Angela terlihat memikirkan sesuatu lalu menatap Adera, pandangan matanya berpindah pada Reda yang cuek, datar dan penyendiri. Sebuah ide jahil muncul di benaknya dengan sinar lampu terang yang terlihat melayang di udara.
"Kudengar kau dijodohkan oleh orangtuamu. Apakah pria itu tampan, Adera?" tanya Angela dengan senyum aneh.
Dia mengambil nasi goreng di atas meja menaruhnya di piring Alvin beberapa kali sendok. Angela mengambil telur yang kuningnya belum matang, mengambil tomat serta ketimun yang sudah dipotong dengan santai.
Angela tidak melihat tatapan iba yang Alvin berikan, Alvin paling benci dengan tomat namun semenjak kehamilan Angela memasuki usia delapan bulan Alvin dipaksa oleh Angela memakan tomat itu.
"Sayang! Tomatnya terlalu banyak, bisa kau kurangi sedikit untuk hari ini!" pinta Alvin memelas dengan wajah mengiba.
Angela menggelengkan kepala pertanda apa yang dia inginkan tidak menerima penolakan. Alvin terpaksa memakan semua itu dengan wajah memerah, saat tomat masuk ke dalam mulutnya Alvin seperti hendak muntah kapan saja.
"Hem ... dia memang tampan, tapi sedikit dingin. Bagiku itu tidak masalah karena aku sudah terbiasa melihat kulkas berjalan, setiap hari wajah-wajah tampan yang aku temui selalu dingin tanpa ekspresi." Adera mengangkat bahu lalu melanjutkan makannya.
Angela yang mendengar ucapan Adera hampir saja memuntahkan makanan yang ada di mulutnya. Angela memutar kepala melihat Alvin, Robert lalu beralih pada Reda. Tawa Angela pecah bahkan hampir membuat ia tersedak makanannya sendiri.
"Kau ini, hah ... aku benar-benar tidak bisa berbicara lagi. Ya, kalau aku sih sudah bosan melihat wajah-wajah kulkas ini, aku ingin melihat wajah lain tapi belum punya kesempatan sama sekali." Angela terlihat kecewa namun ia kembali makan tanpa menghiraukan apakah ucapannya membangkitkan singa y
tidur di sebelahnya.
"Oh ya! Jadi kau sudah bosan? Bagaimana kalau aku mengurungmu di kamar untuk terus melihat wajah datar tanpa ekspresi itu. Kita lihat sendiri apakah kau bosan atau malah menikmatinya." Alvin mengangguk beberapa kali sepertinya Alvin memikirkan rencana yang begitu indah.
Angela langsung mengangkat kepala, alarm peringatan berdering di kepalanya dengan keras. Angela buru-buru menghabiskan nasi goreng miliknya lalu pergi dari ruang makan dengan cepat meski terlihat susah.
Adera juga telah menyelesaikan sarapannya, ia bangkit juga saat melihat semua orang telah selesai makan. Dia mengambil tas serta berkas penting yang tadi diletakkannya di lemari penyimpanan kunci, mengambil kunci mobil lalu pergi meninggalkan rumah Angela dan Alvin menuju kantor Alvin.
Hari ini dia ada pertemuan dengan direktur serta manager yang berkerja di perusahaan Alvin. Adera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, dia akan berhenti di lampu merah memandangi pohon yang ada di tepi jalan atau orang-orang yang berbahagia dengan pasangannya.
Adera sampai di kantor Alvin tepat pukul setengah delapan pagi, dia memarkirkan mobilnya di parkir bawah tanah khusus untuk petinggi perusahaan. Adera mengunci mobil lalu berjalan menaiki lift khusus untuk menuju ruang pertemuan, Adera sampai di lantai pertemuan tidak lama setelah dia menaiki lift.
Di ruang pertemuan sudah ada beberapa orang yang menunggu, mereka tampak bersemangat tidak seperti saat mereka meeting bersama Alvin. Adera tidak banyak berbicara seperti Alvin, Adera hanya akan membahas apa yang penting saja, tidak mencari kesalahan mereka dan bahkan tidak memperpanjang masalah.
"Selamat pagi semua!" sapa Adera ramah, dia meletakkan berkas yang dibutuhkan di atas meja, menyerahkan yang lain pada asistennya yang sudah duduk di kursi di sebelahnya. Adera membaca dokumen yang telah disiapkan oleh asistennya dengan hati-hati sembari menunggu yang lain datang.
Ruang pertemuan tampak hening, apalagi saat asisten Adera mulai membagikan kertas yang sudah ia copy semalam. Mereka yang hadir langsung membaca apa yang menjadi pembahasan hari ini tidak lupa dengan dokumen mereka sendiri atas apa yang telah mereka kerjakan.
Satu-persatu peserta meeting mulai berdatangan mengisi kursi kosong yang telah disediakan. Saat semua kursi sudah penuh barulah mereka mulai membahas apa tindakan selanjutnya, suasana tampak khidmat dengan tatapan mata semua orang tertuju pada layar yang ada di depan.
Pukul sebelas meeting selesai, beberapa pengajuan diterima Adera dan akan dikumpulkan untuk diajukan langsung pada Alvin. Adera melihat jam di tangannya, dia langsung turun ke lantai bawah agar bisa pergi ke tempat meeting selanjutnya menyelesaikan beberapa proyek dengan mitra kerjasama perusahaan.
Adera yang menyetir sendiri tidak menunggu asistennya karena pria itu pergi menggunakan mobil perusahaan, mereka menuju hotel bintang lima di mana pertemuan akan diadakan di ruang rapat khusus yang telah disediakan pihak hotel untuk pertemuan-pertemuan penting. Adera sampai di sana pada pukul 12.30 kurang setengah jam dari waktu yang ditentukan.
Adera tidak ingin klien mereka menunggu, prinsipnya lebih baik dia yang menunggu daripada orang lain karena menunggu itu menyakitkan serta membosankan. Adera mengambil tasnya serta berkas tambahan yang disiapkan asistennya, dia berjalan santai menuju ke lobi hotel untuk menanyakan di mana ruang rapat untuk dirinya.
Sepanjang hari itu Adera menghabiskan waktu untuk pertemuan, dia pulang ke rumah Angela saat semua orang bersiap untuk makan malam. Di depan pintu dia kembali bertemu dengan Reda yang juga hendak masuk ke dalam rumah Alvin dengan setumpuk makanan di tangannya.
"Angela meminta itu semua?" tanya Adera penasaran, Reda menggelengkan kepala, kali ini yang meminta semua yang ia bawa adalah Alvin serta Robert.
"Bukan! Ini permintaan kakakmu dan Tuan Alvin, mereka ingin makan yang manis-manis katanya. Padahal jarang sekali lelaki mau memakan semua ini, tapi ya sudahlah yang namanya perintah harus dipenuhi." Reda kali ini berbicara banyak sebelum meninggalkan Adera yang kembali melongo akan sikap Reda yang terkesan berubah-ubah itu.
Adera melihat punggung Reda lalu melihat ke sekitarnya, dia melakukan proses itu berulang-ulang sampai punggung Reda tidak terlihat oleh matanya lagi. "Dia berbicara sangat banyak hari ini, apakah ada keajaiban atau memang semua pria datar di rumah ini mengalami perubahan?" tanya Adera tidak mengerti entah pada siapa.
Bingung, Adera memilih untuk masuk ke dalam rumah Angela menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua untuk membersihkan diri. Adera tidak ingin dia membawa virus pulang karena hal itu dapat membahayakan Angela dan anaknya.
Selesai mandi Adera merasakan lapar, ia berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Adera tampak heran sebab semua makanan di meja makan masih belum disentuh dan masih terhidang dengan rapi. Piring makan di atas meja masih tersusun dengan baik menandakan belum ada satupun orang di rumah Alvin yang makan.
Angela melangkah mundur, dia mencari keberadaan semua orang yang ternyata sedang duduk di ruang keluarga sambil bercerita. Ada Marco juga di ruang keluarga namun kali ini dia menampilkan raut wajah masam seperti orang yang sedang patah hati.
"Selamat kembali, Adera!" sapa Angela ramah dengan senyum ceria.
Angela sedang memakan sebuah cokelat berbentuk hati dengan pola bunga di atasnya yang terlihat menarik, Adera melirik pada meja yang ada di ruang keluarga di mana beberapa makanan ringan manis dibiarkan berserakan. Ada beberapa yang bungkusnya sudah dibuka dan ada beberapa yang tampaknya sengaja dibiarkan begitu saja.
Adera ikut duduk di samping Robert yang hari ini ikut memakan cokelat yang sangat dia benci sejak dulu. Adera mengambil bungkus kue paling dekat dengannya menikmati waktu sebelum makan malam bersama.
"Tumben belum ada yang makan malam?" tanya Adera penasaran.
Adera melihat semua orang untuk mendapat jawaban yang dibalas tawa Angela.
"Kami sedang berusaha membuat suasana hati seseorang membaik, pria malang ini ditinggalkan kekasihnya setelah dia ketahuan menyembunyikan anak pemilik rumah sakit tempat dia bekerja di rumahnya. Hah ... laki-laki baru merasa kehilangan setelah orang yang dia cintai pergi." Angela memutar cokelatnya di udara beberapa kali setelah menunjuk Marco yang sedang duduk bersedih di ujung sofa.
Mendengar ucapan Angela Marco memutar kepalanya lalu menangis dengan keras, hal ini membuat Angela semakin tertawa dengan gila yang dibalas gelengan kepala Alvin dan Robert. Di rumah ini memang tidak ada yang bisa mengalahkan mulut pedas Angela, siapa yang berani menjawab ucapannya? Apa mereka berani menghadapi kemarahan Alvin?
"Benarkah? Itu benar-benar tidak dapat dimaafkan, apakah kekasihnya menghilang tanpa jejak? Bagaimana kalau kita menyembunyikan wanita itu?" Adera tampak antusias, dia berpindah duduk ke samping Angela menggeser Alvin menjauh membuat Alvin kesal namun tidak bisa marah sama sekali.
"Ide bagus! Ayo kita cari wanita itu! Kita bujuk dia untuk tidak memaafkan pria kurang ajar ini dengan mudah. Lelaki hanya bisa menyakiti hati wanita tapi dia tidak bisa menyembuhkan lukanya. Apa mereka pikir hati wanita itu terbuat dari baja hingga dengan sesuka hati mereka lukai tanpa perasaan." Angela ingin berdiri namun tangannya langsung ditarik oleh Alvin.
"Kalian jangan macam-macam! Walau Marco seperti itu, dia tidak pernah menyentuh anak pemilik rumah sakit, Marco melakukan itu agar wanita itu sembuh dari rasa traumanya." Alvin mencoba membela Marco, hal ini tidak pernah dia lakukan sebelum ini.
Angela mengernyit tidak percaya, dia melihat Marco dengan tatapan sinis baru mengalihkan pandangan pada Alvin kembali meminta jawaban sebenarnya.
"Wanita itu mengalami trauma akibat penculikan serta kekerasan fisik yang diterimanya. Apa yang dia derita hampir sama dengan apa yang dialami Luna adik Marco, itu sebabnya Marco mau membantu dirinya. Jangan salah paham dulu sebelum mengetahui masalah yang sebenarnya." Alvin menceramahi Angela dan Adera.
Angela melirik Adera meminta bantuan namun Adera malah menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk. "Lalu kenapa wanita itu mengatakan hal lain? Kenapa wanita itu mengatakan dirinya diculik oleh Marco untuk kesenangan Marco setiap malam?" tuding Angela gigih dengan tangan di pinggang serta pipi menggembung.
Alvin menghela napas, "dia memang disembunyikan dari media karena takut akan menyebabkan masalah besar dengan dalih dia diculik oleh seseorang. Kalau Marco tahu kejadiannya akan seperti ini dia tidak akan mau menolong direktur rumah sakit itu untuk menyembuhkan putrinya. Mereka memiliki surat perjanjian dan bukti surat itu ada padaku karena aku berada di sana saat perjanjian itu ditandangani."
Alvin melirik Robert yang begitu asyik menikmati kue manis di atas meja, bagi Robert disenggol oleh Reda membuat Robert tersadar dari dunianya. "Kenapa?" tanya Robert kesal dengan tatapan peringatan pada Reda.
"Tuan melihatmu! Ada sesuatu yang Tuan minta kau ambilkan sepertinya," bisik Reda pada Robert.
Robert melirik Alvin meminta jawaban tanpa tahu kesalahannya. "Ada apa, Tuan?" tanya Robert kemudian saat dia menyadari semua orang melihat padanya.
"Ambilkan dokumen perjanjian Marco dan pemilik rumah sakit itu. Padahal aku sudah mencegah pria bodoh ini, lihat kan sekarang! Apa yang aku takutkan terjadi juga dan dia dengan bodohnya hanya termenung seperti orang kehabisan obat." Alvin mengejek Marco yang masih sibuk dengan dunianya.
Robert langsung bangkit dari duduknya, tidak lupa dia masih sempat mengambil beberapa permen di atas meja memasukkan ke dalam kantong celananya sebelum berlari menuju ruang kerja Alvin di lantai dua. Cukup lama Robert berada di atas sebelum dia muncul lagi dengan map berwarna hijau di tangannya.
Robert menyerahkan map itu pada Alvin lalu duduk kembali di posisinya tadi menikmati permen yang ada di atas meja sambil memejamkan mata.