Anandita pagi ini berdandan dengan rapi, rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan cantik. Sejak tadi dia sibuk berdiri di depan cermin memandang rupa dirinya yang terlihat makin menggoda, Anandita mengambil tas yang ada di tempat penyimpanan memasukkan dompet, bedak serta keperluan yang lain baru turun dari kamarnya menuju ke lantai bawah.
Alena meletakkan tas yang diambilnya tadi di atas meja kunci lalu berjalan menuju ke ruang makan di mana Ananta serta yang lainnya sedang bersiap untuk makan juga. Anandita duduk di sebelah Ananda, dia membalik piring makan lalu mengambil beberapa hidangan sehat yang berguna bagi dia dan janinnya.
Ananta terlihat tidak peduli, sejak tadi wajahnya menampilkan raut tidak suka, kesal, cemburu dan benci. Ananda di sisi lain terlihat tidak peduli dengan seluruh anggota keluarganya apalagi semenjak Adnan tidak pulang ke rumah, Atlanta di sisi lain tengah tersenyum gembira apalagi dengan pelayan cantik yang terus melayani dirinya sejak tadi.
Setelah semua selesai sarapan, Anandita memilih untuk pergi ke kantor tempat tunangannya bekerja. Pria itu saat ini bekerja di perusahaan Adnan, dia mendapatkan jabatan yang lumayan tinggi berkat berhasil menjadi tunangan Anandita.
Anandita membawa mobilnya sendiri, dia mengemudi dengan pelan karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kandungannya. Anandita juga membawa makanan di tangannya yang akan dia berikan pada sang tunangan, di wajah Anandita sejak tadi terus terlihat senyum bahagia.
Anandita sudah tidak sabar bertemu sang tunangan untuk memberitahu tentang kehamilannya dan juga untuk mempercepat pernikahan mereka. Suasana kantor masih terlihat sepi karena ini masih terlalu pagi untuk karyawan datang bekerja saat Anandita sampai di kantor Adnan.
Tujuan Anandita datang pagi adalah untuk memberi tunangannya kejutan, dia menaiki lift khusus untuk sampai di ruang tunangannya di mana satpam ataupun yang lain tidak menyadari kehadiran Anandita di sana. Anandita terus menenteng makanan yang dibawanya, dia berjalan santai ke luar dari lift saat sampai di lantai yang ia tuju.
Kotak makanan yang dibawa Anandita bergoyang seiring gerakan tubuhnya yang berjalan melenggak-lenggok menuju ruangan paling ujung di lantai itu. Anandita akhirnya sampai di depan pintu, dia perlahan membuka pintu namun menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut bukan main, di lantai beberapa pakaian pria dan wanita berserakan ke sana-kemari. Di sofa ada pasangan yang sibuk bermesraan dengan wanita berada di atas tubuh si pria.
Gerakan tubuhnya yang berpengalaman menandakan kalau mereka bukan hanya kali ini saja berhubungan, si wanita yang melihat pintu dibuka dari luar bukannya terkejut malah menampilkan senyum bangga. Dia semakin mengeraskan suaranya saat melihat Anandita melotot dengan mulut terbuka lebar.
Dia menyodorkan bukit kembarnya pada si pria yang langsung diterima tunangan Anandita dengan mulut terbuka. Suara benturan hasil perpaduan itu menggema di dalam ruangan yang semakin membuat Anandita membeku di tempat. Suara kesenangan yang ke luar di bibir si wanita mengingatkan Anandita tentang kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Apa kau puas dengan pelayanan yang aku berikan, Sayang?" tanya si wanita pada tunangan Anandita.
Rambut panjangnya yang berwarna merah digeser ke samping memperlihatkan bekas ungu merah di leher hingga ke perutnya. Dia terus menggoyang tubuhnya bahkan menengadahkan kepala ketika sensasi gatal yang ia rasakan semakin meningkat.
Anandita tidak berkutik, air matanya jatuh. Sesak serta sakit bercampur menjadi satu di dalam hatinya, Anandita menunggu jawaban tunangannya harap-harap cemas dengan lutut yang terasa begitu lemas.
"Aku sangat puas," jawab tunangan Anandita cepat tanpa keraguan sama sekali, ia berusaha bangkit dari posisinya namun dicegah oleh si wanita dengan cepat.
"Lebih puas aku daripada tunanganmu itu?" tanya si wanita sekali lagi, kali ini dia berhenti bergerak agar bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Tunangan Anandita tertawa, pria itu mencubit pipi si wanita gemas lalu mencubit puncak kembar itu keras membuat si wanita kesenangan. "Tentu saja dirimu, aku mendekatinya karena dia lebih menjanjikan daripada Sherly. Kau tahu menjadi tunangan Sherly aku hanya mendapatkan pekerjaan rendahan di perusahaan keluargaku tapi menjadi tunangan Anandita aku bisa mendapatkan jabatan tinggi di sini."
Anandita tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar semua itu, beban tubuhnya terasa lari ke bagian kakinya hingga hampir tidak bisa menopang tubuhnya yang bergerak tidak tentu arah. Kali ini tunangan Anandita berhasil berada di posisi atas dengan punggung menghadap Anandita, dia bergerak masuk dengan bebas tanpa hambatan menciptakan suatu aneh di dalam ruangan.
Anandita berusaha bergerak maju ke depan walau terasa sangat berat. Ia mendekati pasangan itu dengan air mata yang jatuh tanpa bisa ia cegah sama sekali. Anandita berhenti dua langkah dari sofa tempat pasangan itu mencari kesenangan dengan pandangan mata si wanita tampak penuh provokasi seolah ingin menentang Anandita.
"Aku hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu jadi kau jangan khawatir meski aku menikah dengan Anandita kau akan tetap menjadi nomor satu di dalam hatiku setidaknya sampai kita berhasil mendapatkan kekayaan atau keluargaku memberikan aku warisan." Tunangan Anandita berusaha menjelaskan agar si wanita tidak meninggalkan dirinya.
"Lalu bagaimana jika dia tahu kau selingkuh? Bagaimana jika dia memintaku untuk meninggalkanmu?" Berpura-pura sedih si wanita berusaha menyembunyikan wajahnya di leher si lelaki tapi senyum yang ia perlihatkan pada Anandita membuat Anandita merasa geram dan semakin membenci.
Tunangan Anandita tampak tidak suka mendengar itu, dia bergerak semakin cepat agar si wanita tidak merasakan kesedihan namun hanya kesenangan dalam hubungan mereka. d**a Anandita kembang kempis harap-harap cemas menunggu jawaban, dia takut jawaban yang diberikan tunangannya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan dan inginkan.
"Dia tidak akan melakukan itu, dia akan tetap bersamaku karena dia sangat mencintaiku. Kau tahu! Cintanya padaku bahkan membuatnya gila jadi bagaimana bisa dia meninggalkan diriku begitu saja." Tunangan Anandita menjawab cepat secepat hentakan dan gerakannya di bawah.
Kotak makanan yang Anandita bawa akhirnya jatuh, dia benar-benar merasa kecewa dan hancur di saat bersamaan, Anandita tidak tahu harus berkata apalagi saat mendengar semua itu secara langsung. Marah, Anandita melempar sepatu high heels yang berserakan di lantai ke arah sang tunangan yang sedang berbahagia menyebabkan kepalanya terkena tumit sepatu si wanita.
"Aduh, siapa yang kurang ajar seperti ini? Beraninya dia masuk ke ruangan ku tanpa izin," bentaknya dengan suara menggelegar.
Kesal, tanpa mencabut miliknya sama sekali si tunangan langsung berbalik ke arah si pelempar matanya melebar tidak percaya kala melihat orang yang begitu berani padanya ternyata adalah Anandita. Cukup lama seperti itu sebelum wanita di bawahnya kembali menggerakkan tubuh menyebabkan suara kesenangan ke luar dari bibir mereka lagi.
"Bagus, Steve! Aku akan mengatakan ini pada ayah, kita lihat sampai di mana kalian bisa bersikap sombong!" ancam Anandita dengan jari menunjuk ke arah pasangan di depannya.
Anandita tampak begitu kesal karena dirinya tidak dipedulikan sama sekali, keduanya masih sibuk berbahagia melupakan Anandita yang sebentar lagi bisa saja meledak. Tidak tahu harus berbuat apa, Anandita memilih menghubungi Ananta yang saat ini juga sedang marah-marah di rumah.
Anandita mencoba menghubungi Ananta berkali-kali namun belum ada yang dijawab, ketika merasa lelah Anandita mencoba menghubungi sekali lagi baru kemudian diangkat oleh Ananta.
"Kenapa? Ibu sedang ada urusan, bisakah kau menghubungi ibu nanti?" tanya Ananta keras.
"Bu, Steve selingkuh di kantor dengan sekretaris baru yang dipilihkan ayah. Mereka sibuk berduaan mengabaikan aku padahal sudah ketahuan olehku," adu Anandita dengan ciri khasnya yang merengek seperti anak kecil.
Ananta yang tadinya hanya sekedar kesal langsung tersulut amarah, dia buru-buru berdiri dari duduknya yang saat ini tengah menonton Atlanta mencari kepuasan dengan pelayan baru. Gadis itu dalam kondisi terikat di tempat tidur tanpa sehelai benang pun dengan kaki terbuka lebar.
Gadis itu awalnya diajak Atlanta ke kamar dengan alasan berdua saja namun ternyata setelah pakaiannya dibuka dan tangannya terikat Ananta masuk ke kamar menonton adegan mereka sambil merekam video. Gadis itu merasa malu apalagi saat itu lembah miliknya masih disusupi senjata Atlanta, ia ingin berhenti namun Atlanta menolak semua itu dan terus bergerak mencari kesenangan.
"Masuk ke ruangan itu lagi! Ambil video dan foto mereka beberapa kali lalu pergi secepat mungkin dari sana," titah Ananta dengan suara mendesis.
Ananta tersenyum senang, dengan kejadian ini Ananta bisa memaksa Anandita memutuskan hubungan pertunangan mereka dan dia juga bisa mendapatkan kompensasi. Anak yang ada di kandungan Anandita juga bisa digugurkan lalu menggunakan itu untuk mendapatkan kompensasi lebih dari keluarga si pria.
Anandita langsung berbalik ke ruang itu lagi, dia mengambil beberapa foto serta video kedua pasangan yang tengah asyik memadu kasih itu. Video serta foto itu langsung dikirimkan Anandita ke telepon seluler Ananta melalui pesan singkat, setelah selesai mengirimkan video dan foto Anandita buru-buru meninggalkan tempat itu.
Dia menuju ke ruangan Adnan agar bisa mengadukan semua hal ini pada Adnan, Anandita menunggu Adnan dengan sabar meski air mata mengalir di pipinya. Hati siapa yang tidak akan merasa perih saat mengetahui tunangannya, ayah dari anak yang dikandungnya sedang bermesraan dengan wanita lain.
Anandita merasa hatinya disayat oleh pisau tidak terlihat, sakit tapi tidak berdarah sama sekali. Anandita mencubit tangannya sendiri merasa hal itu bisa membangunkan dia dari kejadian yang terasa seperti mimpi ini.
Rasa sakit yang tajam membuat Anandita mengaduh, ia menangis semakin keras membuat Adnan yang baru saja membuka pintu terkejut bukan main.
"Ayah!" rengek Anandita cepat, Anandita berlari ke arah Adnan memeluk tubuh Adnan erat.
Adnan yang melihat tindakan Anandita semakin menjadi bingung, dia melepas pelukan itu membawa Anandita ke sofa untuk bertanya perihal apa yang terjadi.
"Kau kenapa? Siapa yang melukai hati anak Ayah hingga seperti ini?" tanya Adnan penasaran.
Anandita menghapus air matanya lalu mengadu tentang apa yang dilakukan oleh Steve, amarah Adnan tersulut saat mendengar itu. Dia langsung bangkit dari duduknya lalu buru-buru berjalan menuju lift agar bisa mencapai ruangan Steve.
Di sisi lain, saat ini Steve yang baru saja mendapat pelepasannya masih mencoba mengatur napas. Miliknya bahkan masih berada di dalam tubuh di wanita serta aroma aneh yang melayang di udara masih tercium begitu keras. Wanita yang berada di bawah tubuh Steve juga sedang mengambil napas, keringat di tubuh ke-duanya telah menyatu membuat rambut si wanita lepek dan terlihat kusam.
Saat Steve mengecup pipi si wanita Adnan datang membuka pintu, dia berdiri dengan dua orang satpam menemani dirinya. "Kalian bawa kedua orang itu ke luar dari kantorku sekarang juga! Seret mereka ke depan umum agar semua orang tahu konsekuensi yang mereka dapatkan jika berbuat seperti ini," tunjuk Adnan pada kedua pasangan yang masih sibuk mengatur napas itu.
Keduanya terkejut bukan main, si wanita berusaha mencari pakaiannya namun belum sempat dia melakukan apa-apa tangannya sudah ditarik oleh satpam. Begitupula dengan Steve yang mencoba meraih pakaian dalam yang berserakan di lantai tangannya langsung diinjak oleh Adnan dan tubuhnya diseret paksa.
Dia memberontak namun tenaga petugas keamanan lebih kuat darinya menyebabkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Adnan memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan ruangan yang berantakan.
"Bersihkan ruangan ini secepatnya, buang barang-barang yang mereka gunakan! Satu hal lagi, jangan sampai ada aroma yang tersisa." Setelah mengatakan itu Adnan langsung berjalan kembali menuju ke ruangannya.