Cukup lama Alena berusaha membangunkan Alfred namun semuanya tidak berbuah manis, Alfred tidak kunjung bangun dari tidurnya. Alena mencari kunci cadangan kamar Alfred di lemari kunci namun tidak ada satupun kunci yang sama dengan kamar Alfred.
Bosan, Alena akhirnya memilih membiarkan Alfred tidur lebih lama, ia berjalan menuju taman bunga di rumah itu di mana bunga krisan sedang bermekaran. Warna-warni cantik yang menghias mata membuat Alena enggan untuk mengalihkan pandangan, saat sedang mengamati kebun bunga mata Alena terarah pada lily merah yang terletak di sudut dekat pagar.
Kelompok lily itu memang tidak sebanyak bunga krisan namun warnanya yang mencolok tampak menggoda mata, Alena menyusuri jalan setapak di taman itu agar bisa mencapai bunga lily itu. Indah, merah terangnya tampak menyilaukan mata padahal di sekelilingnya ada krisan putih mengelilingi.
Alena melihat ke arah lain di mana beberapa bunga aneh lainnya tersembunyi, ternyata taman bunga itu tidak hanya dipenuhi oleh krisan saja tapi ada beberapa bunga langka dengan harga mahal yang disembunyikan di setiap tempat yang tidak mencolok. Kekaguman Alena terhadap pemilik rumah meningkat saat dirinya baru sadar ternyata jika dipadukan dengan warna selaras maka bunga-bunga langka itu seperti tidak ada.
Alena memilih duduk di ayunan, dia bermain seorang diri di taman itu menikmati aroma bunga yang melayang serta semilir angin yang menyejukkan. Sembari mengayunkan kaki agar ayunan terus bergerak Alena memejamkan mata agar ketenangan sekitar meresapi jiwanya.Cukup lama Alena berusaha membangunkan Alfred namun semuanya tidak berbuah manis, Alfred tidak kunjung bangun dari tidurnya. Alena mencari kunci cadangan kamar Alfred di lemari kunci namun tidak ada satupun kunci yang sama dengan kamar Alfred.
Lama Alena di sana hingga dia tidak sadar kalau Alfred sudah berada di belakangnya, mendorong ia dari belakang penuh kelembutan. Merasakan sentuhan di punggungnya Alena yang sejak tadi memejamkan mata terkejut bukan main, gerakan ceroboh Alena hampir saja menyebabkan dia jatuh ke depan.
Beruntung Alfred dengan sigap menahan tubuh Alena hingga keduanya saling pandang, ke-duanya saling menyelami pikiran masing-masing sebelum suara gaduh dari para kru mengganggu mereka. Alena buru-buru memperbaiki posisi berdirinya, dia menatap Alfred dengan pandangan tajam penuh keluhan.
Pipi Alena memerah dengan cepat, membuatnya tampak semakin cantik. Alena yang merasa kesal memukul bahu Alfred keras sebelum berlari ke dalam rumah.
"Ini semua gara-gara kalian," bisik Alfred dengan tatapan tajam.
Alfred menyusul Alena berniat untuk menjelaskan padanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, mereka yang melihat kepergian Alfred langsung tertawa. Mata mereka mengarah pada adu mulut yang terjadi di dalam ruang tamu, di mana Alfred tampak mengalah sembari mengangguk-anggukkan kepala.
"Bukankan menurut kalian mereka pasangan serasi? Tuan Alfred selalu mengalah pada Nona Alena, setiap kali ada pertengkaran Tuan Alfred seperti suami yang sedang dimarahi istri." Salah satu kru yang telah bekerja cukup lama dengan Alfred mulai berbicara, pandangan matanya terus mengarah pada pasangan yang masih berdebat di dalam rumah.
"Ya, setiap kali marah, kesal, sedih, kecewa ataupun terluka Nona Alena selalu mencari Tuan Alfred untuk melampiaskan sakit hatinya, Tuan Alfred akan selalu duduk manis mendengar penuturannya." Yang lain juga ikut berbicara.
Mereka tertawa kala mengingat kejadian apa saja yang telah mereka lihat serta mereka lewati semenjak bekerja bersama Alena. Setelah puas menceramahi Alfred, Alena barulah bersiap untuk memilih lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat lamaran.
Mereka menaiki mobil yang sudah disiapkan oleh si lelaki untuk mengunjungi lokasi yang sudah dipilih satu-persatu. Sepanjang jalan Alena terus memperhatikan telepon selulernya berharap ada panggilan masuk atau setidaknya pesan dari Robert yang menanyakan kabarnya.
Angan hanyalah angan dan tidak akan bisa menjadi kenyataan, semenjak melakukan pekerjaan jauh tidak satupun ada notifikasi masuk dari Robert. Seolah pria itu senang Alena tidak muncul di depan matanya, Alena merasa lelah namun hatinya masih enggan untuk menyerah.
Perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai di tempat pertama tidaklah jauh, lokasi pertama adalah sebuah villa yang menyodorkan pandangan alam yang begitu mempesona. Mempelai pria meminta arah lokasi pertunangan menunjukkan alam bebas di mana sawah-sawah berjejer rapi dengan pandangan padi yang hijau.
Ini memang menyejukkan mata namun jika diteliti lagi maka ini bukan tempat yang cocok untuk proses lamaran pasangan ini, Alena menatap Alfred lalu pada lokasi mereka saat ini.
"Apa kau tahu kisah cinta di antara mereka? Kita bisa menjadikan itu sebagai patokan tempat yang lebih bagus sesuai dengan perasaan mereka satu sama lain." Alena menyenggol bahu Alfred, ia berbisik selembut mungkin agar tidak didengar oleh orang lain.
Alfred tampak berpikir, dia ikut melihat ke arah yang sama dengan Alena lalu memejamkan mata. "Mereka awalnya hanya berteman biasa, saling berbagi kabar biasa, dan akhirnya si perempuan mengenal cinta. Ia mengalami patah hati lalu jatuh sejatuh-jatuhnya hingga ia tidak bisa bangkit lagi. Saat dia terpuruk, si laki-laki selalu ada di sampingnya dan dari sanalah tumbuh cinta di antara mereka."
Alena melebarkan matanya ketika mendengar cerita itu, mulutnya juga terbuka. "Benarkah ada kisah cinta seperti itu? Aku benar-benar terharu dengan kisah cinta mereka." Alena bertepuk tangan dengan keras namun tetap menjaga suaranya agar tidak didengar orang lain.
"Tempat ini tidak cocok menjadi lokasi lamaran, ayo kita ke tempat lain yang lebih romantis!" ajak Alena pada akhirnya setelah mereka saling diam cukup lama.
Alfred tidak menjawab, seperti biasa yang selalu ia lakukan. Alfred mengikuti langkah kaki Alena dari belakang, mereka berjalan santai beriringan menuju ke mobil yang tadi mengantar mereka ke sini.
Sekali lagi mereka melaju memecah jalanan, kali ini mereka di antar ke sebuah taman yang tampak biasa-biasa saja. Taman itu tidak terlihat istimewa sama sekali, seperti taman-taman biasa yang ditumbuhi rumput serta bangku-bangku sederhana untuk orang-orang berkunjung. Beberapa mainan anak-anak serta pohon besar dan tinggi untuk berlindung yang menambah kesan keindahan tempat itu.
Mereka dibawa oleh si sopir tadi ke tengah-tengah taman yang luas di mana di sana memang cocok untuk dijadikan tempat pesta, selain luas dan tidak memiliki rumput tempat Alena dan Alfred diarahkan adalah sebuah tempat bermain yang luas di mana ada lapangan basket serta beberapa ayunan dengan besi yang dijadikan tali.
"Tuan dan nona selalu bermain di sini setiap hari, dari kecil hingga dewasa jika nona mengalami masalah maka tuan akan mengajaknya ke sini. Mereka akan bermain sampai lelah lalu pulang ke rumah dengan perasaan lega, lokasi ini adalah lokasi penuh kenangan bagi mereka berdua." Sopir itu menjelaskan dengan ringkas agar Alena dan Alfred mengerti mengapa tempat sederhana ini juga masuk dalam daftar lokasi lamaran serta acara pertunangan yang dia pilih.
Alena tampak mengerti, Alena memeriksa setiap tempat dengan hati-hati. Dia bahkan tidak melewati detail sederhana sekalipun lalu mengangguk tanda mendapatkan sebuah ide.
"Tempat ini saja kita jadikan tempat lamaran serta pertunangan mereka. Kita akan menyulap tempat ini menjadi lokasi paling indah dan paling cantik, kita mempunyai banyak bunga untuk mempercantik tempat ini. Kapan kita mulai mendekorasi tempat ini?" tanya Alena tidak sabar.
Alfred tertawa melihat tingkah manis Alena, dia menatap si sopir sekilas lalu menghubungi kru yang masih menunggu di rumah agar segera bersiap. Mereka mulai memeriksa izin lokasi yang telah didapatkan oleh si penawar dan tampak puas dengan hasilnya.
Bosan menunggu bahan datang ke sana, hingga akhirnya Alfred memilih mengajak Alena bermain ayunan sampai kru tiba. Sopir yang datang bersama mereka tiba-tiba saja melihat Alfred dan Alena seperti tuan dan calon nyonya mereka, setiap hari ke-duanya akan bermain di sini hingga lupa waktu.
Sekitar setengah jam mereka memutari taman itu barulah para kru dan bahan yang mereka butuhkan datang. Alena mulai menyiapkan meja untuk meletakkan makanan, minuman dan cemilan lainnya. Beberapa meja panjang di susun rapi di sekitar tepi lapangan setelah tenda mewah terpasang meski belum di hias.
Kursi untuk tamu serta meja tamu juga telah datang sedangkan bagian tempat lamaran dibuat Alena dengan gaya sederhana. Tempat lamaran terletak didekat ayunan, di mana tiang ayunan diberikan lampu serta bunga-bunga indah. Sekeliling ayunan di berikan lilin berwarna-warni, ada meja kecil di tengah-tengah ayunan yang digunakan untuk meletakkan cincin.
Di sekitar meja diberi krisan hidup nanti menjelang acara akan ada kelopak mawar merah mengelilingi lilin. Setelah tenda selesai dihias, meja-meja tamu juga mulai disusun dengan rapi, meja bulat melingkar itu di beri empat kursi sedangkan tempat lain hanya dibiarkan dengan sofa lembut yang berjejer rapi.
Lokasi yang tadinya biasa-biasa saja langsung berubah menjadi tempat yang begitu berbeda, gemerincing air mancur yang berada di tengah-tengah lokasi pesta menjadi musik lain yang akan memperindah suasana pesta lamaran.
Para kru tampak puas dengan hasil kerja mereka, setelah semua selesai mereka duduk bersama untuk menikmati keindahan yang akan memanjakan mata para tamu yang hadir nanti. Senyum kepuasan di wajah semua orang membuat Alena ikut merasa bahagia, dia duduk di sebelah Alfred dengan dagu berada di atas lutut.
Alas duduk yang dipakai Alena adalah jaket mahal Alfred yang selalu berada di pundak Alfred atau bahkan di tempat tinggi. Bisa apa dia melawan Alena? Alfred tidak mampu, bahkan sebelum ia marah pada Alena, Alena sudah cemberut padanya.
"Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang aneh, bukan hanya kepuasan tapi ada rasa lain yang menggetarkan jiwaku. Aku merasa ikut dalam acara ini seolah aku adalah bagian dari mereka sendiri." Alena menyandarkan kepalanya di bahu Alfred tampak romantis dan penuh kasih sayang apalagi satu tangan Alfred memegang kepala Alena.
Mereka duduk tepat di bawah lampu hias besar yang akan menerangi tempat pesta ini besok. Alfred melihat jam di tangannya yang menunjukkan tepat pukul tiga pagi, suasana di sekitar sudah hening rasa kantuk juga mulai menyerang mereka.
Alena yang merasa nyaman bahkan hampir tertidur di bahu Alfred, melihat semua orang ingin berbaring Alfred memutuskan untuk pulang ke rumah yang mereka tempati.
"Ayo bersiap untuk pulang! Pekerjaan kita sudah selesai hari ini, besok kita datang agak siang agar untuk mendekorasi bagian yang kurang." Alfred bertepuk tangan pada semua orang lalu mulai mengemas barang-barang miliknya dan juga Alena.
Alfred dengan teliti memeriksa apakah ada peralatan ataupun perlengkapan Alena yang tertinggal, setelah memastikan semua aman barulah Alfred membawa semuanya ke arah mobil. Dia kembali ke tempat duduk tadi menjemput Alena yang mengantuk berat lalu meminta sopir mengantar mereka pulang.
Di dalam mobil Alena bahkan tertidur di bahu Alfred, rasa nyaman yang diberikan Alfred membuat Alena suka lupa tempat dan keadaan. Alfred dengan teliti menjaga agar kepala Alena tidak jatuh atau terbentur, dia rela menahan kantuknya sendiri agar tidur Alena tidak terganggu.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh hingga akhirnya mereka sampai di rumah, sopir dengan sigap membuka pintu mobil. Ia membantu Alfred membawa barang-barang Alena dan Alfred ke dalam rumah sedangkan Alfred membawa Alena ke kamarnya.
Alfred agak kesusahan membuka pintu namun ia akhirnya berhasil tanpa membangunkan Alena. Alfred membaringkan Alena di tempat tidur, mengambil pembersih wajah Alena di kamar mandi, membantu Alena membersihkan wajahnya.
Selepas itu Alfred membuka sepatu yang Alena kenakan baru kemudian ia menyelimuti Alena, tidak lupa kecupan hangat diberikan Alfred di kening Alena sebelum ia mematikan lampu besar menggantinya dengan lampu tidur sesuai kebiasaan Alena yang ia tahu. Alfred menutup pintu Alena lalu mengambil barang-barang mereka yang diletakkan di ruang tamu baru masuk ke kamarnya untuk beristirahat.