka dapatkan sama sekali. Farrel mendesah, saat itu kepala pelayan masuk di belakangnya ada beberapa orang pelayan yang membawa minuman.
"Dia sudah datang, Tuan! Saat ini dia berada di kamar yang Anda persiapkan," tutur kepala pelayan tulus, kepalanya menunduk memberi hormat lalu mengangguk sopan pada beberapa pria yang ada di dalam ruangan.
Farrel tidak memberikan jawaban, pusing memikirkan solusi tampaknya Farrel membutuhkan sebuah hiburan. "Oh, apakah daging-daging itu telah disalurkan ke setiap tempat? Bagaimana dengan organ yang kita jual belikan?" tanya Farrel sebelum berdiri.
"Daging sudah dikirim ke berbagai restoran, tulang-tulang juga sudah diberikan pada serigala peliharaan Tuan di gunung. Organ itu juga sudah dikirimkan ke berbagai rumah sakit, uang hasil penjualan juga sudah dibagi seperti biasa." Orang yang bertugas melakukan semua itu langsung memberikan jawaban.
Farrel mengangguk tanda mengerti, "bagaimana dengan senjata serta obat-obatan yang kita buat? Apakah masih aman atau ada yang mengganggu lagi?" tanya Farrel lagi ketika ia mencapai pintu.
"Geng Harimau sempat mengganggu tapi, tidak menciptakan masalah yang berarti. Semua masih di dalam kendali kita, Tuan!" jawab pria lain sigap.
Mendapatkan jawaban yang diinginkannya Farrel membuka pintu lalu berjalan ke luar. Semua orang di dalam ruangan baru berani mendesah lega, awalnya mereka mengira Farrel mudah didekati ternyata Farrel menjadi lebih kejam.
"Selagi setia maka hidup kita akan terjaga selamanya, beruntung kita mengikuti dia. Kekayaan yang kita dapatkan jauh lebih banyak dari yang kita dapatkan dulu." Yang lain berbisik, ucapan mereka didengar oleh kepala pelayan yang hanya memberikan senyuman ringan.
Kepala pelayan berjalan ke luar kamar itu diikuti oleh pelayan lain. Dia menuruni tangga menuju ke dapur menyuruh koki menyiapkan makanan untuk Farrel dan Sisil.
"Masak makanan yang lezat! Tuan ingin wanita itu betah di sini, perlakukan wanita itu dengan baik jika kalian tidak ingin mendapatkan masalah yang tidak diinginkan." Kepala pelayan memberikan perintah serta peringatan pada pelayan yang bekerja di sana.
Semua yang mendengar ucapan kepala pelayan memberikan jawaban yang serentak dengan gerakan anggukan kepala, mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing kembali setelah instruksi selesai.
Di dalam kamar Sisil duduk di tempat tidur dengan gugup, ia melihat sekeliling ruangan untuk menetralisir detak jantungnya yang cepat, saat ia melihat pintu terbuka debaran di jantung Sisil juga semakin meningkat. Farrel muncul dari balik pintu, ia memberikan senyum manis pada Sisil.
Farrel berjalan perlahan, ia duduk di sebelah Sisil memegang wajah cantik itu lalu beralih pada leher Sisil yang putih mulus. Farrel menyibak rambut Sisil yang menutupi lehernya lalu mengecup bagian itu membuat Sisil menggelinjang karena geli.
"Bagaimana kau ingin balas dendam pada keluarga itu? Aku akan mengabulkan keinginanmu dengan syarat tubuh ini menjadi milikku," bisik Farrel dengan suara rendah di telinga Sisil.
Wajah Sisil memerah karena tingkah Farrel, bulu kuduk Sisil berdiri namun ia mencoba untuk tetap berani.
"Apakah kau benar-benar bisa membalaskan dendamku? Apa kau bisa melakukan apa saja pada mereka? Aku sangat ingin membalaskan dendam kakak, membuat mereka menerima apa yang telah mereka lakukan tapi, aku juga tidak ingin menyakiti mereka yang tidak bersalah." Sisil berbisik, suaranya nyaris hilang terbawa angin.
Farrel tertawa mendengar ucapan Sisil, dia menggeser tubuhnya perlahan merapat pada tubuh Sisil membawa Sisil ke dalam dekapannya. "Tentu saja aku bisa melakukan apapun terhadap mereka, apa kau tidak percaya pada kemampuan yang aku miliki?" tanya Farrel lembut namun terdengar menakutkan.
Sisil meneguk ludah karena gugup, bukan karena tidak percaya hanya saja dia masih ragu sebab ayahnya memiliki kekuasaan juga di negara ini. Itu sebabnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena suaranya tidak mungkin didengar oleh para penguasa.
"Aku percaya, hanya saja sejak dulu aku tidak memiliki kesempatan itu. Aku hanya ingin mereka merasakan penderitaan yang aku rasakan. Aku ingin wanita itu mengalami hal yang sama seperti ibuku dan anaknya mengalami hal yang sama seperti kakakku. Mereka pantas mendapatkan itu semua," geram Sisil ketika mengingat masa lalu yang pahit itu.
Farrel mendorong Sisil hingga jatuh ke tempat tidur pelan, ia langsung menimpa tubuh Sisil dengan tubuhnya tanpa memberikan beban. Hal ini membuat Sisil merasa gugup, kedua tangan Sisil berada di d**a Farrel tanpa ia sadari.
Ke-duanya saling pandang, mata mereka beradu memancarkan cahaya aneh dengan pikiran lain.
"Aku bisa mengabulkan semua itu, sekarang ayahmu sedang menjalin hubungan terlarang dengan anak angkatnya. Mereka sering bertindak intim melakukan hubungan suami istri di mana saja tapi belum diketahui oleh ibu tirimu. Aku akan menghasut seseorang untuk membuat gadis itu mengambil alih harta keluargamu yang seharusnya diberikan pada adik tirimu yang bodoh itu." Farrel menunduk lalu berbisik kembali ke telinga Sisil.
"Untuk kakak tirimu itu, aku akan mengirim seseorang untuk menggoda tunangannya. Membuatnya hamil, melakukan aborsi serupa lalu membuatnya lebih menderita daripada kakakmu. Kalau ayahmu, kau ingin aku melakukan apa padanya?" tanya Farrel.
Farrel bangkit, ia melepas pakaian yang dikenakannya. Ia ingin melepaskan beban di dalam hati yang sejak tadi terkumpul akibat tidak mendapatkan solusi untuk bertemu dengan Angela. Setelah selesai melepas seluruh kain yang menutupi tubuhnya Farrel melepaskan pakaian Sisil juga.
"Tubuh ini sekarang milikku, aku membalaskan dendammu. Ada syarat lain pula yang harus kau penuhi, kau tidak boleh bersentuhan dengan lelaki lain. Aku tidak melarangmu jatuh cinta padaku tapi aku, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu." Farrel melebarkan kaki Sisil hingga membentuk huruf v lalu memposisikan diri di lembah itu.
Ia melakukan pemanasan singkat lalu memasuki lembah itu kencang membuat Sisil melenguh antara kesakitan serta kenikmatan. Tidak lama kemudian di kamar itu banyak suara terdengar, suara daging beradu satu sama lain dan juga suara campuran pria maupun wanita.
Farrel mencari kesenangan membayangkan kalau yang ia tindih saat ini adalah Angela, gadis manisnya yang penurut serta lembut. Farrel terus menghentak dengan kuat apalagi saat mendengar rintihan Sisil yang menggoda padahal Sisil tidak sadar akan semua itu.