Adera yang kesal memilih pulang ke rumah besar keluarganya hari ini, sepanjang hari dia sibuk membereskan taman bunga ibunya, membantu memasak serta mengasuh hewan peliharaan Alena yang ditinggal cukup lama oleh Alena.
Saat Adera sibuk bermain basket di luar rumah besarnya ia melihat mobil Robert datang. Adera menghentikan kegiatannya lalu menunggu mobil Robert berhenti dengan tangan di pinggang.
Saat Robert turun dari mobil, pintu di sebelah kemudi juga terbuka di mana Aleta yang sejak kemarin tidak pulang ke rumah ikut turun juga. Senyum manis di bibir Aleta tersungging saat dia melihat kehadiran Adera di rumah besar.
"Malam, Tante!" sapa Aleta ramah dengan kepala menunduk malu.
"Malam kembali, dari mana saja kalian? Kalian sering sekali pulang bersama," ejek Adera dengan tatapan sinis pada Robert.
Robert tidak menjawab begitupula dengan Aleta yang lebih memilih berjalan menuju ke rumahnya meninggalkan Robert dan Adera.
"Istirahatlah yang nyenyak dan jangan lupa makan vitamin," teriak Robert.
Matanya terus menatap punggung Aleta hingga Aleta tidak terlihat lagi baru kemudian dia memutar tubuh seperti hendak masuk ke dalam mobil kembali.
"Ke mana saja kau, Kak! Ada hal penting yang ingin kutanyakan, tapi ini lebih penting dan mendesak. Apa yang kau lakukan di hotel Rexi kemarin malam hingga siang ini? Kenapa kau bisa pulang bersamaan dengan Aleta yang juga tidak pulang kemarin?" Adera bertanya dengan alis terangkat.
Aleta selalu pulang ke rumah setiap hari kecuali ia ada pertemuan di luar daerah. Hari kemarin Aleta menghilang dan tidak pulang sama seperti Robert yang menghilang tanpa kabar. Robert menatap Adera dengan pandangan tidak ramah, selama ini meski marah Robert tidak pernah melihatnya seperti ini yang semakin menambah kecurigaan Adera.
"Jangan mengurus urusan orang, urus saja urusanmu! Apa yang aku Aleta lakukan jangan kau ganggu!" Robert mendesis marah lalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kediaman besar.
Adera semakin curiga, perasaanya mengatakan ada sesuatu yang coba disembunyikan Robert dan Aleta. Adera yang penasaran melangkah menuju kediaman keluarga Aleta, dia dengan sengaja menaiki tangga menuju kamar Aleta ingin mencari tahu tentang apa yang terjadi kemarin malam.
Saat masuk ke kamar Aleta, Adera tidak menemukan keberadaan Aleta, penasaran Adera melangkah masuk. Ia melihat sebuah kartu di atas meja kamar Aleta, ia berjalan mengendap-endap saat mendengar guyuran air di toilet.
Sesampai di dekat meja tempat tas Aleta diletakkan Adera menemukan sesuatu yang membuat tebakannya semakin meningkat. Di atas meja ada bukti pemesanan kamar di hotel Rexi atas nama Robert kemarin siang, tangan Adera bergetar saat melihat itu semua.
Adera buru-buru melangkah ke luar saat suara air mengalir berhenti, dia menutup pintu dan berpura-pura mengetuk pintu agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Aleta.
"Tunggu sebentar!" sahut Aleta saat mendengar ketukan.
Aleta berjalan ke luar kamar mandi dengan langkah aneh karena bagian pribadinya masih terasa sedikit sakit akibat sebelum pulang tadi dirinya masih sempat bermesraan dengan sang kekasih. Aleta membuka pintu, dia menemukan Adera yang berdiri di depan kamarnya.
Melihat itu Aleta tersenyum, dia membuka pintu lebih lebar agar Adera bisa masuk. Saat itu Adera melihat perubahan pada jalan Aleta, apalagi saat melihat jejak merah dan ungu di leher Aleta yang tidak bisa Aleta sembunyikan karena dia menggunakan kimono dengan leher lebar.
Adera mencoba menahan diri untuk tidak bertanya semua ini karena percuma saja bukti hubungan Robert dan Aleta sudah terpampang jelas di depan matanya. Adera memejamkan mata lalu tersenyum manis pada Aleta yang mencoba menutupi jejak di tubuhnya.
"Ke mana kau kemarin? Tidak biasanya kau seperti ini? Ibumu bahkan sampai cemas karena tidak mendapat kabar darimu." Adera ingin duduk di kursi dekat meja namun Aleta buru-buru mengambil apa yang ada di atas meja menyimpannya ke dalam tas.
Adera mengernyit melihat itu namun dia masih menyunggingkan senyum tidak ingin memperpanjang masalah.
"Aku ada pertemuan mendadak kemarin Tante jadi aku tidak bisa pulang ke rumah. Kebetulan saat pulang tadi aku bertemu paman karena aku tidak membawa mobil paman mengantarku pulang ke rumah." Aleta menjelaskan dengan gugup, ia takut ketahuan berbohong oleh Adera.
Mendengar itu semua Adera mengangguk lalu bangkit berdiri dari duduknya, ia berjalan ke luar kamar dengan langkah kaki yang begitu berat. Ia takut Alena mendengar semua ini hingga hatinya yang baru saja sembuh akan terluka lagi.
Selepas kepergian Adera, Aleta buru-buru mengunci pintu. Ia menghela napas lega dengan tangan memegang d**a, ia mengeluarkan telepon selulernya dari dalam tas lalu menghubungi seseorang.
"Halo, Paman! Aku hampir saja ketahuan oleh Tante Adera! Kau tahu, jantungku berdetak begitu cepat saat dia masuk ke kamar, aku bahkan semakin gugup saat dia berjalan menuju ke meja. Aku takut hubungan kita akan ketahuan," bisik Aleta lemah dengan mata menatap jauh ke depan seolah memikirkan sesuatu.
Orang yang dihubungi Aleta terdiam cukup lama sebelum dia menghembuskan napas juga. "Kalau ketahuan lalu apa? Kita sama-sama mencintai dan itu bukanlah sebuah kesalahan."
"Tapi," ujar Aleta ragu, Aleta tidak ingin mendahului Alena yang bahkan saat ini masih betah sendiri.
Pria di seberang tampak kesal, "tapi apa? Apa kau ingin hubungan kita terus dirahasiakan? Apa kau pikir aku tidak cemburu melihat tatapan pria lain padamu? Aku hanya ingin hubungan kita diperjelas saja, jika kau tidak ingin bersamaku jangan salahkan aku mengatakan tentang kita pada Alena nantinya." Kesal, pria itu memutuskan sambungan komunikasi mereka.
Aleta terlihat takut, dia menggenggam erat telepon seluler itu mendekapnya kuat ke d**a. Aleta menahan rasa gelisah yang mendera berusaha bersikap tenang lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur untuk berbaring di ranjang.
Aleta memilih memejamkan mata membiarkan alam menjawab semuanya sesuai jalan yang telah ada, Aleta tertidur dengan nyenyak berbeda dengan Adera yang gelisah. Adera tidak bisa memejamkan matanya sama sekali malam ini, rasa takut, cemas dan kecewa membuat Adera memilih duduk di luar dengan sebotol minuman dingin di tangannya.
Pusing karena tidak mendapat jawaban, Adera memilih untuk pergi ke luar. Ia mengambil kunci mobil, tas dan dompet miliknya lalu meninggalkan rumah besar itu dengan segera. Ia mengemudi pelan mencari tempat yang cocok untuk duduk melepaskan kegelisahan yang menyulut hatinya.
Saat tidak tahu arah dan tujuan lagi, Adera berhenti di jembatan yang jarang dilalui orang. Dia memarkir mobilnya sembarangan lalu duduk di atas kap mobil bagian depan dengan minuman dingin tadi masih setia menemani dirinya.
Jembatan yang menghadap ke laut itu membawa angin dingin dari laut membuat Adera merasa sejuk dan sedikit beban di hatinya terasa terangkat.
"Hah ... bagaimana caranya sekarang? Jika sudah begini aku tidak bisa ikut campur lagi, mereka juga sudah melakukan hubungan yang cukup jauh. Tidak mungkin aku memisahkan mereka hanya karena perasaan Alena. Apa yang harus aku lakukan? Alena pasti akan kecewa dan terluka." Adera meletakkan minuman itu di sampingnya.
Ia duduk dengan kedua tangan lurus ke belakang dan kaki lurus ke depan, kepalanya menengadah ke atas seolah sedang bertanya pada Tuhan. Angin laut menerpa wajah Adera menerbangkan rambutnya hingga menutupi wajah Adera yang cantik.
"Aku pusing memikirkannya, entah siapa yang harus aku salahkan? Entah kakakku yang seperti batu es atau Aleta yang manis atau mungkin Alena yang polos. Aku bingung, aku tidak bisa ikut campur soal ini hanya saja jika Alena butuh bantuan maka aku akan siap mengulurkan tangan untuknya." Adera menekuk lututnya menyadarkan dagunya di sana.
Lama Adera di sana hingga tubuhnya mulai menggigil, Adera masuk ke dalam mobil memilih untuk pergi dari sana dengan cepat menuju rumah Alvin. Saat ini yang bisa Adera lakukan adalah mencegah Alena mengetahui berita ini terlebih dahulu, dia harus mencari beberapa pria yang bisa membuka hati Alena hingga Alena bisa melupakan Robert secepatnya.
Sepanjang jalan Adera terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, Adera bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Alena nantinya. Adera akhirnya sampai di rumah Alvin saat jam di tangannya menunjukkan pukul satu dini hari.
Penjaga gerbang yang melihat mobil Adera langsung berlari membukakan pintu, dia menyambut Adera dengan senyum hangat yang dibalas Adera anggukan kepala.
"Apakah kakakku sudah pulang ke mari?" tanya Adera ramah pada si penjaga gerbang.
Penjaga gerbang tampak berpikir, dia baru saja berganti posisi dengan temannya hingga tidak tahu apakah Robert sudah pulang atau belum. "Saya tidak tahu, Nona! Saya baru saja berganti posisi, mungkin saja Tuan Robert sudah pulang." Pria muda itu menjawab dengan cepat.
Adera mengangguk, dia mengemudi menuju garasi tempat biasa parkir dan Adera menemukan mobil Robert di sana. Setelah memarkir mobilnya Adera memilih untuk langsung berjalan menuju kamarnya melewati pintu belakang.
Pagi menjelang, Alena yang kemarin tertidur lelap telah bangun. Dia saat ini meregangkan tubuh menutup mata menghindari cahaya matahari yang masuk ke matanya. Kemarin malam dia lupa menutup tirai jendela hingga pagi ini dia harus bangun dengan paksaan matahari yang menyengat.
"Aku ketiduran tadi malam, apakah sebegitu lelahnya tubuhku hingga tidak bisa menahan rasa kantuk yang datang melanda?" Alena masih menguap, satu tangannya menutup mulut sedangkan tangan lain mengusap rambutnya yang berantakan seperti rambut singa.
Alena berjalan perlahan menuju ke kamar mandi, masih dengan mata mengantuk dan mulut melebar. Alena mandi cukup lama kali ini karena dia memilih berendam dengan air hangat suam-suam kuku terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuh.
Puas berendam barulah Alena mandi dengan bersih memakai pakaian lalu berjalan ke luar kamar dengan wajah segar. Alena pagi ini memakai gaun biru laut selutut dengan bahu terbuka lebar, rambutnya digerai dengan make-up natural yang begitu pas di wajahnya.
Beberapa kru laki-laki bahkan mencoba mencuri pandang pada Alena berharap bisa melihat wajah cantik Alena sedikit
lebih lama. Alena berjalan menuju meja makan, dengan santai Alena duduk di salah satu kursi membalik piring yang sudah tersedia lalu makan.
Alena makan dengan tenang hanya denting sendok yang terdengar di telinga mereka yang telah sarapan pagi lebih dulu. Selesai sarapan barulah Alena melihat para kru yang dibawanya, mengecek persiapan mereka untuk bekerja lalu berjalan menuju ke kamar Alfred.
Alena mengetuk pintu kamar Alfred sedikit keras agar Alfred segera bangun dari tidurnya yang begitu lelap. Alena berdiri cukup lama di depan sana namun dirinya tidak mendapatkan jawaban sama sekali, Alena merasa kesal lantaran Alfred tidak menjawab panggilannya.
"Al bangun! Masa kamu kalah sih dari kerbau Pak Mahmud, dia sudah cari makan loh jam segini, udah mandi juga di lumpur yang sering kita lewati buat sampai ke sekolah." Para kru tertawa ketika mendengar ucapan Alena yang terkesan ngelantur.
"Al bangun! Nanti rezeki kamu dicuri ayam loh, anak perjaka kok jam segini masih peluk guling? Bangun, Al bangun!" teriak Alena semakin keras saat dirinya tidak juga mendapati tanda-tanda Alfred akan bangun.
Alena menatap para kru yang tertawa, bukannya takut para kru malah semakin menjadi-jadi. Mereka memegang perut melihat tingkah Alena, cara Alena menakut-nakuti mereka saja sudah seperti melawak. Mata besarnya terlihat lucu saat menatap mereka, apalagi pipi gembung Alena yang seperti akan meletus kapan saja itu.