36

1107 Kata
Adera mengetuk di layar ponsel mencari penjelasan tentang apa yang Alena mimpikan hari ini. Dia mengetik di internet tentang perihal itu dengan judul, mimpi atau merasa pergi ke suatu tempat padahal belum pernah ke sana sama sekali. Apa maksudnya? Adera mencari sekedar iseng namun anehnya ada jawaban yang ke luar membuat Adera mengernyit bingung. Déjà Vu Déjà Vu adalah perasaan ketika kamu yakin pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian sebelumnya, kamu merasa peristiwa itu sudah pernah terjadi dan berulang lagi. Hal ini juga dirasakan dengan perasaan familiar yang kuat seperti, takut dan merasa aneh. Padahal, kamu memang benar-benar belum pernah mengalami peristiwa tersebut sebelumnya. 2. Déjà Vécu Déjà Vécu adalah perasaan yang lebih kuat dari Déjà Vu. Jika Déjà Vu adalah kita sudah pernah suatu hal sebelumnya, tetapi Déjà Vécu kita akan mengetahui peristiwa tersebut jauh lebih detail, seperti mengingat wangi-wangian di lingkungan tersebut dan suara-suara pada kejadian tersebut. 3. Déjà Visité Déjà Visité adalah perasaan yang tidak biasa dimana kita merasa mengenal suatu tempat padahal sebelumnya kita tidak pernah mengunjungi tempat tersebut. Kalau Déjà vu berhubungan dengan peristiwa, sedangkan Déjà Visité berkaitan dengan tempat atau geografi. NB : informasi di atas didapatkan melalui pencarian di internet Adera memperlihatkan temuan yang didapatnya pada Robert membuat Robert mengernyit, dia sebenarnya tidak percaya pada semua ini namun beberapa orang yang pernah mengalami menunjukkan kalau kejadian ini memang ada. Bingung, Robert hanya mampu menghela napas. Apa Alena pernah mengalami atau akan mengalami ini mereka hanya mampu untuk waspada sebab keberadaan Farrel sampai saat ini masih menjadi misteri yang tidak bisa mereka pecahkan. Robert memeriksa keamanan di sekitar tempat ini namun pikiran tentang Alena akan bertemu dengan Farrel dan tampak dekat membuat Robert merasakan ketidaksukaan. Robert mengeluarkan apa yang tadi dilakukannya lalu mulai membersihkan laptop Adera mematikan benda itu baru menyerahkannya kembali. Adera menyimpan laptopnya kembali, dengan mengendap-endap Adera berhasil ke luar dari rumah besar itu. Ia berhasil mencapai jalan utama untuk mencari keberadaan angkutan umum ataupun taksi yang bisa membawanya ke rumah Alvin. Tanpa mereka sadari mereka akan benar-benar kehilangan jejak Alena suatu hari nanti, Alena akan menghilang dari hadapan mereka dan membuat mereka kebingungan mencari keberadaannya. Adera sampai di rumah Alvin dengan selamat, di depan pintu ia bertemu dengan Reda yang sedang membawa beberapa file penting. "Apa kabar?" sapa Reda ramah. Adera berhenti, ia melirik penampilan Reda yang sekilas hampir mirip dengan pria dingin yang dia temui beberapa hari yang lalu. Namun Reda di depannya memiliki tampilan dan aura yang berbeda membuat Adera menepis apa yang ia pikirkan sejenak itu. "Aku baik! Kau sendiri apa kabar? Bekerja seperti ini apa tidak membuatmu lelah? Kenapa tidak mencari pekerjaan lain?" pancing Adera asal. "Sama seperti dirimu yang menyukai pekerjaanmu saat ini aku juga seperti itu." Reda menjawab dengan asal tapi itu mengenai hati Adera. Wajahnya berubah masam dengan bibir mengerucut kesal. Ia memilih mengabaikan Reda, meninggalkan pria itu sendirian di depan pintu dengan mata masih melihat punggung Adera sampai itu tidak terlihat lagi. "Benar-benar wanita yang tidak punya hati," bisik Reda parau, ia berlalu pergi meninggalkan mansion mewah Alvin untuk mengantarkan dokumen itu. Lelah, letih dan juga tidak memiliki tenaga, Alena merasa dirinya benar-benar dikurung di tempat asing tanpa bisa menghirup udara dengan bebas. Aroma darah yang begitu kuat di udara membuat Alena merasa ingin muntah. Alena melihat berbagai bentuk tubuh manusia yang sudah tidak utuh di dalam ruangan yang ia masuki. Di atas meja masih ada wanita yang tengah disiksa, mata wanita itu terlihat kosong tanpa kehidupan sama sekali namun yang lebih anehnya napasnya masih ada. Itu dapat dilihat dari dadanya yang masih naik turun meski lemah. "Kau harus terbiasa dengan ini, Sayang!" bisikan lembut itu membuat Alena merinding, bulu kuduknya berdiri tanpa dia sadari. Alena terlihat begitu ketakutan karena tanpa sadar ia melangkah maju saat mendengar suara itu. Alena melihat ke belakang, ia melihat mata tajam itu menatapnya lapar seakan bisa memakan dirinya kapan saja. Alena ketakutan, saat ia memegang perutnya Alena menemukan sesuatu yang aneh. Perutnya tampak membesar seperti ia tengah hamil dan hanya beberapa bulan lagi akan melahirkan. Alena mengernyit bingung, ia tidak menikah ataupun melakukan hal intim dengan laki-laki tapi kenapa dia bisa hamil seperti ini. Alena melihat pria di depannya ingin bertanya anak siapa yang di kandungnya namun melihat tatapan tidak suka pria itu pada perutnya Alena mengurungkan niatnya. Ia memilih diam lalu menunduk namun ia memekik keras kemudian karena banyak tulang di bawah kakinya. "Kau masih belum terbiasa dengan ruangan ini rupanya. Baiklah, karena kau sedang hamil dan ini bisa membuatmu berada dalam bahaya sebaiknya aku membawamu ke kamar kita saja." Pria itu berbisik pada Alena lalu menggenggam tangan Alena erat membawa Alena ke luar dari ruang kebahagiaan itu. Alena dibawa ke kamar waktu itu, dia kembali dikurung di dalam sana tanpa diberikan waktu untuk membantah. "Farrel lepaskan aku!" teriak Alena keras namun teriakannya tidak sampai ke luar ruangan karena kamar itu didesain kedap suara. Malam harinya Alena terbangun, Alena merasa sangat lelah padahal dia hanya berbaring di tempat tersebut tidur saja. Alena membersihkan tubuhnya lalu turun dari lantai dua menuju meja makan di lantai pertama. Alena memeriksa apa yang ada di meja makan lalu memilih makanan yang ia suka. Alena makan sendiri, di kejauhan orangtua Alena memperhatikan tingkah Alena dengan air mata berlinang. "Aku ibu yang paling buruk di dunia ini." Clara mendesah, ia menatap iba pada Alena yang selama ini berjuang sendirian. "Kau ibu paling hebat Clara, lihat anakmu itu! Jika dia tidak memiliki sifatmu mungkin Alena sudah lama menyerah dan memilih bunuh diri." Andreas suami Clara memeluknya erat. Andreas tahu jelas tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan di sini karena dia sendiri tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Andreas juga merasa semua adalah kesalahannya, kesalahan atas kurangnya kepedulian yang ia berikan terhadap putra-putrinya. "Aku ingin mendekap Alena mengatakan padanya kalau dia tidak sendirian di dunia ini hingga dia bisa bercerita pada kita semua, tapi aku takut. Aku takut Alena menganggap apa yang aku katakan ada upaya untuk mengurangi rasa bersalah di hatiku." Clara memeluk lengan Andreas mengutarakan apa yang menjadi beban pikirannya beberapa hari ini. Clara merasa bersalah, meski menyayangi putrinya serta memberikan yang terbaik untuk mereka tidak ayal dia sering memarahi Alena lebih banyak dari yang lain karena Alena adalah anak pertama yang harus memberikan pengajaran untuk adik-adiknya. Kadang Alena akan diajarkan cukup keras agar Aleta dan Azra adik Alena paling bungsu dapat memahami aturan. Alena selalu menunjukkan sikap yang baik, menjadi anak yang penurut serta menjadi kakak yang baik bagi Aleta dan Azra. Alena tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, mengeluh atas apa yang diadukan Aleta dan Azra. Alena bahkan sering menjadi korban kenakalan keduanya namun dengan sabar Alena hanya akan menasihati ke-duanya lalu membereskan kekacauan yang mereka buat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN