40

1104 Kata
Ananta tampak berpikir dengan kerutan yang begitu jelas di keningnya, dia menatap perut Anandita lama. "Ananda terlalu baik, dia tidak akan mau melakukan apa yang kita inginkan. Ibu akan memikirkan cara supaya kita bisa merebut pacar gelap Sisil itu. Kau jaga dulu bayi itu dengan baik saat ini karena kita bisa menggunakan bayimu untuk kepentingan besar," putus Ananta. Sorot matanya berubah kejam, ambisi besarnya yang ingin menjadi kaya sampai tua telah memakan banyak nyawa yang tidak berdosa. Ananta menghalalkan segala cara untuk bisa sampai di posisinya saat ini, dan dia tidak akan membiarkan sesuatu menghalanginya untuk sampai ke puncak. Anandita tidak menjawab, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur membelakangi Ananta yang masih berdiri di samping ranjang. Melihat sikap Amanda, Ananta tidak ambil pusing. Ia berjalan menuju ke lantai bawah tempat ruang makan berada meninggalkan Anandita yang sedang beristirahat. Raut wajahnya masih tidak berubah, ia tampak memikirkan banyak hal yang bisa dia dapatkan dengan keberadaan janin itu. Ananda di sisi lain sudah mulai makan dengan tenang, Ananda mengabaikan Atlanta yang sedang menggoda pelayan perempuan muda yang baru saja dipekerjakan oleh Ananta. Ananta mengabaikan Ananda, dia duduk di kursi kepala di tempat di mana Adnan biasa duduk. Suasana ruang makan cukup hening selain bunyi sendok yang beradu dengan piring. Selesai makan Ananda langsung bangkit, dia tidak menunggu Ananta maupun Atlanta selesai makan. "Mau ke mana kau pagi-pagi sekali seperti ini? Ingat Ananda! Kau harus menjaga keperawananmu dengan baik karena bagi Ibu hal itu sangat penting." Ananta tidak melirik Ananda sama sekali saat ia berbicara. Tangan Ananda terkepal dengan erat, ingin marah tapi Ananda tahu apa yang akan dia sampaikan tidak akan didengar oleh Ananta. Ananda menuju rumah sakit tempat Sherly dirawat, di tangannya ada sekeranjang buah segar yang baru saja ia beli di kedai samping rumah sakit. Dia menuju ruang Sherly tanpa dihentikan oleh siapapun, jelas kalau dia sudah sering datang ke rumah sakit ini. Ananda sampai di depan ruang rawat Sherly, di depan pintu penjaga yang ditugaskan oleh Farrel meliriknya sekilas lalu mengabaikan keberadaannya di sana. Ananda masuk ke dalam, ia membuka pintu secara perlahan takut mengganggu Sherly yang mungkin saja sedang tidur. Sisil membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang datang, ketika melihat itu Ananda dia kembali membaca majalah fashion yang sejak tadi dipegangnya. "Bagaimana keadaan Kak Sherly hari ini, Kak?" tanya Ananda nyaris tidak bisa didengar. Ia meletakkan buah di atas meja, lalu duduk di sebelah ranjang Sherly memegang tangan Sherly yang tampak tidak memiliki warna lain selain pucat pasi tidak berdarah dari kemarin. Sisil tidak mengangkat kepala sama sekali, dia membalik majalah yang dibacanya perlahan tampak begitu fokus. "Lebih baik dari hari yang lalu, apa kau sudah mendapatkan tempat tinggal? Menjauh dari rumah itu jika kau tidak ingin mendapatkan masalah nanti," saran Sisil pada Ananda. Ananda melepas tangan Sherly, matanya menatap ke arah jendela yang terletak tidak jauh dari ranjang Sherly di mana di luar sana menampilkan pemandangan matahari yang sedang ditutupi awan hitam. Mendung, semendung hati Ananda yang diliputi kekacauan. "Ibumu terlalu terobsesi dengan harta dan status sosial, untuk tetap berada dipuncak dia akan melakukan apapun bahkan mengorbankan janin sekalipun. Untuk tidak terlibat dalam masalah itu sebaiknya kau menjauh, minta ayahmu untuk mengirim kau ke luar dari rumah segera mungkin. Atau lebih baik berkolaborasi dengan Amanda agar kau tidak diseret ibumu ke dalam kehancuran." Sisil kembali berbicara. Kali ini Sisil mengangkat kepala melepaskan diri dari majalah fashion yang tampak menarik itu. Di dalam majalah ada gambar seorang wanita cantik yang sedang tersenyum dengan perut buncit, senyum wanita itu tampak sangat menarik jangankan laki-laki dia saja sebagai wanita sampai tergoda oleh wanita itu. "Jika aku sebutkan apa saja yang telah dilakukan ibu dan kakakmu mungkin kau tidak akan percaya, tapi mereka memang melakukan semua itu agar keinginannya terpenuhi termasuk merusak masa depan Amanda. Padahal gadis itu berprestasi, nilainya cukup bagus tapi karena ibumu dia hampir putus asa hingga sempat terjerumus ke dalam hubungan tidak jelas dengan beberapa pria." Sisil ingin menyebutkan apa saja yang telah dilakukan oleh Ananta tapi dia tidak ingin Ananda yang murni hancur akibat ibunya sendiri. "Apa yang ibu lakukan pada Kak Amanda, Kak? Kenapa aku tidak mengetahui semua itu," ujar Ananda dengan suara sedikit meninggi, tersadar akan kesalahan yang ia lakukan Ananda buru-buru melihat Sherly yang ternyata tidak tergganggu akibat suaranya. Sisil mendesah, ia menatap iba pada Ananda yang selama ini ditipu oleh tingkah Ananta pada Amanda, "dia merebut keperawanan Amanda, memaksa Amanda mengikuti keinginannya dan harus menjadi boneka mainan mereka. Kau hanya harus perlu tahu itu saja, untuk urusan lain kau hanya perlu menutup telinga dan matamu." "Apa penyakit Kak Sherly disebabkan oleh ibuku juga, Kak?" tanya Ananda hati-hati takut Sisil tersinggung. Ananda dengan gugup menunggu jawaban, kepalanya menunduk dengan jantung berdebar kencang. Nafas Ananda terdengar tidak teratur, Sisil sekali lagi menghela napas tanpa daya ia meletakkan majalah di atas meja lalu berjalan ke arah Ananda yang masih menunggu jawaban darinya. "Sudah kubilang kau tidak perlu tahu hal ini, yang perlu kau lakukan adalah ke luar dari neraka itu secepat mungkin. Tutup telinga dan matamu erat-erat, jangan tergoda rayuan mereka karena itu akan membuatmu hancur. Aku mengatakan padamu semua ini karena kau berbeda dari mereka, aku melakukan ini demi kebaikanmu sendiri." Sisil menepuk bahu Ananda pelan lalu berjalan ke kamar mandi untuk keperluan mendesak. Di depan pintu kamar rawat Sherly terdengar keributan, Ananda mengernyit ketika mengetahui suara itu adalah suara ibunya, Ananta. "Buka pintunya! Aku ini ibu tiri mereka berdua, aku punya hak untuk melihat mereka. Sebagai anjing yang baik tidak ada hak untuk kalian menghalangi jalanku," ejek Ananta dengan wajah ganas. Ananta tidak mengira kalau dia masih akan dihalangi untuk menemukan Sherly, Ananta tampak marah, rambutnya terlihat berantakan, tepi matanya memerah terlihat ganas dengan aura kejam memancar dari tubuhnya. Penjaga di depan tidak menggubris keberadaan Ananta, seperti patung ke-duanya berdiri tenang tidak bergerak sama sekali. Ananda ingin ke luar untuk menemui ibunya namun melihat tatapan peringatan dari Sisil yang baru saja ke luar dari kamar mandi Ananda langsung mengurungkan niatnya. Ananda kembali duduk di samping Sherly mencoba mengabaikan teriakan serta makian yang dilontarkan Ananta di luar sana. "Anak tidak tahu diuntung, sudah aku biarkan hidup sampai sekarang dia masih tidak tahu membalas budi sama sekali." Ananta terus menjelek-jelekkan Sisil membuat keluarga pasien merasa risih dan salah paham terhadap Sisil. Jenuh, Sisil membuka pintu kamar Sherly. Ia menatap tajam Ananta yang masih sibuk berceloteh sembari mengeluarkan air mata buaya, Ananta terduduk di lantai meraung dengan keras menyalahkan sikap Sisil padanya. "Oh ya, kenapa aku tidak tahu perbuatan baik yang sudah kau lakukan padaku dan kakakku. Apa merebut tunangannya, memaksa dia aborsi serta menjadikan dia depresi bisa disebut sebagai perbuatan baik?" tanya Sisil lemah lembut tanpa celaan sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN