43

1718 Kata
Aleta menatap Alena yang tampak sedikit berbeda, meski masih terlihat kuyu tapi setidaknya keadaan Alena lebih baik dari saat pertama dia pulang dari rumah sakit. "Kau tampak sedikit lebih baik, Kak!" ujar Aleta spontan. Alena tersenyum, ya, Alena merasa dirinya lebih baik dari hari-harinya yang lalu. "Hem, mungkin aku terlalu khawatir saja, kalau Tante Agata telah ditemukan mungkin pikiranku akan lebih baik lagi. Aku hanya sedikit takut, aku merasa kalau Tante Agata belum ditangkap dia bisa saja mencelakai diriku suatu hari nanti." "Memang benar sih apa yang kau pikirkan, Kak! Tapi untuk saat ini dia tidak akan berani mendekatimu, dia pasti takut ditangkap polisi apalagi kejahatan yang telah dilakukannya sangat banyak." Aleta mengangguk tanda paham. Clara di sisi lain meremas tangan Alena, "oh ya, sebenarnya hubunganmu dengan Alfred itu apa Sayang? Ibu merasa kau sangat cocok dengannya, kalau kalian menikah pasti akan menjadi pasangan yang sempurna. Alfred selalu tahu bagaimana membuatmu bahagia, Ibu yakin dia pasti akan menjadikanmu ratu dalam hidupnya." Clara mencoba mengganti topik. Alena memerah mendengar penuturan Clara, memang benar Alfred mampu mengubah suasana hatinya dengan cepat. Alfred bahkan sangat tahu apa yang dia butuhkan melebihi dirinya sendiri, Alena menunduk, ia mencoba mengingat seperti apa hubungannya dengan Alfred dan semua itu tidak lepas dari tatapan tajam Robert. "Ibu bisa saja, Alena dan Alfred saat ini hanya sebatas sahabat saja kok. Jangan berpikir yang aneh-aneh, wajar saja dia tahu apa yang Alena butuhkan. Kami sudah berteman dari sekolah dasar, di mana ada Alena di situ ada Alfred bahkan orangtuanya saja tidak bisa memisahkan kedekatan kami." Alena tertawa saat mengingat kejadian aneh yang selalu ia lalui jika bersama Alfred. "Alena mau ke kamar dulu, Bu! Alena besok harus berangkat bersama Al- maksudnya Alena besok akan bekerja jauh jadi Alena akan berkemas terlebih dahulu. Alena akan pulang lama sebab kami akan berpindah tempat beberapa kali dalam beberapa bulan ke depan." Alena langsung berdiri dengan cepat. Sungguh Alena tidak ingin pembahasan Alfred akan melangkah jauh lebih dari ini. Dia nyaman berada di sisi Alfred sebagai sahabat tidak sebagai pasangan, Alena buru-buru kabur dari ruang keluarga membuat Aleta serta orangtuanya tertawa. Dugaan tentang hubungan Alena dengan Alfred makin membengkak di hati Clara saat melihat tingkah manis Alena dalam melarikan diri. "Kabur, Ibu jadi semakin curiga dengan hubungan kalian. Kalau kau memang suka Ibu setuju untuk ke rumahnya memberitahu orangtua Alfred, mereka pasti senang dengan berita ini," ledek Clara lagi, hal itu semakin mempercepat langkah kaki Alena. Alena menutup pintu kamarnya, memegang dadanya yang berdetak kencang. Alena buru-buru berjalan mengambil koper yang tersisa di kamarnya, dia lupa kalau sebagian pakaiannya masih tersimpan rapi di rumah Angela. Alena memasukkan beberapa baju ke dalam koper, memasukkan perlengkapan mandi serta sendal cadangan yang akan dibutuhkannya. Setelah selesai berkemas barulah Alena berbaring di tempat tidur, pikiran Alena berkelana jauh, matanya menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum dia tiba-tiba menggelengkan kepala. Sesekali Alena akan memukul kepalanya, "bodoh! Apa yang kau pikirkan? Alfred hanya sahabatmu! Jangan sampai hubungan baik yang selama ini terjalin dengan baik rusak begitu saja, jangan berpikir! Jangan memikirkannya! Alfred hanya menganggap dirimu sahabat Alena, sadarlah!" Alena berbicara seorang diri. "Alena yang manis dan cantik, jangan karena terlalu lama menjomblo kau jadi memikirkan Alfred. Ah, pikiranku rusak karena ibu." Alena berteriak dengan membenamkan wajahnya ke bantal. Alena mengambil boneka beruang besar yang merupakan hadiah ulangtahunnya dari Alfred, Alena memukul wajah boneka itu seolah yang ada di depannya adalah Alfred. "Dasar menyebalkan! Kau lihat! Ibu menjadi salah paham tentang hubungan kita, awas saja kau besok! Aku akan menarik rambutmu, mencubit pipimu dan menggigit tanganmu. Aku akan melampiaskan kekesalanku padamu," Alena memukul boneka itu dengan kesal. Di lantai bawah Aleta hanya bisa memegang bahu Robert, Aleta melirik ibunya dengan kesal lalu beralih pada ayahnya yang selalu mendukung apa yang diinginkan ibunya. "Bu, aku ke kamar juga ya! Paman akan menginap di sini di kamar sebelah kamar kakak. Kalian beristirahat lah! Sudah malam, tidak baik bagi orang berusia lanjut untuk begadang." Aleta meninggalkan Robert dan orangtuanya menuju kamarnya di lantai bawah. Aleta memasuki kamarnya, ia berjalan ke samping tempat tidur memandang foto kebersamaannya dengan Alena. Senyum manis terbit di bibir Aleta saat melihat lengkungan cantik di dalam foto yang ada di wajah Alena, setelah beranjak dewasa baru Aleta sadar kalau Alena selalu mengalah padanya. Alena selalu memberikan yang terbaik untuknya dan adik mereka baru kemudian untuk dirinya sendiri. "Kak, terbuat dari apa hatimu hingga tidak ada kebencian di dalamnya? Terbuat dari apa pikiranmu hingga setitik saja, kau tidak pernah ingin membalas kejahatan yang dilakukan orang lain padamu. Kak, betapa sabarnya kau selama ini, kau tidak pernah mengeluh, tidak pernah mencaci dan bahkan kau tidak pernah memperlihatkan kemarahanmu." Aleta menangis, memeluk erat foto Alena ke dalam dekapannya. Alfred di sisi lain telah selesai berkemas, dia saat ini tengah menatap foto Alena yang tersimpan di galeri telepon selulernya. Di dalam foto itu Alena sedang tersenyum sembari menatap tenggelamnya matahari, tangannya terulur ke depan seolah mencoba menangkap cahaya jingga itu. Pasir pantai di bawah kaki Alena berkilau dengan indah, secantik senyum yang Alena perlihatkan di foto itu. Alena di dalam foto itu terlihat tanpa beban, tanpa masalah sama sekali. Keceriaan Alena adalah kebahagiaan tersendiri bagi Alfred yang selalu berada di sampingnya. Alfred membalik posisi tubuhnya meraih guling yang terletak di tengah tempat tidur lalu memeluk bantal itu erat. "Kau terlalu fokus akan orang lain hingga kau tidak sadar bahwa ada orang yang selalu menunggu berharap mendapatkan perhatianmu." Alfred berbicara pada foto Alena sembari menyentuh pipi Alena dalam foto itu. "Cobalah Alena! Cobalah sekali saja kau melihat ke arah samping, di sini di sekitarmu aku selalu menunggu kau melirikku. Aku menunggu senyum cerahmu yang berasal dari hatimu untukku." Alfred terus berbicara seorang diri, cintanya yang begitu tulus terlihat di dalam mata itu. Alfred akhirnya tertidur sambil memeluk bantal serta memandangi foto Alena. Pagi-pagi sekali Alena telah bangun, dia telah selesai mandi, memakai pakaian cantiknya lalu berdandan. Tidak seperti biasa, Alena yang paling benci dengan alat make-up hari ini memakai semua itu. Dia turun ke lantai bawah dengan tangan menenteng koper berukuran sedang serta tas sandang kecil yang tampaknya dijadikan sebagai penyimpanan dompet serta telepon seluler miliknya. Alena meletakkan koper serta dompet itu di atas meja ruang keluarga baru berjalan menuju ke meja makan di mana semua orang telah berkumpul untuk sarapan bersama. Alena duduk di sebelah Clara, ia mengambil piring lalu menyendok nasi goreng buatan Clara beberapa kali, mengambil telur separuh matang, tomat serta dedaunan hijau yang tersedia di atas meja. Alena mengabaikan perubahan di sekelilingnya, ia berusaha bersikap santai namun ucapan Aleta membuat sendok yang harusnya masuk ke mulutnya melayang di udara. "Tumben kau berdandan, Kak!" goda Aleta dengan senyum cemoohaan. Aleta merasa takjub dengan perubahan Alena yang menurutnya berbeda dari biasanya. Alena tampak begitu cantik dengan bulu mata lentik itu, perona pipi yang Alena gunakan sesuai dengan kulit wajahnya apalagi lipstick itu, Alena benar-benar tidak seperti Alena biasanya yang hanya memakai bedak bayi saja. "Aku bosan ditertawakan oleh Alfred, aku akan memperlihatkan padanya kalau aku ini cantik dan banyak orang yang menyukaiku." Alena dengan bangga mengangkat dagunya, ucapan Alena yang terkesan kesal itu membuat ayah dan ibunya tertawa. "Kau akan bekerja jauh, jangan mau didekati oleh orang-orang yang tidak kau kenal! Jika ada yang mencurigakan kau hubungi kami secepatnya." Clara menyentuh tangan Alena, Clara takut Alena mengalami kejadian buruk lagi seperti dulu. Alena mengangguk, ia mengambil gelas menuangkan jus pada teko besar itu lalu meneguknya dengan cepat. Alena makan dengan begitu lahap, setelah selesai sarapan Alena mengambil koper serta dompetnya lalu berjalan menjauh menuju ke mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Alena masuk ke mobil, dia duduk sambil mengarahkan pandangan ke tepi jalan di mana pohon-pohon rindang tinggi tampak tumbuh dengan subur, alunan musik ringan mengantar perjalanan mereka menuju ke bandara. Tidak sekalipun Alena melihat ke arah depan, ia begitu fokus pada dunianya sendiri mengabaikan hiruk-pikuk ributnya kota metropolitan. Sesampainya di bandara Alena langsung turun dari mobil, ia mengambil koper itu berjalan masuk dengan santai. Beberapa pasang mata menatap ke arahnya namun Alena berusaha bersikap tidak peduli. "Kau kesurupan?" tanya Alfred saat matanya menangkap keberadaan Alena dan berhasil berdiri di samping Alena. Alfred memindai tampilan Alena dengan saksama, mulai dari ujung sepatu sampai ke kepala Alena. Alfred terlihat bingung dengan perubahan Alena yang begitu mendadak. Alena terlihat jengah saat mendengar pertanyaan Alfred, tangannya dengan sigap menarik kepala Alfred lalu memukul bahunya dengan keras. "Aku cantik bukan? Apa kau terpesona? Aku bosan selalu mendapat predikat jomblo itu sebabnya aku akan memperlihatkan padamu kalau aku ini laku." Alena berjalan lebih dulu meninggalkan Alfred yang bingung sendiri. Alfred tahu perkataannya hanya dijadikan alasan saja oleh Alena karena yang sebenarnya Alena hampir saja menyerah pada Robert atau hanya ingin melihat ekspresi Robert saja. Di penjara bawah tanah kediaman Alvin, Agata sudah tergolek lemah. Luka-luka di tubuhnya telah dikerubungi oleh ulat sehingga bau busuk yang menyengat memasuki Indra penciuman siapa saja yang lewat di depan selnya. Adera saat ini berdiri di depan sel Agata, di tangannya ada undangan pernikahan Andreas suami Agata bersama wanita lain yang merupakan salah satu teman masa kecil Andreas. Selain undangan, ada juga beberapa foto yang memperlihatkan kebahagiaan Andreas bersama pasangannya saat ini. "Kau lihat ini! Kakakku sudah menemukan pasangannya, wanita ini akan menjadi ibu baru untuk anak-anakmu. Kau tahu! Aku dengar Andreas bahkan sudah lama menyerah padamu." Adera melempar foto itu ke dalam sel. Senyum jahat yang ditampilkan Adera membuat kebencian di hati Agata menumpuk namun tubuhnya tidak bisa ia gerakkan seperti biasa lagi. Setiap bergerak akan ada rasa sakit yang tidak tertahankan hingga membuatnya mendesis terus-menerus. Agata mengambil foto itu, air matanya berlinang saat melihat tatapan yang diberikan Andreas pada wanita yang ada di dalam foto. Andreas di dalam foto itu menggunakan baju berwarna biru senada dengan baju yang dikenakan pasangannya. Tangan Andreas memegang pinggang wanita itu, sedangkan si wanita memegang bahu serta d**a Andreas dengan posisi saling tatap. Agata meremas foto itu hingga hancur, ia merangkak mencoba menjangkau Adera namun Adera lebih dulu menjauh. "Kau wanita jahat! Kau menghancurkan kebahagiaan keluargaku, foto ini pasti hanya editan. Kau hanya ingin membuat diriku menyerah, ya, kau hanya ingin aku menyerah." Agata menolak untuk percaya, dia berteriak dengan keras menyebabkan mata beberapa orang di luar sel melirik ke arah tempatnya berada. "Aku akan menghancurkan kalian! Ya, kalian lihat dan tunggu saja, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua, aku akan membuat kalian menyesal telah hidup di dunia ini." Agata terus berbicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN