46

1806 Kata
Alvin membuka map secara perlahan, dia melihat bagian tanda tangan lalu menyerahkan map itu pada Angela yang sejak tadi terus menuding Marco dengan tuduhan berat. Angela mengambil map itu dari tangan Alvin menyerahkan pada Adera untuk dibaca, hal itu membuat Alvin merasa kesal sekaligus ingin marah pada tingkah manja istrinya. Adera membaca isi map dengan saksama, lalu melihat Marco yang duduk dengan posisi menyedihkan. "Hah, laki-laki memang tidak bisa mengambil keputusan. Dia tidak pernah sadar kalau diamnya mereka tidak bisa diartikan oleh wanita, bukan hanya satu lelaki bodoh yang pernah aku lihat tapi banyak. Mereka baru sadar wanita itu penting baginya setelah orang yang selalu memberi perhatian, orang yang selalu ada di matanya menghilang tanpa jejak." Adera menggelengkan kepala, ia meletakkan map itu di atas meja lalu berbisik pada Angela. "Ayo makan! Sudah cukup kita menghibur pria malang ini, jika dia diam seperti ini mana mungkin wanita itu akan sadar." Angela bangkit dari duduknya dengan susah payah, ia berjalan tertatih menuju ke ruang makan yang terletak tidak jauh dari ruang keluarga. Robert, Reda, dan Alvin meninggalkan Marco sendirian. Mereka menyusul Angela dengan langkah cepat takut sesuatu yang buruk terjadi pada ibu hamil itu. Mereka duduk di kursi masing-masing mulai membaik piring makan menyantap makanan yang sudah tersedia cukup lama di atas meja. Marco kemudian menyusul, dia duduk di kursi sebelah Alvin membalik piring miliknya memilih makanan yang ia suka lalu makan dengan lahap seolah dirinya tidak mengalami masalah apapun. Suasana hening tadi langsung berubah heboh ketika mereka melihat tingkah Marco. "Baru kali ini aku melihat orang patah hati masih bisa makan dengan lahap," bisik Adera pada Angela. Angela mengangguk, dia juga heran dengan tingkah sahabat suaminya ini. Angela ingin berbicara namun tatapan Alvin membuat Angela mengurungkan niatnya, Angela memilih menunduk mengabaikan pertanyaan yang akan ke luar dari mulutnya. Adera di sisi lain juga dicubit oleh Robert untuk mencegah ia melontarkan pertanyaan yang tidak penting. Adera kembali ke kamarnya setelah ia selesai makan malam, dia meninggalkan semua orang termasuk Angela yang tampak penasaran dengan kasus a Marco. Pria jahat ini bisa-bisanya tertipu oleh seorang wanita yang selama ini ada di bawah hidungnya, Angela tidak habis pikir dengan kebodohan Marco yang membiarkan dirinya lengah hingga kecolongan seperti ini. Sesampainya di kamarnya Adera memeriksa pesan di telepon selulernya, ada beberapa pesan dari si calon tunangan serta ada beberapa pesan dan Alena dan Alfred. Pesan dari Alena hanya menanyakan tentang apa yang Adera jalani, apakah Adera sudah makan serta melarang Adera untuk tidak banyak-banyak bekerja karena sudah tua. Alfred di sisi lain hanya mengirimkan video kegiatan Alena, apa yang Alena makan? Ke mana saja dia pergi? Adera melihat semua video itu dengan lama sebelum memindahkan semuanya ke dalam sebuah flashdisk hitam yang disambungkan ke laptop. Setiap kegiatan Alena selalu disimpan Adera di dalam flashdisk itu, Adera menyimpan flashdisk-nya kembali di tempat aman setelah selesai memindahkan semuanya. Malam itu Adera kembali melanjutkan pekerjaannya, menyesuaikan semua dengan apa yang dikirimkan oleh asistennya. Esok paginya Adera kembali melanjutkan pekerjaannya, meninggalkan rumah Alvin pagi-pagi sekali agar siang harinya dapat berangkat ke luar negeri menyelesaikan pertemuan penting di luar sana menggantikan Alvin. Alena hari ini sudah berpindah tempat, pekerjaannya kali ini adalah mendekorasi pantai yang awalnya biasa saja menjadi tempat pernikahan mewah. Pagi-pagi sekali Alena sudah memeriksa lokasi untuk menentukan tempat yang bagus mendirikan altar pernikahan, Alena memeriksa setiap sudut yang tempat hingga memutuskan altar pernikahan kali ini menghadap ke laut tepatnya dengan latar belakang matahari terbenam. Alena pertama kali menunjukkan pada timnya, apa-apa saja kali ini yang akan dijadikan bahan untuk membangun altar pernikahan yang megah. Karena pengantin wanita sangat menyukai bunga mawar, maka hiasan di semua tempat menggunakan bunga mawar berbagai warna. Alena juga mengatur tempat duduk para tamu memisahkan mereka menjadi dua bagian di mana di tengah-tengah tempat duduk adalah jalan yang akan digunakan sang pengantin wanita menuju altar. Sepanjang jalan dari ujung pintu masuk sampai menuju altar selain ditutupi dengan karpet merah ada juga bunga mawar segar yang sengaja ditabur. Bagian atas dibiarkan terbuka di beberapa tempat dengan beberapa tempat diberi tonggak besar seperti pilar bangunan yang dililitkan bunga mawar mainan di setiap sudut lokasi. Alena menyiapkan semuanya dengan segera hingga sore tempat lokasi mulai dipenuhi oleh tamu yang berdatangan. Beberapa orang datang secara bersama-sama dan sebagian lagi datang sendiri tanpa membawa pasangannya. Acara tampak berlangsung damai dengan senyum bahagia dapat dilihat dengan jelas di setiap wajah orang-orang yang datang apalagi pengantin. Alena yang melihat semua proses itu tampak menikmati semua keindahan yang diberikan alam, apalagi saat pasangan itu mengucapkan janji di bawah cahaya jingga dengan matahari terbenam yang dijadikan saksi cinta mereka. Setelah acara pernikahan selesai, pengantin itu langsung meninggalkan lokasi menuju hotel tempat resepsi diadakan. Kelompok Alena langsung membersihkan tempat itu, mengambil kembali barang-barang mereka seolah tempat itu tidak pernah dijadikan sebagai tempat acara. Sampah yang berserakan berhasil dipilih hingga bersih, sisa-sisa bunga yang tadinya bertebaran juga sudah tidak ditemukan lagi. "Besok acara apa yang harus kita dekorasi lagi?" tanya Alena iseng pada Alfred, keduanya saat ini tengah menikmati angin laut yang berhembus. Rambut Alena yang tidak terikat dibawa terbang oleh angin hingga membuatnya tampak berantakan. Mereka saat ini duduk dengan tangan berada di antara dua lutut menikmati hempasan suara ombak yang menabrak batu-batu yang sengaja di susun di beberapa tempat. "Hem, seorang pria ingin melamar wanitanya. Mereka sudah bersahabat cukup lama, kalau tidak salah sudah hampir sama seperti kita. Si pria ingin hidup serius bersama si wanita itu setelah ia sadar akan perasaannya dalam ikatan yang jelas, si pria meminta kita membuat sebuah tempat yang menakjubkan agar lamaran mereka menjadi sesuatu yang bisa dikenang lama." Alfred menjelaskan. Pandangan mata Alfred tidak sedikitpun beralih dari laut yang terus mengirimkan gelombangnya ke pantai, pasir-pasir basah yang tadinya meninggalkan jejak kaki siapa saja yang lewat sudah kembali seperti sedia kala. Burung-burung yang tadi siang berkicau tanpa henti sudah mulai diam karena telah pulang ke tempat asal mereka. "Al! Kau tidak ada niat untuk menikah? Apa cintamu ditolak oleh wanita yang kau sukai?" Alena melirik Alfred, dia memandang wajah Alfred yang tampan dengan hidung mancung yang memikat. Alfred terdiam, dia melihat ke arah Alena cukup lama lalu menghembuskan napas kesal dengan tangan mengusap rambut Alena hingga rambut Alena menjadi berantakan. "Ish kau ini! Jangan merusak rambutku! Jawab, Al!" titah Alena dengan bibir mengerucut. Kali ini dentuman ombak terdengar cukup keras seolah ikut kesal dengan kebodohan Alena yang tidak kunjung menyadari perasaan Alfred padanya. "Bagus kalau ditolak, Al! Dia sendiri bahkan tidak tahu kalau aku menyukainya, hidupku sama mirisnya dengan hidupku. Ah ... tampaknya nasib sial yang kau miliki menular padaku, Ale!" sindir Alfred pada akhirnya dengan cibiran khas miliknya. "Hahahaha, siapa yang menyuruhmu berteman dekat denganku, Al? Kau juga sih, setiap hari hanya mengikuti ke mana aku pergi. Mungkin wanita itu salah paham padamu, bisa jadi dia berpikir kalau kau menyukaiku itu sebabnya dia tidak tahu kalau kau menyukainya." Alena tanpa sadar mengutarakan isi hatinya, padahal apa yang ia sampaikan adalah kebenaran tidak terucap yang selalu Alfred tutupi. "Kau ingat tidak, Al? Kenangan kita waktu Sekolah Dasar dulu, saat itu kau ikut kabur bersamaku karena aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Aku izin ke ruang kesehatan dengan alasan sakit, mual, kepala pusing sedangkan kau beralasan sakit kepala agar bisa menemani diriku." Alena tertawa memikirkan kekonyolan mereka saat sekolah dasar dulu. Kenangan itu kembali terbuka dengan senyum indah di bibir Alena. Pagi itu Alena baru saja sampai di sekolah, saat masuk ke kelas dia menemukan beberapa orang sedang berkumpul mengerjakan pekerjaan rumah secara bersama-sama karena masih ada waktu. Alena yang selalu membuat tugas tampak tidak peduli dengan keributan yang terjadi. Dia berjalan dengan santai menuju kursinya yang ada di barisan nomor tiga di mana Alfred duduk di sebelahnya, Alena mengeluarkan permen kesukaannya meletakkan semuanya di atas meja untuk dipilih oleh Alfred. Alfred memilih warna permen yang paling disukai Alena membuka bungkusnya dengan segera lalu memasukkan permen itu ke dalam mulutnya, ia mengabaikan tatapan tidak suka Alena. Alfred duduk manis sembari membuka buku pelajaran yang akan dimulai pagi ini, "kau sudah mengerjakan tugas yang diberikan Madam Anggi belum?" tanya Alfred santai. Biasanya dia tidak perlu bertanya karena Alena terkenal rajin, Alena bahkan langsung mengerjakan tugasnya langsung setelah pulang sekolah. Pertanyaan kali ini dilayangkan Alfred secara asal sebagai bentuk kepeduliannya pada Alena atas permen yang Alena berikan. Alena menjawab dengan anggukan kepala, dia mengeluarkan buku pelajaran pagi ini, ia membaca buku itu dengan cepat lalu tersenyum mencemooh pada teman-temannya yang sibuk bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. "Aku kan anak rajin, mana mungkin aku lupa mengerjakan tugas mudah seperti itu." Pelajaran pagi itu berlangsung dengan sangat cepat, saat Alena akan mengeluarkan buku untuk pelajaran ketiga sebelum pelajaran dengan Madam Anggi Alena dibuat terkejut bukan main. Buku tugas itu tampak terlipat dengan bagian tugas yang sudah dikerjakan Alena menghilang berganti dengan bekas sobekan panjang menyisakan sebagian tugas yang telah ia selesaikan. "Al! Ada yang merobek tugas yang diberikan Madam Anggi, lihat buku milikku ini!" Alena mengeluarkan bukunya dengan hati-hati memperlihatkan pada Alfred yang juga tampak penasaran. Alfred terkejut bukan main saat melihat buku tugas Alena, hanya setengah yang tersisa dari sepuluh pertanyaan yang diberikan oleh Madam Anggi. Mata Alena berkaca-kaca karena takut akan dimarahi oleh Madam Anggi, sebab guru satu itu terkenal tanpa ampun dalam menghukum siswa serta tidak menerima alasan apapun. Alena memikirkan sebuah ide di kepalanya, dia melihat pada guru muda yang sedang mengajar di depan kelas lalu ia berpura-pura ingin muntah. Guru muda itu mengalihkan pandangan matanya, dia melirik Alena lalu berjalan ke sisinya agar bisa memeriksa keadaan Alena. "Ada apa, Alena? Apa tubuhmu kurang sehat?" tanya guru muda itu sambil menyentuh kening Alena, Alena yang cerdik telah mengusap wajahnya dengan tangan beberapa kali hingga menyebabkan pipinya memerah seperti dia benar-benar sakit. Kulit putihnya yang tanpa cacat membuat rona merah akan dengan cepat muncul hingga tidak ada yang akan curiga terhadapnya. "Saya merasa pusing, Miss Efa! Kepala saya terasa sangat berat, pandangan mata saya sedikit kabur." Alena berbicara dengan pelan, seolah dia benar-benar sedang sakit. Alena memegang bahu Alfred meminta pertolongan, Alfred dengan sigap menopang tubuh Alena seolah Alena bisa jatuh kapan saja. Melihat itu Miss Efa terlihat ragu, ia melihat Alena beberapa kali lalu memikirkan sesuatu sebagai solusi. "Begini saja, Al! Kau bawa Alena menuju ruang kesehatan, biarkan dia istirahat di sana terlebih dahulu. Jika kondisinya membaik kita biarkan dia melanjutkan kelas jika tidak memungkinkan kau antar Alena pulang ke rumahnya nanti." Miss Efa membiarkan Alfred membawa Alena ke ruang kesehatan yang berada di lorong paling ujung kelas. Alfred sepanjang jalan mencoba menahan tawa melihat tingkah lemah Alena yang berpura-pura hampir jatuh beberapa kali. Sesampainya di ruang kesehatan mereka tidak menemukan petugas, Alena berbaring di tempat tidur dengan santai mengabaikan Alfred yang sudah mengantar dirinya. "Kau tidak mau berterima kasih padaku? Aku sudah berdosa karena membantu dirimu," bisik Alfred kesal ingin mencubit Alena. Alena mengerucutkan bibirnya ke depan, ia kembali duduk, melepas sepatunya lalu bersila di tempat tidur dengan tangan menopang dagu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN