44

1735 Kata
Agata meronta, dia bergerak tidak tentu arah ingin menjangkau serta memberikan pukulan pada Adera yang berada di luar penjara. Agata tidak menghiraukan rasa sakit yang ia rasakan hanya untuk membalas Agata melepaskan kebencian serta kecemburuan yang dimilikinya. "Kenapa? Kenapa aku tidak diizinkan untuk bahagia? Kenapa kalian bisa mendapatkan apa yang kalian inginkan sedangkan aku tidak? Apa yang kurang dari diriku hingga takdir begitu jahat padaku? Kalian memiliki kasih sayang ayah dan ibu sedangkan aku, aku hanya diajarkan untuk hidup kuat di dunia ini." Agata berteriak histeris sembari meluapkan isi hatinya. "Ketika berumur tujuh tahun aku sudah dikirim ke hutan, mengalami pertempuran hanya untuk menjadi kuat agar bisa bertahan hidup. Sedangkan kalian, kalian sekolah dengan enaknya, bermain, belajar bahkan mengalami masa-masa yang indah. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan itu semua? Kenapa?" tanya Agata sembari menarik rambutnya dengan kuat. Agata memegang besi pembatas penjara itu agar bisa berdiri, dia ingin meludahi Adera yang berdiri jauh darinya. "Kenapa saat aku jatuh cinta, dia malah direbut dari tanganku. Padahal aku lebih dulu mengenalnya, aku lebih dulu mendekatinya tapi kenapa wanita itu yang mendapatkannya lebih dulu? Kenapa Tuhan begitu tidak adil padaku?" Agata akhirnya berhasil berdiri, dia ingin meraih Adera tapi Adera lebih dulu menjauh. Adera melipat tangan di d**a menikmati kegilaan Agata, teriakan histeris Agata mengundang banyak orang untuk mendekat serta mengamati keadaan dari jauh. "Kau tanya kenapa? Sadar diri dengan sikapmu, penampilanmu yang seperti murahan itu tidak akan diinginkan oleh lelaki. Sifat tamak yang kau miliki, keserakahan di matamu ketika melihat kekayaan serta niat jahat yang ada di pikiranmu itu terlihat jelas dari raut wajahmu. Kau tanya kenapa kakakku tidak menginginkan dirimu bukan? Wanita yang menjadi istrinya adalah wanita lemah lembut, penuh kasih sayang. Tutur katanya begitu anggun, dia cantik luar dalam." Adera mencibir. Bibirnya tertekuk dengan cara anggun membuat Agata semakin merasa cemburu, Agata iri pada tubuh Adera yang tidak memiliki luka di tubuhnya sama sekali. Sedangkan dirinya, dia harus melalui operasi panjang untuk mendapatkan kemulusan serta kecantikannya saat ini. "Dia tidak pernah memandang rendah orang lain, dia menganggap orang itu sama tanpa membedakan status sosial siapapun. Dia bahkan dengan sukarela memberikan uluran tangan pada orang-orang yang membutuhkan, bagaimana denganmu? Saat keluarga suamimu membutuhkan bantuan kau malah menghina mereka, kau mencaci mereka dan bahkan mencoba menghasut suamimu." Adera menjelaskan semuanya secara santai. "Agata oh Agata! Kau merasa dirimu menderita, kau kadang merasa kau sempurna, memiliki segalanya padahal kau itu orang miskin. Di hatimu hanya ada kecemburuan, keserakahan serta keinginan yang terlalu berlebihan. Kau selalu merasa tidak puas dengan apa yang kau miliki saat ini, kau iri melihat kebahagiaan orang lain, itu sebabnya kau tidak pernah merasa bahagia." Adera menusuk hati Agata dengan kebenaran yang ia ucapkan. "Kau jahat, Adera! Aku tidak pernah mengira akan bertemu orang jahat seperti dirimu, kau diam-diam menghanyutkan. Aku tertipu olehmu," bisik Agata lemah. Agata jatuh terduduk, ia bersandar dengan lemah ke tempat dinding sel menatap layar yang menampilkan kejahatan yang ia lakukan secara terus-menerus. Agata meneteskan air mata yang benar-benar tulus berasal dari hatinya meski semua sudah terlambat. Di layar besar itu, ada beberapa gadis yang diselamatkan dalam kondisi mental yang rusak. Ada juga beberapa kantung mayat yang isi di dalamnya sudah tidak utuh lagi, ada bayi hingga balita yang dibawa ke luar dari panti itu untuk dipindahkan ke panti asuhan lain milik pemerintah. Tulang belulang juga ditemukan dalam keadaan bertumpuk di sekitar pantai serta beberapa organ tubuh. Tidak hanya itu, di layar juga ditampilkan aktivitas ilegal lain dari geng milik keluarga Agata. Pembunuhan, perampokan, pemerasan, kekerasan fisik hingga seksual semuanya ditampilkan dengan sangat jelas. Bahkan perdagangan senjata juga barang haram yang mereka lakukan secara diam-diam juga ditampilkan. "Aku memang jahat, tapi aku tidak pernah mengambil milik orang lain. Aku juga tidak pernah berniat merusak kehidupan bahagia orang lain dan bahkan aku tidak pernah menculik atau berbuat baik pada orang-orang yang tidak bersalah." Adera menjawab ucapan Agata. Agata mengangkat kepala, dia menengadah dengan wajah pucat pasi seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan hebat. "Mantan suamimu akan menikah dengan teman masa kecilnya. Dia akan menikah dengan cara yang meriah, kami memang belum melihat seperti apa ketulusan serta sikap wanita itu sekarang tapi setidaknya dia lebih baik darimu. Anak-anakmu juga tidak pernah bertanya tentang dirimu, mereka masih kecil jadi tidak perlu ibu seperti dirimu mengajari mereka. Untuk bayi kecilmu, dia akan dibesarkan oleh kakakku agar bisa dididik seperti Alena dan Aleta. Bersiaplah! Kau akan dikirim ke penjara hari ini, jika kau membuka mulut soal masalah ini maka hari esoknya anak-anakmu tidak akan melihat matahari lagi." Adera membalik tubuhnya meninggalkan tempat itu. Di layar berganti dengan foto kebersamaan anak-anak Agata bersama Andreas dan calon istri barunya. Mereka terlihat akur dan harmonis bahkan anak-anak Agata tampak begitu dekat dengan perempuan itu. Air mata Agata jatuh tidak terkendali, hatinya hancur berkeping-keping dengan rasa bersalah yang begitu besar. Agata menutup mata menyerah pada takdir, ia menyerah untuk bertahan setelah melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah anak-anaknya tanpa kehadiran dirinya di sisi mereka. Adera di sisi lain telah sampai di pintu ke luar, ia memeriksa telepon selulernya menemukan foto Alena yang baru saja di kirim melalui pesan gambar. Alena tampak begitu cantik, senyum teduh Alena menghangatkan hati Adera yang membeku. Adera sampai di ruang tamu Alvin, ia mencari keberadaan Reda untuk melihat apakah dia memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Saat itulah dia berpapasan dengan Robert yang baru saja datang, Robert memasang wajah masam. "Apa yang membuatmu begitu menyayangi Alena, Adera?" tanya Robert tanpa menghentikan langkah Adera. Adera mengernyit saat mendengar itu, dia mencoba berpikir sebelum memberi jawaban padahal jawaban itu sudah bisa langsung ia jawab. "Hem, apa ya? Mungkin karena aku melihatnya dengan cara dan sisi yang berbeda darimu, Kak! Aku melihat Alena dari luka, perlakuan serta kebaikannya mungkin." Kali ini giliran Robert yang mengernyit bingung. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Adera agar bisa mendapatkan jawaban lebih. "Alena tidak pernah memendam kebencian di dalam hatinya walau dia dimarahi atas kesalahan yang tidak dia perbuat. Dia tidak pernah marah saat Aleta menjadikan dirinya kambing hitam atas kesalahan yang Aleta lakukan, dia hanya tersenyum saat dimarahi dengan kepala menunduk, tidak menjawab kita saat menasehatinya selain itu dia pintar dan cantik." Adera menjawab apa adanya. "Dia tidak pernah membalas Aleta, dia akan selalu mengajari adik-adiknya meski mereka tidak pernah mendengar. Dia akan selalu berdiri di depan jika ada sesuatu menimpa adiknya, bagiku dia lebih pantas disayangi daripada siapapun di rumah itu." Adera mengangkat bahu lalu berjalan pergi menuju ke lantai atas. Dia kembali melihat telepon selularnya menampilkan video Alena yang berjalan ke sana ke mari untuk menciptakan dekorasi yang begitu indah. Dia akan mengatakan apa yang perlu diubah dengan cara lembah lembut, senyum tidak pernah hilang di bibirnya, dengan sabar ia akan menjelaskan kekurangan yang terlihat lalu membantu menyelesaikan semuanya. "Sayang sekali cinta tidak berpihak padamu, Ale! Andai saja ada cara untuk menghapus cinta maka aku akan melakukan itu padamu, aku hanya tidak ingin kau kecewa atau berubah menjadi Agata ke-dua. Seseorang yang akan merebut kebahagiaan orang lain hanya untuk kesenanganmu, tapi jika itu terjadi maka aku akan berdiri paling depan untuk melindungimu meski semua orang membenciku." Adera berjanji sepenuh hati sambil membelai wajah Alena di dalam video itu. Adera menyembunyikan kembali telepon selulernya ke dalam kantong celana, ia mengetuk pintu ruang kerja Alvin dua kali menunggu jawaban dari dalam. Tepat lima detik setelah Adera selesai mengetuk pintu, muncul wajah Reda dengan ekspresi datarnya yang biasa. "Ada apa?" tanya Reda dengan suara rendah nyaris menghilang terbawa angin. "Apa ada pekerjaan untukku hari ini? Jika tidak aku akan pergi ke beberapa tempat." Adera bertanya dengan wajah sedikit memerah namun dengan cepat ia menyembunyikan rona samar itu. Adera menunduk setelah bertanya takut Reda melihat perubahan yang begitu besar dalam nada suaranya atau bahkan pada pipinya. "Tunggu sebentar!" ujar Reda, dia kembali menutup pintu mengambil berkas perusahaan yang harus dikerjakan Adera untuk beberapa hari ke depan. Pekerjaan untuk Adera memang telah disiapkan oleh Alvin, ada beberapa proyek penting yang harus Adera kunjungi serta ada beberapa pertemuan yang harus dihadiri olehnya. "Tuan mengatakan ini yang harus kau kerjakan untuk dua bulan ke depan. Biaya perjalanan sudah dikirim ke rekening kerja milikmu, di dalam sana sudah dikirim biaya maka, tranportasi, dan sebagai macamnya termasuk uang bonus." Reda menjelaskan, dia memberi setumpuk kertas pada Adera lalu masuk ke dalam ruang kerja kembali bahkan Reda mengabaikan tatapan tidak percaya Adera terhadap tumpukan perkejaan yang ia terima. "Tidak ada libur lagi dua bulan ke depan," decak Adera dengan wajah kesal. Adera membawa setumpuk berkas itu menuju ke kamarnya untuk disusun dan dirapikan. Ia akan memilah tempat-tempat yang harus dikunjungi atau memisahkan pekerjaan yang paling dekat hari pertemuannya. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati lalu menyebarkan semua dokumen itu di tempat tidur. Buru-buru Adera menutup pintu takut hal yang ia lakukan dilihat oleh Reda atau Robert yang merupakan anak buah kesayangan Alvin. Reda memeriksa semua dokumen itu lalu meletakkan mereka sesuai tanggal pengerjaannya, ada beberapa yang masih lama yang ditumpuk Adera di bagian paling bawah. Tampaknya pekerjaan mereka menjelang kelahiran Angela semakin segunung, Adera mendesah kecewa, awalnya dia ingin pergi menemui Alena takut Alena akan bertemu dengan Farrel. Adera membuka laptopnya, ia mulai menyusun file, data serta bahan-bahan lain yang diperlukan untuk semua acara yang akan dia lalui. Sampai malam hari Adera tidak ke luar dari kamarnya, makan pun hanya diantar oleh pelayan. Esok harinya Adera ke luar dengan pakaian rapi, ada beberapa map di tangannya yang sudah tersusun rapi. Mungkin hari ini pekerjaan tanpa hentinya akan di mulai hingga dua bulan ke depan. Adera turun menuju meja makan, dia ikut sarapan bersama semua orang dengan map tadi dia letakkan di lemari penyimpanan kunci mobil. "Waw, kau tampak begitu cantik pagi ini, Adera!" Angela yang sangat suka melihat wanita cantik langsung memuji penampilan Adera yang memang tampak menarik itu. Adera memutar matanya malas, dia mencebik kesal namun tetap mengambil nasi goreng di atas meja, ia memilih telur yang lebih matang, tomat yang sudah dipotong serta sayur-mayur yang sudah dibersihkan. "Hem, aku memang cantik dari lahir. Aku heran dengan matamu selama kehamilan ini, Angela! Anakmu tampaknya suka sekali dengan pria tampan dan wanita cantik." Adera memainkan sendok di tangannya, memutar sendok itu beberapa kali di udara lalu menunjuk perut buncit Angela yang terlihat menakutkan. Angela mengusap perutnya lalu tertawa, "Anakmu tampaknya meniru ayahnya, dia suka sekali jika melihat yang bening-bening di depan mata. Aku takut mereka nakal seperti ayahnya." Angela mengangguk, ia mengiyakan ucapan Adera seakan menuduh Alvin. Tatapan peringatan dilayangkan Alvin pada kedua orang itu yang malah dibalas cibiran oleh Angela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN