37

1111 Kata
Pagi-pagi sekali Amanda bangun dari tidurnya, ia membersihkan kamar seperti biasa lalu mandi. Setelah memakai pakaian bagus, Amanda memasukkan beberapa barangnya ke dalam koper, cukup lama barulah Amanda keluar kamar dengan koper di tangannya. Ia mencari keberadaan Ananta yang saat ini sedang sarapan pagi bersama seluruh anggota keluarganya, melihat kedatangan Amanda Ananta mengernyit tidak suka. "Kenapa kau ke sini? Bukankah aku sudah mengatakan padamu kau harus menunggu kami selesai makan baru kau turun untuk sarapan." Ananta terlihat tidak suka, ia memang mengadopsi Amanda karena tuntutan kakaknya namun semua itu tidak melalui jalur hukum. Ananta memperlakukan Amanda berbeda dari yang lain bahkan kerap kali Amanda harus melakukan pekerjaan rumah agar bisa makan dengan tenang di rumah ini. Amanda bahkan sering menjadi pelampiasan kemarahan Anandita atau melayani nafsu Atlanta di bawah bentakan Ananta. Ya, Amanda memang diperlakukan sangat tidak adil di rumah itu. Amanda berbohong pada Adnan kalau yang merebut keperawanannya adalah pacarnya padahal itu semua dilakukan Atlanta karena Amanda memergoki Atlanta dan Ananta sedang melakukan pemanasan di kolam renang. Ananta memaksa Amanda melakukan semua itu merekam adegannya dengan Atlanta untuk dijadikan ancaman. "Aku ingin pamit pada, Ibu! Aku akan bekerja ke luar kota mungkin tidak akan pulang ke sini lagi." Amanda menunduk, ia takut kebohongannya akan diketahui oleh Ananta yang kejam. "Baguslah, dengan begitu kamar itu bisa digunakan untuk keperluan lain. Sekalian saja kau tidak pulang lagi ke rumah ini, kehadiranmu di sini hanya sebagai pengganggu. Lagipula hutang janjiku dengan ibumu sudah terpenuhi sejak lama." Ananta menggerakkan tangan dengan tidak peduli. Amanda mengangguk, ia mundur lalu pergi menjauh dari ruang makan menuju pintu utama. Saat akan membuka pintu ia mendengar suara seperti orang berlari, Amanda berbalik hanya untuk menemukan Ananda mengejarnya dengan napas tersengal-sengal. "Kak tunggu sebentar!" teriak Ananda keras. Ananda berhasil berhenti di depan Amanda, ia menunduk untuk mengambil napas sebelum berdiri dengan benar. Ananda memeluk Amanda erat sebelum melepas pelukan itu dengan wajah tidak rela sama sekali. "Kakak hanya pergi bekerja kenapa kau memiliki ekspresi seperti itu," goda Amanda sambil mencubit pipi Ananda lembut penuh kasih sayang. "Tapi kakak tidak akan pulang dalam waktu dekat, aku tidak akan memiliki teman bercerita lagi. Maafkan ibu ya, Kak!" Ananda menunduk lagi karena merasa bersalah. "Tidak apa-apa, bagiku semua yang ibu katakan tidak terlalu kumasukkan ke dalam hati. Jaga dirimu baik-baik! Jangan terlalu dekat dengan lelaki karena pikiran mereka tidak bisa kita baca." Amanda mengingatkan Ananda yang dibalas dengan anggukan. Amanda mencium pipi Ananda lalu ke luar dari rumah itu dengan langkah pasti. Ia akan membalas Ananta atas apa yang telah mereka lakukan selama ini padanya, dia juga sudah berhasil menghapus rekaman itu sehingga Ananta tidak bisa mengancam dirinya lagi menggunakan video itu. Amanda pergi ke apartemen yang dibelikan Adnan untuknya, apartemen yang terletak bersebelahan dengan kantor Adnan itu memiliki ukuran besar serta memiliki fasilitas keamanan canggih serta perabotan di dalamnya adalah perabotan mahal. Amanda tampak puas, "mulai hari ini Amanda yang lemah tidak ada lagi, Amanda yang sekarang adalah Amanda kuat yang akan membalas Ananta sialan itu. Aku akan membuat dia jujur atas apa yang menimpa ibuku, hingga membuat ibuku masuk penjara." Amanda merapikan barang-barang yang ia bawa lalu duduk manis di ranjang sembari memainkan ponsel. Tidak lama pintu apartemen Amanda dibuka dari luar, ternyata yang datang adalah Adnan. Adnan melihat ruang tamu serta ruang televisi yang sepi, ia melangkah menuju kamar utama di apartemen itu menemukan Amanda sedang duduk manis sembari bermain ponsel. "Jangan bermain ponsel terus, radiasi yang diciptakan tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik kau bermain dengan tubuhku saja," goda Adnan setelah ia berhasil sampai di sisi Amanda. Adnan menyentuh puncak kembar Amanda mencubitnya keras membuat bulu kuduk Amanda berdiri. Adnan tampak puas dengan reaksi yang diberikan Amanda, Adnan meletakkan tas kerja, jas serta pakaiannya dengan rapi di atas sofa. Adnan merebut ponsel Amanda meletakkan telepon seluler itu di atas meja samping tempat tidur lalu mendorong tubuh Amanda ke tempat tidur. Rok seksi yang Amanda pakai tersingkap memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih. "Apa ibu tidak akan curiga nanti dengan hubungan kita, Yah?" tanya Amanda sengaja memancing. Adnan tampak tidak peduli, ia masih sibuk memegang paha Amanda bahkan tangannya menjelajah sedikit lebih dalam. "Jangan memanggilku ayah lagi, jika kau memanggilku ayah lalu anak kita memanggilku apa nanti?" tanya Adnan dengan tangan langsung merobek penutup lembah Amanda. "Lalu aku harus memanggil apa? Tidak mungkin aku berteriak hei," tukas Amanda kesal karena lagi dan lagi celana dalamnya menjadi korban keganasan Adnan. "Mas atau kau sebut namaku saja juga boleh." Adnan menjawab dengan sungguh-sungguh. Pagi itu Adnan menikmati keindahan Amanda membuat Amanda mengerang terus menerus menyebut namanya. Adnan tampak puas saat dia mendapatkan kesenangan tanpa takut ketahuan Ananta lagi, sepanjang hari itu Adnan menemani Amanda di apartemen baru itu. Adnan bahkan memilih untuk tidak pulang dengan alasan banyaknya pekerjaan di kantor. Ananta di sisi lain tidak terlalu ambil pusing, selama ini Adnan juga sering tidur di kantor jadi dia hanya melempar ponsel secara asal lalu berjalan ke kamar ujung di mana kamar Atlanta berada. Ananta mendorong pintu menemukan Atlanta tengah menonton sebuah video dengan tangan di dalam selimut. "Kau datang? Kemana suamimu?" tanya Atlanta tanpa panggilan ibu seperti biasa yang ia lakukan ketika ada orang lain. "Dia di kantornya, kau menonton video itu lagi? Apa tidak bosan?" tanya Ananta sambil menaiki tempat tidur. Baju transparan seksi yang Ananta kenakan membuat tenggorokan Atlanta terasa kering, ia menarik Ananta mendekat lalu meremas bukit kembar Ananta keras. "Wanita seperti dirimu tidak pernah puas akan lelaki dan harta. Bahkan kau mau naik ke tempat tidur anakmu sendiri," ejek Atlanta saat dirinya merobek pakaian tidur Ananta. Ananta tertawa, "kalau aku puas maka kau tidak akan menikmati kekayaan serta kemewahan ini. Dengan aku membohongi Adnan mengatakan kau anakku apakah Adnan akan memberikan dirimu fasilitas mewah ini?" tanya Ananta dengan tawa lebar yang menyeramkan. Atlanta menaiki tubuh Ananta memberikan Ananta kepuasan serta kesenangan. Ini adalah perjanjian yang dibuat Atlanta dengan Ananta, setelah puas Atlanta melepaskan diri dari Atlanta. Ia berbaring di sebelah Ananta menikmati sisa-sisa pelepasan dengan Ananta terbaring kelelahan. "Amanda sudah pergi lalu siapa yang akan menggantikan dia jika Adnan ada di rumah? Aku ingin kau mencarikan aku gadis baru, jika tidak kebohonganmu akan kubongkar." Atlanta berbicara dengan nada penuh penekanan. Ananta mendengus, ia sedang memikirkan siapa yang akan diberikan pada Atlanta. Harusnya sebelum membiarkan Amanda pergi Ananta memikirkan ini terlebih dahulu, sekarang semuanya menjadi kacau baru ia merasa bingung. "Aku akan mencari pembantu muda untuk melayanimu menggantikan Amanda tapi kau harus ingat satu hal. Kau tidak boleh jatuh cinta padanya karena tubuhmu hanya milikku, mengerti?" Ananta berkata dengan penuh penekanan. Atlanta mengangguk sebagai jawaban, dia tidak bisa menolak Ananta karena dia tahu Ananta adalah perempuan yang kejam dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN