"Biarkan saja, kakakmu itu tidak pernah mendengar apa yang dikatakan orang lain padanya. Dia pantas untuk mendapatkan semua itu." Robert menjawab cepat sembari bersikap tidak peduli.
"Tapi Paman!" Aleta ingin menentang ucapan Robert namun jika dia bersikeras juga tidak ada gunanya, tidak ada yang bisa mengubah pemikiran Robert.
"Jangan terlalu memikirkannya, lagipula dia sudah besar dia bisa menjaga dirinya sendiri." Sekali lagi Robert menjawab.
"Untung supir kami melajukan kendaraannya dengan cepat, dan untung juga ada Kak Alfred bisa menenangkan Kak Alena. Ya sudah Paman, Aleta mau melanjutkan pekerjaan Aleta yang tertunda dulu. Bye, Paman!" Aleta memutuskan sambungan komunikasi mereka.
Robert yang mendengar kalau Alena ditenangkan oleh Alfred terdiam tanpa menjawab ucapan Aleta. Hingga cukup lama Robert baru menurunkan ponselnya dan mengerjakan apa yang ada di layar kembali.
Alena sendiri telah sampai di negara yang ditujunya bersama Alfred karena rasa lelah dan letih serta beban hidup yang menyentuh Alena akhirnya tertidur di kamar hotel yang telah ia pesan. Alena tertidur dengan mimpi buruk akan kejadian beberapa tahun lalu datang menghampiri dirinya saat ini.
Alena kecil tengah duduk sembari menunggu jemputan, dia duduk di samping sekolah bersama teman-temannya dengan canda tawa mengelilingi mereka.
Tempat Alena duduk ditutupi oleh pohon rindang sebagai naungan, panas terik matahari yang menyengat tidak sampai mengenai mereka. Di sini sangat sepi dan hanya mereka yang biasa duduk di sana sambil menunggu jemputan.
"Tumben supirmu lama menjemput Lena?" tanya salah satu temannya bernama Arletta, saat ini Alena sendiri tengah duduk bersama tiga orang temannya. Tiga perempuan dan satu laki-laki.
"Entahlah, mungkin di jalan macet. Kalian pulanglah terlebih dahulu, kasihan supir kalian lama menunggu." Alena tersenyum sembari mendorong temannya menjauh.
Alena kecil adalah Alena yang ceria, lembut dan mudah bergaul. Alena adalah anak yang paling pengertian dan juga paling paham dengan perasaan orang lain.
"Kau yakin tidak apa-apa sendirian menunggu?" Arletta kembali bertanya, mata cantiknya nan bening nampak ragu meninggalkan Alena sendiri di sini.
"Iya," angguk Alena dengan senyum manis tanpa keraguan. Alena yakin sebentar lagi supirnya akan datang menjemput.
Melihat keyakinan di mata indah Alena, ketiga temannya memilih untuk pergi meski dengan berat hati.
"Aku suka dengan Alena, dia baik, lembut dan juga manis." Arletta berbisik pada temannya yang lain saat mereka sudah berada jauh dari Alena.
"Ya, Alena anak yang baik dan pengertian. Dia tidak suka memilih-milih teman." Yang lain ikut menimpali.
Namun hanya beberapa langkah teriakan keras Alena terdengar membuat teman-temannya yang baru saja pergi berbalik secara langsung.
Di ujung sana, Alena tengah dipaksa untuk masuk ke sebuah mobil hitam oleh beberapa orang yang tidak mereka kenal. Pakaian yang mereka kenakan terlihat biasa saja hanya yang terlihat aneh adalah tato yang ada di tubuh masing-masing.
"Tolong, ada penculikan!" Serentak anak-anak tadi berteriak dengan keras membuat para penculik melotot tajam ke arah mereka.
Jalanan yang sepi serta tidak adanya guru apalagi orangtua yang mengawasi mereka membuat para penculik itu semakin bertindak leluasa. Merasa mereka juga akan menjadi korban para anak-anak segera berlari ke arah lain dengan cepat.
Sepanjang jalan mereka akan berteriak tentang penculikan yang diterima Alena. Alena terus meronta berusaha untuk dilepaskan namun perjuangan Alena terhenti saat melihat siapa yang duduk di belakang mobil.
Orang itu tersenyum pada Alena sembari menggerakkan tangannya ke leher membuat Alena bergetar ketakutan. Melihat Alena terus melawan orang itu mengambil tongkat dan memukuli Alena dengan kuat.
Alena memekik kesakitan dengan luka mulai muncul satu-persatu di tubuhnya secara serentak. Alena berteriak histeris ketika mereka akan berhasil memaksa Alena masuk ke dalam mobil dalam keadaan lemas tidak berdaya serta luka muncul di tubuhnya membuat Alena dengan mudah dipaksa masuk ke dalam mobil.
Ketika mereka akan masuk Robert datang, ia bertarung melawan orang-orang itu, melihat kedatangan Robert yang tidak terduga sempat terjadi pertengkaran yang tidak seimbang.
Robert mengalami luka di bagian tangannya akibat pisau namun ia berhasil menarik Alena dari dekapan orang-orang itu. Alena yang diselamatkan tersenyum cerah meski darah mengalir dari bibirnya yang merah.
Setelah Robert berhasil merebut Alena, ada beberapa orang yang datang membantu Robert hingga Alena dapat diselamatkan. Alena sempat tersenyum pada Robert sebelum jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.
Setelah melihat mereka kalah jumlah para penculik itu melarikan diri dengan cepat, tidak ada yang tahu siapa yang menjadi dalang dalam penculikan Alena.
Alena segera dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan dari para medis di ruang UGD. Setelah mendapatkan perawatan Alena akhirnya dibawa ke ruang perawatan. Alena dirawat dan dijaga dengan baik tanpa ada yang meninggalkannya di ruang perawatan sama sekali.
Alena sempat tidak sadarkan diri selama tiga hari akibat benturan keras di kepalanya akibat dipukul dengan tongkat dan juga pukulan dari benda tumpul lainnya.
Luka Alena terbilang cukup parah di bagian kakinya seolah bagian itu sengaja diiris dengan pisau tajam. Ketika terbangun Alena akan berteriak ketakutan dan histeris hingga harus diberikan obat penenang.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Alena mengalami kejadian seperti ini?" Sepasang suami istri duduk ditepi ranjang Alena, sedangkan yang lainnya duduk di sofa luas yang ada di ruang tersebut.
"Aku juga tidak tahu, Sayang! Namun aku kira ini ada kaitannya dengan uang tebusan. Lagipula aku merasa orang yang melakukan ini semua pada Alena adalah orang yang mengenal Alena dengan baik." Ayah Alena berbicara sembari menatap orang-orang di dalam ruangan.
Apa yang ayah Alena katakan ada benarnya sebab sekolah Alena adalah sekolah terbaik dan datanya tidak akan bisa didapatkan oleh orang luar. Saat mereka tengah sibuk berbicara tiba-tiba tangan Alena kembali bergerak menandakan kalau Alena sebentar lagi akan bangun.
Saat membuka matanya Alena menatap wajah kedua orangtuanya sebelum melihat ke seluruh ruangan. Alena berusaha untuk tidak takut namun tubuhnya yang bergetar tidak terkendali bisa membuktikan kalau Alena tidak akan baik-baik saja.
Alena mulai menggigil dengan tubuh langsung meringkuk ketakutan.
"Jangan pukul aku! Aku mohon jangan pukul aku lagi!" Alena memohon sembari menyembunyikan kepalanya dan melindungi tubuhnya dengan cepat.
Alena menangis semakin keras saat ibunya mencoba mendekati Alena. "Tidak-tidak! Jangan mendekat! Jangan pukul Alena lagi, Alena mohon. Alena kesakitan," rintih Alena saat ibunya semakin mendekat ke arah Alena.
Robert yang tidak tahan akhirnya berjalan mendekat, ia memeluk Alena dengan erat seraya berbisik dengan lembut.
"Alena jangan takut lagi ya! Ini Paman, Paman berjanji akan menjaga Alena dari orang-orang jahat itu." Robert berbisik dengan lembut seraya memeluk Alena semakin erat.
Alena mulai tenang sembari membalas pelukan Robert, Alena juga menyembunyikan wajahnya di d**a Robert sembari menangis meski tidak sekeras tadi. Alena akhirnya benar-benar tenang tapi tetap menyembunyikan wajahnya.
"Alena ingat siapa yang memukuli Alena di sana?" Robert bertanya dengan hati-hati. Tangannya dengan lembut mengusap rambut Alena yang panjang dan lembut.
"Mereka banyak, Paman! Alena hanya melihat sekilas saja, tapi yang Alena lihat adalah laki-laki dengan tato di tangannya." Alena terlihat berpikir cukup keras namun yang benar-benar dia ingat adalah tato di setiap tangan orang itu.
"Seperti apa tatonya?" desak Robert dengan wajah masam.
Robert benar-benar tidak tahu darimana orang itu mendapat keberanian untuk menyentuh anggota keluarganya.
"Tatonya seperti bunga namun tangkainya berwarna emas dan panjang. Alena tidak tahu tato itu sampai di mana namun setiap tangkainya memiliki bunga berwarna merah darah." Alena mencoba berpikir dengan keras namun dia benar-benar hanya bisa mengingat itu semua.
"Apa Alena melihat wajah mereka?" tanya Robert keras dengan suara penuh penekanan.
Alena menggeleng dengan cepat dan itu tidak membuat siapa pun curiga sebab Alena memang menyembunyikan wajah dan kepalanya dengan sangat baik dari pukulan-pukulan itu.
"Ya sudah Alena istirahat ya!" bujuk Robert dengan suara lembut penuh kasih sayang. Robert hanya ingin membujuk Alena agar bisa tidur dengan tenang.
"Tidak mau, Paman! Alena takut mereka datang lagi dan memukul Alena lebih keras lagi." Alena kembali ketakutan. Sekali lagi tubuhnya bergetar tidak terkendali dengan rasa takut yang terpancar jelas di dalam bola mata indahnya.
Namun tangan Alena sedikit pun tidak mau melepaskan pergelangan tangan Robert yang dipegangnya. Alena melihat kiri dan kanan sembari memeluk tubuhnya kembali sehingga berbentuk huruf c.
"Tidak akan, ada ayah dan ibumu di sini. Paman juga tidak akan pergi dan tetap menemani dirimu di sini," bujuk Robert lagi sembari terus berusaha menenangkan Alena.
Alena menggeleng lebih cepat lagi namun dengan kepala tetap tersembunyi. "Tidak, Alena benar-benar takut, Paman! Alena takut mereka datang lagi." Suara Alena bergetar kembali.
Semakin lama tubuhnya semakin menggigil membuat semua orang diruangan itu menjadi khawatir.
"Alena enggak perlu khawatir. Baiklah, paman akan tidur di samping Alena ya." Menyerah, akhirnya Robert naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Alena.
Semua orang diruangan itu hanya bisa diam dan tidak berbicara, Alena memang tidak mau didekati oleh siapapun selain oleh Robert yang menolong dirinya dari peristiwa penculikan itu.
"Paman, apakah ada teman Alena yang ikut diculik juga." Alena mengangkat kepalanya untuk melihat Robert yang tengah berbaring dengan malas di sisinya.
Alena tidak mau melepaskan tangan Robert sedikit pun meski Robert sudah berusaha untuk lepas.
"Tidak, hanya Alena sendiri saja kok. Teman-teman Alena berteriak meminta tolong hanya untuk membantu Alena lepas dari tangan para penculik itu." Robert tersenyum seraya mengusap rambut Alena.
Alena yang kepalanya diusap mulai merasa mengantuk hingga akhirnya tertidur dengan lelap di sebelah Robert. Robert memastikan Alena tertidur lelap sebelum perlahan-lahan dan hati-hati turun dari tempat tidur.
Robert berjalan menjauh dari kamar sembari membuka ponsel yang selalu ia bawa kemana pun itu, ternyata Robert mencari tahu geng mana yang berani menganggu keluarganya namun tidak mendapatkan info yang signifikan.
Di layar ponsel hanya tertulis sesuatu yang membuat Robert heran sekaligus bingung.
Geng mawar darah menghilang setelah 10 tahun mereka berdiri. Geng itu tidak lagi ditemukan setelah satu-persatu geng mafia lain dibabat habis.
Geng mawar darah diketuai oleh seorang wanita dengan tato mawar emas di bagian perut bawahnya. Mawar itu terlihat seperti layu namun tetap hidup di tubuhnya.
Robert terus mencari berita namun semuanya tidak lagi menemukan titik terang itu artinya geng itu memang pintar menyembunyikan diri. Saat itu Robert belum sepintar dan sehebat sekarang.