"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alfred lagi dengan tangan mendorong kepala Alena hampir membuat Alena jatuh terjungkal ke belakang.
Alena memperbaiki posisi duduknya, dia mencebik dengan mata menatap tajam Alfred sebagai peringatan. "Menurutmu siapa yang menyobek buku tugasku? Baru kali ini aku mendapatkan masalah seperti ini, aku kesal sekali! Jika aku tahu siapa tersangkanya, aku akan menjambak rambutnya, menampar kepalanya lalu mendorong dia hingga terjatuh." Alena memutar tangannya beberapa kali di atas tangan lain.
Gerakan kesal Alena memicu tawa Alfred,
Alfred menatap Alena dari ujung kaki ke ujung kepala berusaha menghentikan tawanya. "Aku tidak yakin kau akan melakukan semua itu, Ale! Jangankan manusia, semut saja yang sudah mencuri dan mengigit kakimu tidak bisa kau injak. Jangan bermimpi terlalu tinggi, kalau kau jatuh maka itu akan sangat menyakitkan sekali." Alfred memegang pipinya yang mulai sakit akibat tertawa.
Mendengar apa yang diucapkan Alfred Alena menjadi kesal, ia kembali berbaring lalu menggeser posisi wajahnya menghadap dinding memberikan punggungnya untuk dilihat oleh Alfred.
"Maaf, Ale! Bukan bermaksud menertawakan dirimu hanya saja hatimu itu terlalu baik jadi sangat sulit untukmu membalas perbuatan jahat orang lain padamu. Lagipula saat ini kita tidak bisa menuduh orang dengan sembarangan, kita semua ke kantin untuk makan, tidak ada saksi yang melihat kejadian. Atau bisa jadi ada yang ingin mencontoh punyamu namun karena tidak hati-hati dia malam merobeknya karena takut ketahuan." Alfred membujuk Alena.
Apa yang Alfred sampaikan adalah kebenaran, mereka tidak bisa menuduh siapapun karena selain tidak ada bukti, mereka juga tidak memiliki saksi yang dapat memberikan keterangan. Alena berbalik, dia tampak berpikir tapi tidak jadi mengungkapkan isi pikirannya itu karena Alena sendiri tidak yakin tebakan yang ada di kepalanya benar.
Alena dan Alfred akhirnya memilih duduk di ruang kesehatan sampai bel pulang berbunyi. Alfred ke luar dari ruang kesehatan mengambil tasnya dan juga tas Alena lalu mendatangi Alena di ruang kesehatan.
Setelah cukup lama, di mana keadaan sekolah sudah mulai terlihat sepi barulah Alfred dan Alena ke luar dari ruang kesehatan menuju tempat sopir mereka biasa menunggu.
"Loh, Non tumben ke luarnya lama. Saya kira Anda memiliki tugas membersihkan kelas bersama teman Anda yang lain." Sopir pribadi Alena membukakan pintu untuknya, Alena duduk di bagian belakang dengan santai.
Ia melambaikan tangan pada Alfred yang masih menunggu sopirnya lalu menjulurkan lidah dengan tangan di atas kepala seolah meledek. Alfred balas mencibir, ia mengambil batu kecil yang ada di tanah melemparnya ke arah Alena dengan kekuatan lemah karena takut batu itu akan mengenai Alena.
Alfred mencubit pipi Alena keras membuat Alena kembali sadar ke alam nyata, di mana debur ombak masih menjadi musik yang menemani Alena. Alena menggeser posisi duduknya lalu meletakkan kepalanya di bahu Alfred tampak sedih.
"Jangan cari pacar sekarang ya, Al! Salah ya kalau aku ingin menjadi orang yang egois? Aku tidak ingin sendirian, kalau kau memiliki pasangan maka tidak akan ada yang menemani diriku. Kau boleh menjauh tapi setelah ada yang menggantikan dirimu di sisiku. Aku tidak bisa kehilangan dirimu karena kau satu-satunya pria yang bisa dijadikan cadangan ketika aku memang tidak laku."
Alfred awalnya merasa senang dengan apa yang diucapkan Alena namun kalimat terakhir Alena membuatnya menjadi kesal, Alfred memegang hidung Alena dengan kuat membuat Alena kesusahan mengambil napas. Mereka akhirnya tertawa, berlari di sepanjang pantai dengan aksi kejar-kejaran tanpa main air.
Ke-duanya tampak bahagia dengan beberapa pasang mata melihat mereka dengan pandangan iri termasuk karyawan Alfred.
"Mereka terlihat cocok, sayang sekali mereka hanya berteman saja. Kalau mereka jadi pasangan pasti tidak akan ada orang ketiga yang mengganggu hubungan mereka," tutur yang lain dengan suara pelan.
Alena dan Alfred yang telah selesai bermain kembali menuju ke hotel dengan rasa kantuk yang beriringan dengan rasa lelah. Sesampainya di hotel Alena langsung mandi selesai mandi ia mulai menghubungi Aleta sekedar bertanya kabar lalu mengirim pesan pada Adera yang juga terlihat sibuk.
Setelah mengetahui kabar semua orang terdekatnya barulah Alena memejamkan mata, dia memasuki alam mimpi dengan segera di mana mimpinya kali ini terasa begitu nyata.
Dia berjalan di lorong sepi yang begitu panjang, lorong gelap itu tidak memiliki cahaya sama sekali namun langkahnya di sana tampak tidak terganggu. Alena terus berjalan menyusuri lorong itu dengan rasa takut yang meningkat, setiap kali mengambil langkah maju Alena seperti meninggalkan sesuatu yang penting di belakang tapi dia tidak tahu apa yang dia tinggalkan.
Alena terus berjalan jauh tanpa ada niat untuk berbalik sama sekali, ketika hampir sampai di ujung lorong di mana ada secercah cahaya yang tampak sebuah tangan meraih jemarinya. Ke-dua tangan mereka terasa hangat saat bersentuhan, mereka berjalan beriringan menuju cahaya namun saat kaki Alena sampai di cahaya itu tangan yang menemaninya langsung hilang.
Alena merasa kehilangan sangat besar kali ini yang membuatnya berbalik ingin mengejar tangan itu namun pintu di belakang sudah tertutup. Hal itu membuat Alena memekik ketakutan namun suaranya tidak ke luar, hanya rasa takut yang tersisa tapi tidak ada suara.
Saat itulah cahaya terang datang, memeluk tubuhnya erat memberinya kehangatan meski kehangatan itu tidak memasuki hatinya sama sekali akibat rasa kehilangan yang kuat. Alena menangis, air matanya jatuh tidak terkendali meski kehangatan itu sudah membungkus dirinya, rasa bersalah yang begitu besar merasuki pikirannya membuat dia ingin menyerah.
Alena terbangun dalam rasa bersalah yang begitu besar, rasa kehilangan itu menyebabkan dadanya pengap, paru-parunya kehilangan cara untuk mengambil napas. Alena kesusahan dalam mengambil napas, ia memukul dadanya terus-menerus dengan kuat agar bisa bernapas.
Lama Alena seperti itu hingga jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi, Alena berjalan menuju balkon untuk mencari udara segar. Alena bersandar pada dinding balkon tanpa bisa menghentikan air matanya.
'Apa yang akan terjadi? Kenapa mimpi aneh ini terus datang? Kenapa aku terus disiksa oleh rasa sakit berkepanjangan? Apakah aku pernah melakukan kesalahan besar hingga Tuhan marah dan memberiku ujian kesepian seperti ini?' tanya Alena di dalam hati.
Lama Alena berada di posisi itu hingga dingin hampir saja membekukan tubuhnya. Setelah kembali dapat merasakan sakit barulah Alena masuk ke dalam kamar, ia akhirnya tertidur tanpa mengalami mimpi aneh lagi.
Banyak orang berbisik saat Alena ke luar dari kamarnya menuju lobby, ia bersiap ke bandara di pagi hari dengan tatapan aneh semua orang bahkan anggota kru-nya sendiri. Lingkaran hitam di mata Alena membuatnya terlihat lelah, ia bersandar di lengan Alfred demi menjauhi penglihatan orang lain.
"Aku tampak mengerikan ya?" tanya Alena pada Alfred dengan nada perlahan.
Alfred melihat sekeliling, ia memberikan tatapan tajam pada kru-nya agar tidak berbisik lagi satu sama lain tentang Alena. Alena semakin menyembunyikan wajahnya di lengan Alfred, setelah berhasil naik pesawat dan mendapatkan kursi Alena memilih untuk tidur menutup wajahnya dengan selimut yang selalu ia bawa ke manapun.
Alfred yang duduk tepat di sebelah Alena membiarkan bahunya menjadi tempat bersandar yang nyaman, Alena tertidur lelap tanpa rasa takut ataupun mengalami mimpi buruk lagi. Tidur nyenyak Alena membuat bahu Alfred mati rasa namun Alfred tetap menahan diri, melihat kelelahan di wajah Alena Alfred tidak tega mengganggu tidurnya.
Alena dibangunkan oleh Alfred ketika pesawat telah mendarat dengan selamat. Di luar pesawat, gerimis tampak turun padahal cahaya matahari menyinari bumi dengan teriknya. Cuaca juga terasa menyengat kulit membuat orang-orang yang berlalu lalang mengernyit.
Alena enggan turun dari pesawat, ia bersandar malas pada Alfred ketika menunggu giliran mereka, Alfred di sisi lain mengeluarkan jaket kulit miliknya untuk menutupi kepala Alena agar tidak terkena gerimis. Saat giliran mereka ke-duanya turun beriringan menimbulkan pesona tersendiri, di depan bandara sudah ada dua orang yang menunggu kedatangan mereka.
Alfred dan Alena disambut dengan ramah, mereka dibawa ke sebuah mobil mahal dengan tim mereka menaiki mobil satu lagi. Alfred dan Alena duduk di bagian penumpang belakang, ke-duanya menikmati perjalanan mereka di mana di sepanjang jalan hanya pohon tinggi besar yang ditanami.
Suasana tampak tenang, tidak ada keributan, tidak ada suara klakson mobil, hanya kicauan burung yang tampaknya sengaja dibiarkan hidup bebas di alam liar. Bahkan ada beberapa orang yang ditugaskan meletakkan beberapa makanan di bawah pohon rindang itu.
"Di sini tampak nyaman ya? Berbeda dengan tempat kita, di sini tidak ada suara klakson mobil sama sekali, tidak ada pelanggaran lalu lintas bahkan tidak ada yang menerobos lampu merah sama sekali." Alena berbisik pada Alfred.
Matanya masih mengantuk, itu terlihat jelas dari cara Alena memaksa melihat jalan yang mereka lewati.
"Kalau kau masih merasa mengantuk tidur saja! Lagipula kita tidak langsung berkerja hari ini, kita hanya perlu memilih lokasi yang tepat untuk acara lamaran. Jika hanya lokasi ini saja maka aku bisa memilih tempat tanpa kehadiran dirimu," bisik Alfred sambil membelai kepala Alena.
Alena menegakkan tubuhnya, ia melihat Alfred lalu pada jalanan kembali, sebuah pemikiran melintas di benaknya ketika hatinya berkata dia ingin tinggal di sini. "Tidak apa-apa, aku bisa pergi denganmu nanti. Aku hanya sedikit lelah, itu saja. Jangan menganggap diriku lemah seperti biasa! Aku bukan gadis lemahmu lagi, aku adalah gadis kuat yang mampu bertahan sampai saat ini." Alena memberikan jawaban setelah lama melihat jalanan.
Alfred mengangguk, ia tidak berkomentar lagi. Alfred hanya memegang tangan Alena erat layaknya pasangan dan itu tidak ditolak oleh Alena sedikitpun.
Mereka diantar ke sebuah rumah kecil di tepi bukit, rumah itu tampak begitu sederhana. Pagar putih sebatas pinggang orang dewasa yang mengelilingi rumah itu terbuat dari bilah bambu yang dipotong kecil-kecil.
Pagar itu dibuat memutari seluruh rumah, ketika membuka pintu pagar ada jalan setapak yang terbuat dari batu, semua batu itu disusun dengan begitu rapi. Di samping jalan setapak ditanami bunga Krisan bermacam warna dengan ukuran beraneka ragam, Alena tampak puas dengan rumah ini.
Taman rumah tidak terlalu luas, hanya saja ada beberapa permainan anak-anak yang disediakan oleh pemilik rumah. Ada perosotan, ada ayunan ada kolam renang kecil, ada tempat duduk dan bahkan ada ayunan lain di bawah pohon besar yang terletak di sebelah kanan rumah.
Rumah ini terasa hangat bahkan ketika kita hanya melihat dari luar saja, pria yang menjemput mereka membuka pintu rumah yang diberi warna biru laut itu. Ternyata setelah diteliti rumah yang mereka datangi terbuat dari kayu.
"Tuan mengatakan sebaiknya kalian tinggal di sini daripada di hotel atau penginapan, ini adalah rumah tempat beliau kecil tinggal. Rumah ini dipenuhi kenangan orangtuanya, tuan mengatakan semoga kalian nyaman tinggal di sini. Oh, kamar yang pintunya terbuka adalah kamar yang bisa kalian tempati." Pria itu ikut masuk ke dalam.
Dia menunjukkan ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan bagian-bagian lain yang penting. Ternyata di dalam rumah yang minimalis namun hangat itu memiliki beberapa barang dengan kualitas tinggi padahal dari luar rumah ini tampak sederhana.
"Karena rangkaian acara yang disusun tuan cukup panjang itu sebabnya tuan membiarkan kalian tinggal di sini. Tuan juga berpesan semoga kalian tidak sungkan atas apa yang beliau lakukan." Pria itu berdiri di ruang tamu bersama Alena, Alfred serta tim mereka yang jumlahnya sedikit kali ini.
Alena memindai ruangan itu, keindahan di dalam rumah itu membuat Alena merasa nyaman dan ingin tinggal di sana lebih lama. Alena mengangguk senang sambil berkata, "sampaikan terima kasih kami pada tuanmu, tempat ini memang bagus."
"Syukurlah kalian puas, aku akan pergi sekarang. Oh, untuk memasak pagi, siang dan malam sudah ada pekerjanya sendiri dan untuk membersihkan rumah juga memiliki orangnya juga.