7

1612 Kata
"Ikat dia dengan rantai khusus yang panjang lalu gantung dia di atas kolam piranha ini." Farrel nampak senang dan gembira saat memikirkan ide ini. "Ini alasanku malas mempekerjakan wanita, mereka adalah penipu, pembohong sekaligus pengkhianat. Kalian wanita berbeda sekali dengan Angelaku yang anggun dan manis." Farrel melihat kembali ke arah kolam sembari melempar daging di dalam cawan kecil untuk ikan piranha yang terlihat begitu antusias. "Tidak, kumohon!" Wanita itu memelas dengan air mata yang berjatuhan di pipinya, menghapus make-up di wajahnya hingga rupanya terlihat menghitam dan jelek. Wanita itu meronta agar terlepas tapi sayang, kekuatannya tidak sebanding dengan orang-orang yang mengikat dan memegangnya. Segera tubuh itu diangkat ke atas kolam dengan rantai panjang yang melilit seluruh badannya sebelum diturunkan secara perlahan-lahan. Kepala wanita itu menggeleng saat suaranya tidak bisa ke luar akibat lakban hitam yang menutup mulutnya. Satu kaki kanan si wanita masuk ke dalam air dan menjadi rebutan ikan piranha yang terlihat bahagia itu. Air yang tadinya bening berubah merah secepat ikan-ikan itu berebut daging segar yang disuguhkan. Sedikit demi sedikit bagian tubuhnya yang lain masuk ke dalam kolam hingga akhirnya tidak ada lagi pergerakan di tubuh si wanita. Dia meninggal sebelum setengah tubuhnya dimakan si piranha ganas. Farrel yang melihat itu terus memberi perintah untuk menenggelamkan tubuh itu ke dalam kolam hingga tidak ada lagi bagian tubuh wanita itu yang terlihat di dalam air. Farrel nampak puas saat melihat ikan-ikan peliharaannya berlari menjauh dari tubuh yang tadi dimasukkan ke dalam kolam. o0o Alena terbangun dengan tubuh yang terlihat segar. Sakit kepala serta sakit perut yang tadi membuatnya pucat sudah tidak terasa lagi. Alena mencoba bangun, ia duduk sambil meregangkan tubuhnya tapi bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. "Apakah aku memasang AC tadi?" Alena bertanya dengan nada heran yang kentara. "Mungkin Tante yang membantu menghidupkan saat melihat aku kepanasan." Alena menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar mandi. Alena melenguh senang saat tubuhnya terkena siraman air dingin yang jatuh dari shower tepat di atas kepalanya. Alena terlihat bahagia saat sebagian lelah tubuhnya ikut terbawa oleh sejuknya air yang jatuh. Alena merasakan nyaman karena sedikit beban di tubuhnya menghilang dan sudah tidak sesakit sebelum dia tidur. "Apakah aku harus memilih hati lain saat hatiku sudah terpaut pada orang yang tidak pernah peduli padaku, aku juga tidak tahu di mana letak kesalahan yang aku lakukan hingga Paman sebegitu bencinya." Alena kembali memikirkan sikap Robert padanya. Alena menangis dengan air mata kesedihan setelah mengingat perhatian berbeda yang ia terima dari Robert. "Apakah aku harus menyerahkan hatiku pada orang lain sedangkan hatiku sendiri tidak mendengarkan apa yang aku perintahkan padanya." Alena menjerit dengan keras. Ingin sekali rasanya Alena pergi dan menghapus bayangan cinta yang ada di hatinya tapi bayangan itu tidak bisa menghilang dari hidupnya Alena. Alena mandi begitu lama hingga seseorang yang mengawasinya dibalik cctv menjadi cemas. Sebab sedari tadi Alena tidak keluar sama sekali dari kamar mandi. Orang Itu bergerak tidak karuan sembari terus melihat ke layar laptopnya yang menampilkan jelas seluruh ruangan kamar. "Kenapa dia lama sekali ke luar? Apa yang terjadi padanya hingga dia belum ke luar juga?" Orang itu terlihat cemas dan khawatir. "Semoga dia tidak tertidur di kamar mandi seperti kebiasaan lamanya." Pria itu berjalan mondar-mandir tidak jelas. Hingga suara pintu yang didorong terdengar ke telinganya, membuat orang itu berpaling ke arah layar. Di dalam sana Alena terlihat memilih beberapa pakaian di dalam lemari sebelum masuk kembali ke dalam kamar mandi. Alena nampak anggun dan malas dalam waktu bersamaan sekaligus. Setelah keluar dari kamar mandi Alena nampak memilih pakaiannya yang ada di dalam lemari sembari memasukkan satu-persatu ke dalam koper yang tadinya dia letakkan di samping lemari. Alena yang tengah asyik memasukkan pakaian ke dalam koper terganggu oleh suara dering ponselnya. "Ya, Al! Ini aku lagi memasukkan semua pakaian aku ke dalam koper. Iya, kita jadi pergi kok." Alena menjawab ucapan Alfred sebelum dengan cepat memutuskan sambungan komunikasi mereka. Alena tampak terburu-buru memasukkan pakaiannya sembari melihat waktu. Alena benar-benar lupa kalau hari ini dia harus keluar negeri untuk mendekorasi sebuah pernikahan mahal. Ya, Alena bekerja sama dengan Alfred dalam urusan wedding organizer. Dan Alena bertugas sebagai penata ruang dan penata pernikahan. Alena terburu-buru dengan cepat Alena menyeret kopernya ke luar kamar. Alena bahkan tidak melihat ke belakang lagi saat dirinya telah ke luar. Ini yang berbeda dari Alena, saat dia masuk ke dalam mode kerja maka apapun yang ada dipikirannya akan hilang dan digantikan dengan model-model gambar ruang yang akan digunakannya nanti. Alena mencoba melihat ke sekeliling untuk pamit pergi namun dia tidak menemukan siapapun hingga Alena memilih untuk pergi dari sana secepat mungkin. "Kemana dia pergi bersama laki-laki itu? Bagaimana caranya untuk memisahkan mereka berdua yang lengket bagai perangko." Pria itu terlihat marah sembari menutup langsung laptop yang tengah menyala itu. ** Alena menatap hamparan jalanan menuju ke bandara, Alena bukan tidak percaya pada takdir namun tampaknya takdir itu sendiri yang tidak mengizinkan dia untuk berbicara. Pohon-pohon rindang tumbuh di tepi jalan, di bawah pohon ada beberapa bunga yang sengaja ditanam untuk mencuci mata. Jalan itu terbagi dua kiri dan kanan, di tengah ada pembatas yang juga sengaja ditanami bunga berbagai macam warna. Alena menyaksikan satu-persatu mobil yang berselisih jalan dengannya. Ada orang yang di dalamnya berpasangan, ada yang pergi bersama keluarganya dan ada juga yang mengemudi sendiri. "Kapan aku bisa lepas dari jeratan hati ini, aku sudah tidak sanggup namun hatiku terus bersikeras untuk menunggu dia melirik dan hanya sekedar menyapa." Alena berbicara sendiri. Tangan kecilnya menggambar lingkaran di dalam kaca mobil hingga matanya tanpa sadar melirik pada sebuah mobil aneh yang kelihatan mengikuti mobil yang ditumpanginya sedari tadi. "Tidak," teriakan Alena membuat supir yang mengemudi terkejut bukan kepalang. Sang supir bahkan hampir menghentikan mobilnya secara mendadak. "Pak, jalan dengan cepat, Pak!" Alena berteriak histeris. Mengetahui ada yang tidak beres dengan majikannya si supir memacu kendaraannya dengan kencang untuk membelah jalanan agar sampai di bandara dengan cepat. "Mereka, Pak! Salah satu dari mereka adalah orang-orang yang menculik Lena dulu." Alena terus berteriak dengan keras. Saat seperti ini yang dibutuhkan Alena adalah pelukan dari seseorang, tapi bagaimana mungkin? Si supir tengah memacu kendaraannya dengan laju paling cepat yang bisa dia gapai. Alena meringkuk di kursi dengan tubuh bergetar tidak terkendali sama sekali. Wajahnya memucat dengan kecepatan yang tidak pernah ada. Segera mereka sampai di bandara, di tengah keramaian si supir berusaha melihat kiri dan kanan mencari titik keberadaan Alfred. Sang supir melihat Alfred di tengah-tengah kerumunan sedang menunggu kehadiran Alena. "Tuan Alfred kemari!" teriak si supir dengan nada keras dan lantang. Dia dengan penuh semangat melambai-lambai ke arah Alfred diikuti senyuman lega di bibirnya. "Ada apa?" tanya Alfred khawatir karena belum melihat Alena. Alfred bahkan berlari secepat yang ia bisa agar bisa sampai dengan cepat ke arah supir pribadi Alena tersebut. "Nona Alena, Tuan! Dia sedang ketakutan di dalam mobil, tadi Nona Alena melihat sebuah mobil mengikuti kami dan tato yang ada di tubuh orang itu sama persis dengan tato yang dimiliki oleh orang yang menculik Nona Alena waktu itu." Si supir menjelaskan secara rinci dan cepat. Alfred yang sangat tahu kelemahan Alena langsung berjalan masuk ke dalam mobil. Wajahnya berubah masam saat melihat Alena meringkuk ketakutan di sudut mobil sembari memeluk kepalanya. Alena mengalami trauma yang luar biasa akibat kasus penculikan waktu itu, setiap kali melihat orang baru Alena aja berteriak keras sembari meringkuk. "Ale!" Alfred memanggil dengan lembut, wajah tampannya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang yang luar biasa. "Jangan dipukul! Ale bukan anak nakal." Alena berteriak sembari menyembunyikan kepala dan wajahnya. "Jangan pukul Ale, Ale bukan anak yang nakal." Alena berteriak kembali. Alfred semakin menggenggam tangannya erat. Selama ini Alena tidak pernah menceritakan siapa dan bagaimana orang-orang itu. Alena juga tidak pernah mengatakan bagaimana orang-orang itu menyiksanya. Setelah kasus penculikan itu Alena menjadi pendiam dan tidak banyak bicara, Alena juga menjauh dari semua orang dan hanya mendekatkan diri pada Robert dan Aleta. "Ale, apa yang sebenarnya yang terjadi? Siapa yang menculik dan memukuli dirimu?" Alfred memeluk tubuh Alena erat. Alfred dapat merasakan tubuh Alena bergetar tidak terkendali, keringat dingin jatuh di tubuh Alena membuat baju yang dikenakannya basah kuyup. Alfred juga memperhatikan wajah pucat Alena yang masih memejamkan mata dengan erat. Cukup lama Alfred menenangkan Alena hingga mereka harus memilih penerbangan lain agar bisa melanjutkan perjalanan. "Maaf, karena diriku kita harus menggunakan penerbangan lain." Alena meminta maaf dengan kepala menunduk. Wajah Alena sudah terlihat sedikit lebih baik dengan tubuh masih mengeluarkan keringat tapi tidak sebanyak tadi. Alena saat ini sedang meminum air dingin agar tubuhnya merasa lebih baik. "Apa yang sebenarnya terjadi, Ale? Siapa orang-orang itu?" Alfred menatap wajah cantik Alena. Alena sendiri memilih memalingkan wajahnya ke arah lain tapi air matanya yang jatuh membuat Alfred tahu ada hal yang ingin Alena lindungi. Alfred benar-benar ingin mengetahui siapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Kenapa Alena yang mengalami semua itu bukan Aleta, ini semua menjadi bahan pertanyaan Alena yang selalu berputar-putar di otaknya. *** Robert yang tengah sibuk bermain di depan laptop terganggu dengan dering ponselnya. Melihat nama yang tertulis di sana Robert langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo Aleta, Sayang!" Robert tersenyum manis ketika mengangkat panggilan itu. "Paman, kakak diikuti penculik dan penerbangan miliknya terpaksa ditunda." Aleta melapor dengan suara dipenuhi kesedihan. "Siapa yang mengatakan hal itu padamu, Aleta?" Robert bertanya dengan wajah penasaran. Robert yakin bukan Alena yang akan mengatakan semua itu. "Supir keluarga kami, Paman!" Aleta menjawab dengan cepat. "Dia melihat sendiri bagaimana Kakak berteriak dan menangis dengan histeris sembari menyembunyikan kepalanya, Paman!" Aleta melanjutkan ucapannya. "Kakak terlihat menyembunyikan kepalanya dan mengatakan jangan memukulnya lagi terus-menerus." Aleta bersedih dengan suara bergetar tidak terkendali. "Apalagi yang dikatakan supir kamu, Aleta?" Robert bertanya dengan penasaran. "Pria itu memiliki tato di tangannya, mereka terus mengikuti mobil Kak Alena dari jauh seperti bertujuan untuk menakuti saja bukan untuk menculik lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN