Ananta mengendap-endap ke luar kamar Atlanta, ia berlari menuju kamarnya. Masuk ke kamar mandi Ananta melihat tubuhnya dengan hati-hati, setelah memastikan tidak ada keriput di tubuhnya barulah Ananta mandi lalu berbaring di tempat tidur.
Ananta memejamkan mata dengan tenang tapi dia tidak tahu kalau badai besar akan datang dalam keluarganya. Rumah harmonis yang ada akan segera hancur berkeping-keping meninggalkan kekosongan serta kebohongan yang ia ciptakan selama ini.
Pagi-pagi sekali Adnan bangun, ia memberikan sentuhan ringan di kening Amanda lalu masuk ke kamar mandi. Adnan walaupun memiliki tiga anak tapi masih tampak energik dan sehat. Maklum saja, Adnan memang menikah muda dan kelahiran anaknya hanya berjarak setahun saja.
Itu sebabnya Amanda masih mau bersama Adnan karena Adnan masih belum terlalu tua ditambah Adnan selama ini selalu memberikan ia perhatian yang lebih sehingga rasa cinta Amanda pada Adnan timbul. Adnan selesai mandi, ia membuka lemari pakaian menemukan baju yang akan ia kenakan lalu mengambil tas kerjanya di sofa.
"Aku akan berangkat kerja, nanti siang akan ada pembantu yang membersihkan rumah dan memasak untukmu. Di sore hari pembantu itu akan pergi sehingga kau tidak perlu merasa canggung, aku akan pulang cepat." Adnan berbisik lalu mengecup kening Amanda pamit untuk pergi bekerja.
Amanda mengerang bingung, ia membuka mata lebar-lebar menaikkan selimut sampai ke lehernya. "Kau tidak pulang lagi? Kalau Ananta curiga bagaimana?"
Adnan tertawa, dia menarik selimut Amanda yang memperlihatkan bukit kembar Amanda serta bekas ungu merah sisa kegiatan mereka tadi malam. Adnan mencubit bukit kembar lalu cukup keras sebelum menghisapnya layaknya ia menghisap permen. "Dia tidak akan curiga, uang yang aku berikan sudah cukup baginya untuk berfoya-foya selama beberapa hari."
Adnan menaikkan selimut lagi lalu berjalan menuju ke pintu, "aku sudah menyuruh orang mengurus surat nikah kita, surat ini akan dibuat di luar negeri hingga kau bisa dianggap sebagai istriku bukan hanya sekedar simpananku saja. Dengan begitu kau juga memiliki hak kuat atas harta dan fasilitas lain yang aku miliki." Adnan berbalik sebentar untuk mengatakan apa yang tengah dia kerjakan saat ini.
Amanda mengangguk, ia menunggu Adnan menutup pintu baru kemudian tidur lagi dengan nyenyak. Amanda baru bangun ketika jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga menit, ia langsung mandi membersihkan dirinya baru ke luar kamar karena aroma masakan begitu lezat.
Di ruang makan yang terletak tidak jauh dari dapur, Amanda menemukan seorang wanita paruh baya sedang menata makanan di atas piring. Melihat Amanda wanita itu tersenyum tulus lalu melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.
Amanda melangkah menuju meja makan, ia duduk di sana menunggu semua makanan selesai dihidangkan. Saat wanita paruh baya itu akan pergi Amanda mencegahnya, "ikut makan bareng saya ya, Buk! Saya tidak suka makan sendiri," ujar Amanda ramah.
Wanita paruh baya itu tampak ragu, ia melihat wajah cantik Amanda lalu pada hidangan di atas meja. Semenjak menjadi pembantu rumah tangga baru kali ini dia mendapatkan perlakuan seperti ini. Wanita itu tampak ragu, ia hendak menolak namun melihat wajah Amanda yang berubah sedih ia menjadi tidak tega.
"Hanya ketika tidak ada tuan saya ya, Non! Saya takut tuan marah pada saya ataupun pada Nona Amanda nanti." Wanita itu duduk di kursi yang berseberangan dengan Amanda.
Ia mengambil nasi sedikit begitu pula dengan sayur mayur yang tersedia. Wanita itu tidak menyentuh daging atau ayam yang ada di atas meja, hal itu membuat Amanda mengernyit tidak suka.
Amanda mengambilkan makanan yang ada memasukkan makanan itu ke piring si wanita lalu makan dengan santai. "Enggak perlu sungkan, Bu! Besok-besok enggak usah masak banyak begini kecuali kalau siang dan malam ketika tuan ada di rumah. Saya takut makanan yang enggak habis jadi terbuang, atau Ibu boleh masak banyak tapi sisanya Ibu bawa pulang."
Wanita itu terkejut bukan main saat mendengar ucapan Amanda, sendok yang ia pegang bahkan hampir jatuh. Matanya terbuka lebar, wanita itu meletakkan sendok di atas meja lalu mencoba menggosok telinganya takut salah dengar.
"Ibu enggak salah dengar kok, saya serius dengan apa yang saya katakan. Saya tidak suka memakan makanan dingin atau makanan yang sudah tersimpan semalam. Kalau masak banyak dan enggak habis dari pada terbuang sia-sia lebih baik Ibu bawa pulang saja." Amanda tersenyum, senyum itu tampak begitu tulus membuat air mata pembantu itu jatuh.
"Terima kasih, Nona!" ucapnya dengan hormat.
Amanda mengangguk lalu melanjutkan makannya, selama makan ke-duanya hanya diam. Sorenya Adnan kembali dari kantor, ia tampak lelah namun ketika melihat Amanda yang manis dan lembut membuka pintu semua kelelahan yang ia rasakan menghilang.
Ia masuk ke dalam rumah mencium kening Amanda dengan sayang tanpa rasa takut atau gugup seperti saat di rumah. Amanda mengambil tas kerja Adnan juga membantu Adnan melepas jas kerja yang ia pakai.
Amanda meletakkan semua itu di kamar lalu ke luar untuk menemukan Adnan yang sedang membuka sepatu di ruang tamu. Amanda berjalan ke dapur membuatkan Adnan minuman, selesai membuat minuman Amanda membawa gelas itu menuju ruang keluarga karena keberadaan Adnan tidak ditemukan oleh Amanda di ruang tamu.
Amanda meletakkan gelas berisi teh panas itu di atas meja, ia juga tidak menemukan Adnan di sana yang berarti Adnan ke kamar mereka mungkin untuk membersihkan diri. Amanda kembali ke ruang tamu, ia merapikan kaus dan sepatu Adnan ke tempat rak sepatu baru kemudian berjalan ke kamar mereka.
Suara air mengalir masih terdengar di kamar mandi, Amanda mengambil pakaian Adnan di dalam lemari meletakkan semuanya di atas tempat tidur. Amanda duduk di tempat tidur sambil bermain dengan telepon seluler miliknya, Adnan selesai mandi sedikit lebih cepat dari kebiasaan lamanya.
Saat keluar ia menemukan Amanda telah mempersiapkan pakaian yang akan dia kenakan. Perawatan yang diberikan Amanda membuat Adnan tampak puas karena Ananta tidak pernah memperlakukan dirinya seperti ini.
Adnan mengecup kening Amanda dengan sayang, memakai pakaiannya lalu duduk di sebelah Amanda yang sedang bermain dengan ponselnya. Amanda menarik tangan Adnan menuju ruang keluarga memberikan ia minuman yang telah dibuatnya tadi.
"Terima kasih, Sayang!" bisik Adnan diliputi cinta yang luar biasa membuat Amanda tersenyum.
"Kau tidak pulang lagi hari ini?" tanya Amanda pada Adnan yang sedang menemaninya menonton televisi.
Adnan menggeleng, "aku mengatakan pada Ananta pekerjaan saat ini lebih sulit dari biasanya. Aku juga mengatakan akan ada perjalanan ke luar negeri beberapa hari ke depan dan dia tampaknya tidak mempermasalahkan semuanya," terang Adnan lagi.
Keduanya kembali menonton, ketika akan makan malam telepon Adnan berbunyi. Adnan melihat siapa yang memanggilnya, melihat nama Ananda kerutan di kening Adnan menghilang berganti senyuman lembut.
"Halo, Sayang!" sapa Adnan penuh kelembutan.
Amanda juga ikut tersenyum, biar bagaimanapun di rumah itu hanya Ananda yang memperlakukan dirinya dengan baik. Bahkan Ananda sering membagi uang belanjanya dengan Amanda.
"Ayah tidak pulang lagi ya malam ini?" tanya Ananda di seberang sana.
Suaranya yang dipenuhi keluhan membuat ekspresi wajah Adnan melunak. Adnan meletakkan sendok yang ia pegang meraih tangan Amanda lalu memeluk tubuh Amanda dalam dekapannya.