Hatiku ini kadang terbuat dari cermin yang apabila jatuh akan hancur berkeping-keping tanpa bisa diperbaiki lagi. Kadang hatiku terbuat dari kertas yang apabila sudah kau coret, kau remuk hingga hancur takkan bisa seperti semula putih bersih tanpa nada.
Kadang hatiku seperti bunga, tidak kau siram aku akan mati terlalu kau siram aku juga akan mati. Kadang hatiku ibarat musim gugur yang apabila tersakiti maka air mataku akan berguguran dengan sendirinya, susah memiliki hati seperti diriku. Remuk, hancur dan kacau tanpa bisa diperbaiki meski sekuat hati aku mencoba menahan sakitnya.
###
Alena mendapatkan kamar yang paling ujung di rumah itu, di mana jendela kamar langsung menghadap matahari terbit serta di depannya adalah taman bunga mawar bercampur krisan. Alfred seperti biasa mendapatkan kamar tepat di sebelah kamar Alena sedangkan para kru memilih tidur di bagian kamar besar sebagian lagi memilih untuk tidur di ruang tamu yang luas.
Alena memilih mandi terlebih dahulu ketika memasuki kamarnya, setelah mandi Alena berbaring di tempat tidur bermain dengan laptopnya. Barulah Alena berselancar di dunia maya mencari info terbaru tentang dunia wedding organizer. Alena berselancar hingga matanya lelah dan tanpa sadar ia tidur dengan nyenyak lupa mematikan laptopnya terlebih dahulu.
Di sisi lain Aleta saat ini tengah di sebuah hotel berbintang dengan seorang pria. Tubuh pria itu tinggi dan tegap, dadanya bidang dengan perawakannya dingin dan datar, pria itu memeluk Aleta dari belakang dengan posisi mereka saat ini tengah berpelukan.
Tangan kanannya bermain dengan perut Aleta sedangkan tangan kirinya memutar rambut lembut Aleta yang panjang dan harum. Dagu pria itu diletakkan dengan nyaman di bahu Aleta sedangkan wajahnya mengarah ke leher Aleta yang putih mulus.
"Aku ingin meninggalkan tanda di sini agar semua orang tahu kalau kau itu milikku," bisik pria itu parau sambil mengendus leher Aleta meninggalkan jejak basah tapi tidak dengan memar merah.
Aleta mencoba bergerak namun tubuhnya ditahan oleh si pria hingga Aleta tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Aleta membelai pipi pria itu dengan rasa sayang lalu tersenyum, Aleta juga memegang tangan pria itu tanpa tahu harus menjawab apa.
Bukan karena belum siap dengan hubungan mereka hanya saja Aleta belum sanggup menghadapi pertanyaan semua orang tentang siapa kekasihnya nanti. Bukan juga karena tidak ingin menikah tapi dia masih menunggu Alena menemukan jodohnya terlebih dahulu.
Alena ingin Aleta bahagia begitupula dengan Aleta yang ingin kakaknya itu bahagia.
"Kau hanya membiarkanku meninggalkan jejak di bagian d**a dan perutmu saja. Kau tahu Aleta, aku sangat ingin mengumumkan pada semua orang bahwa kau itu milikku hanya milikku saja." Lagi, pria itu menegaskan bahwa Aleta miliknya seorang.
Aleta mengangguk mengiyakan, kali ini Aleta dapat bergerak bebas, ia melayangkan kecupan singkat di pipi pria itu lalu membelai wajahnya dengan penuh kasih sayang. Aleta mengerti tindakannya saat ini melukai hati sang pria namun dia benar-benar belum bisa memberitahu semua orang tentang hubungan yang saat ini ia jalani.
"Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu juga? Saat ini, kuharap kau masih mau memberiku waktu untuk mempersiapkan diri. Aku juga tidak ingin bersembunyi seperti ini terus tapi aku belum bisa memberitahu semua orang tentang hubungan kita." Aleta memegang pipi pria itu dengan kedua tangan, mata mereka beradu saling menyelami pikiran masing-masing.
"Sampai kapan Aleta! Sampai kapan? Aku ingin menjadikanmu milikku utuh, aku benci tatapan memuja pria-pria itu padamu, aku benci dengan cinta yang mereka perlihatkan padamu, aku benci semuanya." Pria itu berteriak dengan frustrasi, ia melepas tangan Aleta lalu menarik rambutnya dengan keras meluapkan emosinya yang menggebu.
"Sampai kakak menemukan lelaki yang ia cintai." Aleta buru-buru berdiri, mengambil tangan pria itu menggenggam tangan itu erat.
"Aku mau jaminan, Aleta! Aku ingin milikmu yang berharga sebagai jaminannya, kau lihat cincin di kalung ini Aleta! Aku selalu membawanya kemanapun aku pergi karena aku ingin orang tahu kalau aku sudah memiliki seseorang di hidupku. Aku ingin cincin ini melingkar di hatimu secepatnya, Aleta! Aku bisa gila jika kau diambil orang lain, aku bisa mati Aleta aku bisa mati." Pria itu meraih bahu Aleta agar dia bisa melihat wajah Aleta.
Aleta tampak ragu, dia ingin menolak permintaan pria di depannya. Bukan, bukan karena dia tidak mencintai pria yang bersamanya saat ini hanya saja dia di sisi lain juga tidak bisa menyakiti hati siapapun.
"Apa yang kau inginkan?" Pada akhirnya Aleta memberanikan diri untuk bertanya pada pria di depannya walau Aleta tahu jawabannya sendiri.
"Dirimu, aku ingin dirimu, Aleta!" bisik pria itu rendah di telinga Aleta.
Pria itu mengangkat tubuh Aleta tinggi, membawanya ke tempat tidur lalu membaringkan Aleta di tengah-tengah. Dia melepas pakaian yang dikenakannya, lalu melepas pakaian atas Aleta hingga memperlihatkan dua gundukan lembut Aleta yang berdiri menantang.
Aleta mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, sedikitpun Aleta tidak berani menatap mata pria di depannya, rona merah samar tercipta dari wajah Aleta hingga ke leher lalu sampai ke telinganya. Aleta benar-benar malu ditatap seperti itu, pria itu tampak senang melihat reaksi yang ditunjukan Aleta padanya.
"Kau malu," goda pria itu dengan tangan mencolek hidung Aleta membuat wajah Aleta semerah tomat matang.
Aleta memejamkan mata saat melihat pria itu menunduk ke arah bukit kembarnya, satu tangan pria itu meremas bukit kembar Aleta sedangkan mulutnya menyenangkan Aleta dengan cara lain. Suara aneh ke luar tanpa sadar dari bibir Aleta membuat pria itu semakin bersemangat, dia melepas pakaian bawah Aleta tampak Aleta sadari.
Dia terus bermain dengan bukit kembar Aleta hingga rasa dingin menerpa tubuh Aleta serta sentuhan yang sejak tadi Aleta rasakan menghilang. Aleta membuka mata untuk melihat apa yang terjadi, ia menemukan pria itu tengah berdiri di sela-sela kakinya menatap Aleta dengan rasa lapar yang tertahan.
Binar aneh di mata pria itu membuat Aleta menjadi malu lagi, Aleta memejamkan mata saat hembusan angin dingin menerpa daerah terlarangnya. Sensasi aneh Aleta rasakan saat benda lunak itu mencicipi bagian terlarang itu, tubuh Aleta bergerak sendiri tanpa ia sadari.
Aleta ingin merapatkan kakinya namun kedua kaki itu ditahan oleh si pria hal itu membuat Aleta hanya bisa meremas seprei di bawahnya dengan kuat. Saat kesenangan hampir datang pria itu berhenti lagi, hal itu membuat Aleta merasa kosong sekaligus kehilangan.
"Katakan, Leta! Katakan kau menginginkan diriku maka aku akan memberikannya padamu! Katakan!" bisik pria itu di telinga Aleta membuat bulu kuduk Aleta berdiri.
"Ya, aku ingin!" jawab Aleta pada akhirnya.
Pria itu tersenyum senang saat mendapatkan jawaban dari Aleta, dia langsung mengatur posisi membuat Aleta semakin merona malu. Aleta meringis saat benda asing itu memasuki bagian terlarangnya itu, air mata Aleta bahkan ke luar saat rasa sakit terus menyerang dirinya.
"Sakit!" rintih Aleta dengan nada pilu saat rasa sakit yang tajam itu semakin terasa.
Pria itu merasa kasihan, dia mengecup mata Aleta menghapus air matanya yang ke luar dan membantu Aleta mengurangi rasa sakit. Saat Aleta terbuai akan kesenangan pria itu melesat masuk membuat Aleta memekik tertahan, Aleta membuka menatap dengan mata mengiba.
Pria itu menenangkan dirinya kembali, membiarkan Aleta menyesuaikan diri lalu kembali membuai Aleta dengan gerakan tangan dan mulutnya. Saat Aleta mulai merasa tenang barulah pria tampan itu bergerak.
Segera suara campuran antara pria dan wanita terdengar di dalam kamar itu, kamar hotel mewah itu menjadi saksi hilangnya mahkota Aleta yang telah direnggut oleh pria yang katanya mencintai dirinya. Hari itu Aleta tidak ingin pulang ke rumah, ia menghabiskan harinya di kamar hotel itu.
Paginya Aleta terbangun dari tidurnya dengan rasa sakit di bagian bawah terasa menyengat. Rintihan Aleta membangunkan pria yang berbaring di sebelah Aleta, pria itu mengernyit mengambil ponsel di atas meja untuk melihat jam baru menggeser tubuh mendekati Aleta.
"Tidurlah kembali! Ini masih sangat pagi," bisiknya parau sambil menarik selimut guna menutupi tubuh mereka berdua.
Aleta mengangguk, tapi tidak lama kemudian dia merasa terkejut hingga membalik tubuhnya dengan tiba-tiba. Merasakan tindakan Aleta pria itu membuka matanya lagi melihat Aleta dengan senyum.
Setelah sadar akan tindakannya Aleta menjadi malu sendiri, dia menyembunyikan wajahnya di d**a bidang pria itu memilih untuk bersembunyi dari rasa malu yang datang. Namun, saat tubuh mereka beradu rona merah makin tercipta di wajah Aleta saat dia sadar kalau dirinya belum mengenakan pakaian apapun.
Aleta langsung berbalik kembali namun benda pribadi pria itu malah tersentuh olehnya hingga membuat pria itu mendesis. "Jangan bangunkan macam tidur! Kau harus tahu keinginan laki-laki lebih kuat saat di pagi hari seperti ini," bisiknya.
Aleta tidak menjawab, dia hanya memejamkan mata lalu tertidur kembali mungkin karena rasa lelah semalam belum hilang.
Di rumah Alvin Adera sedang mencari keberadaan Robert, dia sudah berputar-putar beberapa kali bahkan sampai ke ruang bawah tanah namun keberadaan Robert tidak ditemukan oleh Adera sama sekali. Adera yang bosan memilih untuk duduk di ruang tamu menunggu ada orang yang lewat untuk ditanyai.
Lima menit menunggu Reda tiba-tiba lewat di depan Adera, Reda tampak terburu-buru dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Hei, Reda! Apa kau melihat kakakku? Dia seperti menghilang begitu saja dari tadi malam," bisik Adera bingung.
Adera mengejar langkah Reda berharap mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Reda tampak berpikir sebelum berkata, "oh, dia pergi ke hotel Rexi kemarin malam. Dia bilang ada urusan penting di sana, sampai saat ini dia belum kembali jadi aku tidak tahu ke mana dia sekarang." Reda mengangkat bahu setelah memberikan jawaban itu.
Dia meninggalkan Adera yang sepertinya masih ingin menanyakan sesuatu, Adera tampak kesal karena diabaikan.
"Ish, kakak pakai pergi segala. Padahal ada sesuatu yang penting yang ingin aku tanyakan." Adera menghentak kaki beberapa kali lalu berjalan pergi ke luar rumah menuju mobilnya.