Angela di sisi lain merasakan bulu kuduknya berdiri, ia bersin beberapa kali membuat Alvin khawatir setengah mati.
"Ada apa? Apa perlu kita menghubungi Marco agar bisa memeriksa keadaanmu?" tanya Alvin panik.
Alvin bangkit dari tempatnya bekerja lalu berjalan ke sisi Angela, semenjak kehamilannya Alvin memang memilih bekerja di rumah dibantu oleh Robert, Adera maupun Reda. Ketiga tangan kanan Alvin memang cekatan dalam membantu Alvin hingga Alvin bisa tenang menantikan kelahiran anak kedua mereka.
Angela menggeleng, ia hanya merasa ada seseorang yang tengah membicarakan dirinya. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa ada orang yang berbicara buruk padaku. Itu saja, jadi kau tidak perlu khawatir tentang keadaanku."
Alvin melihat jam di dinding, malam sudah semakin larut jadi wajar jika Angela merasakan kedinginan. "Ayo tidur! Aku yang salah, harusnya setelah kau bangun dari tidurmu aku tetap di kamar bukan malah membawamu ke ruang kerja begadang bersamaku." Alvin merasa menyesal.
Ia membantu Angela berdiri dari sofa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Mereka berjalan ke kamar tidur yang terletak di sebelah ruang kerja di lantai bawah, semenjak pindah ke lantai bawah memang ada ruang kerja tambahan yang dibuat Alvin hingga ia tidak perlu susah naik turun tangga bila dibutuhkan oleh Angela.
Alena di sisi lain masih terjaga, ia sekarang sedang menonton televisi sedangkan Adera sudah tertidur nyenyak di tempat tidur tampak kelelahan. Alfred di sisi lain duduk didekat Alena menemaninya tanpa rasa lelah sedikitpun.
"Kau lapar?" tanya Alfred saat melihat Alena terus memakan cemilan yang ada.
"Tidak! Aku hanya ingin makan ini saja, kalau kau mau kau bisa membantu memotong buah itu untukku." Alena menunjuk apel yang ada di atas meja dekat sofa, apel itu tampak memikat bagi Alena sejak tadi.
Alfred bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan menuju ke arah yang ditunjuk Alena mengambil apel paling besar beserta pisau buah yang ada di sana. Dengan teliti Alfred mengupas kulit apel, memotong apel kecil-kecil, mencucinya baru kemudian ia menyerahkan apel itu pada Alena.
"Terima kasih," bisik Alena dengan senyum gembira.
Alena mengambil apel yang sudah dipotong itu satu-persatu memakan semuanya hingga habis tanpa menyisakan satu potong pun untuk Alfred.
"Apa menurutmu aku ini menyedihkan, Al? Apa karena aku lemah hingga paman membenciku, merasa aku menjadi beban baginya. Atau karena aku mempunyai masa lalu yang kelam itu sebabnya dia merasa aku tidak cocok dengannya yang kuat." Alena tanpa sadar bertanya pada Alfred yang ingin berpura-pura menyedihkan karena tidak diberi sepotong apel pun oleh Alena.
Satu alis Alfred naik ke atas ketika mendengar ucapan Alena, bagi Alfred Alena bahkan terlihat manis dan menggemaskan. Apa yang Alena lakukan semuanya menarik baginya jadi Alfred tidak terlalu memperhatikan apakah ada kekurangan Alena di matanya.
"Tidak tahu, pikiran setiap orang berbeda-beda, kita tidak bisa menentukan isi hati mereka dari sikap dan wajahnya." Alfred menjawab apa adanya.
Hal ini memang benar, siapa yang bisa memikirkan apa yang ada di otak orang lain. Kadang saat tersenyum di dalam hati bisa jadi ia tengah mengumpat, kadang saat menangis bisa jadi di dalam hati ia tertawa.
"Aku ingin menyerah tapi hatiku masih menolak berbeda dengan pikiranku yang sudah mulai lelah dengan sikap yang ia berikan. Aku tidak ingin bersaing dengan adikku sendiri, kalau itu orang lain mungkin aku akan tetap melangkah maju." Alena menatap jauh ke depan, entah apa yang ada di dalam otaknya.
"Kau pintar, Al! Bagiku, apa yang menjadi pilihanmu adalah yang terbaik. Apa pun yang kau pilih aku akan tetap mendukung dirimu begitu juga tantemu. Begini saja, karena sekarang semuanya belum jelas lebih baik kau jangan mundur dulu tapi kalau memang sudah pasti ia mencintai Aleta maka barulah kau mundur. Lihat saja dulu," bisik Alfred lembut.
Alfred menggosok kepala Alena dengan penuh kasih sayang membuat Alena mendelik tajam. Senyum terbit di bibir Alfred melihat itu, ia berjalan ke kaki ranjang. Menurunkan ranjang Alena lagi agar Alena beristirahat karena jam di dinding telah menunjukkan pukul empat pagi.
Alena tidak melawan, ia membiarkan Alfred membantunya, setelah ranjang turun kembali ke posisi biasa, Alena memejamkan mata setelah ia berhasil menarik selimut hingga ke lehernya. Alfred berjalan ke sofa panjang di kamar, ia berbaring di sana lalu ikut memejamkan mata.
Suasana kamar tempat Alena dirawat langsung berubah hening, kedamaian di dalam ruangan itu terasa menenangkan.
Pukul dua belas siang Alena telah diizinkan pulang ke rumah karena tidak ada luka fisik maupun hal lain yang diperlukan. Alena diminta untuk menjaga kondisi kesehatannya serta tidak terlalu memikirkan masalah, selain itu Alena diminta untuk menemui psikiater agar bisa mencurahkan beban di hatinya akibat trauma yang dia alami dulu.
Alfred mengemas semua barang-barang yang dibawanya kemarin, dia bersama Adera membantu Alena ke mobilnya kadang akan ada candaan garing yang dikatakan Alfred untuk bisa menciptakan tawa di bibir Alena.
"Asal Tante tahu saja karena dirinya aku memakai sendal belang kemarin." Alfred berbicara dengan nada menyedihkan.
Memang benar, ia kemarin memakai sendal rumah secara asal. Ia di rumah biasanya lebih suka bertelanjang kaki karena di rumahnya ada karpet lembut hanya di beberapa bagian tertentu saja dibutuhkan sendal rumah itu.
Karena mendapatkan kabar buruk ia memakai sendal dengan tergesa-gesa dan tanpa sadar sebelah sendal yang ia kenakan adalah sendal berbulu milik Alena yang memang diletakkan di sebelah sendal miliknya.
"Hahahaha ... kapan kau sadar sendal yang kau gunakan belang?" tanya Adera tanpa menahan tawa sama sekali membuat beberapa pasang mata melirik ke arah mereka.
"Ketika aku ke luar kamar saat Aleta beserta pamannya datang. Saat itu aku berjalan ke kantin, ada petugas rumah sakit yang baik hati memberitahu diriku." Alfred membuka pintu bagian belakang membiarkan Alena masuk bersama Adera baru menutup pintu mobil.
Semua barang-barang yang ia bawa disimpan di bagasi dengan rapi baru Alfred masuk ke bagian pengemudi untuk mengantar Alena pulang ke rumahnya. Alfred mengemudi dengan kecepatan sedang, ia masih banyak bicara tapi tidak mengalihkan pandangannya dari jalan.
Sesampai di rumah keluarga besar Alena, Alfred disambut oleh orangtua Alena dengan tangan di pinggang.
"Bagus, beraninya kalian berdua tidak memberitahu aku kalau Alena masuk rumah sakit kemarin. Apa kalian pikir Alena tidak memiliki keluarga lagi?" Ibu Alena berdecak, ia melangkah maju menuju Alfred dan Adera bersiap memberikan ceramah panjang lebar.
Akan tetapi niatnya terhenti kala melihat senyum dan tawa Alena akibat ucapan serta tingkah konyol Alfred. Dia memilih menatap tajam Adera namun malah diabaikan oleh Adera yang terlihat lebih peduli pada Alena.
Ibu Alena mendesah, kebahagiaan Alena lebih penting dari kemarahannya saat ini. Alena melihat ibunya lalu tersenyum, ia membuka tangan meminta dipeluk membuat kemarahan itu benar-benar menguap di udara.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa perlu kita mencari psikiater terbaik agar kau baik-baik saja ke depannya?" Ibu Alena bertanya dengan nada lembut.