Untuk Farrel, rintihan kesakitan wanita di depannya adalah sebuah melodi indah yang begitu menenangkan telinga. Rasa nyaman tercipta di hati Farrel, dia merasa tenang ketika mendengar teriakan kesakitan korbannya karena pernah mengalami ini dahulu di tangan Alvin.
Darah segar membasahi tempat tidur putih, si pirang mencoba melepas tangannya yang terikat namun gerakannya makin membuat darah segar itu semakin mengalir deras. Wajahnya berubah pucat hal itu bisa dilihat dari bibirnya yang mulai kehilangan rona.
"Siapa yang menyuruhmu memiliki mata yang sama dengannya, ha? Hanya dia yang pantas memiliki warna mata ini, hanya dia yang layak sedangkan wanita lain sama sekali tidak boleh." Farrel memutar gagang pisau yang tadi digunakannya untuk mengiris si wanita.
Tangannya beralih pada lembah tersembunyi si wanita, Farrel mengeluarkan benda panjang yang tersimpan di bawah tempat tidur memasukkan alat itu dengan paksa membuat si pirang menggelinjang kesakitan. Darah juga ke luar dari bagian pribadinya itu, dia merasa menyesal datang ke tempat ini tapi semua hanya tinggal kenangan yang tidak bisa ia ubah.
Farrel terus bermain dengan tubuh si wanita hingga terdengar ketukan dari luar ruangan. Farrel menghentikan aksinya lalu berjalan ke pintu kamar masih dengan darah menutupi pakaiannya yang tadinya putih bersih.
Dengan santai Farrel membuka pintu untuk melihat siapa yang mengganggu dirinya saat sedang bersenang-senang seperti ini. Melihat wajah kepala pelayan Farrel mengernyit tidak suka karena ia sudah memberitahu kepala pelayan kalau ia sedang bahagia jangan diganggu.
"Ada apa? Kenapa kau mengganggu diriku?" Bentak Farrel dengan nada meninggi.
Si pirang yang merasa terselamatkan menghembuskan napas lega, meski rasa sakit di tubuhnya begitu kuat ia enggan untuk mati begitu saja di sini. Dengan paksa ia mengangkat kepala, memastikan apakah yang berada di depan pintu dapat mengeluarkan dirinya dari sini meski dengan bayaran mahal sekalipun.
"Nona Sisil berada di sebelah, Tuan! Dia baru saja sampai, bukankah Anda akan mengatakan padanya tentang perubahan rencana yang telah Anda susun." Kepala pelayan mencoba mengintip ke dalam ruangan namun pandangan matanya terhalang oleh tubuh Farrel.
Farrel tidak memberikan jawaban apapun, dia melangkah masuk ke dalam kamar menekan tombol yang biasa ia gunakan ketika telah bosan lalu berjalan masuk menuju kamar mandi. Farrel membiarkan air yang mengalir dari shower membasahi seluruh tubuhnya, rasa dingin yang menghampirinya kembali merenggut kewarasan Farrel membuat ia membanting barang-barang yang ada di kamar mandi.
Kaca yang ada di dalam kamar mandi bahkan tidak luput dari serangannya hingga menyebabkan tangannya berdarah. Farrel menatap bayangan dirinya yang ada di sela-sela pecahan cermin lalu tersenyum miris, di sini dia masih belum bisa melupakan kenangan masa lalunya sedangkan di sana Angela sudah bahagia dan bahkan sedang menanti kelahiran anak keduanya.
Lama Farrel berada di kamar mandi, dia terus mengguyur tubuhnya dengan air dingin menenangkan kebencian yang bisa meledak kapan saja. Farrel ke luar kamar mandi dengan handuk melilit dari pinggang hingga ke lututnya, ia melihat tempat tidur itu telah bersih.
Tanpa mengambil pakaiannya Farrel melangkah menuju ke kamar di sebelah mengabaikan tatapan menuju dari pelayan yang sedang membersihkan lantai atas. Farrel masuk ke dalam kamar khusus untuk Sisil, di dalam sana ia melihat Sisil tengah berdiri di depan jendela.
Entah sedang menikmati cuaca atau sedang melihat kebun bunga khusus yang ditanam Farrel untuk Angela. Sisil tampak larut dalam dunianya, ia tidak sadar kalau Farrel telah masuk ke dalam ruangan dan bahkan telah berdiri di sampingnya ikut melihat apa yang tengah disaksikan oleh Sisil.
Lama mereka berdiri hingga Farrel akhirnya berpura-pura batuk, apa yang dilakukan Farrel sukses menarik Sisil ke luar dari lamunannya.
"Anda sudah di sini, Tuan! Apa yang harus saya lakukan hari ini? Apakah melayani Anda seperti biasa atau ada hal lain yang harus saya lakukan?" tanya Sisil dengan cepat.
Sisil memperhatikan handuk yang dipakai Farrel, tanpa bertanya lagu Sisil berniat membuka baju yang ia kenakan namun gerakannya langsung dihentikan oleh Farrel. "Aku tidak berminat hari ini, ada hal lain yang ingin aku katakan padamu. Mari kita duduk di sofa itu!" ajak Farrel.
Dia melangkah terlebih dahulu baru kemudian disusul oleh Sisil yang memilih duduk tepat di sebelah Farrel seperti yang biasa mereka lakukan.
"Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan? Apakah pelayanan yang saya lakukan kurang memuaskan Anda atau ada sesuatu yang salah, saya siap menerima hukuman dari Anda, tapi saya mohon jangan hentikan pengobatan kakak saya." Sisil ketakutan, tubuhnya bergetar dengan air mata jatuh begitu cepat membasahi pipinya.
Farrel di sisi lain hanya bisa melongo mendengar ucapan Sisil. Melihat Sisil benar-benar takut padanya Farrel hanya bisa tertawa, kali ini berbalik Sisil yang melongo melihat tingkah Farrel.
"Aku tidak pernah mengatakan kau salah, aku juga tidak berniat menghentikan pengobatan kakakmu. Aku hanya ingin mengatakan perubahan rencana yang harus kita lakukan, ternyata anak tiri lelaki ibumu itu adalah anak musuh bebuyutan kelompokku. Aku ingin kau memancing anak itu untuk datang ke sini, jika kau berhasil maka aku akan memberikan dirimu hadiah." Farrel mencoba menghentikan tawanya lalu menjelaskan apa yang ingin dia katakan sejak tadi.
"Ah, aku kira Anda akan menghentikan biaya pengobatan kakak saya tadi. Jika tahu Anda hanya meminta itu, saya tidak perlu cemas memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi." Sisil menepuk dadanya.
Hembusan napas lega yang dilepaskan Sisil membuat Farrel mengingat Angela, Farrel buru-buru menepis apa yang ada dipikiran dengan cara menggelengkan kepala berulangkali membuat Sisil menjadi heran sekaligus bingung. Sisil ingin bertanya namun dia langsung mengurungkan niatnya karena takut berbuat salah.
Keduanya hanya duduk tanpa bicara, keheningan yang terjadi menjadikan suasana terasa aneh. Farrel bangkit dari duduknya, ia melihat ke luar jendela tempat mereka berdiri di awal di mana dia bisa melihat kebun bunga untuk Angela.
"Kau tidak kembali ke rumah sakit? Bukankah kakakmu menjalani operasi pertamanya hari ini?" Farrel memulai percakapan di antara mereka.
Sisil masih duduk di posisinya hanya saja kali ini dia melihat ke arah Farrel, "sebentar lagi, lagipula waktu yang di rumah sakit sudah ada orang yang menjaga kakak. Aku ke sini karena Ananta mengarahkan mobilnya ke sini."
Farrel tidak menjawab, ia melihat pada gerbang yang menjulang tinggi. Sudah lama Farrel tidak ke luar dari kediaman ini, dia takut kalau ke luar akan bertemu dengan anak buah Alvin yang berada di mana-mana.
"Pergilah! Hari ini aku tidak membutuhkan dirimu, jaga kesehatanmu! Aku tidak ingin mainanku sakit," usir Farrel pada Sisil tanpa berpaling.
Sisil mengangguk, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah tangga menuju ke lantai bawah. Sisil melihat sekeliling ruangan, ada beberapa pelayan yang berbisik ketika melihat ia lewat. Di luar sopir khusus yang telah ditugaskan Farrel untuk mengantarkan Sisil ke manapun sudah menunggu.
Ketika sampai di luar gerbang Sisil tidak menemukan keberadaan Ananta lagi. Sisil tidak ambil pusing, dia hanya ingin ke rumah sakit menemukan sang kakak untuk berbicara tentang apa yang akan terjadi pada Ananta, orang yang sudah menghancurkan kebahagiaan mereka.
Alena saat ini tengah duduk di sebuah restoran, ada berbagai macam makanan di depannya yang telah dipesan oleh Alfred untuk menghibur Alena. Alena sedang memakan berbagai jenis makanan yang manis hasil paksaan Alfred.
"Aku bisa terkena penyakit diabetes, padahal ada banyak cara lain yang bisa kau berikan padaku. Kenapa hanya makanan manis yang menjadi pilihan?" gerutu Alena dengan wajah masam.
Alfred yang mendengar keluh kesah Alena hanya tertawa, sebenarnya ia ingin membawa Alena jalan-jalan tapi dia takut Alena akan menolak sebab besok mereka akan melakukan perjalanan jauh itu sebabnya hanya makanan manis yang menjadi pilihan terbaik Alfred. Alfred ikut makan-makanan yang ada di depan matanya, ia melirik jam lalu meraih tangan Alena untuk pulang.
Keduanya berjalan beriringan menikmati suasana hening jalanan, angin sepoi-sepoi yang berhembus menerbangkan rambut Alena membuat beberapa helai menutupi wajahnya. Alena merasa kedinginan namun tangannya langsung diambil Alfred dimasukkan ke dalam kantung jaketnya.
Mereka berjalan cukup jauh untuk sampai di mana mobil mereka diparkir. Alena tampak menikmati keindahan jalan yang mereka lalui, ada pohon-pohon kecil yang ditanam dengan beberapa bunga merambat yang sengaja diletakkan di sekitar pohon hingga pemandangan indah itu membuat hati seseorang akan merasa lebih baik.
"Apakah Agata sudah ditemukan? Aku takut dia merencanakan hal lain untuk menyakiti dirimu lagi." Alfred memulai percakapan saat keduanya hampir mencapai taman.
Alena menggeleng, ia tidak tahu bagaimana kabar Agata sekarang. Ia juga tidak tahu ke mana Agata pergi, tapi menurut Adera beberapa hari yang lalu Agata tidak akan berani mendatangi dirinya lagi.
"Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi, polisi juga kesusahan dalam melacak keberadaannya. Aku diminta untuk tidak cemas oleh Tante Adera sebab keberadaan Agata sekarang pasti cukup jauh dariku." Alena menghembuskan napas.
Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Adera tapi dia tidak tahu itu apa. Akhirnya mereka sampai diparkiran, Alena duduk di samping kemudi memakai sabuk pengaman lalu merapikan rambutnya yang sejak tadi diterbangkan angin.
Alfred mengantar Alena menuju rumah besar keluarga Alena. Perjalanan yang mereka tempuh tidak cukup jauh hingga Alena tidak bosan dalam perjalanan.
"Siapkan pakaianmu hari ini juga, aku tidak akan menunggu kau mengemas baju besok. Jika terlambat maka aku akan meninggalkanmu, kau terbang sendiri saja ke kota itu." Alfred mengacak-acak rambut Alena hingga berantakan lagi ketika mereka hampir sampai di rumah Alena.
Alfred langsung mengarahkan mobilnya ke halaman rumah orangtua Alena, sesampai di depan rumah Alena langsung turun melambaikan tangan pada Alfred tanpa berniat menyuruh Alfred masuk ke dalam rumah.
Tingkah menyebalkan Alena hanya mampu membuat Alfred geleng-geleng kepala. "Kenapa aku bisa begitu mencintai wanita menyebalkan seperti dirimu, Ale!" gerutu Alfred saat ditinggalkan begitu saja oleh Alena.
Alfred memutar mobilnya ke arah luar, dia meninggalkan kediaman Alena menuju apartemen miliknya untuk berkemas juga. Alfred tersenyum sepanjang jalan, meski hubungan mereka hanya sebatas teman tapi setidaknya dia selalu berada di sisi Alena saat Alena membutuhkan. Alfred yakin, lambat laun dia pasti bisa menembus hati Alena menghancurkan batu besar yang selama ini menghalangi dirinya untuk masuk.
Alena masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedikit lebih baik, saat masuk ia menemukan ibu dan ayahnya sedang duduk sembari bercerita dengan Aleta. Di sisi Aleta ada Robert, keduanya tampak serasi.
"Lena sudah pulang ya? Ayo sini bergabung bersama kami!" teriak Clara dengan binar bahagia.
Ia bersyukur Alena mau pulang ke rumah hingga hubungan mereka yang sedikit renggang bisa diperbaiki, Alena berjalan menuju ruang keluarga tempat ibu dan ayahnya duduk. Alena meletakkan tasnya di sisi kosong sofa yang ia duduki merapikan rambutnya sekali lagi dengan tangan.