41

1090 Kata
Ananta terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Sisil, dia berani menjelek-jelekkan Sisil serta Sherly sebab selama ini Sisil selalu lemah dan tidak berani melawan dirinya. "Apa merebut ayahku dari ibuku, membuatnya bunuh diri membawa bayinya yang belum berkembang bisa disebut kebaikan? Apa mengabaikan kami, menghinaku ketika datang untuk meminta bantuan biaya pengobatan kakakku kau sebut sebuah kebaikan? Lalu apa kejahatan ketika semua yang kau lakukan pada keluargaku disebut kebaikan?" Sisil mengepalkan tangannya menahan kemarahan yang sebentar lagi meledak. "Berapa kali aku mengemis padamu? Berapa kali aku bersujud memohon agar kau mau mempertemukan aku dengan lelaki tidak bertanggung jawab yang orang sebut sebagai ayahku itu? Berapa? Berapa kali? Coba kau katakan padaku! Apa kau bisa menghitungnya? Tidak, kau mungkin tidak peduli karena bagimu itu adalah kesenangan, kebahagiaan yang luar biasa saat kami menderita." Sisil meneteskan air mata tampak begitu lemah. Sisil mengangkat tangannya menghapus air matanya yang jatuh, "berapa kali aku kehilangan pekerjaan akibat ulahmu dan Anandita? Berapa kali kau hancurkan tempat tinggal kami? Banyak, kau selalu datang ke tempat kami jika suasana hatimu buruk. Kau melukai tubuh kakakku lagi dan lagi demi mengeluarkan kemarahanmu, apa itu yang kau sebut kebaikan?" tanya Sisil dengan nada meninggi. Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Sisil membungkuk pada keluarga pasien maupun dokter yang bertugas di lantai VIP itu sebagai bentuk permintaan maaf lalu ia masuk ke dalam kamar rawat Sherly. Sisil masuk ke kamar mandi mengabaikan Ananda yang ingin berbicara padanya, sesampai di kamar mandi Sisil menghapus air matanya yang jatuh lalu tersenyum. Ya, senyum itu terlihat tulus karena dia telah mengeluarkan semua kebencian di dalam hatinya. Meski dia tidak memaki Ananta tapi setidaknya dia sudah membuka keburukan Ananta di depan Ananda. Cukup lama Sisil di kamar mandi, ia langsung berjalan ke sofa mengabaikan Ananda yang tampaknya merasa bersalah. Ananda menangis dalam diam sembari menahan suara takut Sherly akan tergganggu dengan tangisan pilunya itu. Ananta di luar juga terdiam, pandangan cemooh yang diberikan oleh orang-orang di lorong VIP itu membuat Ananta kehilangan wajah. Rekaman video aksi pertunjukan itu juga dikirim oleh seseorang ke media sosial membuat wajah Ananta benar-benar menghitam. Ananta buru-buru berdiri meninggalkan lokasi rumah sakit, sepanjang jalan banyak pasang mata menatapnya dengan pandangan menghina. Kekuatan media sosial benar-benar sesuatu yang tidak dapat dibayangkan siapapun yang menjadi sasarannya. Kesal, marah, benci semakin meningkat di hati Ananta. Kapan dia pernah diperlakukan seperti ini apalagi semenjak menikahi Adnan, sekarang dia kembali dipandang rendah oleh orang lain gara-gara ucapan Sisil. Tangan Ananta terkepal erat, kebencian semakin membengkak di dalam hatinya, matanya bersinar dengan niat membunuh yang begitu kental. "Lihat saja, akan kuhabisi anak tidak tahu diri itu. Akan kubuat dia menyesal telah hidup di dunia ini," tutur Ananta lembut ketika dia berhasil masuk ke dalam mobilnya. Ananta meninggalkan rumah sakit dengan perasaan tidak rela, ia benci selalu gagal menemui Sherly agar bisa mengancam Sisil seperti biasa. "Ke mana kita pergi, Nyonya?" tanya sopir pribadinya. Ananta tampak berpikir lama lalu ia menyebutkan alamat rumah Farrel, Ananta akan mencoba membujuk Farrel sebagai gantinya terlebih dahulu. Melakukan hal yang sama seperti dia membujuk tunangan Sherly dulu, Ananta yakin triknya akan berhasil lagi kali ini. Mereka sampai di kediaman Farrel setelah satu jam perjalanan, sopir Ananta turun dari mobil lalu menekan bel yang ada di gerbang. Lama ia berdiri namun tidak ada balasan dari dalam rumah seperti tidak ada orang di dalam sana padahal Ananta maupun sopirnya melihat beberapa orang berpakaian hitam berkeliaran di dalam gerbang. Ananta kembali merasa kesal, sebagai istri orang nomor tiga di kota ini dia selalu diperlakukan dengan hormat. Banyak orang menundukkan kepala ketika dia lewat bahkan ada beberapa yang mencoba menjilatnya namun pria yang menyukai Sisil ini malah mengabaikan dirinya, hal itu membuat Ananta semakin merasa terhina. "Terus tekan tombolnya! Pastikan agar mereka tahu kedatangan kita ke sini!" perintah Ananta dengan teriakan di dalam mobil. Lama mereka di sana namun tidak ada tanggapan yang diberikan oleh pemilik rumah, si sopir merasa malu diabaikan hingga ingin menyembunyikan wajahnya. Rasa malu itu tampaknya tidak dimiliki oleh Ananta sebab Ananta masih duduk manis di dalam mobil tanpa bersuara. "Sebaiknya kita pergi saja dari sini, Nyonya! Kehadiran kita benar-benar tidak diharapkan di sini," bisik si sopir pada Ananta yang dibalas Ananta tatapan tajam penuh peringatan. Si sopir meringis, menahan malu yang dirasakannya si sopir kembali menekan bel rumah Farrel tapi yang dia dapatkan adalah diabaikan seperti sebelumnya. Sebuah mobil mewah berhenti di samping mobil Ananta menunggu pintu gerbang terbuka. Berbeda dengan Ananta, si sopir tidak ke luar dari mobilnya. Ia hanya menekan klakson mobil lalu menurunkan kaca mobil agar penjaga di dalam bisa melihat siapa yang datang. Segera, gerbang yang menjulang tinggi terbuka memperlihatkan bangunan megah yang ditutupi gerbang itu. Mata Ananta melotot tidak percaya saat melihat kemewahan itu, dia yang terbiasa hidup berkecukupan bahkan sampai meneteskan air liur saat melihat keindahan rumah Farrel. Sisil menurunkan kaca mobil, menatap sinis pada Ananta lalu mencibir membuat Ananta semakin kesal, perlakuan berbeda yang mereka terima benar-benar membuka mata Ananta. "Wah, istri orang kaya nomor tiga mengalami kejadian nahas seperti ini. Ckckckck sungguh malang," decak Sisil. Kelakuan Sisil yang kurang ajar membuka mata Ananta, Sisil meludah dengan jijik mengabaikan ekspresi Ananta yang ingin memakan orang. Sisil menaikkan kembali kaca mobil, Ananta turun dari mobil hendak mengejar Sisil namun ia dicegah oleh penjaga yang memegang senjata. "Tuanmu telah ditipu oleh wanita miskin itu, dia hanya wanita dengan moral rendah. Dia bisa pergi ke mana saja asal dia mendapatkan uang, apa kau mau tuanmu ditipu selamanya?" tanya Ananta tidak terima. Sisil turun dari mobil, dia berjalan santai ke dalam rumah mengabaikan teriakan serta makian yang dikeluarkan oleh Ananta dari mulutnya. Bagi Sisil hal ini adalah kebiasaan lama yang tidak akan mengubah prinsipnya lagi, Sisil masuk ke dalam rumah ia berjalan ke kamar yang dipersiapkan Farrel untuknya. Sedangkan Farrel di kamarnya tengah bersenang-senang dengan seorang wanita berambut pirang. Wanita itu memiliki mata biru indah seperti milik Angela dengan tubuh aduhai yang terlihat memikat, ke-dua tangannya terikat di kepala ranjang dengan atasan yang sudah terbuka sepenuhnya menampilkan puncak kembarnya yang berdiri. "Aku akan menutup matamu," bisik Farrel, dia mengambil kain bewarna merah yang di simpan di laci samping tempat tidur. Farrel mengikat mata wanita itu sudah erat lalu melepas rok seksi yang dikenakannya. Diambilnya pisau tajam yang ada di kepala ranjang sembari mengukur bagian mana yang menarik untuk diukir, senyuman jijik tersungging di bibir Farrel saat ia melihat lengkungan menggoda tercipta di bibir wanita berambut pirang. Farrel melihat puncak kembar si wanita lalu mengirisnya dengan sangat cepat membuat cairan merah kental menyembur dengan deras. Pekikan keras yang ke luar dari bibir si wanita membuat Farrel makin merasa bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN