Namun, apa yang kulihat? Kenapa namanya sama dengan suamiku? Apa maksud semua ini? Dadaku bergemuruh, hawa panas menjalar ke seluruh anggota badan, bahkan air mataku sudah mulai menggenang di pelupuk mata. Cairan bening ini bagai sebuah kaca yang menghalangi netra membuat penglihatanku mulai mengabur. Setetes demi setetes air mata mengalir di pipiku ini. Gegas aku menyeka air mata yang sudah terlanjur keluar, tak ingin Bi Surmi tahu apa yang sudah kulihat barusan. Aku lekas pamit untuk ke kamar, meminta Bi Surmi memanggilku saja kalau makanan sudah siap. Tanpa menoleh lagi, aku berlari sambil memandang foto yang masih bisa kulihat di layar ponsel. Semoga saja Bi Surmi tak curiga. Jika dilihat-lihat kembali, tanggal pernikahannya itu hari ini. Akadnya akan dilaksanakan di sebuah mesjid

