"Maafkan Ayah, Sayang! Ayah sedang melakukan hal yang penting, lagipula di rumah ada ibu dan saudaramu bukan?" Nada suara Adnan berubah sendu namun senyum di bibirnya tidak hilang sedikit pun.
Amanda melanjutkan makannya membiarkan Adnan menghubungi Ananda, setelah panggilan Adnan dan Ananda terputus Adnan kembali melanjutkan makannya. Ke-duanya makan dengan tenang tanpa banyak bicara setelah selesai makan Amanda membersihkan meja makan lalu duduk di ruang keluarga bersama Adnan.
Saat mereka sedang bermesraan, dering telepon Adnan kembali mengganggu kali ini Ananta yang menghubungi Adnan. Amanda mengernyit tidak suka, bibirnya mengerucut cemberut lalu mengubah posisi duduknya membelakangi Adnan.
Bahkan pakaian atasnya yang terbuka kembali dirapikan membuat Adnan tidak suka. Adnan mengangkat telepon Ananta meletakkan telepon itu di atas meja lalu menghidupkan speaker agar Amanda dapat mendengar apa yang akan Ananta katakan.
Sebelum itu Adnan bahkan mengecilkan volume suara televisi.
"Ada apa?" tanya Adnan dengan nada datar.
Satu tangannya melepas kembali pakaian atas Amanda memperlihatkan bahu putih mulusnya yang dipenuhi jejak ungu dan merah. Amanda mendengus lembut namun tidak sampai didengar oleh Ananta.
"Putramu meminta uang, dia bilang dia akan mengadakan pesta bersama teman-temannya. Kapan kau pulang? Aku merindukan dirimu," ujar Ananta dengan nada suara biasa saja hingga tidak ada yang tahu ekspresi seperti apa yang dia perlihatkan saat ini.
"Uang yang ada padamu masih banyak bukan? Berikan uang itu padanya dulu ketika aku pulang aku akan mengganti uang itu. Pekerjaan yang kulakukan saat ini sangat penting jika sudah selesai aku pasti akan pulang ke rumah." Adnan menjawab ketus.
Amanda mendesah ringan dengan tangan menutupi mulutnya, satu tangan Adnan sedang memegang puncak kembar Amanda membuat Amanda menahan suaranya. Amanda menggelinjang akibat rasa geli atas tindakan Adnan, Adnan menggeser posisi tubuh Amanda menjadi menghadap dirinya lalu memasukkan puncak kembar itu ke dalam mulut layaknya ia memakan permen lollipop.
Tangan kiri Adnan menyingkap lingerie yang dikenakan Amanda ke atas menampilkan lembahnya yang sudah basah. Adnan mengangkat kaki Amanda meletakkan keduanya di atas sofa sehingga lembah milik Amanda tersaji sepenuhnya di depan Adnan.
"Kau janji akan mengganti uang itu kan?" tanya Ananta memastikan.
Wajah Adnan berubah masam, ia pikir Ananta telah memutuskan sambungan komunikasi di antara mereka. "Ya, aku akan mengganti uang itu. Sekarang aku sedang sibuk, nanti atau besok saja kau hubungi aku lagi," perintah Adnan lalu memutuskan sambungan secara sepihak.
Adnan meletakkan wajahnya di lembah Amanda menghirup aroma yang ke luar dari sana. Aroma memabukkan itu membuat Adnan menjadi tidak sabar lagi, Adnan membuka kain yang menutupi tubuhnya merobek lingerie milik Amanda hingga tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh ke-duanya lagi.
"Tidak nyaman di sini," bisik Amanda malu dengan wajah merona.
"Tidak apa-apa! Sekali-kali kita perlu mengubah tempat dan posisi agar suasana serta kenikmatannya terasa," jawab Adnan asal.
Segera ruangan itu dipenuhi suara-suara aneh yang tercampur antara lelaki dan perempuan. Teriakan kesenangan di antara keduanya berlanjut sampai keduanya merasa puas lalu pindah ke kamar utama.
"Kau minum vitamin kehamilan itu kan?" tanya Adnan saat keduanya tengah berbaring di ranjang dengan selimut menutupi tubuh keduanya.
"Minum, aku juga makan-makanan sehat yang dibuat oleh bibi itu. Mungkin dalam waktu dekat kita akan mendapatkan kabar bahagia, semoga anak yang lahir laki-laki jadi kau memiliki pewaris satu lagi." Amanda menggeser tubuhnya mendekat ke arah Adnan yang berbaring di sisi kiri.
"Baguslah, jika yang kau lahirkan adalah anak laki-laki maka harta warisan milik Atlanta akan diubah menjadi miliknya. Atlanta tidak cocok untuk mendapatkan warisan itu." Adnan menatap langit-langit kamar, ia tampak berpikir jauh karena gerakan Amanda di perutnya tidak ia rasakan sama sekali.
"Kenapa dengan Atlanta?" tanya Amanda dengan penuh keingintahuan, sebab selama ini dirinya diancam di rumah itu menggunakan nama Atlanta sebagai pewaris sah harta Adnan.
"Atlanta bukan anakku, aku sudah melakukan tes DNA padanya tanpa sepengetahuan Ananta beberapa hari yang lalu, tepatnya saat Atlanta mengalami kecelakaan seminggu yang lalu dan hasilnya sungguh membuatku kecewa. Itu sebabnya, jika kau punya anak laki-laki maka harta warisanku akan jatuh padanya." Adnan meraih tangan Amanda membawa tangan itu ke bibirnya.
Amanda terkejut saat mendengar penuturan Adnan, dia kira selama ini Ananta menjalani hubungan sedarah dengan putranya tapi ternyata dia tertipu. Pantas Ananta menggunakan segala macam cara untuk membuat Amanda tutup mulut.
"Bukan anak kandung? Apa itu sudah pasti?" Amanda masih merasa tidak percaya, dia menatap Adnan dengan rasa penasaran yang tertulis jelas di wajahnya.
Adnan mengangguk, "ya ... dia memang bukan anak kandungku, hasilnya sudah cukup jelas. Apa menurutmu aku akan membiarkan orang yang tidak berhubungan darah denganku mengambil alih harta warisan keluargaku?"
Amanda tidak menjawab karena siapapun pasti tidak akan membiarkan hartanya jatuh ke tangan orang lain. Ke-duanya lanjut bicara sebentar lalu tertidur dengan nyenyak.
Pagi-pagi sekali Amanda bangun tidur terlebih dahulu, ia mandi lalu ke luar kamar untuk memasak sarapan pagi sekaligus menyiapkan bekal untuk Adnan. Amanda tampak sibuk di dapur sehingga dia tidak menyadari kalau Adnan juga sudah bangun dan telah memakai pakaian kantor.
Saat berbalik Amanda hampir saja menjatuhkan makanan yang akan dia sajikan di atas meja. Melihat itu Adnan tersenyum, ia menarik kursi untuk duduk menikmati perawatan yang diberikan Amanda padanya.
"Sungguh istri yang baik!" puji Adnan dengan sungguh-sungguh membuat Amanda merona malu.
Amanda telah selesai menata makanan yang dimasaknya di atas meja termasuk bekal untuk Adnan yang sudah ia sajikan di dalam kotak. Melihat makanan sederhana yang dimasak Amanda senyum Adnan bahkan tidak memudar sama sekali.
"Aku hanya bisa memasak ini, ternyata stok di kulkas serta di dapur tidak banyak sama sekali. Nanti siang ketika bibi datang aku akan menyuruhnya berbelanja keperluan rumah." Amanda menunduk malu melihat makanan yang ia buat jauh dari makanan di rumah Ananta.
Adnan mengambil makanan di atas meja dengan sendok memasukkan apa yang ia pilih ke dalam piringnya lalu makan dengan tenang. Melihat tindakan Adnan Amanda tampak senang, senyum lebar tidak pernah hilang dari bibirnya.
Mereka makan dalam damai berbeda dengan Ananta di rumahnya, saat ini Ananta tidak berada di ruang makan melainkan berada di kamar Anandita. Ananta tampak marah, ke-dua tangannya berada di pinggang dengan mata melotot nyaris ke luar dari tempatnya.
"Kenapa kau bisa hamil? Bukankah Ibu sudah menyuruh dirimu memakan pil itu setiap hari." Ananta tampak berang.
Ia kaget ketika mendengar dari pembantu kalau Anandita muntah-muntah di toilet hingga terlihat lemas.
"Aku kecolongan Ibu, aku tidak tahu kalau hal ini akan terjadi. Lagipula saat itu kami saling mencintai, aku tidak tahu kalau pacar Sisil lebih kaya dari dia. Andai aku tahu dari awal maka aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi, kita masih memiliki Ananda bukan? Biarkan saja dia yang menikah dengan pacar Sisil." Anandita bersandar di ranjang dengan malas.
Tangan kanannya mengelus perutnya yang masih rata, ada senyuman bahagia do bibirnya dan semua itu jiga tercermin di dalam matanya.