35

1151 Kata
Sudah lama Alena tidak bersikap manja pada mereka, Alena bahkan tidak pernah berbicara tentang sekolahnya. Melakukan pembelaan diri saat dimarahi meski terkadang itu bukan kesalahannya, sejak awal memang mereka tidak terlalu memperhatikan perubahan Alena setelah kejadian itu. Alena sering dibentak, dimarahi bahkan dikurangi jatah jajan sekolah akibat pengaduan Aleta ataupun adiknya yang lain. Air mata ibunya jatuh ketika ia mengingat perlakuan yang telah ia berikan pada Alena, kadang ia akan memarahi Alena yang tidak mau berkumpul bersama keluarga. "Pasti berat kan?" tanya ibunya ambigu. Alena menggeleng, ia tersenyum meski air matanya tak henti-hentinya jatuh. Alena tidak pernah mendendam, sesakit apapun hatinya, sepedih apapun lukanya Alena akan tetap tersenyum. "Maafkan Ibu yang tidak pernah mengerti dirimu! Maafkan Ibu yang tidak bisa memahami penderitaan yang kau alami! Ibu benar-benar minta maaf," bisik ibunya lagi. Aleta di sisi lain menunduk, dulu saat kecil ia selalu merasa iri dengan ketenangan, kedewasaan yang selalu Alena perlihatkan pada mereka. Ia merasa iri dengan prestasi yang Alena dapatkan, pujian yang sering ia dengar. Akan tetapi semuanya berubah saat dia beranjak dewasa, Aleta mulai mengubah sikapnya. Ia mulai sadar kalau Alena sering mengalah, apalagi saat tragedi buruk itu terjadi. Alena sadar kalau Alena selalu mengalah padanya. "Bu, Alfred sudah mencarikan diriku psikiater terbaik. Aku yakin dalam waktu dekat pasti akan ada perubahan, maafkan aku telah menyusahkan kalian semua!" ujar Alena tulus. Perkataan Alena semakin membuat rasa bersalah menyeruak ke dalam hati Aleta, begitu besar ketulusan Alena hingga rasa sakit yang ia terima bukan apa-apa baginya. "Kak! Aku minta maaf, aku sering menyebabkan masalah bagimu. Aku sering membuatmu disalahkan, dimarahi dan bahkan dibentak oleh ibu. Aku benar-benar tidak berniat membuatmu disalahkan, aku iri padamu dulu." Aleta dengan jujur mengakui kesalahannya. Alena tersenyum, menghapus air matanya yang jatuh lalu memeluk Aleta erat dalam dekapannya. "Aku tidak pernah marah padamu, seperti apapun sifatmu bagiku kau tetap adikku yang manis dan baik hati. Bu! Aku akan ke kamar beristirahat, tolong usir pria malang ini ke luar dari rumah kita!" tunjuk Alena pada Alfred. Alfred mendelik, meski begitu ia meletakkan barang-barang Alena di lantai lalu berjalan ke sofa tanpa disuruh. Ia duduk manis di sana layaknya tamu yang diundang untuk datang. "Ckckckck, dasar tidak tahu malu," ejek Alena lalu ia melangkah menaiki tangga menuju ke lantai dua. Sedetikpun ia tidak melirik pada Robert yang sejak tadi berdiri di sisi Aleta, ia tidak terburu-buru menaiki tangga. Senyum di bibirnya juga menghilang berganti dengan raut wajah lelah, di belakang Adera menyusul Alena sembari membawa barang-barang Alena. Alena masuk ke kamar yang sudah lama tidak ia tinggali, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur membiarkan Adera menyusun semua yang dibawanya tadi. "Jangan menyimpan rahasia di dalam hati lagi! Kau tidak sendiri, ada aku yang selalu menjaga dan melindungi dirimu. Tidak akan kubiarkan kau terluka oleh siapapun bahkan jika itu diriku sendiri," tutur Adera lembut penuh kasih sayang. Alena mengangguk sebagai jawaban, ia memejamkan mata dan tanpa sadar tertidur begitu saja. Adera yang telah selesai mengemasi semuanya langsung berjalan menuju tempat tidur, ia menarik selimut lalu mengecup kening Alena sebelum ke luar. Di depan kamar Adera bertemu dengan Robert yang datang membawa makanan di tangannya. "Kau terlambat, Kak! Dia sudah tidur, mungkin makanan itu bisa kau berikan ketika dia bangun nanti. Satu hal lagi, jangan terlalu dekat dengan Alena lagi. Kau tidak perlu berpura-pura baik padanya," pesan Adera sebelum berlalu pergi meninggalkan Robert begitu saja. Aleta di sisi lain juga ke luar dari kamarnya, ia mendekat pada Robert lalu menepuk bahu Robert seolah menguatkan lalu berjalan menuruni tangga. Robert masuk ke dalam kamar Alena, ia menemukan Alena sedang tidur nyenyak. Ada senyum di bibir Alena seolah dia tengah menikmati mimpi yang begitu indah, Robert meletakkan makanan itu di atas meja, dia berdiri di sisi tempat tidur cukup lama menatap wajah tenang Alena. Damai, Alena tampak begitu tenang kali ini. Mungkin karena beban berat di hatinya telah terangkat atau mungkin karena pengaruh obat yang diberikan pihak rumah sakit. Robert ingin mendekat namun ia urungkan niat itu setelah melihat wajah Alena mengernyit seolah akan menangis. "Farrel," bisik Alena lembut namun masih bisa didengar oleh Robert. Hal ini sukses membuat Robert mengernyit bingung, setahu Robert Alena tidak memiliki teman bernama Farrel. Firasat buruk merasuki hati Robert saat mendengar Alena menyebutkan nama musuh Alvin ini. "Jangan membunuh lagi!" Sekali lagi Alena mengigau, kali ini apa yang Alena katakan cukup keras, "yang kau lakukan membuatku takut." Robert merasa debaran di jantungnya semakin kencang, pikiran buruk melayang di dalam pikirannya kala mendengar kata-kata yang Alena ucapkan dalam mimpi. Robert mengambil nampan itu kembali, ia bergegas ke luar ruangan meletakkan nampan itu sembarangan lalu mencari keberadaan Adera. Lama Robert mencari hingga ia menemukan Adera tengah mendapatkan ceramah agama dari orangtua mereka di rumah utama. Tanpa basa-basi Robert menarik tangan Adera memaksanya untuk ikut bersama. Adera di sisi lain yang merasa telah diselamatkan oleh Robert hanya mengikuti dengan santai, Adera ditarik oleh Robert menuju ke taman belakang rumah utama. "Mana laptopmu?" tanya Robert sembari mengulurkan tangan. Adera mengernyit namun ia tetap mengambil sesuatu dari tas sandang dua yang sejak tadi tidak dilepas oleh Adera. Ia mengeluarkan laptop itu dengan tampang tidak rela terbukti dari bibirnya yang mengerucut membuat ia tampak jelek. "Kau kan punya laptop sendiri, Kak! Kenapa masih meminjam milikku?" tanya Adera. Robert tidak menjawab, ia mengambil laptop itu lalu duduk di sembarang tempat. Ia menghidupkan laptop melakukan sesuatu terlebih dahulu baru mulai mengetik di laptop dengan kecepatan tinggi. Beberapa layar Cctv muncul di layar laptop dengan cepat, hal ini menunjukkan kemana saja Alena pergi selama beberapa bulan ini namun sedikit pun tidak ada petunjuk tentang pertemuan Alena dengan orang lain selain mitra bisnis mereka. "Ada apa, Kak?" tanya Adera ikut gusar saat melihat kecemasan yang tidak pernah Robert tampilkan di depan siapa saja. "Aku merasa Alena bertemu Farrel, dia juga mengigau seolah dia bertemu dengan pria itu melihatnya sering membunuh dan Alena mencoba membujuk pria itu untuk berhenti." Robert terus memeriksa rekaman Cctv namun tidak ada petunjuk apapun yang dapat dia temukan. Robert merasa kesal karena ia kecolongan padahal selama ini dia selalu mengawasi kemana Alena maupun Aleta pergi. Adera di sisi lain ikut bingung padahal Alena tidak pernah melakukan perjalanan apapun selain perjalanan bisnis. Adera teringat mimpi buruk yang Alena alami di rumah sakit, tentang dia dikurung oleh seorang pria di sebuah mansion mewah. Firasat buruk juga menyerang pikiran Adera membuat rasa khawatir meningkat. "Apa kau menemukan sesuatu yang aneh, Kak? Aku akan menghubungi Alfred menanyakan apakah saat Alena pergi bersamanya Alena pernah menghilang?" Adera mengeluarkan ponsel hendak menghubungi Alfred namun dicegah oleh Robert cepat dengan menarik tangan Adera. "Tidak perlu, selama pergi dengan Alfred Alena tidak pernah kemanapun selain ke pertemuan dan hotel tempatnya menginap." Robert mengatakan apa yang dia tahu. Mendengar ini Adera menghembuskan napas lega, tapi lagi-lagi ada sesuatu yang menganggu pikirannya. "Lalu kenapa dia bisa memimpikan hal-hal aneh itu? Apa itu pertanda kalau suatu hari nanti Alena akan bertemu Farrel dan mengalami semua itu?" Adera bertanya dengan rasa ingin tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN