Syukurlah, dia percaya dengan alasanku. Erika meraih lengan serta memintaku duduk di sisi ranjang, lalu menyuruh suaminya ini untuk berbaring kembali bersamanya. Erika tidur beralaskan tangan kananku, sambil mulai bercerita banyak hal. Namun, aku sama sekali tidak menyimaknya. Pikiranku sekarang hanya terpusat tentang Arum. Ketika istriku tiba-tiba menepuk paha, diri ini barulah tersadar. Dia mungkin kesal karena aku tak merespon apa yang dia katakan. “Mas ...!” “Mas Arga ...!” “Mas! Dari tadi Mas Arga melamun?” teriak Erika. Aku tersentak tak sengaja melakukan kesalahan. “Iya, apa, Arum, Sayang?” ucapku tak sadar. “Jadi, dari tadi Mas Arga melamunkan istri Mas yang manja itu? Mas pikir aku apa? Sejak tadi hanya mengoceh sendiri.” Aku menoleh ke asal suara. Ternyata, aku sudah sal

